Antup

Antup adalah seni pertunjukan berupa drama tari tradisional yang berasal dari Padukuhan Janturan, Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pertunjukan ini pertama kali muncul sekitar tahun 1935 dan diperkenalkan oleh seniman lokal bernama Widi Karso. Nama Antup sendiri diambil dari tokoh utama dalam kesenian tersebut, yang juga ditampilkan bersama tokoh pelawak pasangannya, Antop.[1]

Asal-usul dan sejarah

Antup tumbuh sebagai ekspresi budaya rakyat di Janturan dan berkembang selama sekitar enam dekade hingga memasuki periode stagnasi pada tahun 1995, akibat terhentinya regenerasi dan minimnya dukungan infrastruktur serta dana. Setelah vakum lebih dari dua dekade, kesenian ini dihidupkan kembali melalui upaya revitalisasi oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman pada tahun 2017, dengan dukungan kelompok seni lokal “Tirto Manunggal” yang dipimpin Tri Margono.[2]

Ciri dan bentuk pertunjukan

Antup disajikan sebagai drama tari rakyat yang menyajikan kisah moral—umumnya lakon Suprapto Tundung, mengandung nilai-nilai pendidikan.[1] Para penampilan menggunakan kostum dari daun nangka (dulu) atau modifikasi kontemporer, serta atribut sederhana seperti irah‑irah (tutup kepala).[3] Awalnya, iringan musik menggunakan bilahan bambu dengan nada gamelan slendro dan lagu “Kecik-Kecik”, kemudian berkembang dengan gamelan dan instrumen lain.[4] Pertunjukan juga menonjolkan improvisasi penuh spontanitas, dan mayoritas pemainnya adalah pria, termasuk yang memerankan tokoh wanita.[5]

Antup dikemas dalam durasi singkat sekitar 30 menit hingga 2 jam, meski dahulu bisa dipentaskan berjam-jam. Pertunjukan mencerminkan pagelaran rakyat yang rendah impresi tetapi kaya akan pesan moral dan hiburan sederhana.[1]

Penetapan sebagai WBTb dan pelestarian

Pada tahun 2022, Antup ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dari DIY— yang diakui oleh Kemendikbud Ristek, termasuk juga tradisi Pager Bumi Rebo Pungkasan serta 19 WBTb lain dari Kabupaten Sleman.[6] Sertifikat penetapan Warisan ini diserahkan dalam acara di Museum Monumen Yogya Kembali, disaksikan oleh pejabat budaya DIY dan Sleman.[7]

Status WBTb memberikan landasan kebijakan penting untuk Antup agar terus lestari. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman mendorong upaya revitalisasi seperti pementasan reguler pada festival adat dan budaya Sleman, pelatihan kelompok seni baru di Janturan, dokumentasi publik melalui audio, visual, dan arsip budaya, serta dukungan sarana, dana, serta integrasi ke dalam kurikulum budaya lokal.[butuh rujukan]

Festival budaya seperti Festival Upacara Adat Sleman (2024) telah menampilkan Antup untuk mengenalkan nilai-nilai luhur kepada publik, serta sebagai sarana edukasi dan kebanggaan lokal.[8] Meski telah dihidupkan kembali, Antup masih memiliki tantangan seperti regenerasi yang lamban dan kurangnya minat generasi muda. Diyakini penting untuk terus meningkatkan mutu musik, pengemasan, dan partisipasi masyarakat agar Antup dapat menjadi ikon budaya Sleman yang hidup dan berkelanjutan [butuh rujukan].

Referensi

  1. ^ a b c S, Jauh Hari Wawan. "Mengenal Seni Antup, Drama Tari Berkostum Daun dari Janturan Sleman". detikjateng. Diakses tanggal 2025-06-19.
  2. ^ DInas Kebudayaan Sleman (2019-10-31). "REVITALISASI KESENIAN ANTUP". Kebudayaan Slemankab. Diakses tanggal 2025-06-20.
  3. ^ Home; Terkini; News, Top; Terpopuler; Nusantara; Nasional; Terkini, Jogja; Politik; Peristiwa (2017-07-31). "Sleman merevitalisasi kesenian drama tari antup". Antara News Yogyakarta. Diakses tanggal 2025-06-19.
  4. ^ "Dinas Kebudayaan Sleman Revitalisasi Drama Tari Antup". Star Jogja FM. 2017-07-31. Diakses tanggal 2025-06-19.
  5. ^ Suryana, Wahyu (2017-07-31). "Kesenian Drama Tari Antup di Ambang Kepunahan". Republika. Diakses tanggal 2025-06-20.
  6. ^ "Goresan Peradaban #7 Kumpulan Ragam Warisan Budaya Takbenda Daerah Istimewa Yogyakarta". budaya.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-06-19.
  7. ^ P.W, Antonius. "Ratusan Warisan Budaya Takbenda Yogya Disertifikasi, Apa Saja? - Si Jogja". Ratusan Warisan Budaya Takbenda Yogya Disertifikasi, Apa Saja? - Si Jogja. Diakses tanggal 2025-06-19.
  8. ^ Home; Terkini; News, Top; Terpopuler; Nusantara; Nasional; Terkini, Jogja; Politik; Peristiwa (2024-06-19). "Sleman gelar Festival Upacara Adat pertahankan nilai adiluhung". Antara News Yogyakarta. Diakses tanggal 2025-06-19.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya