Satu Kecupan
| Satu Kecupan | |
|---|---|
| Sutradara | Findo Purwono HW |
| Produser | Raam Punjabi |
| Ditulis oleh | Ve Handojo |
| Pemeran | Hengky Kurniawan Masayu Anastasia Dimas Seto Ratu Felisha Tommy Kurniawan Imelda Therinne Aimee Juliet Irfan Hakim |
| Penata musik | Joseph S. Djafar |
| Distributor | Multivision Plus Pictures |
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 87 menit |
| Negara | |
| Bahasa | Indonesia |
Satu Kecupan (awalnya bernama Buruan Cium Gue) merupakan sebuah film Indonesia yang dirilis pada 20 April 2004. Film yang disutradarai oleh Findo Purwono HW ini dibintangi antara lain oleh Hengky Kurniawan, Masayu Anastasia, Dimas Seto, Ratu Felisha, Tommy Kurniawan, Imelda Therinne, Aimee Juliette, Irfan Hakim, dan Dewi Rezer.
Sinopsis
Meski sudah dua tahun pacaran, tak sekalipun Ardi (Hengky Kurniawan) mencium bibir kekasihnya, Desi (Masayu Anastasia), pelajar SMA dan penyiar radio. Ardi tak mau mencium Desi, karena tak mau mengganggu hubungan cinta mereka dengan hal-hal berbau hasrat fisik, apalagi Desi masih pelajar.
Desi sendiri begitu mendambakan ciuman Ardi, karena sebagian temannya sudah berciuman dengan pacar mereka. Suatu hari, pada saat siaran radio, Desi ditanya pendengar mengenai pengalaman pertama berciuman dengan kekasihnya, Desi berbohong. Kebohongan ini berlanjut, karena Desi mesti tampil di televisi dengan cerita soal ciuman pertama. Ardi marah besar dengan kebohongan tersebut, apalagi sebelumnya dalam sebuah pesta Desi atas dorongan teman-temannya berusaha mendapatkan ciuman Ardi.
Pemberhentian penayangan

Satu Kecupan (dulunya bernama Boleh Cium Gue) diberhentikan untuk disiarkan pada tanggal 20 Agustus 2004. Pemberhentian ini merupakan akibat dari protes yang diajukan oleh Majelis Ulama Indonesia dan pemimpin Pondok Pesantren Darut Tauhid, Abdullah Gymnastiar. Argumentasi yang diberikan sehingga film ini diberhentikan tayang adalah adegan ciuman merupakan perbuatan zina.[1]
Pada tanggal 25 Agustus 2004, sebuah kelompok yang menamakan dirinya EKSPRESI (Eksponen Pendukung Kebebasan Berekspresi) memprotes pelarangan tayang dari film Boleh Cium Gue. Mereka berdapat bahwa pelarangan ini bersifat tidak mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. EKSPRESI menyatakan pertentangan mereka kepada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Penentangan juga diberikan oleh mereka kepada Majelis Ulama Indonesia dan Abdullah Gymnastiar.[2]
Referensi
Catatan kaki
- ^ Husaini 2005, hlm. 22.
- ^ Husaini 2005, hlm. 23.
Daftar pustaka
- Husaini, Adian (2005). Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler Liberal. Jakarta: Gema Insani. ISBN 978-602-250-517-4. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Pranala luar
- (Indonesia) Ulasan di situs web Film Indonesia
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.