Tambo Kejai

Tambo Kejai, dengan judul lengkap Tambo Kejai Beserta Lima Buah Cerita Rakyat Lainnya dari Bengkulu, merupakan sebuah buku yang menghimpun enam buah cerita rakyat Bengkulu. Buku ini diterbitkan oleh Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tebalnya 199 halaman, serta diterbitkan tanpa mencantumkan tahun penerbitan.[1] Namun, berdasarkan pola penerbitan proyek tersebut, diperkirakan buku ini muncul pada pertengahan dekade 1970-an, bersamaan dengan publikasi berbagai cerita rakyat dari daerah lainnya.[2][3] Tim penyusun naskah terdiri atas Djalaluddin, M. Ikram BA, Thamrin Fajar, Muhd. Yusuf M., Abu Syahid, dan A. Samid, sedangkan tim penyunting adalah Bobin AB dan Atjep Djamaludin.[1]

Isi

Tambo Kejai

Cerita rakyat masyarakat Rejang ini menjelaskan asal-usul masyarakat setempat serta ritus pernikahan yang disebut Kejai. Diceritakan bahwa tokoh utama, Raden Cetang—salah seorang putra raja Majapahit—digambarkan berpenampilan kurang menarik namun memiliki kesaktian luar biasa. Ia datang ke wilayah Rejang yang berada di bawah kekuasaan Rajo Magek, yang keturunan Pagaruyung. Raden Cetang kemudian menikahi Putri Serimbang Bulan, putri Rajo Magek, dan perhelatan pernikahan mereka menampilkan kesenian kelintang, gong, serta tarian komunal. Setelah pernikahan, pasangan pengantin bersama pengikutnya berpindah membuka wilayah baru. Peristiwa ini menjadi dasar kodifikasi adat Rejang dalam pelaksanaan ritus perkawinan serta penyambutan tamu agung.[1]

Asal Nama dan Keturunan Penduduk Bengkulu

Cerita rakyat ini membahas pembentukan pemukiman awal di wilayah Selebar, pesisir Bengkulu, khususnya Kerajaan Sungai Serut. Tokoh utamanya ialah Ratu Agung, putra penggantinya Anak Dalam Muara Bengkulu, serta putri bungsunya Putri Gading Cempaka. Disebutkan bahwa Kerajaan Sungai Serut mengalami konflik peperangan dengan Aceh setelah pinangan anak raja Aceh kepada Putri Gading Cempaka ditolak. Putri tersebut sempat diculik, namun berhasil diselamatkan dengan gugurnya beberapa saudaranya. Kerajaan kemudian berpindah ke pedalaman di Gunung Bungkuk. Setelah beberapa lama, datang utusan Pagaruyung bernama Maharaja Sakti, yang bijaksana sehingga diminta oleh para ketua adat (pesirah) Rejang untuk dirajakan di Bengkulu, dan hal itu diizinkan oleh raja Pagaruyung. Setelah pemerintahan mapan, Maharaja Sakti meminang Putri Gading Cempaka, dan permintaan tersebut diterima. Selanjutnya dibahas tentang para keturunan Maharaja Sakti dan Putri Gading Cempaka yang menjadi penguasa Kerajaan Sungai Lemau di pesisir Bengkulu.[1]

Asal Mula Keramat Ulau Dues

Cerita rakyat ini menjelaskan asal-usul toponimi dan sakralitas hulu Sungai Ketahun di Lebong. Awalnya dikisahkan empat putra selir raja Majapahit—Biku Sepanjang Jiwo, Biku Bimbo, Biku Bejenggo, dan Biku Bermano—yang diangkat memimpin masyarakat setempat dan menjadi asal-usul marga Rejang Empat Petulai.[1]

Berikutnya adalah cerita tentang tujuh bersaudara anak Raja Mawang, terutama Ki Karang Nio dan Putri Serindang Bulan. Putri ini selalu sakit kulit setiap kali dipinang, lalu sembuh ketika pinangan dibatalkan. Karena malu, kakak-kakaknya menyuruh Ki Karang Nio membunuhnya. Namun ia tidak tega, sehingga hanya menghanyutkannya di Sungai Ketahun. Putri Serindang Bulan akhirnya terdampar di Pulau Pagai, di mana ia bertemu Sultan Indrapura Setio Barat yang sedang berburu, yang kemudian memperistrinya. Setelah lama waktu berlalu, sang putri mengabarkan dan mengundang kakak-kakaknya untuk berkunjung. Mereka disambut dengan sebaik-bainya, tetapi kapal mereka karam saat pulang. Kesemua kakanya selamat, namun akhirnya memutuskan tidak pulang ke Lebong, kecuali Ki Karang Nio yang diperintahkan untuk memimpin sana. Ki Karang Nio memimpin dengan baik dan dikenal atas kesaktiannya, dan ia pernah menolak buaya-buaya muara yang masuk ke hulu deras (Ulau Dues) dari Sungai Ketahun. Setelah wafat, ia dimakamkan di sana dan digelari Keramat Ulau Dues.[1]

Selanjutnya diceritakan pula berbagai peristiwa dan kesaktian dari tokoh keturunan Karang Nio, yaitu Pangeran Saudo. Interaksi para tokoh dengan masyarakat serta berbagai kejadian gaib di kawasan itu menumbuhkan tabu dan tradisi mistis, yang menjadi bagian dari kearifan lokal dalam menjaga alam dan menghormati leluhur.[1]

Karang Sendingan

Cerita ini mengisahkan seorang pemuda yatim piatu bernama Sutan Mpu dari desa terpencil Pinang Jarang. Ia merantau ke kota Tanjung Bungo dan bekerja sebagai buruh jalanan. Seorang pengusaha kaya yang kemudian mempekerjakannya dan membawanya tinggal di rumah. Tumbuh cinta antara Sutan Mpu dengan putri pengusaha tersebut, Sri Lenggeni. Keduanya akhirnya menikah dan hidup bahagia hingga dikaruniai dua orang putra, Benarila dan Beriala. Namun, kebahagiaan mereka memicu kecemburuan dari penduduk asli Tanjung Bungo yang merasa tersaingi oleh Sutan Mpu. Terjadi peracunan yang merenggut nyawa Sri Lenggeni, disusul dengan pengeroyokan terhadap Sutan Mpu serta pembakaran rumah mereka hingga hangus. Kedua putra mereka Benarila dan Beriala diusir dan akhirnya melarikan diri ke hutan rimba untuk mencari jalan pulang ke desa leluhur mereka di Pinang Jarang.[1]

Dalam perjalanan yang menyiksa tersebut, Beriala meninggal dunia karena kelaparan, meninggalkan Benarila sendirian menjaga jenazah adiknya hingga membusuk. Saat bertemu seekor harimau besar, Benarila pingsan dan secara misterius dipindahkan oleh harimau tersebut—yang diyakini sebagai perwujudan nenek moyang mereka—ke desa Pinang Jarang. Di sana, ia diangkat anak oleh Sutan Muda yang masih kerabat ayahnya. Kisah berakhir dengan terjadinya kebakaran besar di kota Tanjung Bungo sebagai bentuk keadilan ilahi, sementara Benarila hidup bahagia di Pinang Jarang sebagai penerus garis keturunan yang memegang teguh lima wasiat mulia leluhurnya: tahu diri, setia pada kewajiban, cinta akan tugas, sungguh-sungguh dalam usaha, dan ramah-pemurah dalam pergaulan.[1]

Bujang Awang Tabuang

Cerita ini menjelaskan tentang seorang pemuda bernama Bujang Awang Tabuang, yang lahir dalam pembuangan akibat intrik di Kerajaan Peremban Panas, dan dibesarkan oleh ibunya Putri Rimas Bangesu di hutan. Ia tumbuh bersama seekor harimau yang mengajarkannya ilmu silat, serta setelah bertapa di hutan ia memperoleh kekuatan gaib dan menjadi pemuda yang gagah dan sakti. Pada usia tujuh belas tahun, ibunya menceritakan asal-usulnya, lalu ia berangkat mendatangi ayahnya, Raja Kramo Kratu Agung. Saat ia datang, Raja Kramo Kratu Agung tengah mempersiapkan pernikahannya dengan Putri Rambut Perak dari Kerajaan Pinang Jarang. Awalnya Bujang Awang Tabuang tidak dipercaya, namun ia berhasil menerobos penjagaan istana, mengalahkan pasukan yang ingin menawannya, bahkan dapat bertahan dalam pertarungab dengan ayahnya. Setelah mengungkap jati diri, raja sangat senang dan membatalkan pernikahannya, serta memanggil kembali Putri Rimas Bangesu ke istana. Hal ini memicu peperangan dengan Kerajaan Pinang Jarang, tetapi serangan itu berhasil dipatahkan dan kerajaan tersebut lalu digabungkan dengan Kerajaan Peremban Panas. Pada akhirnya, Bujang Awang Tabuang menggantikan ayahnya sebagai raja dan memerintah dengan adil serta bijaksana.[1]

Raden Serdang Pandan Irang

Cerita ini mengenai tokoh Raden Serdang Pandan Irang penguasa masyarakat Rejang di wilayah Dusun Raja. Raden Serdang memiliki seorang adik perempuan bernama Putri Renong Bulan. Setelah ayahnya wafat, Raden Serdang memimpin kerajaan dan berhasil membawa rakyat hidup makmur serta membangun pertahanan berupa parit dan pagar bambu berduri di sekitar istana. Kecantikan Putri Renong Bulan terdengar hingga ke Aceh. Lamaran dari pihak Aceh ditolak karena sang putri telah bertunangan dengan putra raja Sungai Lemau. Penolakan itu memicu peperangan antara Aceh dan Dusun Raja di bawah pimpinan Raden Serdang Pandan Irang. Pertempuran berlangsung sengit, tetapi pertahanan kerajaan akhirnya berhasil ditembus pasukan Aceh, dan setelah itu Putri Renong Bulan berhasil ditangkap. Dalam perjalanan menuju Aceh, sang putri memilih melompat ke laut daripada dibawa hidup-hidup. Disebutkan bahwa sang putri berubah menjadi batu yang dikenal sebagai Batu Berambai. Raden Serdang Pandan Irang sendiri menghilang tanpa jejek. Namun di Bengkulu Utara masih dikenali bekas parit kerajaan di Dusun Raja dan tempat yang diyakini sebagai lokasi peristiwa peperangan tersebut.[1]

Referensi

  1. ^ a b c d e f g h i j k Djalaluddin, dkk. (2024-02-20). Tambo kejai beserta lima buah cerita rakyat lainnya dari Bengkulu. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Proyek Pengembangan Media Kebudayaan (1976). Amat Rhang Manyang, Raja Deumet, Puteri Naga, Puteri Bensu dan Malim Dewa, Puteri Ijo (cerita rakyat dari Aceh). Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan.
  3. ^ Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Proyek Pengembangan Media Kebudayaan (1976). Dara nante: ceritera rakyat dari Kalimantan Barat. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya