Ahmad Hanafiah

KH Ahmad Hanafiah adalah seorang ulama dan pejuang asal Sukadana, Lampung. Selama hidupnya, KH. Ahmad Hanafiah berjuang melalui organisasi dan partai politik. Ia terlibat dalam organisasi Syarekat Dagang Islam dan Partai Masyumi. Ia merupakan salah satu penggagas Laskar Hizbullah. Ia gugur pada 1947 di medan pertempuran.[1]

Pada 2023, ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia bersama dengan Ida Dewa Agung Jambe, Bataha Santiago, M Tabrani, Ratu Kalinyamat dan Abdul Chalim.[2]

Kehidupan

K.H. Ahmad Hanafiah memiliki nama lengkap Ahmad Hanafiah (Al Fiah) bin KH. Muhammad Nur. Ia lahir pada 1905 dengan latar belakang keluarga santri. Ayahnya, Muhammad Nur, merupakan seorang ulama di Sukadana, Lampung. Ia mendalami ilmu agama dari orang tuanya dan menyelesaikan Alquran pada usia 5 tahun. Ia lulus sekolah Gouvernment di Sukarta pada 1916. Setelah itu ia menempuh pendidikan di pesantren Jamiatul Chair di Jakarta (1916-1919) dan di Kelantan, Malaysia pada 1925-1930. Ahmad Hanafiah kemudian melanjutkan kuliah di Mekkah, Arab Saudi (1930-1936). Selama di sana ia menjadi Ketua Himpunan Pelajar Islam Lampung.[3]

Sejak tahun 1920, Ahmad Hanafiah mengajar agama di Sukadana. Ia lalu menjadi pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas pada 1942-1945. Selain sebagai tokoh agama, Hanafiah juga menjadi Ketua Syarekat Dagang Islam di Kawedanan Sukadana.[3]

Pada masa penjajahan Jepang, Hanafiah diangkat menjadi anggota Sa-ngi-kai Keresidenan Lampung. Selama periode 1945-1946, ia menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Kawedanan Sukadana. Ia menjabat sebagai Ketua Partai Masyumi dan Pimpinan/Panglima Laskar Hizbullah Kawedanan Sukadana. Kemudian, ia menjadi wedana Kawedanan Sukadana. Pada 1946-1947 ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Keresidenan Lampung. Terakhir, ia menjabat sebagai Wakil Kepala sekaligus Kepala Bagian Islam pada Kantor Keresidenan Lampung saat tinggal di Tanjung Karang.

Karya

Ahmad Hanafiah menyusun dua buah kitab yang berjudul Hujjah dan Tafsir Ad Dohri. Kitab-kitab tersebut dicetak dan disebarluasakan kepada murid-muridnya serta masyarakat Lampung.

Kematian

Ahmad Hanafiah gugur dalam pertempuran untuk merebut Kota Baturaja dari tangan Belanda. Ia meninggal dunia pada malam 17 Agustus 1947 di Kemerung, Baturaja, Sumatera Selatan.[3]

Referensi

  1. ^ Kanafi, Ruth Intan Sozometa (2022-07-27). AS, Erafzon Saptiyulda (ed.). "Lampung usulkan KH Ahmad Hanafiah jadi pahlawan nasional". ANTARA News. Diakses tanggal 2022-09-07.
  2. ^ "6 Tokoh di Indonesia Bakal Dapat Gelar Pahlawan Nasional, Ada KH Ahmad Hanafiah asal Lampung". Pikiran Rakyat.
  3. ^ a b c Drs. Effendi, M. Hum (2016-07-09). "KH. AHMAD HANAFIAH Sosok Ulama Pejuang Kemerdekaan Asal Lampung". Jurnal Tapis : Jurnal Teropong Aspirasi Politik Islam (dalam bahasa Inggris). 12 (2): 18–29. doi:10.24042/tps.v12i2.834. ISSN 2655-6057.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya