Sirait

Sirait
Aksara Batak
Nama margaSirait
Nama/penulisan alternatifSRT
Artisi + rait
(kait; kaut; hubung; sangkut paut)
Silsilah
Generasi dari Si Raja Batak
1Si Raja Batak
2Raja Isumbaon
3Tuan Sorimangaraja
4Tuan Sorbadijae
(Nai Rasaon/Datu Pejel)
5Raja Narasaon
6Raja Mangatur
7Toga Sirait
Nama lengkap tokohRaja Toga Sirait
Nama istriManotalan Boru Limbong
Nama anak (putra)
  • 1. Sirait Sihahaan
  • 2. Sirait Sianggian
Kekerabatan
Induk margaRaja Narasaon
Persatuan margaParsadaan Nai Rasaon
(keturunan Tuan Sorbadijae melalui garis Raja Narasaon)
Marga sekerabat
Turunan
  • Lumban Sihahaan
  • Lumban Gambiri
Mataniari binsarLimbong
Asal
SukuBatak
Etnis
Daerah asalAjibata, Toba
Monumen
Lokasi tambak (makam)Parsaoran Sibisa
2°35′41.7″N 98°58′23.2″E / 2.594917°N 98.973111°E / 2.594917; 98.973111
Paguyuban
Organisasi paguyubanPPRTSB (Parsadaan Pomparan Raja Toga Sirait dohot Boru)

Sirait (Surat Batak: ᯘᯪᯒᯤᯖ᯲) adalah salah satu marga Batak Toba yang berasal dari Sibisa di wilayah Ajibata, Toba. Leluhur dari marga Sirait adalah Toga Sirait yang merupakan keturunan dari Raja Narasaon.[1]

Latar belakang

Naskah tua Tarombo (tahun 1968)
Raja Toga Sirait - Sirait Sihahaan,
hasil dari tim peneliti yang dibentuk oleh punguan Ompu Raja Sirait / Br. Naibaho.

Sirait merupakan salah satu marga keturunan Tuan Sorbadijae yang bergelar Nai Rasaon atau dikenal juga sebagai Datu Pejel. Dengan kata lain, marga Sirait merupakan salah satu marga yang tergabung dalam perkumpulan atau Parsadaan Nai Rasaon. Tuan Sorbadijae memiliki seorang putra, yaitu: Raja Narasaon yang menikah dengan Boru Limbong, dan memiliki dua orang putra yang kembar dalam satu balutan (disebut sebagai: linduat sabalutan atau dongan sahali tubu) yang mana hal ini menyebabkan ketidakpastian tentang siapa yang lebih tua dan lebih muda di antara keduanya. Kedua orang putra tersebut, yaitu: Raja Mangarerak dan Raja Mangatur.

  • Raja Mangarerak menikah dengan Si Boru Hutahot, putri dari Si Raja Borbor, dan memiliki seorang putra, yaitu: (1) Toga Manurung yang menurunkan marga Manurung; dan Raja Mangarerak juga memiliki seorang putri bernama Similing-iling (Nailing) Boru Narasaon yang dinikahi oleh Raja Silahisabungan dari Silalahi Nabolak, Dairi. Kemudian mereka memperoleh seorang putra, yaitu: Raja Tambun (Tambun Raja) yang menurunkan marga Tambun atau Tambunan.
  • Raja Mangatur menikah dengan Si Boru Deak Bintang Harugasan Boru Sagala, dan memiliki tiga orang putra, yaitu: (1) Toga Sitorus yang menurunkan marga Sitorus; (2) Toga Sirait yang menjadi leluhur dari marga Sirait; dan (3) Toga Butarbutar yang menurunkan marga Butarbutar.

Raja Toga Sirait menikah dengan Manotalan Boru Limbong dari Huta Limbong, Samosir; mereka bermukim dan membuka perkampungan baru di Pardamean Sibisa, terdapat dua permukiman di tempat yang kemudian dikenal sebagai Lumban Sihahaan dan Lumban Gambiri. Toga Sirait memiliki dua orang putra, yaitu:
(1) Sirait Sihahaan dan (2) Sirait Sianggian.

Sirait Sihahaan menikah dengan Boru Limbong, bermukim di Lumban Sihahaan, Sibisa dan memiliki tiga orang putra, yaitu:

  1. Ompu Raja menikah dengan Ramin Nauli Boru Naibaho, bermukim di Pardamean Sibisa, Ajibata dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
    1. Ompu Saurlan (Ama ni Raja) menikah dengan Moi Nauli Boru Nainggolan Parhusip, bermukim di Lumban Sihahaan, Sibisa dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
      1. Ompu Luhung menikah, bermukim di Lumban Sihahaan, Sibisa
      2. Baik Raja menikah, bermukim di Lumban Sihahaan, Sibisa
      3. Pangulu Raja menikah, bermukim di Lumban Sihahaan, Sibisa
    2. Ompu Tombak menikah dengan Pinta Uli Boru Sinaga Porti, bermukim di Lumban Sihahaan, Sibisa dan memiliki empat orang putra, yaitu:
      1. Ompu Toga Dolog menikah dengan Boru Sinaga, bermukim di Pardamean Sibisa, Ajibata
      2. Ompu Gonup menikah, bermukim di Pardamean Sibisa, Ajibata
      3. Batu Nahot Raja menikah, bermukim di Pardamean Sibisa, Ajibata
      4. Halisung Raja menikah dengan Boru Silalahi, bermukim di Pardamean Sibisa, Ajibata
    3. Raja Mardobur menikah dengan Pausaga Passamotan Boru Nababan, putri dari Datu Pamona Mangambit Tua Nababan, bermukim di Sirait Holbung dan memiliki lima orang putra, yaitu:
      1. Guru Mallonging menikah dengan Nauli Boru Sinaga Uruk, bermukim di Lintong Julu, Lumban Julu
      2. Raja Situatua menikah dengan Antang Namora Boru Sitorus, bermukim di Sirait Holbung
      3. Raja Sapalatua menikah dengan Sanggul Haomasan Boru Manurung dan Pausaga Boru Sitompul, bermukim di Harungguan, Bonatua Lunasi
      4. Raja Solotan Tua menikah dengan Boru Nainggolan Parhusip, putri dari Ompu Pangarahoda Nainggolan Parhusip, bermukim di Sirait Uruk
      5. Ompu Tombak Mataniari menikah dengan Pintauli Boru Manurung, bermukim di Porsea, Toba
  2. Datu Ronggur menikah dengan Boru Limbong dan Boru Sagala, bermukim di Ajibata, Toba dan memiliki seorang putra, yaitu:
    1. Ompu Batu Holing menikah dengan Boru Limbong Sihole, bermukim di Ajibata, Toba dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
      1. Ompu Sorbanibanua (Raja Ajibata) menikah dengan Boru Limbong, bermukim di Ajibata, Toba
      2. Ompu Guba pergi ke Tanah Jawa, Simalungun; menikah serta bermukim di sana
      3. Ompu Lantas menikah dengan Boru Damanik, bermukim di Sipolha Horison, Simalungun
  3. Guru Solomoson menikah dengan Boru Manurung, putri dari Raja Siarsam Manurung Simanoroni; Nai Limbong Monang Boru Nainggolan Parhusip, putri dari Lindi Niaek Nainggolan Parhusip; dan Boru Manurung, putri dari Raja Sijambang Manurung Hutagurgur, bermukim di Huta Namora, Lumban Julu dan memiliki empat orang putra, yaitu:
    1. Ompu Taridi menikah, bermukim di Huta Namora, Lumban Julu dan memiliki seorang putra, yaitu:
      1. Pande Raja menikah serta bermukim
    2. Ompu Tualang menikah, bermukim di Lumban Julu, Toba dan memiliki seorang putra, yaitu:
      1. Ompu Barita Namora menikah, bermukim di Huta Namora, Lumban Julu
    3. Guru Marisi menikah dengan Boru Simbolon, bermukim di Lumban Julu, Toba dan memiliki seorang putra, yaitu:
      1. Ompu Sotaralo menikah serta bermukim
    4. Ompu Batu Julu menikah, bermukim di Lumban Julu, Toba dan memiliki seorang putra, yaitu:
      1. Ama ni Batu Julu menikah serta bermukim

Sirait Sianggian menikah dengan Boru Simaibang, bermukim di Lumban Gambiri, Sibisa dan memiliki dua orang putra, yaitu:

  1. Guru Tahan Niaji menikah dengan Boru Borbor, bermukim di Lumban Gambiri, Sibisa dan memiliki seorang putra, yaitu:
    1. Guru Tahan Diaji menikah dengan Boru Sihaloho, bermukim di Pardamean Sibisa, Ajibata dan memiliki seorang putra, yaitu:
      1. Guru Pantang Diaji menikah dengan Boru Limbong Sihole dan Boru Malau, bermukim di Ajibata, Toba
  2. Guru Tumindi menikah, bermukim di Sipangan Bolon, Simalungun dan memiliki tiga orang putra, yaitu:
    1. Guru Tinopot menikah, bermukim di Sigapiton, Ajibata
    2. Guru Manahan menikah, bermukim di Horsik, Ajibata
    3. Guru Manduppas pergi ke Simalungun; menikah serta bermukim di sana
Naskah tua Tarombo (tahun 1979)
Raja Toga Sirait - Sirait Sianggian,
hasil dari tim peneliti yang dibentuk oleh punguan Ompu Metur Sirait / Br. Ambarita,
Ompu Metur merupakan salah satu keturunan dari Sirait Sianggian.

Tentang Padan:

Marga Sirait tercatat tidak memiliki padan (ikrar janji) dengan marga lain, berbeda dengan ketiga kerabatnya yang masing-masing memiliki padan.

Kontroversi tahun 2014 - 2020:

Beberapa pihak mengklaim bahwa Raja Toga Sirait memiliki dua orang istri dan tiga orang putra. Menurut klaim tersebut, anak ketiga dari Toga Sirait bernama Sirait Nalomloman, yang merupakan hasil pernikahan dengan istri kedua, Boru Naibaho dari Pangururan. Mereka juga mengklaim bahwa Raja Mardobur bukan anak dari Ompu Raja, melainkan anak dari Sirait Nalomloman. Namun, klaim yang beredar pada tahun 2014 hingga 2020 ini tidak diterima oleh sebagian besar keturunan Sirait lantaran tidak disertai bukti ataupun sumber data. Sebagian keturunan Sirait dengan tegas menyatakan hanya mengakui literatur yang diterima secara umum.[2][3]

Pemandangan alam di Sigapiton, Ajibata, Toba. Leluhur marga Sirait menempati wilayah Ajibata dan merupakan Raja bius Desa Sigapiton, yang dikenal sebagai Raja Naopat atau Raja Paropat bersama marga Manurung, Butarbutar, dan Nadapdap.[4][5]

Sirait di Simalungun

Pada awalnya, leluhur marga Sirait bermukim di Sibisa. Generasi berikutnya kemudian menyebar dan membuka perkampungan baru. Pada masa berdirinya kerajaan-kerajaan Simalungun, populasi marga Sirait yang menyebar di Tanah Simalungun berafiliasi dengan marga Sinaga. Hingga saat ini, marga Sirait umumnya mewarisi salah satu dari dua ciri kebudayaan, yakni Batak Toba atau Batak Simalungun, tergantung pada daerah persebarannya.[6][7]

Huta Sirait

Keturunan Raja Toga Sirait terkenal perantau ulung, pemberani dan penolong, sehingga banyak menguasai lahan dan mendapat tanah dari upaya menolong orang, sehingga memiliki banyak tanah ulayat / huta. Huta Sirait tersebar seluas yang dijelajahi di beberapa Kabupaten Sumatera Utara, berikut daftarnya:

bius Sirait di Samosir yang kini secara administratif masuk dalam Kecamatan Nainggolan.
  1. Huta Sirait, Pardamean Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba (Bona Pasogit Sirait)
    (terdiri dari: Sibisa, Lumban Sihahaan, Lumban Gambiri)
  2. Huta Sirait, Parsaoran Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba (Tambak Raja Toga Sirait dohot Ripena; Manotalan Boru Limbong)
    (terdiri dari: Sibisa, Onan Sampang)
  3. Sirait Uruk (Patane I), Porsea, Toba[8]
  4. Huta Sirait / Lumban Ginjang di Sigapiton, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
  5. Huta Sirait di Huta Namora, Lumban Julu, Toba
  6. Sirait Holbung di Harungguan, Bonatua Lunasi, Toba
  7. Huta Sirait / Lumban Rang di Sionggang Utara, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba
  8. Huta Sirait di Lintong Julu, Lumban Julu, Toba
  9. Huta Sirait, Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir
  10. Barisan Sirait di Pardomuan, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, Kabupaten Dairi
  11. Lumban Sirait Dolok di Pardomuan Ajibata, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
  12. Lumban Sirait di Pardamean Ajibata, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
  13. Desa Sirait Tigaraja, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun
  14. Huta Sirait di Marom, Uluan, Toba
  15. Desa Sirait, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun
  16. Huta Sirait di Maduma, Simanindo, Samosir
  17. Lumban Sirait Sibatubatu di Marlumba, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir
  18. Lumban Sirait Gu, Parmaksian, Toba
  19. Lumban Sirait di Parsaoran Ajibata, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
  20. Huta Sirait di Horsik, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba

Peninggalan

Terdapat beberapa peninggalan leluhur marga Sirait yang teridentikasi keberadaannya.

Dalam sejarah marga Sirait, khususnya riwayat Sirait Sihahaan, ketika ketiga anaknya telah beranjak dewasa, ia mewariskan benda pusaka sebagai simbol kesejahteraan dan pertanda. Ompu Raja menerima piso batak (pisau tradisional batak), Datu Ronggur menerima hujur siringis (tombak tradisional batak), dan Guru Solomoson menerima sapa bolon (piring tradisional batak). Mengenai keberadaan fisiknya, beberapa sumber mengatakan bahwa benda-benda pusaka tersebut masih ada hingga saat ini di mana leluhur tersebut bermukim.

Dua benda pusaka peninggalan Ompu Raja Sirait, yakni Pagar Silintong Boru-boru serta Pagar Silintong Tunggal yang sudah tidak diketahui lagi keberadaannya,
berikut penjelasannya:

Pagar Silintong Boru-boru adalah benda pusaka milik Ompu Raja Sirait. Beberapa sumber mengatakan bahwa Pagar Silintong Boru-boru adalah batu sakti yang dikenal sebagai pangulubalang. Dikisahkan, pada masa lampau Pagar Silintong Boru-boru sangat berperan dalam menjaga huta (area) Ompu Raja dan dipercaya dapat berbicara untuk memberitahukan jika ada musuh atau pencuri yang datang, melalui seruan: "Musu! Musu! Musu!". Namun kini, kesaktian Pagar Silintong Boru-boru tersebut dikabarkan sudah hilang karena tidak lagi lengkap dengan pasangannya, yakni Pagar Silintong Tunggal yang dibawa pergi oleh Raja Mardobur. Meski demikian, batu tersebut masih ada hingga saat ini di tambak (makam) Ompu Raja di Sibisa (Lumban Sihahaan).

Pagar Silintong Tunggal adalah benda pusaka milik Ompu Raja Sirait, nama Pagar Silintong Tunggal abadi sebagai benda pusaka yang mengiringi riwayat Raja Mardobur Sirait. Saat beranjak dewasa Raja Mardobur berniat untuk merantau, seiring waktu ia mulai merantau dari Sibisa (Lumban Sihahaan) ke Lintong Julu (Lumban Lintong) hingga tiba di Harungguan (Sirait Holbung), lalu ia menikah dan bermukim serta berketurunan di sana. Kala itu, ia pergi sembari membawa Pagar Silintong Tunggal yang telah diwariskan oleh ayahandanya, Ompu Raja, sebagai sebuah pertanda baginya. Beberapa sumber mengatakan bahwa Pagar Silintong Tunggal adalah batu sakti yang sudah diberikan kekuatan magis, yang dipercaya berfungsi sebagai penangkal racun dan bisa hewan. Mengenai bentuk fisik Pagar Silintong Tunggal tersebut sudah tidak diketahui lagi di mana keberadaannya.[9][10]

Tokoh

Beberapa tokoh yang bermarga Sirait, di antaranya adalah:

Galeri

Catatan

Referensi

  1. ^ Vergouwen, J. C. (Jacob Cornelis) (1964). The social organisation and customary law of the Toba-Batak of northern Sumatra. Internet Archive. The Hague, M. Nijhoff.
  2. ^ "Suara Tapian |". www.suaratapian.com. Diakses tanggal 2026-06-08.
  3. ^ "Berita Hukum". www.beritahukum.com. Diakses tanggal 2026-06-08.
  4. ^ "Badan Registrasi Wilayah Adat". www.brwa.or.id. Diakses tanggal 2026-04-15.
  5. ^ "TanahKita.Id". www.tanahkita.id. Diakses tanggal 2026-08-04.
  6. ^ "Sirait di Simalungun | Ditulis oleh pakar". www.wordpress.com. Diakses tanggal 2026-04-15.
  7. ^ "Afiliasi marga Sirait di Simalungun". www.scribd.com. Diakses tanggal 2026-07-28.
  8. ^ "Sirait Uruk". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-07-11.
  9. ^ "Ebatak | Kisah dan Silsilah Raja Mardobur Sirait". www.ebatak.com. Diakses tanggal 2022-03-05.
  10. ^ "Riwayat Raja Mardobur Sirait | Ditulis oleh pakar". www.bloggspot.com. Diakses tanggal 2026-04-15.
  11. ^ "Charles Bonar Sirait". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2026-06-03.
  12. ^ "Linton Sirait". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2026-06-02.
  13. ^ "Marintan Sirait". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2026-06-02.
  14. ^ "Maruarar Sirait". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2026-06-03.
  15. ^ "Tokoh.id | Midian Sirait". www.tokoh.id. Diakses tanggal 2023-04-25.
  16. ^ "Sabam Sirait". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2026-06-03.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya