Isa dalam Islam

Isa dalam Islam (bahasa Arab: عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ, translit. ʿĪsā ibn Maryam, "Isa putra Maryam") adalah pandangan Islam mengenai Yesus, yang dalam Al-Qur'an dipandang sebagai nabi dan rasul Allah, al-Masih (Mesias), serta utusan kepada Bani Israil. Ia disebut menerima wahyu yang dinamakan Injil, dilahirkan secara mukjizat dari Maryam tanpa ayah manusia, dan melakukan berbagai mukjizat dengan izin Allah.[1][2]
Al-Qur'an menyebut Isa dalam 15 surah; Anawati menghitung sekitar 93 ayat sebagai dasar utama bagi perkembangan pandangan Islam mengenai Yesus.[1] Nama ʿĪsā muncul berulang kali, sering dalam bentuk Isa bin Maryam, sementara gelar lain yang digunakan mencakup al-Masih, "kalimat dari Allah", "roh dari-Nya", hamba Allah, nabi, dan rasul.[3][4]
Pandangan Islam mengenai Isa berbeda secara mendasar dari Kristologi Kristen arus utama. Islam menerima kelahirannya dari perawan dan gelar Mesias, tetapi menolak bahwa Isa adalah Tuhan atau "anak Tuhan". Dalam teologi Islam, penyebutan Isa sebagai "kalimat" dan "roh" dari Allah tidak dipahami sebagai pernyataan tentang keilahian Isa, melainkan dalam kerangka penciptaan, kenabian, dan kehendak Allah.[2][5]
Nama dan gelar
Al-Qur'an menggunakan bentuk Arab ʿĪsā (عيسى) untuk Yesus. Bentuk ini berbeda dari Yasūʿ (يسوع), nama yang lazim digunakan oleh umat Kristen berbahasa Arab. Asal-usul linguistik bentuk ʿĪsā telah lama diperdebatkan oleh para sarjana.[1]
Sebuah studi epigrafis oleh Ahmad Al-Jallad dan Ali Al-Manaser mengemukakan bahwa nama ʿsy dalam sebuah inskripsi Safaitik pra-Islam kemungkinan merujuk kepada Yesus dan berkaitan dengan bentuk Qur'anik ʿĪsā. Jika identifikasi tersebut benar, inskripsi itu menunjukkan bahwa bentuk nama yang berhubungan dengan ʿĪsā telah beredar di Arabia beberapa abad sebelum kemunculan Islam.[6]
Gelar yang paling menonjol adalah al-Masih (المسيح), padanan Arab untuk "Mesias". Al-Qur'an menggunakan gelar tersebut untuk Isa, tetapi tidak memberikan uraian mesianis yang sistematis. Tafsir Muslim kemudian menawarkan berbagai penjelasan etimologis dan teologis mengenai gelar tersebut.[2]
Dalam Q.S. Ali 'Imran 3:45 dan An-Nisa' 4:171, Isa juga dikaitkan dengan "kalimat" dari Allah. Dalam tradisi tafsir Islam, ungkapan tersebut umumnya dipahami bahwa Isa diciptakan melalui perintah Allah—sering dikaitkan dengan ungkapan kun ("jadilah")—bukan bahwa Isa merupakan bagian dari hakikat ketuhanan.[3][2]
Isa dalam Al-Qur'an
Kisah Isa tidak disajikan dalam satu narasi biografis yang berurutan. Rujukannya tersebar dalam beberapa surah, terutama Ali Imran, Maryam, An-Nisa, Al-Ma'idah, Az-Zukhruf, dan As-Saff.[1]
Maryam dan kelahiran Isa
Al-Qur'an menempatkan kisah Isa dalam hubungan yang sangat erat dengan ibunya, Maryam. Dalam Q.S. Ali 'Imran 3:35–47, Maryam dipersembahkan untuk pengabdian kepada Allah, diasuh dalam lingkungan suci, dan menerima kabar mengenai kelahiran seorang anak bernama al-Masih Isa putra Maryam. Maryam mempertanyakan bagaimana ia dapat mempunyai anak ketika tidak pernah disentuh seorang laki-laki, dan jawaban yang diberikan menekankan kuasa penciptaan Allah.[3]
Surah Maryam 19:16–36 memberikan kisah yang lebih panjang mengenai pengasingan Maryam, kedatangan utusan ilahi, kehamilan, rasa sakit ketika melahirkan di dekat pohon kurma, dan kepulangannya kepada kaumnya. Dalam kisah Qur'anik tersebut, Isa berbicara ketika masih bayi dan menyatakan dirinya sebagai hamba Allah yang diberi kitab dan dijadikan nabi.[2]
Kelahiran Isa tanpa ayah biologis diterima luas dalam tradisi Islam. Al-Qur'an membandingkan penciptaan Isa dengan penciptaan Adam: keduanya merupakan hasil kehendak langsung Allah (Q.S. Ali 'Imran 3:59). Perbandingan ini digunakan dalam teologi Islam untuk menegaskan kelahiran mukjizat sekaligus menolak penarikan kesimpulan bahwa kelahiran tanpa ayah membuat Isa bersifat ilahi.[5]
Kenabian dan Injil
Isa digambarkan sebagai nabi dan rasul yang diutus kepada Bani Israil. Q.S. Al-Ma'idah 5:46 menyatakan bahwa Allah memberinya Injil yang mengandung petunjuk dan cahaya. Dalam pandangan Islam klasik, Injil dipahami sebagai wahyu ilahi yang diberikan kepada Isa, meskipun hubungan antara Injil tersebut dan kitab-kitab Injil dalam tradisi Kristen menjadi objek perdebatan dalam sejarah hubungan Muslim–Kristen.[7]
Q.S. As-Saff 61:6 juga menggambarkan Isa sebagai pembenar Taurat yang telah ada sebelumnya dan pemberi kabar mengenai seorang rasul yang akan datang setelahnya bernama Ahmad. Dalam tafsir Islam, ayat ini secara tradisional dipahami sebagai nubuat mengenai Muhammad.[4]
Mukjizat
Al-Qur'an mengaitkan sejumlah mukjizat dengan Isa dan berulang kali menegaskan bahwa mukjizat tersebut terjadi dengan izin Allah. Dalam Q.S. Ali 'Imran 3:49 dan Al-Ma'idah 5:110, Isa digambarkan membuat bentuk burung dari tanah liat lalu meniupnya sehingga menjadi hidup dengan izin Allah, menyembuhkan orang buta dan penderita penyakit kulit, membangkitkan orang mati, serta mengetahui apa yang dimakan atau disimpan orang di rumah mereka.[3]
Kisah burung dari tanah liat memiliki kesejajaran dengan tradisi Kristen apokrif mengenai masa kecil Yesus. Para sarjana studi Qur'an membahas kemiripan semacam ini sebagai bagian dari konteks tradisi Yahudi-Kristen yang beredar di Timur Dekat pada masa munculnya Al-Qur'an.[8]
Para pengikut
Pengikut Isa disebut al-hawariyyun (الحواريون). Al-Qur'an tidak memberikan daftar nama atau jumlah mereka, tetapi menggambarkan mereka sebagai pihak yang menjawab seruan Isa untuk menjadi penolong dalam jalan Allah (Q.S. Ali 'Imran 3:52 dan As-Saff 61:14).[9]
Surah Al-Ma'idah 5:112–115 mengisahkan permintaan para hawariyyun agar sebuah hidangan diturunkan dari langit sebagai tanda. Kisah ini kemudian menjadi tema dalam karya sastra dan seni Islam.[10]
Kedudukan teologis
Dalam teologi Islam, Isa adalah manusia dan utusan Allah. Q.S. Maryam 19:30 menyebutnya "hamba Allah", sedangkan An-Nisa' 4:171 menyebutnya rasul Allah. Al-Qur'an menolak identifikasi al-Masih dengan Allah serta penjelasan mengenai Tuhan sebagai "tiga" (Q.S. An-Nisa' 4:171; Al-Ma'idah 5:72–75).[5]
Ayat Al-Ma'idah 5:116–118 menggambarkan dialog eskatologis antara Allah dan Isa mengenai apakah Isa pernah meminta manusia menjadikan dirinya dan ibunya sebagai sesembahan selain Allah. Dalam narasi tersebut Isa menyangkal telah mengajarkan hal demikian. Bagian ini menjadi salah satu teks utama dalam perdebatan klasik Muslim–Kristen mengenai hakikat Kristus dan Tritunggal.[2][5]
Penyebutan Isa sebagai "kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam" dan "roh dari-Nya" dalam Q.S. An-Nisa' 4:171 juga menimbulkan diskusi panjang. Para teolog Muslim menafsirkannya dalam kerangka tauhid, sedangkan penulis Kristen pada masa klasik sering menjadikannya titik perdebatan mengenai Kristologi. Mona Siddiqui menilai Isa berfungsi sekaligus sebagai titik temu dan titik perbedaan dalam hubungan Islam–Kristen.[5]
Penyaliban, kematian, dan pengangkatan
Salah satu perbedaan terbesar antara pandangan Islam tradisional dan Kekristenan arus utama berkaitan dengan akhir kehidupan duniawi Isa. Q.S. An-Nisa' 4:157 menyatakan dalam konteks klaim para penentang Isa bahwa mereka tidak membunuh dan tidak menyalibnya, tetapi perkara itu "diserupakan" atau "tampak demikian" bagi mereka; ayat berikutnya menyatakan bahwa Allah mengangkat Isa kepada-Nya.[11]
Mayoritas mufasir Muslim klasik memahami bagian tersebut sebagai penolakan bahwa Isa sendiri dibunuh melalui penyaliban. Dalam banyak tafsir berkembang kisah bahwa orang lain dibuat menyerupai Isa dan kemudian disalibkan. Identitas orang tersebut tidak disepakati. Namun, Al-Qur'an sendiri tidak menyebut nama pengganti maupun menjelaskan mekanisme peristiwa itu.[12]
Sejarah penafsiran ayat tersebut lebih beragam daripada rumusan populer mengenai "penggantian orang". Todd Lawson menunjukkan bahwa tafsir atas Q.S. 4:157 telah diperdebatkan selama berabad-abad dalam berbagai aliran pemikiran Islam.[11] Gabriel Said Reynolds berpendapat bahwa sejumlah ayat Qur'anik mengenai tawaffa dan pengangkatan Isa dapat dibaca sebagai menunjukkan bahwa Isa telah wafat, sedangkan mayoritas mufasir klasik menafsirkannya sebagai pengangkatan hidup-hidup sebelum kematian yang akan terjadi kemudian.[12]
Karena itu, kajian akademik biasanya membedakan antara apa yang secara eksplisit dinyatakan Al-Qur'an, penjelasan dalam tafsir klasik, dan formulasi teologi Muslim yang berkembang kemudian.
Kedatangan kembali
Kepercayaan bahwa Isa akan kembali menjelang akhir zaman memiliki kedudukan penting dalam eskatologi Sunni dan juga terdapat dalam banyak tradisi Syiah. Rincian utamanya terutama berasal dari hadis dan literatur apokaliptik, bukan dari sebuah uraian naratif lengkap dalam Al-Qur'an.[13]
Ayat seperti An-Nisa' 4:159 dan Az-Zukhruf 43:61 sering ditafsirkan dalam tradisi Islam sebagai berkaitan dengan kedatangan Isa menjelang kiamat, tetapi hubungan ayat-ayat tersebut dengan kedatangan kedua bergantung pada pilihan tafsir dan bacaan gramatikal.[2]
Hadis-hadis yang diterima luas dalam tradisi Sunni menggambarkan Isa turun kembali ke bumi, menghadapi al-Masih ad-Dajjal, menegakkan keadilan, dan kemudian mengalami kematian manusiawi. Perincian mengenai tempat turun, hubungannya dengan Mahdi, serta urutan peristiwa berbeda-beda dalam tradisi eskatologis.[13][14]
Isa dalam tasawuf dan sastra Islam
Di luar narasi Qur'anik dan hadis, Isa memperoleh peran penting dalam tasawuf dan sastra moral Islam. Dalam banyak teks sufistik, ia ditampilkan sebagai model kezuhudan, kemiskinan sukarela, kasih, kebersihan batin, dan keterlepasan dari dunia.[15]
Tarif Khalidi menghimpun lebih dari 300 ucapan dan kisah mengenai Isa yang tersebar dalam literatur Arab Islam dari abad-abad awal hingga periode pramodern. Banyak di antaranya tidak berasal dari Al-Qur'an atau hadis kanonik, tetapi beredar dalam karya asketik, biografi para nabi, tafsir, hikmah, dan teks sufistik.[10]
Al-Ghazali, misalnya, mengutip sejumlah perkataan yang dinisbatkan kepada Isa untuk menjelaskan kerendahan hati, bahaya kecintaan terhadap dunia, dan pemurnian jiwa. Dengan demikian, citra Isa dalam kebudayaan Islam berkembang jauh melampaui perdebatan tentang penyaliban atau Kristologi.[10]
Perbandingan dengan Kekristenan
Islam dan Kekristenan berbagi sejumlah unsur mengenai Yesus/Isa: keduanya menghubungkannya dengan Maryam/Maria, menerima kelahiran luar biasa, mengakui mukjizat, serta menggunakan gelar Mesias. Namun, perbedaan teologisnya mendasar.
Dalam Kekristenan arus utama, Yesus dipahami sebagai Putra Allah dalam doktrin Tritunggal, dan kematian melalui penyaliban serta kebangkitannya berada di pusat doktrin keselamatan. Islam menolak keilahian dan keanakan ilahi Isa, serta dalam penafsiran Muslim arus utama menolak bahwa Isa meninggal akibat penyaliban.[5]
Perbedaan tersebut menghasilkan tradisi polemik yang panjang sejak periode Islam awal, tetapi figur Isa juga telah digunakan sebagai titik temu dalam dialog Muslim–Kristen modern.[4][5]
Pandangan Ahmadiyah
Gerakan Ahmadiyah mempertahankan pandangan yang berbeda dari mayoritas Sunni dan Syiah mengenai akhir kehidupan Isa. Ahmadiyah mengajarkan bahwa Isa selamat dari penyaliban, kemudian melakukan perjalanan ke arah timur dan akhirnya meninggal secara alami. Mereka juga menolak gagasan bahwa Isa yang sama akan turun secara jasmani dari langit; nubuat tentang kedatangan kembali Mesias dipahami telah terpenuhi secara simbolis pada Mirza Ghulam Ahmad.[16]
Pandangan ini merupakan salah satu perbedaan doktrinal utama antara Ahmadiyah dan tradisi Muslim arus utama mengenai Isa.
Dalam seni Islam
Meskipun penggambaran nabi dibatasi atau dihindari dalam banyak lingkungan Muslim, manuskrip Persia dan sejumlah tradisi seni Islam historis menampilkan Isa dalam ilustrasi naratif. Salah satu contoh adalah manuskrip Persia tahun 1580 dalam Koleksi Spencer yang menggambarkan Isa dan para pengikutnya dengan hidangan dari langit.[17]
Lihat pula
- Isa
- Yesus
- Maryam dalam Islam
- Injil dalam Islam
- Al-Masih
- Nabi dan rasul dalam Islam
- Dajal
- Mahdi
- Kristologi
- Hubungan Kristen dan Islam
Referensi
- ^ a b c d Anawati, G. C. "ʿĪsā". Encyclopaedia of Islam, Second Edition. Brill. doi:10.1163/1573-3912_islam_COM_0378. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- ^ a b c d e f g Robinson, Neal (1991). Christ in Islam and Christianity: The Representation of Jesus in the Qur'an and the Classical Muslim Commentaries. State University of New York Press. ISBN 978-0-7914-0558-1.
- ^ a b c d Parrinder, Geoffrey (1965). Jesus in the Qur'an. London: Faber and Faber.
- ^ a b c Goddard, Hugh (2009). "Jesus: in Islam (history and thought)". Dalam Esposito, John L. (ed.). The Oxford Encyclopedia of the Islamic World. Oxford University Press. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- ^ a b c d e f g Siddiqui, Mona (2013). Christians, Muslims and Jesus. Yale University Press. doi:10.12987/yale/9780300169706.001.0001. ISBN 978-0-300-16970-6.
- ^ Al-Jallad, Ahmad; Al-Manaser, Ali (2021). "The Pre-Islamic Divine Name ʿsy and the Background of the Qurʾānic Jesus". Journal of the International Qur’anic Studies Association. 6 (1): 107–136. doi:10.5913/jiqsa.6.2021.a004. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- ^ Whittingham, Martin (2021). A History of Muslim Views of the Bible: The First Four Centuries. De Gruyter. ISBN 978-3-11-033494-4.
- ^ Reynolds, Gabriel Said (2018). The Qur'an and the Bible: Text and Commentary. Yale University Press. ISBN 978-0-300-18132-6. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- ^ Reynolds, Gabriel Said (2013). "The Quran and the apostles of Jesus". Bulletin of the School of Oriental and African Studies. 76 (2). doi:10.1017/S0041977X13000062. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- ^ a b c Khalidi, Tarif (2001). The Muslim Jesus: Sayings and Stories in Islamic Literature. Harvard University Press. ISBN 978-0-674-00477-1.
- ^ a b Lawson, Todd (2009). The Crucifixion and the Qur'an: A Study in the History of Muslim Thought. Oxford: Oneworld. ISBN 978-1-85168-635-3.
- ^ a b Reynolds, Gabriel Said (2009). "The Muslim Jesus: Dead or alive?". Bulletin of the School of Oriental and African Studies. 72 (2): 237–258. doi:10.1017/S0041977X09000500. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
- ^ a b Cook, David (2002). Studies in Muslim Apocalyptic. Darwin Press. ISBN 978-0-87850-142-7.
- ^ Saritoprak, Zeki (2014). Islam's Jesus. University Press of Florida. doi:10.5744/florida/9780813049694.001.0001. ISBN 978-0-8130-5034-8.
- ^ Leirvik, Oddbjørn (2010). Images of Jesus Christ in Islam (Edisi 2). Continuum. ISBN 978-1-4411-8160-2.
- ^ Leirvik, Oddbjørn (2010). Images of Jesus Christ in Islam (Edisi 2). Continuum. hlm. 95–106. ISBN 978-1-4411-8160-2.
- ^ "Spencer Coll. Persian MS. 46 fol 152v Isa and disciples eat food from heaven". Wikimedia Commons; sumber asli New York Public Library. 1580. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
Bacaan lebih lanjut
- Khalidi, Tarif (2001). The Muslim Jesus: Sayings and Stories in Islamic Literature. Harvard University Press. ISBN 978-0-674-00477-1.
- Lawson, Todd (2009). The Crucifixion and the Qur'an: A Study in the History of Muslim Thought. Oneworld. ISBN 978-1-85168-635-3.
- Leirvik, Oddbjørn (2010). Images of Jesus Christ in Islam (Edisi 2). Continuum. ISBN 978-1-4411-8160-2.
- Parrinder, Geoffrey (1965). Jesus in the Qur'an. Faber and Faber.
- Robinson, Neal (1991). Christ in Islam and Christianity. State University of New York Press. ISBN 978-0-7914-0558-1.
- Siddiqui, Mona (2013). Christians, Muslims and Jesus. Yale University Press. ISBN 978-0-300-16970-6.
Pranala luar
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.