Srimpi Layu-layu
Srimpi Layu-layu adalah salah satu ragam klasik dari tarian istana Jawa, khususnya di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dibawakan oleh empat penari wanita.[1] Nama Layu-layu diambil dari istilah lalayu, yaitu sejenis bendera kecil yang biasanya disematkan pada ujung senjata seperti tombak atau panah. Dalam konteks simbolik, lalayu melambangkan tanda kemenangan dan kejayaan, sehingga tarian ini menggambarkan semangat keagungan, kehormatan, serta kemenangan dalam bingkai estetika tari klasik Jawa.[2]
Sejarah
Srimpi layu-layu diciptakan dan berkembang pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921–1939).[3] Informasi mengenai tarian ini terdokumentasi dalam sejumlah naskah kuno atau manuskrip Kagungan Dalem yang tersimpan di Perpustakaan Kawedanan Widya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Manuskrip-manuskrip tersebut antara lain Serat Beksa Bedhaya Srimpi, Serat Kandha Bedhaya Srimpi , serta Serat Pasindhen Bedhaya Srimpi.[1]
Srimpi Layu-layu ditampilkan oleh empat penari utama yang didampingi oleh dua orang dhuduk. Dari keempat penari tersebut, dua di antaranya memerankan tokoh Dewi Sirtupelaeli, sedangkan dua lainnya memerankan Dewi Sudarawerti. Adapun kedua dhuduk berperan sebagai pembawa properti yang digunakan dalam adegan peperangan, yaitu jemparing (panah) milik Dewi Sirtupelaeli.[1][4]
Ragam gerak
Sama seperti bentuk tari srimpi pada umumnya, Srimpi Layu-layu memiliki struktur pertunjukan yang terdiri atas tiga bagian utama, yaitu maju gawang atau kapang-kapang maju, tarian pokok, dan mundur gawang atau kapang-kapang mundur. Bagian maju gawang menandai momen ketika para penari memasuki area pertunjukan dengan langkah yang anggun dan penuh tata krama, sedangkan bagian mundur gawang merupakan penutup yang menggambarkan para penari meninggalkan panggung dengan sikap tenang dan penuh kehalusan.[1]
Bagian tarian pokok menjadi inti dari pertunjukan Srimpi Layu-layu, karena di dalamnya tersaji alur cerita utama yang menggambarkan adegan peperangan antara dua tokoh dewi, yaitu Dewi Sirtupelaeli dan Dewi Sudarawerti. Melalui perpaduan gerak yang lembut tetapi berirama kuat, bagian ini menampilkan dinamika antara kekuatan dan keanggunan dalam konteks simbolis pertarungan batin dan kehormatan.[1]
Dalam tarian ini terdapat ragam gerak khas yang disebut Gajah Ngoling, sebuah gerakan yang tidak lazim ditemukan dalam tari srimpi pada umumnya. Ragam gerak tersebut biasanya hanya muncul dalam tari bedhaya dan tari golek, sehingga kehadirannya dalam Srimpi Layu-layu memberikan kekhasan tersendiri, baik dari segi teknik gerak maupun nilai estetika yang terkandung di dalamnya.[1]
Sumber rujukan
Referensi
- ^ a b c d e f crew, kraton. "Srimpi Layu-Layu". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-12.
- ^ Ayu, Dyar (2025-10-18). "Tari Srimpi Klasik Gaya Jogja, Lambang Empat Arah Mata Angin". IDN Times Jogja. Diakses tanggal 2025-11-12.
- ^ "Tak Pernah Dipimpin Ratu, Ini Sejarah Para Raja Keraton Yogyakarta". CNN Indonesia.
- ^ crew, kraton. "Uyon-Uyon Hadiluhung Senin Pon 18 Desember 2023". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-12.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.