Topo bisu
Topo Bisu atau Tapa Bisu Lampah Mubeng Beteng merupakan tradisi tahunan Keraton Yogyakarta yang dilaksanakan untuk memperingati Tahun Baru Jawa (1 Sura) melalui prosesi berjalan kaki mengelilingi benteng keraton dalam keadaan hening tanpa berbicara sebagai simbol refleksi diri dan pengendalian batin. Tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak tahun 2015 dan terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya dan nilai spiritual masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.[1]
Sejarah
Yogyakarta tidak pernah lepas dari kelestarian adat istiadatnya, salah satunya tercermin dalam ritual tahunan Keraton.Tradisi Topo Bisu Lampah Mubeng Beteng telah dilaksanakan secara turun-temurun di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana II sebagai bagian dari peringatan malam 1 Sura dalam penanggalan Jawa. Ritual ini berupa prosesi berjalan kaki mengelilingi benteng keraton tanpa berbicara, yang diikuti oleh abdi dalem, keluarga keraton, dan masyarakat umum. Seiring perkembangannya, tradisi tersebut tetap dipertahankan sebagai agenda tahunan Keraton Yogyakarta dan pada tahun 2015 ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Dalam pelaksanaannya, prosesi diawali dengan pembacaan tembang macapat dan doa bersama sebelum peserta menempuh rute mengelilingi benteng keraton sejauh sekitar empat kilometer dengan menjaga keheningan sebagai bagian dari tata cara ritual.[2]
Tradisi
Sebagai wujud refleksi spiritual dan pelestarian budaya yang sakral,Tradisi Topo Bisu Lampah Mubeng Beteng dilaksanakan setiap malam 1 Sura dalam penanggalan Jawa oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Prosesi diawali dengan pembacaan tembang macapat dan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki mengelilingi benteng keraton (mubeng beteng) tanpa berbicara hingga rangkaian kegiatan selesai. Peserta umumnya terdiri atas abdi dalem, keluarga keraton, dan masyarakat umum. Selama prosesi berlangsung, peserta menjaga keheningan sebagai bagian dari tata cara ritual serta menempuh rute yang mengelilingi kawasan benteng Keraton Yogyakarta dengan jarak sekitar 4 kilometer.[3]
Makna budaya
Tradisi Topo Bisu Lampah Mubeng Beteng dimaknai sebagai bentuk laku spiritual dan refleksi diri dalam menyambut pergantian Tahun Baru Jawa. Keheningan yang dijaga selama prosesi melambangkan pengendalian diri, introspeksi, serta kesempatan untuk merenungkan tindakan yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya. Selain memiliki dimensi spiritual, tradisi ini juga mencerminkan upaya pelestarian nilai-nilai budaya Jawa dan menjadi bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kepada masyarakat.[4]
~~~~
Referensi
- ^ "Merefleksi Diri Dalam Keheningan, Ritual Topo Bisu Mubeng Beteng". budaya.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2026-06-13.
- ^ "Tradisi Topo Bisu Lampah Mubeng Benteng Keraton Yogyakarta - National Geographic". National Geographic. Diakses tanggal 2026-06-13.
- ^ "Ritual Mubeng Beteng di Yogyakarta : Tradisi Satu Suro yang Sarat Makna" (dalam bahasa American English). 2026-05-14. Diakses tanggal 2026-06-13.
- ^ "Merefleksi Diri Dalam Keheningan, Ritual Topo Bisu Mubeng Beteng". budaya.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2026-06-13.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.