Upacara Sero


Perangkap ikan Sero

Upacara Sero adalah upacara tradisional yang diselenggarakan ketika seseorang umumnya nelayan sebelum membuat Sero baru di laut. Sero merupakan salah satu jenis alat penangkap ikan berbentuk perangkap besar statis yang terbuat dari bilah-bilah bambu dan rotan. Bilah-bilah tersebut nantinya dirangkai menjadi beberapa bagian ruang berbentuk segitiga yang tersusun di bagian belakangnya dengan bagian depannya berupa susunan pagar memanjang yang terletak tegak lurus pada garis pantai. Susunan pagar panjang tersebut nantinya akan menuntun ikan ke perangkap berbentuk segitiga tadi.[1] Umumnya nelayan yang menyelenggarakan upacara Sero ini bertujuan agar penguasa alam di laut akan menjatuhkan rezekinya di tempat Sero dibuat, sehingga hasil tangkapan ikannya menjadi lebih banyak. Penyelenggaraan upacara Sero tersebut bersifat individu dan bagi yang masih mempercayainya saja. Umumnya upacara ini dilaksanakan di kawasan pemukiman nelayan khususnya di kampung Marunda Pulo, kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.[2]

Persiapan upacara

Upacara Sero dilakukan langsung di tempat sero dibuat. Pemasangannya bilah-bilahnya diangkut menggunakan perahu bermotor yang durasi pemasangan dan penjagaannya memerlukan waktu beberapa hari. Adapun dalam proses pemasangan tersebut akan dilakukan upacara Sero di laut yang dipimpin oleh seorang dukun. Pelaksanaan upacara Sero ini diakhiri dengan hajatan yang dipimpin oleh tertua dengan pembacaan doa ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dilaksanakan oleh nelayan sebagai kepala keluarga beserta keluarganya berupa istri dan anak dengan mengundang tetangga terdekat.[3]

Jalannya upacara

Sebelum dilakukan pembuatan sero, nelayan pemilik Sero harus menemui sang dukun untuk meminta petuah mengenai tempat yang cocok untuk dibuat Sero beserta benda yang diperlukan untuk upacara Sero nanti. Walaupun semua keperluan upacara bergantung pada perkataan sang dukun, umumnya bagi nelayan selaku yang memiliki hajat harus menyediakan berbagai benda umum seperti tampah besar sebagai tempat menaruh sesajen yang akan digantung oleh bambu melintang tepatnya di tempat Sero tersebut dibuat. Sesajen yang dimaksud berupa bubur merah dan putih beserta nasi tumpeng dan buah-buahan di lengkapi dengan kemenyan. Lalu, sajian tumpeng lainnya berupa telur ayam kampung mentah, pisang raja, kembang tujuh rupa, dan bendera merah putih. Jika mampu, bambu melintang tersebut dilapisi oleh permukaan emas.

Setelah sesajen disusun, langkah selanjutnya adalah rombongan nelayan beserta dukun pergi ke lokasi pembuatan Sero yang sudah ditentukan oleh sang dukun dengan perahu bermotor. Lalu, Sero dibuat kemudian diletakkan sesajen tersebut pada bilah bambu melintang diikuti dengan pembakaran kemenyan disertai pembacaan mantra secara adat yang diikuti dengan doa secara agama Islam. Upacara Sero diakhiri dengan taburan kembang tujuh rupa oleh nelayan pemilik Sero tersebut. Selama seminggu, Sero yang sudah terpasang harus dijaga pada malam hari untuk mengganti jika kemenyan yang dibakar sudah habis. Setelah upacara Sero selesai, nelayan pemilik Sero tersebut menyelenggarakan hajatan dengan mengundang kerabat dan tetangga terdekat. Pantang bagi pelaku upacara untuk bersifat sombong dan melakukan hal-hal tidak pantas selama upacara Sero berlangsung.[4]

Benda-benda sesajen yang digunakan memiliki makna sebagai berikut: telur ayam kampung mentah sebagai simbol pengusir segala mala petaka, bendera merah putih sebagai lambang negara Indonesia tempat sero ini dibuat, pisang raja sebagai sajian untuk makhluk penguasa alam laut, bubur putih sebagai jiwa atau roh dan bubur merah sebagai tenaga atau energi, dan kemenyan perantara untuk memanggil sang penguasa alam laut sebagai penanda bahwa Sero ini perlu diberi rezeki. Lalu, kembang tujuh rupa mewakili tujuh simbol sifat berupa: hidup, kekuatan, penglihatan, pendengaran, perkataan, perasaan, dan kemauan.[5]

Catatan kaki

  1. ^ satyaminabahari 2021.
  2. ^ upacara 1985, hlm. 107.
  3. ^ upacara 1985, hlm. 109.
  4. ^ upacara 1985, hlm. 111.
  5. ^ upacara 1985, hlm. 114.

Daftar pustaka

Buku

  1. Upacara Tradisional yang Berkaitan dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1985-08-01.

Jurnal

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya