Gamelan Surakarta

Gamelan Surakarta adalah salah satu dari dua gaya permainan gamelan yang sedikit berbeda yang muncul di Jawa Tengah sejak tahun 1755.[1] Berbeda dengan yogyakarta, gaya Surakarta terkenal dengan gaya permainannya yang rumit dan lembut.[1]
Deskripsi
gamelan ganda yang besar dan khas dalam permainan solo kontemporer (Surakarta) akan mencakup, dalam set sléndro, satu saron panerus (atau saron peking), dua saron barung, satu atau dua saron demung, satu gendér panerus, satu gender barung, satu slenthem (atau "gender panembung"), satu bonang panerus dan satu bonang barung (masing-masing dua belas gong), satu gambang kayu, satu siter atau celempung, satu rebab, satu suling, satu pasang kethuk dan kempyang, satu set tiga hingga lima kenong, satu set tiga hingga lima kempul, satu hingga tiga gong suwukan, dan satu gong ageng.
Set pelengkap instrumen pelog akan mencakup masing-masing dua gender panerus, gender barung, gambang dan siter atau celempung, yang pertama dari setiap pasangan disetel ke subset pelog bem lima nada (nada 1,2,3,5,6), yang kedua ke subset pelog barang lima nada (2,3,5,6,7). Pelog bonang masing-masing akan memiliki empat belas gong.
Gamelan slendro dan pelog biasanya menggunakan kendang yang sama, termasuk masing-masing satu ketipung, kendang ageng (atau kendang gendhing), ciblon, kendang wayangan, dan, dalam gamelan terbesar, sebuah gendang gantung besar, bedug. Ansambel kuno mungkin masih menyertakan instrumen seperti gambang gangsa, slentho (sebagai pengganti slenthem), dan bonang panembung. Ansambel pertunjukan yang khas mencakup solois vokal wanita dan paduan suara pria; dalam bagian-bagian tertentu, para penyanyi bertepuk tangan secara ritmis.
Perbandingan dengan Gamelan Yogyakarta
Di Yogyakarta, terdapat kecenderungan untuk memiliki lebih banyak saron dari setiap register dan lebih mungkin bonang panembung akan hadir. Instrumen kuno, celuring, seperangkat lonceng yang dipukul, hanya ditemukan pada beberapa gamelan di Kraton Yogyakarta dan dimainkan sebagai pengganti saron panerus. Gaya Solonese sering dianggap lebih halus (atau "alus") daripada gaya Yogyakarta. Salah satu perbedaan spesifiknya adalah dalam permainan saron Peking; meskipun pola yang dimainkannya untuk balungan seringkali sama, dalam gaya Yogyakarta, pola tersebut secara ritmis digeser lebih awal, menciptakan penekanan yang berbeda dalam kaitannya dengan balungan.
Lihat juga
Bacaan lebih lanjut
- Wasisto Surjodiningrat, P.J. Sudarjana, Adhi Susanto (1993) Pengukuran nada gamelan Jawa yang beredar di Yogyakarta dan Surakarta / diterjemahkan dari bahasa Indonesia oleh penulis. Penjelidikan dalam pengukuran nada gamelan-gamelan Djawa terkemuka di Jogjakarta dan Surakarta. putaran ke-2. ed. Yogyakarta : Pers Universitas Gadjah Mada. ISBN 979-420-273-8 (pbk.)
Referensi
- ^ a b Lindsay, Jennifer (1979). Gamelan Playing. Kuala Lumpur; New York: Oxford University Press. hlm. 47. ISBN 0195804139.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.