Ahmad Zaini
| Biografi | |
|---|---|
| Kelahiran | 11 November 1889 |
| Kematian | 17 April 1966 |
| Tempat pemakaman | Makam Wali Lima |
| Data pribadi | |
| Agama | Islam |
| Kegiatan | |
| Pekerjaan | ulama, pegawai negeri sipil |
K.H. Ahmad Zaini dengan nama lengkap Ahmad Zaini bin Abdurrahman bin Haji Zainuddin bin Abdus Shomad bin Abdullah Al-Banjari adalah seorang mufti di daerah Banjar pada zaman pemerintahan Belanda. Ia dilahirkan di Tunggul Irang pada tanggal 17 Rabiulawal 1307 Hijriah. Pada masa kemerdekaan Indonesia, dia menjabat sebagai Kepala Bagian pada Kantor Departemen Agama, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.[1]

Kehidupan pribadi
Ayahnya bernama K.H. Abdurrahman atau Guru Adu, di mana dia merupakan ulama besar di zamannya sehingga dia banyak belajar dengan ayahnya sendiri mengenai ilmu agama. Meski dengan ayah sendiri, dia tetap bersikap hormat, sopan santun dan selalu rendah hati terhadap ayahnya. Bahkan dalam belajar, dia justru bersikap ulet, gigih, tekun, rajin dan penuh semangat dalam belajar, sehingga dalam waktu yang tidak lama mampu menguasai beberapa cabang ilmu pengetahuan agama tersebut.[2]
Dia menikah dengan seorang perempuan yang bernama Hajjah Sanah, di mana dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai lima orang anak, yaitu dua orang perempuan (Hajjah Arfah dan Hajjah Mulia) dan tiga orang laki-laki (K.H. Husin Qadri, K.H. Badruddin, dan K.H. Muhammad Rosyad). [2]
Diangkat menjadi Mufti
Selain menjadi seorang ulama, tokoh agama, dan tokoh masyarakat, Guru Ahmad Zaini pernah diangkat sebagai mufti pada zaman Hindia Belanda dan zaman setelah kemerdekaan. Setelah menjabat sebagai mufti pada zaman setelah kemerdekaan, Guru Ahmad Zaini pernah menjabat sebagai salah seorang pimpinan Kantor Departemen Agama Kabupaten Banjar dengan jabatan Kepala Bagian, di mana jabatan ini menyesuaikan dengan penataan urusan agama oleh Departemen Agama seiring dengan perkembangan tata kelola pemerintahan negara.[2]
Kematian

Dia meninggal pada Jumat malam tanggal 25 Dzulhijjah tahun 1385 Hijriah, yaitu saat dia berusia kurang lebih 78 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga di Tunggul Irang berdekatan dengan makam ayah dan anak-anaknya, yang dikenal Kubah Tunggul Irang atau Kubah Wali Lima. [2]
Referensi
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.