Hari Kebangkitan
Hari Kebangkitan adalah istilah untuk peristiwa eskatologis ketika orang-orang mati dibangkitkan kembali pada akhir zaman. Dalam kajian agama, konsep ini juga disebut kebangkitan umum, kebangkitan universal, atau kebangkitan orang mati. Gagasan tersebut berbeda dari keabadian jiwa, yang menyatakan bahwa unsur rohani manusia terus hidup setelah kematian, dan juga berbeda dari reinkarnasi, yang melibatkan kelahiran kembali berulang ke dalam tubuh lain.[1][2]
Dalam pengertian komparatif yang ketat, doktrin tentang pemulihan tubuh atau pribadi secara keseluruhan setelah suatu masa kematian berkembang terutama dalam Zoroastrianisme, Yudaisme, Kekristenan, dan Islam.[1] Dalam ketiga agama Abrahamik tersebut, kebangkitan umumnya berkaitan erat dengan Hari Penghakiman, meskipun hubungan kronologis antara kebangkitan, penghakiman, zaman mesianik, dan pembaruan dunia berbeda menurut tradisi dan mazhab. Zoroastrianisme juga mengembangkan gagasan kebangkitan akhir sebagai bagian dari frašō.kərəti, pembaruan terakhir ciptaan dan kemenangan definitif atas kejahatan.[3]
Istilah "Hari Kebangkitan" tidak selalu berarti suatu hari 24 jam dalam pengertian kalender. Dalam bahasa keagamaan, "hari" dapat menunjuk pada suatu tahap akhir sejarah atau rangkaian peristiwa eskatologis. Selain itu, tidak semua tradisi yang mengajarkan kebangkitan memandang semua orang dibangkitkan dengan cara atau untuk tujuan yang sama. Beberapa teks awal berbicara tentang kebangkitan kelompok tertentu, sementara tradisi teologis kemudian lebih sering mengembangkan konsep kebangkitan yang bersifat umum atau universal.[4]
Istilah dan batas konsep
Kata "kebangkitan" dalam konteks agama menunjuk pada kembalinya orang mati kepada kehidupan. Definisi ini dapat mengacu pada pemulihan tubuh, pemulihan pribadi secara keseluruhan, atau penyatuan kembali tubuh dengan jiwa, bergantung pada antropologi religius yang dianut.[1] Karena itu, kebangkitan harus dibedakan dari beberapa konsep lain tentang kehidupan setelah mati.
Keabadian jiwa mengandaikan bahwa jiwa atau unsur rohani tidak mengalami kematian bersama tubuh. Kebangkitan, sebaliknya, menekankan bahwa orang yang telah mati kembali hidup. Kedua gagasan itu tidak selalu bertentangan: banyak bentuk teologi Yahudi, Kristen, dan Islam menggabungkan keberlangsungan jiwa setelah kematian dengan kebangkitan tubuh pada akhir zaman.[2]
Kebangkitan juga berbeda dari reinkarnasi atau transmigrasi jiwa. Dalam reinkarnasi, suatu jiwa atau prinsip kehidupan memasuki tubuh baru berulang kali dalam siklus kelahiran dan kematian. Dalam doktrin kebangkitan umum, kehidupan duniawi biasanya dipahami sebagai satu kehidupan yang kemudian diikuti oleh kematian dan suatu pemulihan final.[1]
Istilah ini juga tidak identik dengan kebangkitan individual yang diceritakan dalam teks keagamaan. Kebangkitan Yesus, misalnya, merupakan peristiwa individual yang memiliki fungsi sentral dalam Kekristenan dan dipahami oleh tradisi Kristen sebagai pendahulu atau jaminan kebangkitan umum di masa depan. "Hari Kebangkitan" dalam arti eskatologis menunjuk pada kebangkitan kolektif orang mati pada akhir zaman.
Latar belakang sejarah
Tradisi Iran dan Zoroastrianisme
Salah satu tradisi kuno yang memiliki doktrin kebangkitan akhir yang berkembang adalah Zoroastrianisme. Dalam eskatologi Zoroastrian, sejarah dunia mencapai penyempurnaan melalui frašō.kərəti atau Frashokereti, pembaruan terakhir ciptaan. Literatur Zoroastrian kemudian menggambarkan kebangkitan orang mati, pemurnian universal, penghancuran atau ketidakberdayaan kekuatan jahat, dan keadaan akhir yang tidak lagi dikuasai kematian dan kerusakan.[3][5]
Sumber-sumber Zoroastrian berbahasa Pahlavi menggambarkan tubuh orang mati disusun kembali dan manusia dibangkitkan dalam keadaan sempurna. Encyclopaedia Iranica mencatat bahwa kebangkitan dipahami secara luas sebagai bagian dari pembaruan akhir, walaupun terdapat variasi mengenai cakupannya dalam sejumlah teks dan mengenai nasib beberapa kategori pendosa.[3]
Kemiripan antara eskatologi Iran dengan perkembangan eskatologi Yahudi, Kristen, dan Islam telah lama menimbulkan teori mengenai pengaruh Zoroastrianisme terhadap agama-agama Abrahamik. Namun, hubungan historis tersebut merupakan persoalan yang diperdebatkan. Kesamaan motif tidak dengan sendirinya membuktikan peminjaman langsung, dan para peneliti berbeda dalam menentukan kapan, bagaimana, dan melalui saluran apa gagasan tertentu mungkin ditransmisikan.[3]
Alkitab Ibrani dan Yudaisme Bait Kedua
Dalam lapisan awal Alkitab Ibrani, kematian pada umumnya digambarkan sebagai turun ke Sheol, sementara doktrin kebangkitan umum belum dirumuskan secara jelas. Sejumlah teks kemudian mulai mengembangkan bahasa mengenai kemenangan atas kematian dan hidup kembali. Kitab Yesaya 26:19 berbicara tentang orang mati yang hidup kembali, sedangkan Kitab Daniel 12:2 menggambarkan "banyak" orang yang tidur dalam debu bumi akan bangun, sebagian menuju kehidupan kekal dan sebagian menuju kehinaan.[6][4]
Daniel 12:2, yang biasanya ditempatkan pada abad ke-2 SM, merupakan salah satu teks paling eksplisit mengenai kebangkitan dalam Alkitab Ibrani. Namun, teks itu tidak harus dibaca sebagai kebangkitan universal seluruh manusia; bentuk awal gagasan kebangkitan dalam Yudaisme Bait Kedua memperlihatkan variasi mengenai siapa yang dibangkitkan dan untuk tujuan apa.[4]
Persekusi, kemartiran, dan pertanyaan mengenai keadilan Tuhan berperan penting dalam perkembangan pemikiran akhirat Yahudi pada periode Bait Kedua. Jika orang saleh dapat mati karena mempertahankan kesetiaannya kepada Tuhan, kebangkitan memberikan kerangka untuk memahami pemulihan dan pembalasan yang melampaui kehidupan sekarang. Tema tersebut tampak dalam literatur seperti 2 Makabe serta berbagai teks apokaliptik Yahudi.[4]
Dalam agama-agama
Zoroastrianisme
Dalam Zoroastrianisme, kebangkitan akhir merupakan bagian dari drama kosmik yang lebih luas. Seorang penyelamat terakhir atau Saoshyant berhubungan dengan kemenangan final kebaikan. Orang mati dibangkitkan dan ciptaan mengalami pembaruan; dalam sejumlah teks, manusia melewati aliran logam cair yang berfungsi sebagai pemurnian, terasa menyenangkan bagi orang benar dan menyakitkan bagi orang jahat.[3]
Pembaruan tersebut bukan sekadar kembalinya dunia kepada kondisi sekarang. Tujuan akhirnya adalah ciptaan yang bebas dari kematian, pembusukan, dan kuasa jahat. Frashokereti karena itu menghubungkan kebangkitan manusia dengan transformasi kosmos secara menyeluruh.[5]
Yudaisme
Kebangkitan orang mati dikenal dalam tradisi Yahudi dengan istilah Ibrani teḥiyyat ha-metim (תחיית המתים). Setelah periode Bait Kedua, kepercayaan kepada kebangkitan menjadi unsur penting dalam Yudaisme Rabinik. Mishnah Sanhedrin 10:1 memasukkan penolakan terhadap kebangkitan di antara pandangan yang memengaruhi bagian seseorang dalam "dunia yang akan datang", dan doa Amidah memuji Tuhan sebagai pihak yang menghidupkan orang mati.[7]
Pada masa Yudaisme Bait Kedua, kebangkitan merupakan salah satu persoalan yang membedakan kelompok-kelompok Yahudi. Sumber kuno menggambarkan kaum Farisi menerima bentuk kehidupan setelah mati atau kebangkitan, sedangkan kaum Saduki menolaknya. Keragaman tersebut menunjukkan bahwa kebangkitan belum menjadi doktrin yang seragam bagi semua orang Yahudi pada masa tersebut.[6][4]
Pada Abad Pertengahan, Maimonides memasukkan kebangkitan orang mati dalam rumusan prinsip-prinsip iman Yahudi. Namun, hubungan antara kebangkitan tubuh dan kehidupan jiwa menjadi objek perdebatan filosofis. Dalam Yudaisme modern, sikap terhadap kebangkitan juga beragam. Sebagian gerakan mempertahankan pembacaan tradisional tentang kebangkitan tubuh, sedangkan sebagian gerakan Reformasi historis menggantinya dengan penekanan pada keabadian jiwa atau menafsirkan bahasa liturgis secara nonliteral.[7]
Kekristenan
Dalam Kekristenan, kebangkitan umum dihubungkan secara langsung dengan kebangkitan Yesus dari kematian. Surat Paulus kepada jemaat di Korintus, khususnya 1 Korintus 15, menghubungkan kebangkitan Kristus dengan kebangkitan mereka yang mati. Yesus disebut sebagai "buah sulung" dari mereka yang telah meninggal, sehingga kebangkitannya dipahami sebagai awal dan jaminan bagi kebangkitan di masa depan.[8]
Kepercayaan terhadap kebangkitan orang mati menjadi bagian dari pengakuan iman Kristen awal. Kredo Nikea-Konstantinopel menyatakan pengharapan akan "kebangkitan orang mati dan kehidupan dunia yang akan datang", sementara Syahadat Para Rasul berbicara mengenai "kebangkitan badan".[9]
Dalam teologi Kristen arus utama, kebangkitan umum bukan sekadar kelangsungan jiwa. Katekismus Gereja Katolik, misalnya, menjelaskan "kebangkitan daging" sebagai hidup kembalinya tubuh fana, sedangkan tradisi Ortodoks menekankan kebangkitan tubuh dan pembaruan seluruh ciptaan.[10][11]
Kekristenan mengaitkan kebangkitan umum dengan Kedatangan Kedua, penghakiman terakhir, dan pembaruan ciptaan. Akan tetapi, urutan detail peristiwa berbeda menurut sistem eskatologi. Sebagian tradisi premilenialis membedakan beberapa tahap kebangkitan dalam hubungannya dengan pemerintahan seribu tahun dalam Kitab Wahyu, sedangkan amilenialisme dan sejumlah pandangan lain menempatkan kebangkitan umum dan penghakiman akhir dalam satu rangkaian eskatologis yang lebih langsung.
Sepanjang sejarah Kekristenan, sifat tubuh yang dibangkitkan menjadi masalah teologis dan filosofis penting. Para penulis Kristen mempertanyakan bagaimana identitas tubuh dipertahankan setelah pembusukan, bagaimana materi tubuh dikembalikan, dan bagaimana tubuh yang dibangkitkan berbeda dari tubuh sekarang. Caroline Walker Bynum menunjukkan bahwa perdebatan mengenai kontinuitas tubuh, identitas pribadi, dan transformasi tubuh merupakan tema besar dalam teologi Kristen Barat sejak zaman patristik hingga Abad Pertengahan.[12]
Islam
Dalam Islam, Hari Kebangkitan dikenal terutama sebagai Yawm al-Qiyāmah (bahasa Arab: يوم القيامة), dan Al-Qur'an menggunakan pula sejumlah istilah seperti al-Sāʿah ("Saat"), Yawm al-Dīn ("Hari Pembalasan"), dan Yawm al-Ḥisāb ("Hari Perhitungan"). Kepercayaan kepada hari akhir merupakan bagian mendasar dari iman dan berhubungan langsung dengan pertanggungjawaban moral manusia.[13]
Al-Qur'an berulang kali membela kemungkinan kebangkitan terhadap orang-orang yang mempertanyakan bagaimana tulang yang telah hancur dapat dihidupkan kembali. Jawaban yang diberikan adalah bahwa Tuhan yang menciptakan manusia pertama kali mampu menciptakannya kembali. Surah Al-Qiyamah 75:3–4 bahkan menggunakan kemampuan menyusun kembali tulang dan ujung jari sebagai gambaran kuasa tersebut.[14]
Dalam kerangka eskatologi Islam klasik, kebangkitan mengikuti kematian, keadaan antara kematian dan kebangkitan (barzakh), serta berakhirnya tatanan dunia. Manusia kemudian dikumpulkan, menerima catatan amal, menjalani perhitungan dan penghakiman, dan memperoleh nasib akhir di surga atau neraka.[13]
Kebangkitan dalam teologi Sunni dan Syiah arus utama dipahami sebagai kebangkitan nyata manusia, bukan hanya kelangsungan jiwa. Pertanyaan mengenai kebangkitan tubuh menjadi salah satu perdebatan penting antara para teolog dan filsuf Muslim. Al-Ghazali, misalnya, mengkritik pandangan filosofis yang menurutnya meniadakan kebangkitan jasmani sebagaimana diajarkan oleh wahyu.[15]
Perbandingan
Walaupun menggunakan gagasan yang serupa tentang bangkitnya orang mati, tradisi-tradisi tersebut tidak identik. Perbandingan berikut bersifat ringkas dan tidak menggantikan keragaman internal di dalam masing-masing agama.
| Tradisi | Bentuk umum kebangkitan | Hubungan dengan akhir zaman | Unsur yang menonjol |
|---|---|---|---|
| Zoroastrianisme | Kebangkitan dalam pembaruan akhir ciptaan | Bagian dari Frashokereti | Kemenangan akhir kebaikan, pemurnian, dunia bebas kematian |
| Yudaisme | Kebangkitan orang mati; cakupan dan penafsiran berkembang secara historis | Berkaitan dengan zaman mesianik dan/atau dunia yang akan datang dalam berbagai tradisi | Teḥiyyat ha-metim, pemulihan Israel, keadilan ilahi |
| Kekristenan | Kebangkitan umum orang mati | Berkaitan dengan Kedatangan Kedua dan penghakiman terakhir | Kebangkitan Yesus dipahami sebagai dasar dan pendahulu kebangkitan umum |
| Islam | Kebangkitan manusia untuk dikumpulkan dan diadili | Unsur pusat Hari Kiamat | Yawm al-Qiyāmah, hisab, catatan amal, balasan akhir |
Satu perbedaan penting menyangkut hubungan kebangkitan dengan keadaan sesudah kematian sebelum akhir zaman. Banyak tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam mengembangkan konsep keadaan antara—misalnya keberadaan jiwa, alam orang mati, atau barzakh—tetapi kebangkitan umum tetap ditempatkan pada tahap eskatologis kemudian. Dengan demikian, "kehidupan setelah mati" dan "kebangkitan" bukan istilah yang sepenuhnya sinonim.[2]
Perbedaan lain menyangkut cakupan kebangkitan. Daniel 12:2 berbicara tentang "banyak" orang yang bangun dari debu, sedangkan tradisi Kristen dan Islam kemudian secara umum mengembangkan bahasa kebangkitan yang universal atau hampir universal untuk penghakiman. Di dalam tradisi tertentu juga terdapat perdebatan apakah kebangkitan berlangsung sekaligus atau dalam beberapa tahap.[4]
Kebangkitan dan penghakiman
Kebangkitan sering dikaitkan dengan Hari Penghakiman, tetapi keduanya merupakan konsep yang secara analitis dapat dibedakan. Kebangkitan adalah tindakan mengembalikan orang mati kepada kehidupan, sedangkan penghakiman adalah penilaian terhadap kehidupan dan tindakan mereka. Dalam banyak skema eskatologis, kebangkitan memungkinkan manusia hadir sebagai pribadi utuh di hadapan penghakiman ilahi.
Hubungan antara keduanya sangat jelas dalam Daniel 12:2, yang menghubungkan bangunnya orang mati dengan dua nasib yang berbeda, serta dalam tradisi Kristen dan Islam yang menempatkan kebangkitan menjelang keputusan akhir. Dalam Zoroastrianisme, kebangkitan dan penghakiman juga menjadi bagian dari proses yang menuju pemurnian serta pembaruan universal.[3]
Namun, urutan rinci dapat berbeda. Sebagian sistem mengajarkan penghakiman tertentu atas jiwa segera setelah kematian dan penghakiman umum setelah kebangkitan. Dalam Katolik, misalnya, doktrin membedakan "penghakiman khusus" setelah kematian individu dari "Penghakiman Terakhir" pada penyempurnaan sejarah.[16] Sistem lain merumuskan hubungan antara kedua tahap itu dengan cara berbeda.
Tubuh, jiwa, dan identitas pribadi
Salah satu persoalan filosofis terbesar yang ditimbulkan oleh doktrin kebangkitan adalah pertanyaan mengenai identitas pribadi: dalam arti apa individu yang dibangkitkan merupakan orang yang sama dengan individu yang telah mati? Pertanyaan ini menjadi rumit apabila tubuh telah membusuk, materinya tersebar, atau sebagian materinya kemudian menjadi bagian tubuh makhluk lain.
Dalam model dualistis, kontinuitas pribadi dapat dijelaskan melalui jiwa yang bertahan antara kematian dan kebangkitan, lalu bersatu kembali dengan tubuh. Dalam model materialistis, tidak ada jiwa tak berjasad yang berfungsi sebagai pembawa identitas, sehingga diperlukan teori lain untuk menjelaskan bagaimana pribadi yang dibangkitkan identik dengan pribadi yang mati. Stanford Encyclopedia of Philosophy menyebut kebangkitan tubuh sebagai salah satu pilihan bagi teori kehidupan setelah mati yang materialistis, tetapi menekankan bahwa masalah kesinambungan identitas tetap sulit.[2]
Persoalan tersebut telah dibahas sejak zaman kuno. Penulis Kristen awal dan abad pertengahan mempertimbangkan contoh seperti tubuh yang dimakan hewan atau kanibalisme, yang menimbulkan masalah jika materi yang sama pernah menjadi bagian dari lebih dari satu tubuh. Jawaban-jawaban teologis berkisar dari penekanan pada kuasa ilahi untuk mengembalikan tubuh hingga teori bahwa identitas tubuh tidak bergantung pada kembalinya setiap partikel materi yang pernah dimiliki seseorang.[12]
Dalam filsafat Islam, perdebatan mengenai jiwa dan kebangkitan juga berkaitan dengan teori tentang hakikat manusia. Ibnu Sina memberi peranan besar kepada keberlangsungan jiwa rasional, sementara al-Ghazali menegaskan bahwa wahyu mengharuskan penerimaan terhadap kebangkitan jasmani, meskipun rincian metafisiknya dapat diperdebatkan.[15]
Kebangkitan tubuh dan transformasi
"Kebangkitan tubuh" tidak selalu berarti pemulihan tubuh dalam keadaan biologis yang identik dengan kehidupan sekarang. Banyak tradisi membayangkan tubuh yang dibangkitkan sebagai tubuh yang telah berubah, disempurnakan, atau dibebaskan dari kerusakan.
Dalam Kekristenan, 1 Korintus 15 membedakan tubuh yang fana dan tubuh yang dibangkitkan dalam keadaan tidak binasa; bahasa Paulus mengenai "tubuh rohaniah" menghasilkan sejarah penafsiran yang panjang mengenai hubungan antara kontinuitas dan transformasi tubuh.[8][12] Gereja-gereja yang mempertahankan kebangkitan jasmani biasanya menekankan bahwa pribadi yang bangkit tetap memiliki kontinuitas nyata dengan manusia yang mati, tanpa harus menganggap tubuh kebangkitan tunduk pada seluruh keterbatasan tubuh sekarang.[10][11]
Zoroastrianisme juga menggambarkan manusia yang dibangkitkan dalam kondisi ideal pada saat ciptaan diperbarui.[3] Dalam Islam, sumber-sumber Qurani dan hadis menggambarkan kebangkitan tubuh, pengumpulan, serta pengalaman fisik dan moral di akhirat, sementara para teolog dan filsuf berbeda dalam menjelaskan sifat persis tubuh akhirat.[13]
Kebangkitan dan pembaruan kosmos
Kebangkitan dalam banyak sistem eskatologis bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari transformasi dunia atau penciptaan kembali tatanan kosmik.
Dalam Zoroastrianisme, hubungan tersebut bersifat eksplisit: Frashokereti berarti penyempurnaan atau pembaruan seluruh ciptaan. Dunia akhirnya bebas dari kekuatan destruktif, dan kehidupan tidak lagi tunduk pada kematian dan pembusukan.[5]
Dalam Yudaisme, gagasan kebangkitan sering berkaitan dengan pemulihan Israel, zaman mesianik, dan olam ha-ba ("dunia yang akan datang"), meskipun hubungan antara istilah-istilah ini berubah dalam sumber yang berbeda.[6] Dalam Kekristenan, kebangkitan umum berhubungan dengan gagasan "langit baru dan bumi baru" dalam tradisi apokaliptik. Tradisi Ortodoks secara khusus menekankan bahwa keselamatan akhir mencakup pembaruan ciptaan material, bukan pelarian permanen dari dunia materi.[11]
Dalam Islam, Al-Qur'an menggambarkan perubahan besar pada langit dan bumi menjelang Hari Kiamat, disusul kebangkitan dan penghakiman. Eskatologi Islam kemudian mengembangkan gambaran rinci mengenai keadaan dunia akhirat, surga, neraka, dan keberadaan manusia setelah kebangkitan.[13]
Penafsiran literal, metaforis, dan modern
Sepanjang sejarah, kebangkitan telah ditafsirkan dalam spektrum dari pemulihan jasmani yang sangat konkret hingga pembacaan spiritual atau simbolis. Namun, tradisi ortodoks Yahudi, Kristen, dan Islam secara historis umumnya mempertahankan suatu bentuk kebangkitan nyata sebagai berbeda dari sekadar keabadian jiwa.[1][7]
Dalam Yudaisme modern, sejumlah gerakan liberal mengubah bahasa liturgis tradisional mengenai "menghidupkan orang mati" menjadi formulasi yang lebih sesuai dengan kepercayaan pada kehidupan kekal atau makna spiritual lainnya, sedangkan komunitas Ortodoks mempertahankan teḥiyyat ha-metim secara lebih tradisional.[7]
Dalam Kekristenan modern, perdebatan mencakup pertanyaan mengenai apakah bahasa kebangkitan harus dipahami sebagai transformasi material, "tubuh rohaniah", pembaruan pribadi oleh tindakan Tuhan, atau dalam kerangka metafisik lain. Meskipun demikian, Kredo Nikea tetap membuat "kebangkitan orang mati" sebagai unsur eksplisit dalam tradisi gerejawi yang menerimanya.[9]
Dalam kajian agama sekuler, klaim tentang kebangkitan diperlakukan sebagai kepercayaan dan doktrin religius, bukan sebagai kesimpulan empiris. Kajian sejarah meneliti asal-usul, perkembangan, teks, praktik, dan fungsi sosial gagasan tersebut, sementara filsafat agama membahas apakah konsep identitas pribadi dan kehidupan setelah mati dapat dirumuskan secara koheren.[2]
Pengaruh dalam budaya
Gagasan tentang kebangkitan universal telah memengaruhi seni, sastra, musik, dan praktik pemakaman. Dalam seni Kristen Eropa, adegan kebangkitan orang mati sering menjadi bagian dari representasi Penghakiman Terakhir, dengan makam-makam terbuka dan tubuh manusia bangkit untuk menerima keputusan akhir. Tema serupa muncul dalam manuskrip eskatologis Islam, sastra apokaliptik Yahudi, dan kosmologi Zoroastrian.
Kepercayaan akan kebangkitan juga memengaruhi cara komunitas religius memandang tubuh orang mati. Dalam beberapa tradisi, penghormatan terhadap jasad, pemakaman, dan penolakan atau penerimaan kremasi pernah dihubungkan dengan keyakinan mengenai kebangkitan, meskipun praktik pemakaman juga dipengaruhi hukum agama, adat lokal, dan perkembangan teologi yang lebih luas.
Dalam bahasa populer, "kebangkitan" sering digunakan secara metaforis untuk menyebut pemulihan suatu gerakan, budaya, ekonomi, atau tokoh setelah masa kemunduran. Penggunaan tersebut berbeda dari arti teknis "Hari Kebangkitan" dalam eskatologi.
Lihat pula
- Hari Penghakiman
- Akhirat
- Eskatologi
- Kebangkitan orang mati
- Kebangkitan Yesus
- Keabadian jiwa
- Reinkarnasi
- Frashokereti
- Olam ha-ba
- Kedatangan Kedua
- Hari kebangkitan dalam Islam
- Surga
- Neraka
Referensi
- ^ a b c d e Ringgren, Helmer (2005). "Resurrection". Dalam Jones, Lindsay (ed.). Encyclopedia of Religion (Edisi 2). Macmillan Reference USA. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- ^ a b c d e "Afterlife". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- ^ a b c d e f g Shaked, Shaul. "Eschatology i. In Zoroastrianism and Zoroastrian Influence". Encyclopaedia Iranica. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- ^ a b c d e f Nickelsburg, George W. E. (2006). Resurrection, Immortality, and Eternal Life in Intertestamental Judaism and Early Christianity. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. ISBN 9780674023789.
- ^ a b c Shaked, Shaul. "Frašō.kərəti". Encyclopaedia Iranica. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- ^ a b c Levenson, Jon D. (2006). Resurrection and the Restoration of Israel: The Ultimate Victory of the God of Life. New Haven: Yale University Press. ISBN 9780300117356.
- ^ a b c d Greenberg, Moshe; Boyarin, Daniel; Siegel, Seymour. "Resurrection". Encyclopaedia Judaica. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- ^ a b Wright, N. T. (2003). The Resurrection of the Son of God. London: SPCK.
- ^ a b "The Credo". The Holy See. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- ^ a b "I Believe in the Resurrection of the Body". The Holy See. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- ^ a b c "Eternal Life". Orthodox Church in America. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- ^ a b c Bynum, Caroline Walker (1995). The Resurrection of the Body in Western Christianity, 200–1336. New York: Columbia University Press.
- ^ a b c d Smith, Jane Idleman; Haddad, Yvonne Yazbeck (2002). The Islamic Understanding of Death and Resurrection. Oxford: Oxford University Press. doi:10.1093/0195156498.001.0001. ISBN 9780195156492.
- ^ "Surah Al-Qiyamah 75:1–15". Quran.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- ^ a b Griffel, Frank. "Al-Ghazali". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- ^ "I Believe in Life Everlasting". The Holy See. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
Bacaan lebih lanjut
- Bynum, Caroline Walker (1995). The Resurrection of the Body in Western Christianity, 200–1336. New York: Columbia University Press.
- Levenson, Jon D. (2006). Resurrection and the Restoration of Israel: The Ultimate Victory of the God of Life. New Haven: Yale University Press. ISBN 9780300117356.
- Nickelsburg, George W. E. (2006). Resurrection, Immortality, and Eternal Life in Intertestamental Judaism and Early Christianity. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. ISBN 9780674023789.
- Smith, Jane Idleman; Haddad, Yvonne Yazbeck (2002). The Islamic Understanding of Death and Resurrection. Oxford: Oxford University Press. ISBN 9780195156492.
- Wright, N. T. (2003). The Resurrection of the Son of God. London: SPCK.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.