Gunung di Sumatera Utara

Gunung di Sumatera Utara adalah gunung-gunung yang terdapat di wilayah Sumatera Utara. Jumlah gunung yang terdapat dalam wilayah Sumatera Utara ada 17 gunung yang termasuk bagian dari pegunungan Bukit Barisan. Jenis gunung di Sumatera Utara umumnya dibedakan menjadi gunung berapi dan gunung berapi tidur. Sebanyak tiga gunung di Sumatera Utara termasuk jenis gunung api aktif. Salah satu gunung api tidur di Sumatera Utara yang kembali aktif setelah 400 tahun tidak meletus ialah gunung Sinabung yang kembali meletus pada tahun 2010 setelah letusan terakhirnya pada tahun 1600.

Jumlah, ukuran dan sebaran

Gunung merupakan salah satu bentang alam yang terbentuk di wilayah Sumatera Utara.[1] Wilayah Sumatera Utara memiliki sebanyak 17 gunung. Gunung-gunung yang terletak di wilayah Sumatera Utara merupakan bagian dari pegunungan Bukit Barisan yang membentang dari bagian utara hingga ke bagian selatan pulau Sumatera. Ukuran dari gunung-gunung di Sumatera Utara dibedakan menjadi gunung berukuran besar dan gunung berukuran kecil.[2]

Jenis

Jenis gunung di Sumatera Utara umumnya dibedakan menjadi gunung berapi dan gunung berapi tidur. Gunung berapi aktif di Sumatera Utara adalah gunung-gunung yang masih mengalami pergerakan magma di dalam perut gunung dan memiliki kemungkunan mengalam letusan gunung api pada waktu-waktu tertentu. Sedangkan gunung berapi tidur adalah gunung-gunung di Sumatera Utara yang pernah mengalami letusan gunung api tetapi tidak lagi aktif dan masih memiliki kemungkinan untuk kembali aktif.[1]

Pada wilayah Sumatera Utara terdapat tiga gunung berapi aktif yaitu gunung Sorik Marapi, gunung Sibayak dan gunung Sinabung.[3] Gunung Sorik Marapi berlokasi di Kabupaten Mandailing Natal. Sedangkan gunung Sinabung dan gunung Sibayak terletak dalam wilayah Kabupaten Karo.[4] Salah satu gunung berapi tidur di Sumatera Utara yang kembali aktif setelah ratusan tahun tidak aktif dan telah mengalami letusan gunung api adalah gunung Sinabung. Letusan api kembali terjadi pada gunung Sinabung pada tahun 2010 tepatnya pada tanggal 29 Agustus 2010. Gunung Sinabung kembali aktif meletus setelah tercatat tidak aktif meletus sejak tahun 1600. Masa ketidak-aktifan gunung SInabung terhitung sejak tahun 2010 mencapai 400 tahun sejak letusan terakhirnya.[5]

Referensi

  1. ^ a b Ichtiar Baru van Hoeve (1990). Ensiklopedi Indonesia, Seri Geografi Volume 6. Ichtiar Baru van Hoeve. hlm. 42. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ Dakung, Sugiyarto (1982). Ulos Volume 1. Jakarta: Proyek Media Kebudayaan Jakarta, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ Direktorat Jenderal Pariwisata (1985). Indonesia: Mengenal Sepuluh Daerah Tujuan Wisata. Direktorat Jenderal Pariwisata. hlm. 13. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ Simbolon, J., dkk. (2021). Kondisi Sosial dan Ekonomi Petani Pengungsi Sinabung. Cipta Media Nusantara. hlm. 2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ^ Pusat Data dan Analisa Tempo (2020). Gunung Sinabung, Yang Belum Berhenti Erupsi. Tempo Publishing. hlm. 89. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya