Serat Dewaruci

Ilustrasi Wayang yang menggambarkan pertemuan Bima (kiri) dan Dewa Ruci (kanan), dalam koleksi Museum Peradaban Asia, Singapura.

Serat Dewaruci adalah karya sastra Jawa yang mengisahkan perjalanan rohani Raden Werkudara atau Bima dalam mencari “tirta pawitra”, air kehidupan yang melambangkan kesempurnaan batin. Dalam pencariannya, Bima bertemu Dewa Ruci, sosok kecil bercahaya yang sebenarnya merupakan wujud ilahi dalam dirinya sendiri. Pertemuan itu menjadi titik balik yang membuka pemahaman Bima tentang hakikat diri, kesucian, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Ajaran dalam serat ini menekankan laku spiritual, pengendalian nafsu, serta pentingnya keteguhan hati dalam menghadapi cobaan. Melalui dialog penuh makna antara Bima dan Dewa Ruci, karya sastra Yasadipura I ini mengajarkan bahwa kebenaran sejati telah ada di dalam diri, dan manusia harus menempuh perjalanan batin untuk menemukannya.[1][2]

Karya berupa kidung atau tembang dalam Serat ini menyimpulkan bahwa ada persamaan pandangan kebatinan menurut versi Dewaruci dengan kebatinan masa kini yang pada intinya ingin mewujudkan kesatuan hakiki antara hamba dan Tuhan (manunggaling kawula gusti) melawan kemajuan perkembangan yang menyesatkan (individualisasi) dengan pembangunan mental menuju ke perkembangan dunia secara harmonis (memayu hayuning bawana). Praktek kebatinan mengacu pada pemusatan moral yang besar, maka praktek kebatinan merupakan kondisi bagi hidup yang baik di bumi Indonesia ini. Keteraturan manusiawi dan kosmos yang terpadu adalah bagian dari keseluruhan hubungan harmonis dengan alam adikodrati dan kondisi-kondisi harmonis dalam kosmos yang akan memantulkan masyarakat teratur yang adil dan makmur. Bila kesadaran rohani manusia-manusia Indonesia dikembangkan, tidak mengumbar hawa nafsu dan pamrih, maka kehidupan dalam masyarakat Indonesia ini akan tertib, tenteram dan teratur pula. Inilah cermin keteraturan kosmos serta hubungan antara Tuhan dengan manusia.[1][3]

Referensi

  1. ^ a b "Tinjauan filosofis dari Serat Dewaruci karya Yasadipura I". lib.ui.ac.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
  2. ^ "Serat Dewaruci: Kidung dari bentuk kakawin". kemendikdasmen.go.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.
  3. ^ "Wedharan serat Dewaruci (Warong kamanjing curiga)". langka.lib.ugm.ac.id. Diakses tanggal 7 Des. 2025.

Lihat juga

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya