Seni topeng Batak


Topeng dari daerah Simalungun.

Seni topeng Batak meliputi daerah Simalungun, Tapanuli, Pakpak Dairi, dan Karo. Masing-masing daerah memiliki bentuk atau corak yang berbeda-beda. Seni topeng Batak berasal dari kebudayaan Dongson.

Asal mula

Usia seni topeng Batak belum mencapai ratusan tahun, bahkan topeng (gundala-gundala) di daerah Karo dikenal pertama kali pada tahun 1905. Topeng di daerah Simalungun, Tapanuli, Pakpak Dairi, dan Karo memiliki kesamaan dengan topeng yang ada di daerah lain di Indonesia. Konon, semua topeng di Indonesia mendapat pengaruh dari kebudayaan Tiongkok.[1] Seni topeng yang terdapat di daerah Simalungun, Tapanuli, Pakpak Dairi, dan Karo memiliki daya magis. Bentuk atau coraknya pun berbeda-beda. Perbedaan bentuk tersebut merupakan akibat dari proses perkembangan budaya. Seni topeng di daerah Batak tersebut berasal dari kebudayaan Dongson.[2]

Simalungun

Seni topeng di daerah Simalungun berawal dari zaman kekuasaan raja-raja Simalungun. Berawal dari kematian putra tunggal raja, suasana kerajaan diliputi kesedihan terlebih bagi permaisuri raja (puang bolon). Kesedihan raja dan permaisuri membuat keluarga dan rakyat khawatir. Akhirnya, untuk menghibur mereka muncullah ide untuk mengadakan pertunjukan tari topeng.[2]

Bahan topeng terdiri dari pelepah bambu dibentuk menyerupai wajah manusia yang lucu. Ada pula yang membuatnya dari pelepah enau.[3] Tarian ini kemudian menjadi kesenian rakyat yang diberi nama tari huda-huda. Belakangan bahan membuat topeng berasal dari kayu yang diukir dengan pewarnaan sedemikian rupa sehingga terlihat lucu. Topeng Simalungun terdiri dari empat jenis, yaitu sebuah topeng wanita dan dua topeng pria serta satu topeng burung. Salah satu ciri dari topeng Simalungun ialah bentuk wajahnya yang mengeluarkan ekspresi yang optimis.[4]

Tapanuli

Seni topeng di Tapanuli berawal dari sebuah legenda sekitar tahun 1906 tentang seorang ibu yang kehilangan putranya. Kehadiran topeng di daerah ini awalnya untuk menghibur keluarga yang berduka.[5] Topeng di Tapanuli umumnya dibuat sepasang yaitu topeng pria dan wanita dengan ukuran yang cukup untuk menutupi muka.[6] Salah satu contoh topeng di daerah ini adalah sigale-gale, arti dari kata gale-gale dalam Batak Toba adalah lemah. Konon, si anak laki-laki yang sudah meninggal tersebut hidup kembali, tetapi dalam keadaan lemah.[6][7] Daerah asal sigale-gale terdapat di Toba Holbung di sekitar Soposurung Balige Tapanuli Utara, yang kemudian menyebar ke daerah Samosir dengan sebutan Raja Mangulape. Kepopuleran sigale-gale membuatnya menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Batak.[8]

Pakpak Dairi

Di daerah ini seni topeng tidak terlalu berkembang daripada daerah lainnya. Kehadiran seni topeng di sini diperkirakan sekitar abad ke-19. Fungsi topeng di sini dipertunjukkan untuk keperluan upacara ritual, upacara kematian, dan upacara khusus sebagai hiburan raja-raja. Pada intinya, pertunjukan topeng di daerah ini lebih mengarah kepada ritual magis.[9]

Karo

Topeng dalam istilah Karo disebut gundala-gundala. Jenis topeng di daerah Karo dibedakan menjadi lima menurut asalnya, yaitu desa Lingga, desa Kubu Colia (Kabanjahe), desa Barusjahe, desa Jaranguda, dan Seberaya.[10] Seni topeng di daerah Karo digunakan dalam pertunjukan hari-hari besar nasional, upacara adat, dan tontonan rakyat yang bersifat pendidikan. Selain itu, ia juga ditampilkan dalam upacara penolak bala, upacara penanaman benih, penyambutan tamu agung, hingga menjadi bagian dari tari dengan iringan gendang tradisional Karo.[11]

Referensi

Catatan kaki

  1. ^ Saleh 1980, hlm. 103.
  2. ^ a b Saleh 1980, hlm. 105.
  3. ^ Saleh 1980, hlm. 105–106.
  4. ^ Saleh 1980, hlm. 106.
  5. ^ Saleh 1980, hlm. 110.
  6. ^ a b Saleh 1980, hlm. 111.
  7. ^ Butar-butar & dkk. 1990, hlm. 6.
  8. ^ Saleh 1980, hlm. 112.
  9. ^ Saleh 1980, hlm. 116.
  10. ^ Saleh 1980, hlm. 118.
  11. ^ Saleh 1980, hlm. 116–117.

Daftar pustaka

  • Saleh, M. (1980). Seni Patung Batak dan Nias. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Butar-butar, Tiominar; dkk. (1990). Topeng Batak. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya