Tari Soreng

Tari Soreng merupakan tarian tradisional dari Provinsi Jawa Tengah yang berasal dari Kecamatan Pakis, daerah lereng Gunung Merbabu dan Gunung Andong, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Tarian ini menggambarkan kisah peperangan legendaris pada masa akhir kejayaan Kesultanan Demak Bintoro. Selain itu, Tari Soreng menampilkan unsur kepahlawanan, nuansa keprajuritan, semangat juang, serta merefleksikan dinamika sosial dan politik pada periode transisi kekuasaan di Jawa. Dalam pementasannya, Tari Soreng kerap mengangkat kisah tokoh Arya Penangsang, sosok legendaris dalam babad Jawa yang dikenal karena keberaniannya serta kepemimpinannya atas pasukan yang tangguh. Sejak tahun 2021, Pemerintah menetapkan Tari Soreng sebagai Warisan Budaya Takbenda.[1]

Asal-usul

Menurut sejarahnya, Tari Soreng berasal dari Desa Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Tarian ini diyakini pertama kali diciptakan oleh masyarakat setempat yang bermukim di lereng Gunung Merbabu. Tarian ini terinspirasi dari kisah sejarah dalam Babad Tanah Jawi serta mengangkat narasi tentang para prajurit dari Kadipaten Jipang Panolan yang berada di bawah pimpinan Adipati Arya Penangsang dalam upayanya menghadapi kekuasaan Sultan Hadiwijaya.

Menurut catatan dalam Babad Tanah Jawi, Arya Penangsang merupakan Adipati Kadipaten Jipang Panolan yang terletak di wilayah Jawa Tengah. Ia digambarkan sebagai tokoh yang memiliki sifat adigang, adigung, adiguna, yaitu merasa unggul dalam kekuatan, kekuasaan, dan kecerdasan. Selain itu, ia dikenal memiliki sifat pendendam. Rasa dendam Arya Penangsang bermula dari peristiwa wafatnya sang ayah, Raden Kikin atau Pangeran Sekar Seda Lepen, yang terbunuh dalam konflik politik. Raden Kikin tewas di tangan Sunan Prawata, dalam persaingan untuk memperebutkan takhta Kesultanan Demak pasca wafatnya Sultan Trenggana.[1]

Pementasan

Pementasan diawali dengan kemunculan para penari, yang sebagian besar berusia remaja, membawakan tembang dolanan, yakni lagu tradisional anak-anak berbahasa Jawa yang bercirikan irama riang serta sarat dengan nuansa kebahagiaan dan metafora alam. Segmen awal ini merepresentasikan kehidupan sosial dan budaya masyarakat pegunungan di wilayah sekitar Gunung Merbabu dan Gunung Andong dalam bentuk seni pertunjukan. Bagian pembuka ini juga merefleksikan kedekatan kesenian Soreng dengan komunitas lokal, suatu kedekatan yang dapat mengalami perubahan apabila dipentaskan di luar konteks geografis dan budaya asalnya. Gerak dan tingkah jenaka para penari dalam menggambarkan permainan tradisional seperti dakon, gobag sodor, benthik, dan sejenisnya.[2] Selanjutnya, pertunjukan menggambarkan suasana permainan tradisional anak-anak (dolanan), digambarkan sekelompok anak sedang asyik bermain hingga suasana tersebut mendadak terganggu oleh kemunculan sosok Buto Galak, tokoh antagonis berbentuk raksasa yang menyerang dan mengacaukan permainan. Kepanikan pun terjadi; anak-anak berlarian dengan rasa takut yang mencekam.

Di tengah kekacauan tersebut, muncul seorang ksatria muda bernama Danang Sutawijaya atau Raden Ngabehi Lor-ing-Pasar, yang dikenal sebagai putra angkat Sultan Hadiwijaya. Ksatria tersebut berhasil mengalahkan Buto Galak dan mengembalikan ketenteraman di tengah anak-anak yang sebelumnya dilanda ketakutan. Sebagai bagian dari narasi pertunjukan, adegan ini dilanjutkan dengan sajian tarian dan nyanyian campursari maupun lagu-lagu Jawa populer yang dibawakan oleh penyanyi tamu, guna menambah daya tarik bagi para penonton yang memadati lokasi. Setelah suasana hiburan berlangsung, muncul kembali ketegangan melalui kemunculan tokoh Adipati Arya Penangsang, yang digambarkan sebagai penunggang kuda Gagak Rimang. Ia datang dengan suara lantang menantang Sultan Hadiwijaya untuk melakukan perang tanding. Ketegangan kembali muncul, anak-anak yang semula menari dan bernyanyi segera menyingkir dari arena pementasan.

Tantangan Arya Penangsang kemudian dihadapi kembali oleh Danang Sutawijaya. Dalam adegan pertarungan yang sengit, Danang berhasil melukai lambung Arya Penangsang menggunakan senjata tombak Kyai Plered. Luka tersebut menyebabkan usus Arya Penangsang terburai, tetapi ia tetap melanjutkan pertarungan dengan menyampirkan ususnya pada gagang keris Brongot Setan Kober di punggungnya. Dalam puncak pertarungan, saat Arya Penangsang hampir berhasil mengalahkan Danang Sutawijaya dan mencoba mencabut keris dari punggungnya, senjata tersebut justru memotong ususnya sendiri. Akibatnya, Arya Penangsang tewas oleh senjata yang dibawanya sendiri, mengakhiri pertempuran yang penuh ketegangan tersebut.[3]

Referensi

  1. ^ a b "Jejak Tari Soreng Khas Lereng Merbabu, Dendam Arya Penangsang Terhadap Hadiwijaya". Tempo. 10 Juli 2023 | 15.34 WIB. Diakses tanggal 2025-06-16.
  2. ^ sasinddipo. "Kearifan Lokal Masyarakat Punggung Merbabu dalam Tari Soreng Menjadi Objek Pengabdian IDBU LPPM UNDIP | Sastra Indonesia". Diakses tanggal 2025-06-16.
  3. ^ Sari, Dewi Purnama (2023-07-15). "BENTUK PERTUNJUKAN TARI SORENG DAN PERANNYA BAGI MASYARAKAT DESA LEMAH IRENG KECAMATAN BAWEN KABUPATEN SEMARANG". Greget : Jurnal Kreativitas dan Studi Tari (dalam bahasa Inggris). 22 (1): 12–21. doi:10.33153/grt.v22i1.4288. ISSN 2716-067X.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya