Golek Jangkung Kuning

Golek Jangkung Kuning merupakan salah satu tari klasik gaya Yogyakarta yang dirumuskan oleh KRT Wiroguno pada tahun 1931. Pencipta tari ini dikenal sebagai tokoh seni terkemuka pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921–1939). Tarian jenis beksan golek ini berkembang di lingkungan luar cepuri Keraton Yogyakarta dan mendapat tempat khusus di berbagai Ndalem para pangeran. Pada awal kemunculannya, tarian ini berfungsi sebagai penutup pertunjukan Langendriya, sebelum kemudian dipentaskan sebagai karya tari yang berdiri sendiri. Pertunjukannya umumnya dibawakan oleh seorang penari putri, meskipun dalam perkembangannya dapat pula ditampilkan secara berkelompok.[1]

Sebagaimana bentuk beksan golek lainnya, Golek Jangkung Kuning menampilkan gerak dan ekspresi yang menggambarkan perilaku remaja putri yang gemar merawat diri (ngadi salira) serta berhias (ngadi busana). Nama tarian ini diambil dari kata jangkung yang berarti “tinggi” dan kuning yang merujuk pada warna kuning. Terdapat pula pendapat alternatif yang mengaitkan sebutannya dengan istilah Murjangkung dan Koneng. Murjangkung merupakan julukan bagi Jan Pieterszoon Coen, tokoh bertubuh tinggi yang pernah menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC di Batavia pada masa Sultan Agung. Adapun koneng berasal dari istilah dalam bahasa Belanda yang bermakna “raja” atau “penguasa”.[2]

Penari pertama yang membawakan Golek Jangkung Kuning adalah seorang pasindhen bernama Berko, yang kemudian dikenal sebagai Nyi Lurah Langenjiwa. Sosok ini digambarkan memiliki tubuh tinggi besar, berkulit kuning, dan berwajah menarik.[2]

Latar belakang

Penamaan Golek Jangkung Kuning merujuk pada gendhing utama yang mengiringinya, yakni Gendhing Jangkung Kuning. Gendhing ini telah dikenal sejak masa Pemerintahan Sultan Agung di Kerajaan Mataram, sehingga baik tradisi Surakarta maupun Yogyakarta menggunakan nama yang sama, meskipun dengan gaya garap dan teknik penyajian yang berbeda.[3]

Iringan Musik

Dalam tradisi Yogyakarta, Gendhing Jangkung Kuning awalnya disusun sebagai Gendhing Klenengan untuk pertunjukan karawitan. Namun, seiring kebutuhan pentas, komposisi tersebut kemudian difungsikan pula sebagai Gendhing Beksan untuk mengiringi tarian. Urutan gendhing yang biasa disajikan meliputi: Lagon Wetah Pelog Barang, Ladrang Kembang Kates Pelog Barang, Lagon Jugag Pelog Barang, Gendhing Jangkung Kuning Pelog Barang, Kebar Arum-Arum Pelog Barang, Lagon Jugag Pelog Barang, Ladrang Kembang Kates Pelog Barang, dan ditutup dengan Lagon Jugag Pelog Barang.[3]

Tata Busana

Pada masa awal pertunjukannya, ketika tarian ini dibawakan oleh seorang pasindhen, busana yang digunakan cenderung sederhana, terdiri atas nyamping, kebaya, dan sanggul ukel tekuk. Ketika tarian tersebut menjadi bagian dari pertunjukan Langendriya, penata busana menyesuaikannya dengan gaya penari putri Langendriya. Busananya meliputi baju berlengan panjang, kain bermotif parang, serta hiasan kepala berupa jamang tinggi dengan ornamen bulu, mengikuti rancangan yang disusun oleh KRT Wiroguno.[4][2]

Dalam perkembangan berikutnya, penari Golek Jangkung Kuning mengenakan busana berupa mekak, kemben, atau semekan, dilengkapi kain bermotif parang. Penataan rambut menggunakan sanggul ukel tekuk yang dipadukan dengan ornamen jungkat, mentul, bunga ceplok jebehan, dan lancur (bulu burung kuntul). Aksesori alternatif yang dapat digunakan adalah jamang dengan hiasan lancur pada bagian kepala.[1]

Referensi

  1. ^ a b crew, kraton. "Golek Jangkung Kuning". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-13.
  2. ^ a b c Sugimin, Sugimin (2014). "PERKEMBANGAN GARAP GENDING JANGKUNG KUNING". Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi (dalam bahasa Inggris). 14 (1). doi:10.33153/keteg.v14i1.671. ISSN 2714-6367.
  3. ^ a b sn, SUNARTI, (1988-05-10). "Gending Jangkung Kuning Gaya Yogyakarta Ditinjau Dari Garap Sinden". digilib.isi.ac.id. Diakses tanggal 2025-11-14. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  4. ^ Agiel (2025-01-31). "Golek Jangkung Kuning: Warisan Tari Klasik Yogyakarta". jogjakarya. Diakses tanggal 2025-11-14.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya