Tengku Raihani
| Raihani ريحانا | |
|---|---|
Tengku Raihani pada tahun 1934 | |
| Ratu Permaisuri Brunei | |
| Periode | 30 April 1934 – 4 Juni 1950 |
| Penobatan | 17 Maret 1940 |
| Lahir | Raihani binti Ala’eddin Sulaiman Shah 11 Oktober 1911 Istana Bandar Temasya, Kuala Langat, Selangor |
| Meninggal | 22 September 1993 (umur 81) |
| Pemakaman | |
| Ayah | Ala’eddin Sulaiman Shah |
| Ibu | Maimunah binti Abdullah |
| Pasangan | Kamaluddin ibni Harun Al-Rashid
(m. 1956) |
| Keturunan | Putri Nor Ehsani |
| Wangsa | Opu Daeng Chelak (berdasarkan kelahiran) Bolkiah (berdasarkan pernikahan) |
| Agama | Islam Sunni |
Raihani binti Sulaiman Shah (11 Oktober 1911 – 22 September 1993) adalah Ratu Permaisuri Brunei sebagai istri dari Sultan Ahmad Tajuddin. Ia juga merupakan anggota keluarga kerajaan Selangor sebagai putri dari Sultan Sulaiman Shah.
Kehidupan awal
Tengku Raihani lahir pada 11 Oktober 1911 di Istana Bandar Temasya, Jugra, Kuala Langat, Selangor, dari pasangan Sultan Sulaiman dari Selangor dan salah satu permaisurinya, Cik Anjung Negara Cik Puan Maimunah binti Abdullah.[1]
Pernikahan dan keturunan

Pernikahan pertama
Pada bulan April dan Mei 1934, Raihani menikah dengan Sultan Ahmad Tajuddin dari Brunei dalam serangkaian upacara megah selama dua minggu di Klang, Selangor. Akad Nikah dilaksanakan pada 30 April di Masjid Sultan Sulaiman[2] dan upacara Bersanding berlangsung pada 6 Mei di Istana Mahkota Puri.[3]
Putri mereka, Putri Nor Ehsani, lahir pada 15 Oktober 1935 di Klang.[4]
Pernikahan kedua
Pada 18 Agustus 1956, Raihani menikah dengan Raja Kamaluddin ibni Raja Harun Al-Rashid, seorang anggota keluarga kerajaan Perak, di Istana Bukit Kota, Klang.[5][6]
Ratu permaisuri
Tengku Raihani menjabat sebagai Ratu Permaisuri Brunei sejak tanggal pernikahannya pada tahun 1934 hingga suaminya wafat pada tahun 1950. Ia diberikan gelar Tengku Ampuan Brunei, serupa dengan gelar permaisuri Sultan Selangor, sebagai pembeda dari penggunaan gelar Raja Isteri yang digunakan oleh permaisuri kerajaan Brunei lainnya.[7][8][9]
Pada 17 Maret 1940, Raihani dinobatkan bersama suaminya di Istana Mahkota di Kampong Tumasek.[10] Masa jabatannya berakhir setelah wafatnya Sultan Ahmad Tajuddin secara mendadak di Singapura pada 4 Juni 1950.[11]
Kematian
Tengku Raihani meninggal dunia pada 22 September 1993 akibat Kanker ginjal. Ia dimakamkan di Makam Diraja Masjid Sultan Sulaiman di Klang, Selangor.[1]
Referensi
- ^ a b Bumi, Tok Bentara Mangku (16 September 2022). "Tengku Raihani, Tengku Ampuan Brunei". Bentara Mangkubumi. Diakses tanggal 28 Oktober 2022.
- ^ "Wedding of Sultan of Brunei: Ceremonies Begin at Klang". The Straits Times. National Library Singapore. 30 April 1934. Diakses tanggal 8 Februari 2026.
- ^ "Bersanding Ceremony at Klang: Royal Wedding - Ancient Malay Traditions Honoured". The Straits Times. National Library Singapore. 8 Mei 1934. Diakses tanggal 8 Februari 2026.
- ^ Reece, Bob (2009). Sather, Clifford (ed.). ""The Little Sultan": Ahmad Tajuddin II of Brunei, Gerard MacBryan, and Malcolm Macdonald" (PDF). Borneo Research Bulletin. 40. Borneo Research Council. ISSN 0006-7806.
- ^ "Perkahwinan Bekas Raja Isteri Brunei di Malaya" [Former Brunei King's Wife's Wedding in Malaya] (PDF). Pelita Brunei (dalam bahasa Melayu). Jabatan Penerangan: 5. 16 Agustus 1956. Diakses tanggal 28 Oktober 2022.
- ^ "Royal Wedding". Singapore Standard. National Library Singapore. 22 Agustus 1956. Diakses tanggal 8 Februari 2026.
- ^ Daulat (dalam bahasa Melayu). Pusat Sejarah Brunei - Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan. 1992. hlm. 49.
- ^ Pusaka (dalam bahasa Melayu). Pusat Sejarah Brunei - Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan. 1988. hlm. 49.
- ^ Mohammad Melayong, Muhammad Hadi (2009). Memoir seorang negarawan [Memoirs of a Statesman] (dalam bahasa Melayu). Pusat Sejarah Brunei - Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan. hlm. 76. ISBN 978-99917-34-69-9.
- ^ "King Congratulates Brunei Sultan: Ruler Proclaimed as the Yang Di Pertuan". The Straits Budget. National Library Singapore. 21 Maret 1940. Diakses tanggal 8 Februari 2026.
- ^ Mohammad Melayong, Muhammad Hadi (20 Februari 2017). "Liku-liku perjuangan ke arah negara Melayu Islam Beraja" [The twists and turns of the struggle towards a Malay Islamic Monarchy]. Media Permata (dalam bahasa Melayu). Diakses tanggal 28 Oktober 2022.
Pranala luar
Media terkait Tengku Raihani di Wikimedia Commons
| Gelar penyandang kekuasaan | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Pengiran Anak Siti Fatimah |
Ratu Permaisuri Brunei 1934–1950 |
Diteruskan oleh: Pengiran Anak Damit |
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.