Swarastra

Swarastra adalah seorang raja dalam mitologi Hindu. Menurut kitab Markandeyapurana, ia adalah sosok raja yang baik, tidak lupa menyelenggarakan ritual keagamaan, dan tidak kalah dalam peperangan. Ia memiliki seratus istri. Di antara semua istrinya, hanya nama Utpalawati yang disebutkan, karena ia merupakan ibu Tamasa, Manu keempat.

Menurut kisah dalam Purana, Swarastra memuja dewa Surya dengan taat. Tindakan Swarastra membuat Surya senang, sehingga ia dianugerahi umur yang panjang. Saat seluruh istri, menteri, dan para abdinya meninggal dunia, Swarastra masih tetap hidup. Hal itu membuatnya sedih sehingga ia kehilangan semangat hidupnya. Akhirnya, kerajaan yang dipimpin Swarastra mengalami kekalahan oleh serangan yang dilancarkan seorang raja bernama Wirmada. Setelah kekalahannya, Swarastra pergi bermeditasi ke tengah hutan. Ia memilih tepi sungai Witasta sebagai tempat bermeditasi dan melakukan meditasinya dengan ekstrem. Pada musim panas ia bermeditasi dalam kobaran api sedangkan pada musim dingin ia bermeditasi di bawah air.

Saat Swarastra sedang bermeditasi di musim dingin, awan hitam bergumul, lalu membuat empat penjuru dunia menjadi gelap. Kemudian hujan turun dengan sangat lebat, membuat aliran sungai menjadi deras dan menghanyutkan Swarastra. Seekor kijang turut hanyut bersama Swarastra dan makhluk tersebut berusaha menyelamatkan diri. Swarastra berhasil meraih ekor kijang tersebut, sehingga dirinya terselamatkan berkat hewan tersebut. Sang kijang mengantarnya menuju sebuah gua yang indah di alam bawah tanah.

Di dalam gua, sang kijang memberi tahu sang raja bahwa dirinya adalah reinkarnasi dari Utpalawati, istri kesayangannya dalam kehidupan sebelumnya. Pada kehidupan sebelumnya, Utpalawati mengejar seekor kijang, yang sesungguhnya merupakan penjelmaan resi Sutapah tetapi ia tidak mengetahuinya. Sang resi menjadi marah lalu ia mengutuk Utpalawati agar terlahir kembali sebagai seekor kijang. Akhirnya, Utapalawati bereinkarnasi menjadi kijang dan bertemu kembali dengan suaminya yang berumur panjang. Petemuan kembali dengan Utpalawati membuat Swarastra menjadi senang. Kemudian mereka memiliki seorang anak yang diberi nama Tamasa, karena dilahirkan saat dunia dalam keadaan gelap gulita. Anak tersebut ditakdirkan menjadi Manu keempat.

Lihat pula

Referensi

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya