Wahyu pertama Muhammad

Wahyu pertama Muhammad adalah peristiwa yang dalam tradisi Islam dipandang sebagai awal pewahyuan Al-Qur'an kepada Muhammad dan permulaan tugas kenabiannya. Menurut riwayat Muslim klasik, peristiwa tersebut terjadi ketika Muhammad sedang menyendiri di Gua Hira di Jabal an-Nur, dekat Makkah, dan didatangi oleh malaikat Jibril. Sebagian besar tradisi Islam mengidentifikasi wahyu yang diterimanya pada kesempatan itu sebagai lima ayat pertama Surah Al-'Alaq (96:1–5).[1][2]

Peristiwa itu umumnya ditempatkan sekitar tahun 610 M, ketika Muhammad berusia kira-kira 40 tahun.[3] Riwayat yang paling terkenal, dinisbatkan kepada Aisyah dan diteruskan melalui Urwah bin Zubair, menceritakan masa penyendirian Muhammad di Hira, perjumpaannya dengan malaikat, kepulangannya kepada Khadijah binti Khuwailid, serta pertemuan berikutnya dengan Waraqah bin Naufal. Riwayat tersebut tercantum antara lain dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.[2][4]

Dalam kajian sejarah modern, rincian peristiwa ini terutama diketahui melalui tradisi biografis dan hadis Muslim yang dibukukan setelah masa Muhammad. Para sarjana modern berbeda dalam menilai rincian historisnya, tetapi tradisi tentang permulaan wahyu telah dapat dilacak ke lapisan awal transmisi biografi Muhammad. Andreas Görke dan Gregor Schoeler, misalnya, mengidentifikasi beberapa resensi kisah permulaan wahyu yang dinisbatkan kepada Urwah bin Zubair dan menilai tradisi Urwah sebagai salah satu kumpulan laporan Muslim paling awal mengenai kehidupan Muhammad.[5]

Latar belakang

Menurut riwayat Aisyah yang dicatat dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, sebelum menerima wahyu Al-Qur'an Muhammad mengalami mimpi-mimpi yang dipandang sebagai bagian dari permulaan wahyu. Setelah itu, ia semakin menyukai penyendirian dan secara berkala pergi ke Gua Hira untuk melakukan tahannuts, sebuah praktik penyendirian dan ibadah selama beberapa malam, sebelum kembali kepada keluarganya untuk mengambil perbekalan.[2][4]

Hira adalah sebuah gua kecil di Jabal an-Nur, beberapa kilometer di luar pusat Makkah. Dalam sumber-sumber biografis Islam, tempat ini dikaitkan dengan masa perenungan Muhammad sebelum kemunculan dakwah Islam. Makna istilah tahannuts dalam laporan-laporan awal telah menjadi bahan kajian tersendiri; M. J. Kister menunjukkan bahwa para filolog dan komentator hadis memberikan beberapa penafsiran terhadap istilah tersebut dan terhadap bentuk praktik keagamaan Muhammad pada masa sebelum wahyu.[6]

Sumber-sumber Muslim menempatkan pengalaman pertama tersebut pada bulan Ramadan. Hubungan antara Ramadan dan turunnya Al-Qur'an juga dinyatakan dalam Al-Qur'an 2:185, sedangkan Surah Al-Qadr menyebut turunnya Al-Qur'an pada Lailatulqadar.[7][8] Meskipun demikian, tanggal kalender yang tepat dari pengalaman pertama Muhammad tidak disebutkan dalam sumber utama yang paling awal, sehingga rekonstruksi tanggal Gregorian tertentu bergantung pada perhitungan dan tradisi yang berbeda-beda.[1]

Peristiwa di Gua Hira

Versi yang paling luas dikenal berasal dari riwayat Aisyah. Menurut riwayat itu, ketika Muhammad sedang berada di Gua Hira, seorang malaikat datang kepadanya dan memerintahkannya dengan kata iqraʾ (bahasa Arab: اقرأ), yang dapat diterjemahkan sebagai "bacalah" atau "bacakanlah/ucapkanlah". Muhammad menjawab dengan ungkapan mā anā bi-qāriʾ, yang diterjemahkan dalam berbagai cara, antara lain bahwa ia bukan seorang yang membaca atau tidak dapat membaca. Malaikat kemudian memeluk atau menekannya, mengulangi perintah itu beberapa kali, sebelum menyampaikan bagian awal Surah Al-'Alaq.[2][4]

Lima ayat pertama Surah Al-'Alaq berbicara mengenai penciptaan manusia, perintah membaca atau membacakan dengan nama Tuhan, kemurahan Tuhan, pena, dan pengetahuan. Tradisi tafsir dan biografi Muslim pada umumnya menganggap bagian inilah wahyu Al-Qur'an pertama kepada Muhammad.[1][9] Claude Gilliot mencatat bahwa mayoritas penafsir memahami kata iqraʾ sebagai "membaca", "membacakan", atau "melafalkan", sementara sejarah penafsiran kata tersebut memperlihatkan adanya variasi semantik sejak masa awal.[10]

Dalam penelitian terhadap transmisi kisah ini, Görke dan Schoeler menemukan beberapa versi yang dinisbatkan kepada Urwah. Mereka menunjukkan bahwa redaksi jawaban Muhammad kepada malaikat tidak identik dalam semua jalur transmisi; salah satu versi menggunakan mā aqraʾu, yang dapat dibaca sebagai "apa yang harus kubaca?" atau "aku tidak membaca", sedangkan versi lain memakai mā anā bi-qāriʾ.[5] Perbedaan semacam ini menjadi salah satu contoh bagaimana sarjana modern menelaah perkembangan teks tradisi awal Islam tanpa harus menolak keberadaan inti kisah yang sama pada berbagai jalur transmisi.

Khadijah dan Waraqah bin Naufal

Setelah pengalaman di Hira, riwayat al-Bukhari dan Muslim menggambarkan Muhammad pulang dalam keadaan terguncang dan meminta agar dirinya diselimuti. Ia kemudian menceritakan pengalamannya kepada Khadijah dan mengungkapkan rasa takut terhadap apa yang baru dialaminya.[2][4]

Khadijah menenangkannya dan menyebut sifat-sifat Muhammad yang menurutnya tidak sesuai dengan anggapan bahwa Tuhan akan menghinakannya: ia memelihara hubungan kekerabatan, membantu orang yang lemah dan miskin, memuliakan tamu, serta menolong orang yang tertimpa kesulitan. Khadijah kemudian membawa Muhammad menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal, yang dalam riwayat tersebut digambarkan sebagai seorang yang telah mengenal kitab suci tradisi sebelumnya.[2]

Setelah mendengar kisah Muhammad, Waraqah mengidentifikasi sosok yang datang kepadanya sebagai an-Nāmūs yang juga datang kepada Musa, dan meramalkan bahwa kaumnya akan menentang serta mengusirnya. Waraqah menyatakan bahwa apabila ia masih hidup pada masa penentangan itu, ia akan mendukung Muhammad. Riwayat tersebut kemudian menyatakan bahwa Waraqah meninggal tidak lama setelah pertemuan itu.[2]

Episode Khadijah–Waraqah telah mendapat perhatian luas dalam kajian sejarah tradisi. M. J. Kister membahas secara khusus salah satu ungkapan Khadijah dalam hadis ini dan sejarah penafsirannya,[11] sedangkan Uri Rubin menelaah fungsi Khadijah dan Waraqah dalam berbagai versi narasi awal: Khadijah sebagai pemberi dukungan kepada Muhammad dan penghubungnya dengan Waraqah, serta Waraqah sebagai tokoh yang mengesahkan pengalaman tersebut dalam kerangka tradisi kenabian sebelumnya.[12]

Identifikasi wahyu pertama

Pandangan dominan dalam tradisi Islam menyatakan bahwa Al-'Alaq 96:1–5 merupakan bagian pertama Al-Qur'an yang diturunkan kepada Muhammad.[1] Pandangan ini didukung oleh riwayat permulaan wahyu yang dikaitkan dengan Aisyah dan oleh tradisi tafsir yang luas. Namun, literatur hadis juga memuat riwayat lain yang menekankan awal Surah Al-Muddassir dalam konteks dimulainya kembali wahyu setelah suatu jeda.[13]

Perbedaan ini biasanya dijelaskan dengan membedakan antara wahyu pertama secara mutlak—yakni Al-'Alaq 96:1–5—dan wahyu yang menandai dimulainya perintah untuk memberi peringatan secara aktif, yang dikaitkan dengan Al-Muddassir. Dalam riwayat Jabir bin Abdullah tentang masa jeda wahyu, Muhammad mengatakan bahwa ia melihat malaikat yang pernah datang kepadanya di Hira, lalu turunlah ayat-ayat awal Al-Muddassir yang memerintahkannya untuk bangkit dan memberi peringatan.[13]

Jeda wahyu

Setelah pengalaman pertama, tradisi Islam mengenal suatu jeda dalam pewahyuan yang disebut fatrat al-wahy (bahasa Arab: فترة الوحي), yakni "masa terputusnya" atau "jeda" wahyu. Durasi jeda ini berbeda-beda dalam laporan dan rekonstruksi kemudian, sehingga tidak ada satu angka yang diterima secara universal.[14]

Menurut sebuah riwayat Jabir yang dicatat dalam Sahih Muslim, setelah masa jeda Muhammad mendengar suara dari langit dan melihat kembali malaikat yang datang kepadanya di Hira. Ia kemudian pulang dan meminta diselimuti, setelah itu ayat-ayat awal Surah Al-Muddassir diturunkan. Riwayat tersebut menyatakan bahwa setelah peristiwa itu wahyu berlanjut secara berturut-turut.[13]

Kisah-kisah mengenai fatrat al-wahy memiliki beberapa bentuk dalam sumber awal. Rubin menunjukkan bahwa berbagai koleksi mempertahankan versi yang berlainan dan bahwa sebagian unsur hanya terdapat dalam jalur transmisi tertentu. Karena itu, kajian sejarah membedakan antara pokok tradisi tentang adanya jeda wahyu dan rincian naratif yang berkembang dalam sebagian versi.[14]

Penanggalan

Tahun 610 M lazim digunakan dalam biografi modern untuk menempatkan wahyu pertama.[3][1] Tradisi Muslim menghubungkannya dengan Ramadan dan Lailatulqadar, tetapi sumber-sumber utama tidak memberikan tanggal Gregorian yang dapat diverifikasi secara langsung. Akibatnya, berbagai penulis Muslim pada masa kemudian mengusulkan tanggal yang berlainan berdasarkan perhitungan kalender dan penafsiran riwayat.

Usia Muhammad pada saat itu secara tradisional disebut sekitar 40 tahun. Penanggalan ini juga menjadi titik awal periode pewahyuan Al-Qur'an yang menurut tradisi berlangsung hingga menjelang wafatnya pada tahun 632, mencakup periode Makkah dan Madinah.[1]

Dalam historiografi

Catatan terperinci tentang wahyu pertama tidak berasal dari dokumen kontemporer yang ditulis pada saat kejadian. Informasi tersebut sampai melalui tradisi lisan dan tertulis Muslim yang kemudian masuk ke karya-karya hadis, sirah, dan sejarah. Karena itu, penelitian modern tidak hanya membandingkan isi cerita, tetapi juga jalur periwayatan dan hubungan tekstual antarsumber.

Salah satu rantai yang paling berpengaruh menghubungkan Aisyah dengan keponakannya, Urwah bin Zubair, lalu dengan al-Zuhri. Görke dan Schoeler mengidentifikasi beberapa resensi kisah permulaan wahyu yang beredar melalui murid-murid al-Zuhri dan jalur lain yang dinisbatkan kepada Urwah. Mereka berpendapat bahwa sebagian besar korpus Urwah dapat ditempatkan pada tahap sangat awal dalam perkembangan historiografi Islam dan bahwa laporan-laporan itu pada garis besarnya mempertahankan ciri-ciri dasar peristiwa yang diceritakan.[5]

Pendekatan ini berbeda dari membaca seluruh rincian hadis secara langsung sebagai laporan sezaman. Kajian tekstual membedakan antara inti narasi yang muncul dalam beberapa transmisi dan unsur yang hanya terdapat dalam satu versi. Dengan demikian, dalam penulisan ensiklopedis, rincian supernatural dan ucapan tokoh lazimnya dinyatakan sebagai bagian dari "tradisi Islam", "riwayat", atau "menurut sumber Muslim", sementara penanggalan dan sejarah transmisinya dibahas berdasarkan penelitian akademis modern.[12][5]

Arti penting

Dalam tradisi Islam, wahyu pertama menandai peralihan Muhammad dari kehidupan pribadinya di Makkah menuju peran sebagai nabi dan rasul. Peristiwa tersebut sekaligus dipandang sebagai awal turunnya Al-Qur'an, yang kemudian berlangsung secara bertahap selama sisa kehidupan Muhammad.[1]

Lima ayat awal Al-'Alaq menghubungkan wahyu pertama dengan tema penciptaan, pembacaan atau pelafalan, pena, dan pengetahuan. Karena kata pertama yang dominan dalam tradisi adalah iqraʾ, peristiwa Hira juga memiliki tempat penting dalam pembahasan Muslim mengenai ilmu dan pembelajaran. Dalam sejarah seni Islam, adegan perjumpaan Muhammad dengan Jibril di Hira juga muncul dalam manuskrip bergambar, termasuk sebuah folio abad ke-15 dari Majmaʿ al-Tawarikh karya Hafiz-i Abru yang kini berada di Metropolitan Museum of Art.[15]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ a b c d e f g Winter, Tim (2008). "Qur'an and hadith". Dalam Winter, Tim (ed.). The Cambridge Companion to Classical Islamic Theology. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 19–32. doi:10.1017/CCOL9780521780582.002. ISBN 9780521780582.
  2. ^ a b c d e f g "Sahih al-Bukhari 3". Sunnah.com. Kitab Permulaan Wahyu, hadis 3. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  3. ^ a b Bowen, John R. (2012). "Learning". A New Anthropology of Islam. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 11–41. doi:10.1017/CBO9781139045988.003. ISBN 9780521529785.
  4. ^ a b c d "Sahih Muslim 160a". Sunnah.com. Kitab Iman, bab permulaan wahyu. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  5. ^ a b c d Görke, Andreas; Schoeler, Gregor (2024). "The Beginning of Revelation". The Earliest Writings on the Life of Muḥammad: The 'Urwa Corpus and the Non-Muslim Sources. Gerlach Press. hlm. 17–30. doi:10.2307/jj.16971577.7.
  6. ^ Kister, M. J. (1968). "Al-taḥannuth: an inquiry into the meaning of a term". Bulletin of the School of Oriental and African Studies. 31 (2): 223–236. doi:10.1017/S0041977X00146488.
  7. ^ "Surah Al-Baqarah 2:185". Quran.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  8. ^ "Surah Al-Qadr 97:1". Quran.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  9. ^ "Surah Al-'Alaq 96:1–5". Quran.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  10. ^ Gilliot, Claude (2006). "Creation of a fixed text". Dalam McAuliffe, Jane Dammen (ed.). The Cambridge Companion to the Qur'ān. Cambridge University Press. hlm. 41–58. doi:10.1017/CCOL0521831601.003. ISBN 9780521831604.
  11. ^ Kister, M. J. (1965). ""God Will Never Disgrace Thee": The Interpretation of an Early Ḥadīth". Journal of the Royal Asiatic Society. 97 (1): 27–32. doi:10.1017/S0035869X00123615.
  12. ^ a b Rubin, Uri (2024). "The Khadija-Waraqa Story". The Eye of the Beholder: The Life of Muhammad as Viewed by the Early Muslims: A Textual Analysis. Gerlach Press. hlm. 103–112. doi:10.1017/9783959940993.010.
  13. ^ a b c "Sahih Muslim 161a". Sunnah.com. Kitab Iman, bab permulaan wahyu. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  14. ^ a b Rubin, Uri (2024). "The Lapse of Revelation (Fatrat al-waḥy)". The Eye of the Beholder: The Life of Muhammad as Viewed by the Early Muslims: A Textual Analysis. Gerlach Press. hlm. 113–124. doi:10.1017/9783959940993.011.
  15. ^ "Muhammad's Call to Prophecy and the First Revelation". The Metropolitan Museum of Art. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.

Bacaan lebih lanjut

  • Görke, Andreas; Schoeler, Gregor (2024). The Earliest Writings on the Life of Muḥammad: The 'Urwa Corpus and the Non-Muslim Sources. Gerlach Press.
  • Peters, F. E. (1994). Muhammad and the Origins of Islam. Albany: State University of New York Press. ISBN 9780791418758.
  • Rubin, Uri (2024). The Eye of the Beholder: The Life of Muhammad as Viewed by the Early Muslims: A Textual Analysis. Gerlach Press.
  • Watt, W. Montgomery (1953). Muhammad at Mecca. Oxford: Clarendon Press.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya