Tradisi Ma'bugi
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (November 2025) |
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
Tradisi Ma’bugi merupakan ritual kepercayaan Aluk Todolo, simbol ungkapan syukur serta rasa terima kasih dalam kepada Puang Matua, deata-deata (dewa-dewa) dan roh leluhur atas berkat dan perlindungan. Masyarakat dulu mengungkapkan tanda ungkapan syukur melalui ritual ini dengan cara memberikan sesajen-sesajen berupa ayam dan lambang (nasi ketan bambu), serta menari sambil bernyanyi.[1]
Perkembangan Ma'bugi
Sejak kekristenan masuk di Toraja, beberapa ritual dan tradisi mulai jarang dipakai dan ditinggalkan. Namun demikian, dalam perkembangannya Ma’bugi justru digunakan dalam liturgi Gereja Toraja seperti ibadah Minggu, Pentahbisan, dan mangrara tongkonan (syukuran rumah adat). Memang terjadi perdebatan di kalangan warga Gereja Toraja tentang kesakralan ritual mengingat ritual ma'bugi merupakan kepercayaan agama nenek moyang yaitu Aluk Todolo. Ritual Ma’bugi yang dikemas dalam bentuk nyanyian dan tarian dapat dipakai oleh warga Gereja untuk menaikkan pelampe (doa dan harapan) dan ungkapan syukur dalam upacara rambu tuka (ucapan syukur).[1]
Pelaksanaan
Tradisi Ma'bugi' dilakukan di tempat Pa'bugiran (tempat untuk Ma'bugi'), yaitu tempat yang lapang dan luas biasanya sawah sehabis panen yang sudah kering. Ma'bugi biasanya dilaksanakan selama 6 bulan untuk mencapai puncak upacaranya. Dalam 6 bulan tersebut, ada waktu pada malam-malam tertentu orang-orang akan melakukan "Nondo" dengan membentuk lingkaran sambil saling mengaitkan tangan dan menyanyikan syair-syair ungkapan syukur dan di bantu oleh teriakan "Meoli" dari penonton. Hal ini dilakukan hingga mencapai puncak acara. Puncak acara Ma'bugi' dilaksanakan pada siang hari di mana seluruh hasil bumi di daerah tersebut di bawa serta dalam arena upacara. Hasil bumi tersebut digunakan untuk makan bersama seluruh masyarakat yang hadir dalam upacara tersebut. Mengawali puncak acara Ma'bugi', pesertame laksanakan "Nondo" dan menyanyikan syair. Semakin lama nyanyian tersebut akan semakin ramai dan pada puncak keramaian itu akan ada peserta yang kerasukan. Peserta yang kerasukan itu akan melakukan hal-hal yang tidak biasa yang secara logika manusia dapat melukai dirinya.[2]
Dalam puncak acara Ma'bugi' ini, terdapat beberapa prosesi yang terjadi yang dilakukan oleh orang-orang yang kesurupan, diantaranya:
- Mantere, yaitu prosesi di mana orang yang kerasukan akan mengiris-iris bagian tubuhnya (leher, tangan, perut) dengan parang yang tajam hingga berdarah namun sesaat setelah darah mengucur dia akan mengusapkan daun Tabang di luka itu dan langsung sembuh (Daun ini sudah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Toraja dalam setiap upacara yang dilakukan). Dulu, ada seorang yang paling terkenal saat melakukan Mantere yang dikenal dengan nama Lala. Dia merupakan pemeran utama dalam acara puncak, di mana dia akan menusuk keningnya dengan pisau hingga darahnya mengucur keluar.[2]
- Memanjat tangga dengan anak tangganya adalah susunan parang yang tajam namun kaki orang tersebut tidak terluka sama sekali (ilmu kebal)
- Memanjat pohon bambu dan saat sampai di puncak orang yang kerasukan tersebut akan melakukan "Mantere".
Setelah kerasukan, maka selesai pulalah prosesi Ma'bugi' yang diakhiri dengan makan bersama oleh seluruh warga masyarakat yang hadir di tempat tersebut.[2][3]
Referensi
- ^ a b Prasetyani, Rizki Nurul; Saryono, Djoko; Dermawan, Taufik (2024-06-06). "Mantra dalam Ritual Gentong Tirto Nusantoro sebagai Representasi Makna Ungkapan Syukur, Permohonan, dan Harapan". Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra. 10 (3): 2509–2519. doi:10.30605/onoma.v10i3.3763. ISSN 2715-4564.
- ^ a b c Liliany, Eka Isma. "Ma'bugi' : Tradisi yang Pernah Ada". Good News From Indonesia. Diakses tanggal 2025-11-04.
- ^ Selatan, DisBudPar Provinsi Sulawesi. "SANGGAR MA'BUGI TALLUNGLIPU | Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan". disbudpar.sulselprov.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-04.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.