Tumpek Uduh


Tumpek Uduh, juga dikenal sebagai Tumpek Pengatag, Tumpek Wariga, Tumpek Pengarah atau Tumpek beberapa sebutan ini merupakan hari suci dalam kalender agama Hindu Bali yang diperingati setiap Saniscara Kliwon Wariga, atau 25 hari sebelum Hari Raya Galungan. Hari raya ini merupakan bentuk penghormatan dan ungkapan rasa syukur umat Hindu Bali kepada Hyang Sangkara, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai pelindung tumbuh-tumbuhan.[1][2]

Makna Filosofis

Dalam kosmologi Hindu Bali, Hyang Sangkara disimbolkan dalam arah Kaja-Kauh (barat laut) pada pengider-ider buana dan dilambangkan dengan warna hijau, yang menggambarkan kesuburan dan kehidupan tumbuhan. Pemuliaan terhadap-Nya merepresentasikan pengakuan atas keberadaan dan kekuatan alam dalam menopang kehidupan manusia. Menurut ajaran Siva Siddhanta, Hyang Sangkara merupakan aspek dari Bhatara Siwa yang menampakkan diri dalam bentuk kekuatan yang melingkupi alam semesta. Upacara dilakukan untuk mempermudah pemahaman umat terhadap aspek-aspek energi ilahi yang kompleks dan tak terbatas, agar dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Praktik Perayaan

Perayaan Tumpek Uduh di Bali ditandai dengan berbagai ritual yang ditujukan kepada tumbuh-tumbuhan, khususnya pohon-pohon yang ada di pekarangan rumah atau tempat umum. Ritual ini mencakup:

  • Pemasangan sasat gantungan (hiasan) pada batang tanaman
  • Pemberian bubur sumsum yang melambangkan kesuburan
  • Penggunaan pisau tumpul (tiuk tumpul) untuk mengetuk batang pohon sebanyak tiga kali, sebuah prosesi yang disebut “ngatag”
  • Pembacaan mantra tradisional, sebagai doa untuk pertumbuhan dan hasil panen yang melimpah menjelang Hari Raya Galungan

Salah satu mantra tradisional yang diucapkan dalam prosesi ini adalah sebagai berikut:

“Kaki-kaki, dadong dija? Dadong jumah gelem kebus dingin ngetor. Ngetor ngeed-ngeed-ngeeed-ngeeed, ngeed kaja, ngeed kelod, ngeed kangin, ngeed kauh, buin selae lemeng galungan mebuah pang ngeeed.”

Mantra tersebut berisi harapan agar hujan turun dari segala penjuru mata angin, menyuburkan tanah, dan membuat tanaman berbuah lebat menjelang Galungan.

Adapun banten (persembahan) yang umum dipakai antara lain:

  • Banten Pras
  • Banten Nasi Tulung Sesayut
  • Banten Tumpeng dan Bubur Sumsum
  • Banten Tumpeng Agung
  • Ulam itik (bebek panggang)
  • Canang sari, dupa, serta tetebusan

Dimensi Ekologis dan Sosial

Tumpek Uduh bukan hanya dimaknai sebagai ritus spiritual, tetapi juga sebagai momentum refleksi ekologis. Umat Hindu Bali diajak untuk tidak hanya melakukan persembahyangan simbolis, melainkan juga menjalankan aksi nyata seperti mendukung program penghijauan, menjaga kelestarian lingkungan, dan menolak praktik seperti illegal logging. Kegiatan seperti “One Man One Tree” atau penanaman pohon oleh perempuan (wanita menanam pohon) merupakan bentuk implementasi dari ajaran ini dalam konteks sosial-kemasyarakatan.

Konsep dalam Unsur Keagamaan

Menurut tuntunan Hindu Dharma, keberadaan tri chanda yakni unsur vata (udara), apah (air), dan ausadha (tumbuhan) adalah elemen fundamental bagi kehidupan. Perusakan terhadap ketiganya dipandang sebagai bentuk pelanggaran besar terhadap keharmonisan hidup. Dalam Nitisastra, ajaran klasik Hindu, disebutkan pula mengenai tri ratna (tiga permata kehidupan): tumbuhan, air, dan kata-kata bijak, sebagai sumber utama kemuliaan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, tumbuhan dalam ajaran Hindu sering dipandang sebagai “saudara tua” bagi manusia.

Referensi

  1. ^ triponnews (2021-10-16). "Filosofi Tumpek Pengatag atau Tumpek Uduh di Bali". TRIPONNEWS.com. Diakses tanggal 2025-06-14.
  2. ^ detikBali, Tim. "Tumpek Wariga Menurut Hindu di Bali: Makna, Tujuan, dan Pelaksanaannya". detikbali. Diakses tanggal 2025-06-14.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya