Upacara Rokat Tase

Rokat Tase’ adalah tradisi adat masyarakat pesisir Madura umumnya komunitas nelayan yang diselenggarakan sebagai ungkapan syukur atas limpahan tangkapan laut dan sebagai ritual permohonan keselamatan sebelum melaut. [1] “Rokat Tase’ merupakan wujud syukur para nelayan atas rezeki dan keselamatan yang telah mereka terima dari Sang Pencipta.” [2] Kata “rokat” sendiri dalam tradisi ini diartikan sebagai “selamatan” atau “sesajen/ritual selamat,” sedangkan “Tase’” merujuk pada lautan/pesisir.

Sejarah

Rokat Tase’ telah dijalankan oleh masyarakat pesisir Madura selama ratusan tahun sebagai bagian dari kearifan lokal nelayan dan tradisi turun-temurun. Sebagai tradisi yang menggabungkan nilai lokal dan agama, ritual ini juga pernah dikaji dalam perspektif agama Islam, menunjukkan bahwa pelaksanaannya biasanya melibatkan doa, dzikir, pembacaan Al-Qur’an, serta khataman Qur’an sebelum pelarungan sesaji ke laut.

Dalam beberapa dokumentasi modern, pelaksanaan Rokat Tase’ tak hanya sebagai ritual komunitas kecil tetapi juga mendapat perhatian pemerintah daerah serta masyarakat luas, kadang dikemas sebagai bagian dari festival kebudayaan atau pariwisata lokal. Sebagai contoh, pada 2019 kegiatan tersebut mendapat dukungan resmi sebagai bagian dari program “Visit Sumenep”.

Pelaksanaan Proses, Sesaji, Variasi

Pelaksanaan Rokat Tase’ biasanya meliputi beberapa tahap.

* Ritual dibuka dengan doa bersama, pembacaan Al-Qur’an, dzikir, dan khataman Qur’an sebagai bentuk “istigasah” atau permohonan perlindungan sebelum melaut. [1]

* Kemudian, sesaji disiapkan, yang dapat meliputi makanan, buah-buahan, ketupat/lepet, hasil laut atau aroma-aroman sebagai simbol persembahan. Sesaji ini diletakkan di atas perahu kecil atau miniatur kapal (terkadang kapal hias) lalu “dilarung” ke tengah laut sebagai bentuk penghormatan dan doa bersama. [1]

* Setelah pelarungan, sering diiringi kegiatan sosial: makan bersama, pagelaran kesenian tradisional seperti musik lokal, tarian, dan zikir bersama.

Dalam implementasinya, jadwal pelaksanaan bisa berbeda-beda antar daerah: sebagian melaksanakan setiap tahun pada bulan tertentu (misalnya bulan Suro menurut kalender Jawa) sedangkan di komunitas lain bisa disesuaikan dengan musim tangkapan ikan atau kebutuhan nelayan.

Referensi

  1. ^ a b c Sugita, Nabila Meidy. "Rokat Tase', Tradisi Tolak Bala Sekaligus Wujud Syukur Nelayan Madura". detikjatim. Diakses tanggal 2025-11-30.
  2. ^ memorandum.co.id. "Rokat Tase', Ritual Syukur Nelayan Madura yang Tak Lekang oleh Waktu". memorandum.co.id. Diakses tanggal 2025-11-30.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya