Gulat Okol
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Juni 2025) |
Gulat Okol adalah tradisi seni bela diri rakyat yang berasal dari Desa Setro, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Tradisi ini merupakan bagian dari upacara sedekah bumi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat agraris di wilayah tersebut. Gulat Okol tidak hanya mempertontonkan ketangkasan fisik semata, tetapi juga mengandung nilai spiritual dan sosial yang mendalam.[1]
Sejarah dan makna
Asal-usul Gulat Okol berkaitan erat dengan budaya pertanian masyarakat Jawa Timur, khususnya dalam konteks sedekah bumi. Tradisi ini dahulu dilakukan di pematang sawah atau lahan berlumpur, sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen dan permohonan agar musim berikutnya juga diberkahi. Gulat Okol dipercaya telah ada sejak zaman nenek moyang dan menjadi bagian penting dalam ritual agraris.[butuh rujukan]
Tradisi Okol yang ada di Desa Setro sudah ada sejak abad ke-19. Secara historis, tradisi ini berawal dari peristiwa kemarau panjang yang menyebabkan sungai-sungai mengalami kekeringan. Kekeringan yang terjadi membuat seorang anak penggembala kesulitan memperoleh air untuk minuman binatang ternaknya. Anak penggembala tersebut kemudian berdoa meminta hujan. Tidak lama kemudian, doanya dikabulkan dan hujan deras pun turun. Hal itu kemudian membuat anak penggembala melakukan serokol-serokolan (saling dorong) sebagai bentuk kebahagiaan dan kesyukuran.[2]
Seiring dengan berkembangnya zaman, serokol-serokolan menjadi sebuah tradisi rutin yang dilakukan setiap satu tahun sekali. Tepatnya setelah musim panen, sekitar bulan Agustus hingga Oktober, bersamaan dengan diselenggarakannya tradisi sedekah bumi di Desa Setro. Nama "okol" sendiri merujuk pada kekuatan fisik dan ketangguhan, sehingga Gulat Okol bermakna adu kekuatan yang dilakukan secara sportif dalam nuansa kebersamaan. Meskipun berbentuk kompetisi, tujuannya bukan untuk menyakiti lawan, tetapi menjunjung sportivitas, persahabatan, dan penghormatan terhadap alam.[butuh rujukan]
Pelaksanaan
Pertunjukan Gulat Okol biasanya digelar setiap tahun pada bulan Sura (Muharam) dalam kalender Jawa, bertepatan dengan ritual sedekah bumi. Lokasi pertandingan disiapkan dalam bentuk arena berbentuk lingkaran berukuran 6×8 meter, dilapisi jerami dan karung goni untuk keamanan, serta dibatasi oleh tali tambang menyerupai ring tinju.[3]
Para peserta terdiri dari laki-laki dan perempuan dari berbagai usia, termasuk anak-anak. Mereka mengenakan pakaian khas berupa celana pendek, ikat kepala (udeng), dan selendang. Selendang inilah yang menjadi alat utama dalam pertandingan—digunakan untuk menarik atau menjatuhkan lawan tanpa menyentuh langsung tubuhnya. Pertarungan berlangsung dalam dua ronde, dan peserta yang memenangkan dua ronde berturut-turut akan melaju ke babak berikutnya.[4]
Selama pertunjukan berlangsung, pertarungan diiringi oleh musik gamelan khas Jawa Timur, menciptakan suasana meriah dan penuh semangat. Wasit atau pelandang ditugaskan untuk mengawasi jalannya pertandingan agar berjalan adil dan aman.[5]
Pelestarian
Untuk menjaga keberlangsungan tradisi ini, Pemerintah Kabupaten Gresik dan komunitas budaya setempat secara aktif menggelar pertunjukan tahunan dan memperkenalkan Gulat Okol ke generasi muda melalui kegiatan sekolah dan sanggar seni. Sejak tahun 2021, Gulat Okol telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.[6]
Pelestarian juga dilakukan dengan dokumentasi pertunjukan, penyusunan buku profil budaya, hingga penggunaan media sosial dan kanal video digital untuk menjangkau khalayak yang lebih luas. Kesadaran kolektif bahwa Gulat Okol adalah bagian dari identitas budaya lokal menjadi kekuatan utama dalam upaya pelestariannya di tengah arus modernisasi.[butuh rujukan]
Referensi
- ^ Gresik, Disparekrafbudpora. "Okol (Gulat Tradisional) - Disparekrafbudpora". Disparekrafbudpora Gresik. Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ Kompasiana.com (2024-01-30). "Merayakan Keberagaman: Mengulik Tradisi Gulat Okol Khas Desa Setro". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ harian.disway.id. "Menilik Gulat Okol, Tradisi Sedekah Bumi di Desa Setro". harian.disway.id. Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ "Gulat Okol: Olahraga Tradisional Penuh Makna dari Surabaya - Portal Berita Terpercaya Surabaya - mediasurabaya.com". www.mediasurabaya.com. Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ ID, Brisik. "Mengenal Gulat Okol, Tradisi Gulat Kuno Dari Wilayah Perbatasan Surabaya-Gresik". Brisik.id. Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ Arfaz, Dkk. (2 -11-2021). "Mengenal Tradisi Gulat Okol dari Gresik yang Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda Nasional". Kompas. Diakses tanggal 17-06-2025.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.