Weton

Weton (bahasa Jawa: ꦮꦼꦠꦺꦴꦤ꧀) adalah sebuah konsep penanggalan dan sistem peramalan tradisional dalam kebudayaan Jawa yang merujuk pada hari kelahiran seseorang berdasarkan persilangan antara siklus pekan tujuh hari (saptawara) dan siklus pekan lima hari (Pancawara atau pasaran).[1] Dalam sistem Kalender Jawa, weton bukan sekadar penunjuk hari lahir, melainkan diyakini membawa karakter, energi kosmis, dan nasib bawaan yang akan memengaruhi perjalanan hidup seseorang.

Etimologi

Secara etimologis, kata weton berasal dari akar kata dalam bahasa Jawa kuno, yaitu wetu atau metu, yang berarti "keluar" atau "lahir".[2] Mendapat akhiran -an, kata ini kemudian berubah menjadi weton, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai "hari peringatan kelahiran".

Komponen Weton dan Neptu

Penghitungan weton berpedoman pada kitab rujukan kuno, seperti Primbon Betaljemur Adammakna.[3] Setiap hari dalam saptawara dan pancawara memiliki nilai numerik yang disebut neptu. Neptu ini adalah dasar dari segala perhitungan ramalan, perjodohan, dan penentuan hari baik.

Berikut adalah nilai neptu dari hari dan pasaran:

  • Saptawara (Hari Tujuh):
    • Ahad / Minggu (5)
    • Senin (4)
    • Selasa (3)
    • Rabu (7)
    • Kamis (8)
    • Jumat (6)
    • Sabtu (9)
  • Pancawara (Hari Pasaran):
    • Legi (5)
    • Pahing (9)
    • Pon (7)
    • Wage (4)
    • Kliwon (8)

Sebagai contoh, jika seseorang lahir pada hari Kamis Legi, maka nilai neptu wetonnya adalah penjumlahan dari nilai Kamis (8) dan Legi (5), yaitu 13.

Fungsi Weton dalam Budaya Jawa

Dalam pandangan hidup masyarakat Jawa tradisional, perhitungan weton memiliki peranan yang sangat sentral dalam berbagai aspek kehidupan, antara lain:[4]

  1. Perwatakan (Karakter): Nilai neptu dipercaya mencerminkan watak dasar seseorang. Misalnya, orang dengan neptu tertentu dianggap memiliki sifat seperti air (dingin dan tenang), seperti api (mudah marah), atau seperti bumi (sabar dan mengayomi).
  2. Perjodohan (Salaki Rabi): Sebelum melangsungkan pernikahan adat Jawa, keluarga akan menghitung kecocokan weton kedua calon mempelai. Hasil perhitungan ini menentukan apakah pasangan tersebut diprediksi akan hidup rukun, kaya raya, atau justru rentan terhadap kesialan dan konflik.
  3. Penentuan Hari Baik (Petungan Dina): Weton digunakan sebagai patokan untuk mencari hari baik dan menghindari hari buruk (naas atau sengkala) dalam memulai suatu pekerjaan besar, seperti mendirikan rumah, pindah rumah, memulai usaha, hingga mengadakan hajatan pernikahan.
  4. Peringatan (Selamatan): Masyarakat Jawa rutin merayakan ulang tahun weton (terjadi setiap 35 hari sekali yang disebut selapan) dengan mengadakan selamatan kecil atau doa bersama (bancakan) untuk memohon keselamatan.

Lihat pula

Referensi

  1. ^ Koentjaraningrat (1994). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. Hal. 340-345.
  2. ^ Poerwadarminta, W.J.S. (1939). Bausastra Jawa. Batavia: J.B. Wolters.
  3. ^ Tjakraningrat, Kanjeng Pangeran Harya (1994). Kitab Primbon Betaljemur Adammakna. Yogyakarta: Yayasan Soemodidjojo Maha Dewa.
  4. ^ Endraswara, Suwardi (2010). Ilmu Primbon Jawa: Mengungkap Rahasia Ramalan Kehidupan. Yogyakarta: Narasi.

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya