Veksiloid

Veksiloid (bahasa Inggris: vexilloid) adalah benda menyerupai bendera yang digunakan untuk mewakili suatu negara, kelompok, satuan militer, jabatan, organisasi, atau individu, tetapi bentuk atau konstruksinya berbeda dari bendera biasa. Veksiloid umumnya berupa tongkat yang dilengkapi lambang tiga dimensi, ukiran hewan, cakram, ekor hewan, rumbai, kain gantung, atau gabungan beberapa unsur tersebut.[1][2]
Istilah tersebut diperkenalkan oleh veksilolog Amerika Serikat Whitney Smith pada 1958. Smith menggunakannya untuk benda yang menjalankan fungsi sebuah bendera, tetapi berbeda dari bendera dalam penampilan atau susunannya. Menurut pengertian luas ini, veksiloid dapat mencakup panji militer, tongkat lambang, vexillum, tug, gonfalon, banderol, panji heraldik, dan beberapa bentuk standar upacara.[1]
Veksiloid telah digunakan sejak sebelum munculnya bendera kain dalam bentuk modern. Pada masyarakat awal, benda tersebut berfungsi sebagai tanda pengenal kelompok, lambang pemimpin, penunjuk arah, dan titik berkumpul di medan perang. Bendera kain secara bertahap menggantikan banyak fungsi umum veksiloid pada akhir Abad Pertengahan, tetapi veksiloid tetap digunakan dalam upacara, kemiliteran, keagamaan, parade, dan kegiatan organisasi.[3][4]
Istilah dan batasan
Kata vexilloid dibentuk dari istilah Latin vexillum dan akhiran bahasa Inggris -oid, yang berarti “menyerupai” atau “berbentuk seperti”. Dalam bahasa Indonesia, istilah tersebut dapat diserap sebagai veksiloid.[1]
Perbedaan utama antara bendera dan veksiloid terletak pada bentuk fisiknya. Bendera dalam pengertian umum merupakan lembaran bahan lentur yang dipasang pada tali atau tiang sehingga dapat berkibar. Veksiloid dapat memiliki unsur kain, tetapi identitasnya tidak bergantung pada selembar kain yang dikibarkan. Bagian terpentingnya dapat berupa patung, lambang logam, bulu, ekor hewan, cakram, atau benda lain yang dipasang pada tongkat.[2][3]
Batas antara bendera, panji, dan veksiloid tidak selalu tegas. Sebuah vexillum Romawi, misalnya, memiliki kain yang digantung dari palang horizontal, sedangkan aquila legiun terdiri atas patung elang pada ujung tongkat. Keduanya dapat digolongkan sebagai veksiloid karena berfungsi sebagai tanda pengenal dan titik penghimpun pasukan, walaupun hanya salah satunya menyerupai bendera kain.[1]
Dalam penggunaan ilmiah, istilah veksiloid merupakan kategori deskriptif dalam veksilologi, bukan nama satu jenis benda dengan rancangan baku. Penggunaannya juga dapat berbeda di antara penulis; beberapa ahli menerapkannya secara luas pada semua pendahulu dan kerabat bendera, sedangkan yang lain menggunakannya terutama untuk standar yang tidak berbentuk bendera konvensional.[2]
Fungsi
Veksiloid berkembang sebagai alat komunikasi visual di lingkungan yang sulit menggunakan bahasa tertulis atau suara. Karena ditempatkan pada tongkat yang tinggi, lambang tersebut dapat terlihat dari jarak jauh dan membantu anggota kelompok mengetahui posisi pemimpin atau pasukannya.[1]
Fungsi umum veksiloid meliputi:
- menunjukkan identitas suku, negara, dinasti, satuan militer, atau organisasi;
- menandai keberadaan pemimpin, pejabat, panglima, atau tokoh keagamaan;
- menjadi titik berkumpul dan penunjuk arah di medan perang;
- menyampaikan status, kehormatan, kemenangan, atau kewibawaan;
- digunakan dalam prosesi, upacara, pemakaman, dan perayaan;
- menjadi benda simbolis yang harus dilindungi oleh kelompok pembawanya.[1][3]
Dalam lingkungan militer, hilangnya sebuah standar dapat dipandang sebagai aib bagi satuan yang membawanya. Karena itu, pembawa standar sering ditempatkan dekat komandan dan dilindungi oleh personel lain. Nilai sebuah veksiloid dapat bersifat praktis sekaligus sakral, terutama apabila dianggap mewakili dewa, leluhur, penguasa, atau kehormatan kolektif.[1]
Bahan dan bentuk
Veksiloid awal dibuat dari bahan yang tersedia di lingkungan masyarakat pembuatnya. Bahan tersebut mencakup kayu, logam, tanduk, kulit, bulu, ekor, kuku, rambut, rumput kering, batu berharga, dan kain.[3]
Struktur dasarnya biasanya terdiri atas sebuah tongkat atau galah. Bagian atasnya dapat dihiasi:
- patung atau ukiran hewan;
- cakram dan lambang matahari;
- kepala tombak, bola logam, atau bentuk geometris;
- tanduk, bulu burung, atau ekor kuda;
- karangan, medali, dan pelat bergambar;
- kain yang digantung secara vertikal atau dari palang melintang.[3]
Veksiloid Aztek antara lain menggunakan bulu quetzal hijau, emas, batu berharga, dan unsur kain. Di beberapa masyarakat Papua, benda serupa dibuat dari kayu, rumput kering, bulu, serta lambang yang dilukis pada kayu dan kain.[3]
Sejarah
Peradaban awal
Penggambaran benda menyerupai veksiloid ditemukan pada tembikar Mesir dari budaya Gerzeh dan pada sisi belakang Palet Narmer. Benda-benda tersebut diperkirakan melambangkan nome atau wilayah administratif Mesir pradinasti.[3]
Palet Narmer memperlihatkan sejumlah pembawa standar yang berjalan dalam prosesi di depan raja. Ujung standar menampilkan bentuk hewan atau lambang tertentu. Penggambaran ini menunjukkan bahwa lambang bertongkat telah digunakan sebagai penanda wilayah atau kelompok sebelum bendera kain menjadi bentuk utama simbol politik.[1]
Salah satu veksiloid kuno yang masih bertahan ditemukan di Iran dan diperkirakan berasal dari milenium ke-3 SM. Benda tersebut dibuat dari logam, dengan tiang yang diberi figur burung dan pelat persegi berhias relief. Veksiloid juga digambarkan pada Prasasti Kemenangan Naram-Sin dari Mesopotamia.[3]
Di Alaca Höyük, Anatolia, para arkeolog menemukan benda upacara logam dari sekitar 2400–2200 SM. Bagian puncaknya berbentuk banteng, rusa, dan pola abstrak yang kerap ditafsirkan sebagai lambang matahari. Walaupun fungsi tepatnya masih diperdebatkan, benda-benda tersebut sering dibahas sebagai contoh awal standar upacara atau veksiloid.[3]
Persia dan Asia Barat
Berbagai kerajaan Persia menggunakan standar militer dan kerajaan. Lambang yang dikaitkan dengan Kekaisaran Akhemeniyah mencakup figur burung pemangsa atau elang yang ditempatkan pada tiang. Dalam tradisi Iran selanjutnya, standar kerajaan yang paling terkenal adalah Derafsh Kaviani.[5]
Derafsh Kaviani berkembang menjadi lambang kekuasaan kerajaan Sasaniyah. Sumber-sumber sastra menggambarkannya sebagai standar berhias permata yang dikaitkan dengan legenda pandai besi Kaveh. Bentuk historisnya tidak dapat direkonstruksi dengan pasti, tetapi secara umum diperlakukan sebagai salah satu veksiloid penting dari Persia kuno.[5]
Yunani dan dunia Helenistik
Pasukan Yunani kuno menggunakan tanda dan standar untuk menyampaikan perintah serta mengidentifikasi satuan. Salah satu bentuk yang disebut dalam sumber adalah phoinikis, kain merah tua yang digantung pada tongkat atau tombak. Tidak diketahui secara pasti apakah kain tersebut membawa gambar atau tulisan.[3]
Penguasa dan kerajaan Helenistik menggunakan berbagai lambang dinasti, seperti matahari, elang, gajah, atau simbol keagamaan. Dalam banyak kasus, bukti mengenai bentuk fisik standarnya berasal dari koin, relief, dan karya seni, sehingga rekonstruksi modern harus dibedakan dari benda yang dapat dibuktikan secara arkeologis.
Romawi
Romawi Kuno mengembangkan sistem standar militer yang rumit. Setiap legiun, kohor, detasemen, dan beberapa jenis pasukan memiliki lambang yang membantu mempertahankan organisasi di medan perang.[6]
Veksiloid Romawi meliputi:
- aquila, patung elang yang menjadi lambang utama sebuah legiun;
- vexillum, kain persegi yang digantung dari palang melintang;
- signum, tongkat yang dihiasi cakram, karangan, tangan, atau lambang lain;
- imago, potret kaisar yang dibawa sebagai standar;
- draco, standar berbentuk naga atau ular yang berkembang dari tradisi pasukan berkuda Sarmatia dan Dacia.[6]
Aquila memiliki nilai simbolis yang sangat tinggi. Kehilangannya dalam pertempuran dianggap sebagai penghinaan besar, sedangkan pengambilan kembali elang yang direbut musuh dapat diperingati sebagai kemenangan negara.[6]
Draco memiliki kepala yang kaku dan badan dari bahan lentur. Ketika dibawa oleh penunggang kuda, udara masuk melalui mulut kepala dan membuat bagian tubuhnya mengembang serta berkibar. Karena menggabungkan bentuk tiga dimensi dengan selongsong kain, draco merupakan contoh yang jelas mengenai batas antara veksiloid dan bendera.[1]
Asia Tengah, Mongol, dan Turkik
Masyarakat pengembara Asia Tengah menggunakan veksiloid yang dibuat dari galah dengan bola, kepala tombak, atau lambang logam pada puncaknya serta satu atau beberapa ekor kuda. Bentuk ini dikenal sebagai tug atau tugh.[3]
Di kalangan Mongol, warna dan jumlah ekor kuda dapat menunjukkan fungsi tertentu. Tradisi yang dikaitkan dengan Kekaisaran Mongol mencakup Sembilan Panji Putih, yaitu kelompok sembilan standar berekor kuda putih yang melambangkan pemerintahan pada masa damai. Standar berekor kuda hitam dikaitkan dengan perang.[7]
Penggunaan tug kemudian menyebar di kalangan bangsa-bangsa Turkik dan menjadi lambang otoritas militer serta politik. Pada masa Utsmaniyah, jumlah ekor kuda pada sebuah standar dapat menunjukkan tingkat jabatan seorang pejabat atau panglima. Veksiloid berekor kuda juga digunakan di Eropa Timur, termasuk di lingkungan militer Polandia pada abad ke-17 dan ke-18.[3]
Abad Pertengahan
Selama Abad Pertengahan, penggunaan kain sebagai lambang identitas berkembang bersama heraldik. Panji, gonfalon, banderol, dan standar heraldik membawa lambang keluarga, kota, penguasa, serikat, atau lembaga keagamaan.[1]
Salah satu contoh terkenal adalah Oriflamme Prancis, panji suci yang berkaitan dengan Biara Saint-Denis dan kemudian dibawa oleh raja-raja Prancis dalam perang. Gonfalon juga banyak digunakan dalam prosesi sipil dan keagamaan di kota-kota Italia.[1]
Antara sekitar abad ke-12 dan ke-15, bendera kain menjadi semakin dominan karena lebih ringan, mudah terlihat, dapat dilipat, dan dapat menampilkan desain heraldik yang rumit. Perubahan tersebut tidak menghapus veksiloid, tetapi memindahkan sebagian besar penggunaannya ke fungsi khusus dan upacara.[1]
Zaman modern
Pada masa Napoleon Bonaparte, satuan-satuan Grande Armée membawa elang kekaisaran Prancis. Veksiloid tersebut berupa patung elang perunggu pada ujung tongkat, terinspirasi oleh aquila legiun Romawi. Kain warna satuan dapat dipasang di bawah elang, tetapi figur logamnya sendiri memiliki nilai simbolis utama.[8]
Pada abad ke-20, organisasi politik dan militer tertentu menggunakan standar bertongkat yang menggabungkan kain, lambang logam, papan nama, serta hiasan tiga dimensi. Beberapa organisasi persaudaraan, kelompok veteran, dan perkumpulan sipil juga membawa veksiloid dalam parade.[1]
Veksiloid tetap digunakan dalam upacara militer modern, meskipun sering disebut sebagai standar, warna satuan, tongkat komando, atau lambang prosesi. Istilah khusus yang digunakan biasanya mengikuti tradisi setiap negara dan organisasi.
Pada festival musik modern, pengunjung kadang membuat “totem festival”, yaitu tongkat tinggi dengan bentuk, gambar, lampu, atau benda hias di puncaknya. Benda tersebut membantu anggota kelompok menemukan satu sama lain di tengah kerumunan dan telah dibahas sebagai adaptasi kontemporer dari fungsi veksiloid.[9]
Contoh utama
| Nama atau jenis | Kebudayaan atau masa | Bentuk dan fungsi |
|---|---|---|
| Standar nome | Mesir pradinasti | Tongkat dengan lambang hewan atau wilayah yang dibawa dalam prosesi |
| Derafsh Kaviani | Persia dan Sasaniyah | Standar kerajaan yang melambangkan kekuasaan Iran |
| Aquila | Romawi | Patung elang pada tongkat; lambang utama legiun |
| Vexillum | Romawi | Kain persegi yang digantung dari palang horizontal |
| Draco | Sarmatia dan Romawi | Kepala naga kaku dengan badan kain yang mengembang tertiup angin |
| Tug atau tugh | Mongol dan bangsa Turkik | Galah dengan lambang logam dan ekor kuda |
| Oriflamme | Prancis Abad Pertengahan | Panji suci dan kerajaan yang digunakan dalam perang |
| Elang kekaisaran Prancis | Kekaisaran Prancis Pertama | Patung elang logam pada tongkat satuan militer |
| Totem festival | Masa modern | Tongkat berhias yang digunakan sebagai tanda pengenal kelompok di tengah kerumunan |
Hubungan dengan veksilologi
Kajian mengenai veksiloid merupakan bagian dari veksilologi, yaitu studi mengenai sejarah, desain, penggunaan, dan makna bendera serta benda-benda yang berkaitan dengannya. Veksiloid membantu menjelaskan perkembangan simbol kelompok sebelum bendera kain menjadi bentuk yang dominan.[4]
Bukti mengenai veksiloid berasal dari benda arkeologis, prasasti, koin, relief, lukisan, teks sejarah, dan tradisi yang masih bertahan. Karena banyak bahan organik seperti kain, kayu, kulit, dan bulu mudah membusuk, sebagian besar contoh kuno hanya diketahui melalui penggambaran atau bagian logam yang tersisa.[1]
Rekonstruksi veksiloid kuno perlu dilakukan secara hati-hati. Lambang yang terlihat pada koin atau relief tidak selalu menunjukkan bentuk lengkap benda asli, sedangkan sumber sastra dapat mencampurkan sejarah dengan legenda. Karena itu, gambaran modern mengenai standar kuno sering bersifat interpretatif.[1]
Lihat pula
Referensi
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o Smith, Whitney (1975). Flags Through the Ages and Across the World. New York: McGraw-Hill. hlm. 9–12. ISBN 978-0-07-059093-9. OCLC 1324552.
- ^ a b c "Vexilloids". Flags of the World. Diakses tanggal 2026-08-02.
- ^ a b c d e f g h i j k l Znamierowski, Alfred; Slater, Stephen (2007). The World Encyclopedia of Flags and Heraldry. New York: Fall River Press. hlm. 13. ISBN 978-1-4351-1838-6.
- ^ a b "About Flags". North American Vexillological Association. Diakses tanggal 2026-08-02.
- ^ a b Wiesehöfer, Josef (1996). Ancient Persia: From 550 BC to 650 AD. London: I.B. Tauris. ISBN 978-1-85043-999-8.
- ^ a b c D'Amato, Raffaele (2018). Roman Standards & Standard-Bearers (1): 112 BC–AD 192. Oxford: Osprey Publishing. ISBN 978-1-4728-2180-5.
- ^ Atwood, Christopher P. (2004). Encyclopedia of Mongolia and the Mongol Empire. New York: Facts On File. hlm. 41–42. ISBN 978-0-8160-4671-3.
- ^ Elting, John R. (1997). Swords Around a Throne: Napoleon's Grande Armée. New York: Da Capo Press. hlm. 190–193. ISBN 978-0-306-80757-2.
- ^ Hughes, Dalton (2023-12). "Flags and Totems at Music Festivals: A Modern Twist on Ancient Vexilloids". Vexillum (24). North American Vexillological Association: 12–15.
{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam:|date=
Bacaan lanjutan
- Smith, Whitney (1975). Flags Through the Ages and Across the World. New York: McGraw-Hill. ISBN 978-0-07-059093-9.
- Znamierowski, Alfred; Slater, Stephen (2007). The World Encyclopedia of Flags and Heraldry. New York: Fall River Press. ISBN 978-1-4351-1838-6.
Pranala luar
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.