Maryam dalam Islam

Penggambaran kabar kepada Maryam dalam manuskrip Persia Al-Atsar al-Baqiyah karya Al-Biruni, salinan abad ke-16. Malaikat memberi tahu Maryam bahwa ia akan mengandung Isa.

Maryam dalam Islam (bahasa Arab: مَرْيَم بِنْت عِمْرَان, translit. Maryam bint ʿImrān, "Maryam putri Imran") adalah pandangan Islam mengenai Maria, ibu Isa. Maryam menempati kedudukan yang sangat menonjol dalam Al-Qur'an dan tradisi Islam. Ia adalah satu-satunya perempuan manusia yang disebut dengan nama pribadinya dalam Al-Qur'an, dan namanya muncul 34 kali.[1][2]

Kisah Maryam terutama terdapat dalam Surah Ali 'Imran 3:33–47 dan Surah Maryam 19:16–36; rujukan lain terdapat dalam An-Nisa', Al-Ma'idah, Al-Anbiya', Al-Mu'minun, dan At-Tahrim. Surah ke-19 Al-Qur'an dinamai menurut namanya. Oxford Bibliographies mencatat bahwa sedikitnya sekitar tujuh puluh ayat Al-Qur'an merujuk kepada Maryam atau kisahnya.[2]

Dalam Al-Qur'an, Maryam digambarkan sebagai perempuan yang dipilih dan disucikan oleh Allah, menjaga kesuciannya, membenarkan firman dan kitab-kitab Allah, serta menjadi teladan bagi orang beriman. Ia melahirkan Isa secara mukjizat tanpa ayah manusia.[3] Islam menghormati Maryam secara sangat tinggi, tetapi tidak menganggapnya sebagai sosok ilahi atau objek penyembahan.[4]

Nama

Nama Maryam (مريم) merupakan bentuk Arab dari nama Semitik yang juga menghasilkan bahasa Ibrani Miryam dan bentuk Yunani Maria/Mariam. Dalam Al-Qur'an, ia sering disebut bersama putranya melalui sebutan Isa bin Maryam ("Isa putra Maryam"), suatu bentuk yang menegaskan hubungan maternalnya dengan Isa.[2]

Al-Qur'an juga menyebutnya Maryam bint Imran ("Maryam putri Imran") dalam Q.S. At-Tahrim 66:12. Ayah Maryam tidak diceritakan secara naratif dalam Al-Qur'an, sementara ibunya disebut hanya sebagai "istri Imran" dalam Q.S. Ali 'Imran 3:35. Tradisi tafsir kemudian menamainya Hannah atau Hanna, nama yang memiliki padanan dengan Anna dalam tradisi Kristen apokrif.[3][5]

Dalam Al-Qur'an

Maryam adalah salah satu tokoh perempuan yang kisahnya paling panjang dikembangkan dalam Al-Qur'an. Barbara Freyer Stowasser mencatat bahwa ia merupakan satu-satunya perempuan yang disebut dengan nama pribadinya dalam teks Qur'ani dan kisahnya berfungsi sebagai teladan kesalehan, kesucian, dan ketaatan kepada Allah.[3]

Kelahiran dan keluarga

Q.S. Ali 'Imran 3:35–37 mengisahkan bahwa istri Imran bernazar untuk menyerahkan anak yang dikandungnya bagi pengabdian kepada Allah. Setelah melahirkan seorang anak perempuan, ia menamainya Maryam dan memohon perlindungan Allah bagi Maryam dan keturunannya dari setan.

Tradisi tafsir klasik memperluas narasi singkat ini. Dalam sejumlah karya, ibu Maryam dinamai Hannah dan Imran dikisahkan meninggal sebelum atau sekitar kelahiran Maryam. Unsur-unsur tersebut tidak seluruhnya dinyatakan secara eksplisit dalam Al-Qur'an dan sebagian memiliki kesejajaran dengan tradisi Kristen seperti Protoevangelium Yakobus.[5]

Hadis dalam Sahih Muslim mengaitkan doa ibu Maryam dalam Q.S. 3:36 dengan riwayat bahwa Maryam dan Isa dikecualikan dari sentuhan setan ketika lahir.[6]

Dalam pemeliharaan Zakariya

Al-Qur'an menyatakan bahwa Allah menerima Maryam dengan penerimaan yang baik, menumbuhkannya dengan baik, dan menempatkannya dalam pemeliharaan Zakariya. Setiap kali Zakariya memasuki mihrab tempat Maryam berada, ia menemukan rezeki di sisinya dan bertanya dari mana makanan itu berasal. Maryam menjawab bahwa rezeki tersebut berasal dari Allah (Q.S. 3:37).

Ayat berikutnya, Q.S. 3:44, mengacu kepada pengundian untuk menentukan siapa yang akan memelihara Maryam. Para penafsir kemudian mengembangkan rincian mengenai para pemuka agama yang bersaing untuk menjadi pengasuhnya.[7]

Sejumlah sarjana modern membandingkan kisah pengasuhan Maryam dengan tradisi mengenai masa kecil Maria dalam Protoevangelium Yakobus. Namun, kisah Qur'ani memiliki struktur dan tujuan teologisnya sendiri, termasuk penempatan Zakariya sebagai pengasuh dan hubungan naratif antara Maryam dengan kelahiran Yahya.[5][3]

Dipilih dan disucikan

Dalam Q.S. Ali 'Imran 3:42, para malaikat menyatakan bahwa Allah telah memilih dan menyucikan Maryam serta memilihnya "di atas perempuan seluruh alam". Ayat ini merupakan salah satu landasan utama tingginya kedudukan Maryam dalam tradisi Islam.[8]

Penafsiran mengenai lingkup ungkapan "perempuan seluruh alam" bervariasi. Sebagian mufasir memahaminya sebagai keunggulan Maryam atas seluruh perempuan, sedangkan sebagian lain membatasinya pada perempuan pada zamannya atau membahas keutamaan Maryam bersama tokoh seperti Fatimah az-Zahra, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.[8][2]

Dalam Q.S. Al-Ma'idah 5:75, Maryam disebut ṣiddīqah, yakni perempuan yang sangat membenarkan atau sangat benar. Q.S. At-Tahrim 66:12 menyebut bahwa ia menjaga kesuciannya, membenarkan kalimat-kalimat dan kitab-kitab Tuhannya, dan termasuk orang-orang yang taat.[9]

Kabar kelahiran Isa

Dua bagian utama mengisahkan kabar mengenai kelahiran Isa: Q.S. Ali 'Imran 3:45–47 dan Maryam 19:16–21. Dalam Surah Ali 'Imran, para malaikat menyampaikan kabar tentang "kalimat dari-Nya" bernama al-Masih Isa bin Maryam. Maryam bertanya bagaimana ia dapat mempunyai anak sementara tidak pernah disentuh seorang laki-laki.

Dalam Surah Maryam, Maryam mengasingkan diri ke suatu tempat di sebelah timur dan Allah mengirimkan "Ruh Kami" yang menampakkan diri dalam rupa seorang manusia. Tradisi tafsir Muslim pada umumnya mengidentifikasi ruh tersebut sebagai Jibril. Utusan itu menyampaikan bahwa Maryam akan menerima seorang anak laki-laki yang suci.[4]

Konsepsi tanpa ayah biologis merupakan bagian integral dari pandangan Islam tentang kelahiran Isa. Islam menerima kelahiran dari perawan, tetapi tidak menghubungkannya dengan keilahian Isa. Mukjizat itu dipahami sebagai hasil kehendak penciptaan Allah.[3]

Kelahiran Isa

Q.S. Maryam 19:22–26 menggambarkan Maryam mengandung Isa dan mengasingkan diri ke tempat yang jauh. Ketika rasa sakit persalinan membawanya ke pangkal pohon kurma, ia meratap bahwa seandainya ia telah meninggal dan dilupakan sebelum peristiwa itu. Sebuah suara menenangkannya, memberitahukan adanya aliran air di bawahnya, dan memerintahkannya menggoyangkan pohon kurma agar buah kurma segar jatuh kepadanya.

Kisah pohon kurma dan air tidak terdapat dalam Injil kanonik. Sarjana modern telah membandingkannya dengan berbagai tradisi Kristen akhir-antiquity dan apokrif, khususnya tradisi yang kemudian tercermin dalam Gospel of Pseudo-Matthew, meskipun hubungan tekstual dan arah transmisinya terus diperdebatkan.[5][10]

Kembali kepada kaumnya

Ketika Maryam kembali membawa bayi Isa, kaumnya menuduhnya telah melakukan sesuatu yang luar biasa buruk dan menyebutnya "saudari Harun" (Q.S. Maryam 19:27–28). Maryam tidak menjawab tuduhan tersebut dan menunjuk kepada bayinya. Isa kemudian berbicara dari buaian, menyatakan dirinya sebagai hamba Allah yang diberi kitab dan dijadikan nabi (19:29–33).

Kemampuan Isa berbicara ketika masih bayi menjadi bagian penting dari pembelaan Qur'ani terhadap kesucian Maryam: kesaksiannya dalam narasi membebaskan ibunya dari tuduhan ketidakmurnian.[7]

Imran dan sebutan "saudari Harun"

Penyebutan Maryam sebagai putri Imran (Q.S. 66:12) dan "saudari Harun" (19:28) telah menjadi tema diskusi panjang dalam tafsir Islam dan studi Qur'an, karena dalam Alkitab Miryam adalah saudari Musa dan Harun serta putri Amram, sedangkan Maria ibu Yesus hidup berabad-abad kemudian.[11]

Tradisi Muslim tidak mengidentifikasi Maryam ibu Isa dengan Miryam saudari Musa. Sahih Muslim meriwayatkan bahwa ketika al-Mughirah bin Syu'bah ditanya umat Kristen Najran mengenai ungkapan "saudari Harun", Muhammad menjelaskan bahwa masyarakat dahulu menamai orang berdasarkan nabi dan orang saleh sebelum mereka.[12] Tafsir lain memahami "saudari" sebagai hubungan garis keturunan, afiliasi keagamaan, atau hubungan simbolis dengan keluarga Harun.[3]

Dalam kajian akademik modern tidak terdapat satu penjelasan tunggal. Sejumlah penulis menganggap adanya penggabungan motif antara Maria dan Miryam, sedangkan sarjana lain, termasuk Angelika Neuwirth, menekankan fungsi tipologis, silsilah, dan komposisi sastra dalam pengaitan Maryam dengan keluarga Imran dan Harun.[13] Karena itu, pembahasan modern biasanya membedakan tafsir internal tradisi Islam dari analisis sejarah-kritis mengenai hubungan Al-Qur'an dengan tradisi Yahudi dan Kristen.

Kedudukan dalam teologi Islam

Teladan bagi orang beriman

Q.S. At-Tahrim 66:11–12 menempatkan istri Firaun dan Maryam sebagai dua contoh bagi "orang-orang yang beriman". Maryam dipuji karena menjaga kesucian, membenarkan firman dan kitab Allah, dan termasuk orang yang taat.[3]

Dalam literatur hadis, Maryam juga termasuk perempuan yang memperoleh kedudukan istimewa. Sahih al-Bukhari meriwayatkan ucapan Muhammad yang menyebut Maryam putri Imran sebagai salah satu perempuan terbaik, bersama dengan Khadijah dalam rumusan riwayat tersebut.[14]

Riwayat lain dalam Sahih Muslim menyatakan bahwa Maryam dan Isa tidak mengalami sentuhan setan ketika kelahiran, sebuah tradisi yang dikaitkan dengan doa ibu Maryam dalam Q.S. 3:36.[6]

Apakah Maryam seorang nabi?

Status kenabian Maryam merupakan persoalan yang diperdebatkan oleh ulama klasik. Pandangan mayoritas dalam teologi Sunni tidak memasukkan Maryam sebagai nabi dan menekankan penyebutannya sebagai ṣiddīqah dalam Q.S. 5:75. Namun, sejumlah ulama—termasuk Ibnu Hazm dan pendapat yang dinisbatkan kepada beberapa mufasir—berpendapat bahwa komunikasi malaikat dan wahyu kepada Maryam dapat mendukung status kenabiannya.[9][7]

Lejla Demiri mencatat bahwa al-Qurtubi, Ibnu Hazm, dan Ibnu Hajar al-'Asqalani termasuk tokoh yang terlibat dalam diskusi mengenai kemungkinan kenabian perempuan dan Maryam, walaupun pandangan yang lebih umum menganggap Maryam sebagai perempuan suci dan wali Allah, bukan nabi.[9]

Perdebatan ini berkaitan dengan definisi nubuwwah serta apakah komunikasi ilahi atau malaikat kepada seseorang dengan sendirinya menunjukkan kenabian. Al-Qur'an menggunakan kata wahy juga untuk pihak yang dalam teologi Islam tidak dianggap nabi, sehingga para ulama mengembangkan kriteria yang berbeda-beda.

Maryam dan ketuhanan

Meskipun menempatkan Maryam pada kedudukan sangat tinggi, Al-Qur'an menegaskan kemanusiaannya. Q.S. Al-Ma'idah 5:75 menyatakan bahwa al-Masih dan ibunya sama-sama memakan makanan, suatu argumen Qur'ani yang digunakan untuk menolak sifat ilahi mereka.[4]

Q.S. Al-Ma'idah 5:116 menggambarkan Allah bertanya kepada Isa apakah ia pernah mengatakan kepada manusia agar menjadikan dirinya dan ibunya sebagai dua sesembahan selain Allah. Isa menyangkalnya. Ayat ini telah menjadi salah satu bagian yang paling banyak dibahas dalam studi mengenai hubungan Al-Qur'an dengan teologi Kristen dan penghormatan kepada Maria.[15]

Para sarjana berbeda mengenai latar polemik ayat tersebut. Al-Qur'an tidak menyebut Maryam sebagai unsur ketiga Tritunggal dengan formula teknis gerejawi; ayat tersebut dapat dibaca sebagai kritik terhadap pengilahian atau bentuk penghormatan religius yang dianggap melampaui batas. Dalam teologi Islam, segala bentuk penyembahan terhadap Maryam ditolak sebagai bertentangan dengan tauhid.[4]

Maryam dalam tafsir dan tradisi Islam

Tafsir klasik memperluas kisah Qur'ani Maryam dengan berbagai detail mengenai orang tuanya, masa kecilnya, makanan yang diterimanya, peristiwa kelahiran, dan kehidupan setelah kelahiran Isa. Sumber-sumber tersebut memadukan penafsiran ayat, hadis, riwayat para pendahulu, serta materi yang dalam studi Islam kemudian sering digolongkan sebagai Israiliyat.[3]

Jane Dammen McAuliffe menunjukkan bahwa penafsiran mengenai keutamaan Maryam juga sering berinteraksi dengan pembahasan mengenai keutamaan Fatimah. Perbedaan pendapat muncul mengenai apakah Q.S. 3:42 menunjukkan keunggulan absolut Maryam atau apakah keutamaan tokoh-tokoh perempuan tersebut dapat dipahami dalam konteks zaman dan komunitas masing-masing.[8]

Dalam tasawuf

Maryam memiliki peran simbolis penting dalam tasawuf. Para penulis mistik menggunakan kesucian, keterasingan, penerimaan terhadap kehendak Allah, serta kelahiran Isa sebagai metafora bagi perkembangan spiritual manusia.

Dalam puisi dan pemikiran Jalaluddin Rumi, misalnya, Maryam dan kelahiran Isa dapat menjadi gambaran mengenai jiwa yang melahirkan kehidupan rohani setelah menerima inspirasi ilahi. Tradisi seperti ini tidak mengubah Maryam menjadi figur ilahi, tetapi menjadikannya simbol kesiapan batin menerima rahmat Allah.[16]

Tradisi Syiah dan Ismailiyah

Maryam juga dihormati dalam tradisi Syiah. Penafsiran Syiah mengenai Maryam umumnya mempertahankan kesuciannya dan kelahiran mukjizat Isa, sementara literatur keutamaan sering membandingkannya dengan Fatimah az-Zahra sebagai perempuan teladan.

Dalam tradisi Ismailiyah terdapat pula pembacaan esoteris. Fakih Fatimiyah Al-Qadi al-Nu'man menafsirkan sejumlah unsur kisah Maryam secara simbolis dalam kerangka ta'wil, dengan tokoh dan peristiwa lahiriah dipahami sebagai representasi hubungan spiritual dan hierarki dakwah.[17]

Dalam seni dan kebudayaan Islam

Penggambaran figur suci berbeda-beda menurut tempat dan masa dalam dunia Islam. Manuskrip Persia dan beberapa tradisi ilustrasi Muslim menampilkan Maryam dalam adegan kabar kelahiran Isa, persalinan di bawah pohon kurma, atau bersama Isa.

Salah satu penggambaran kabar kepada Maryam terdapat dalam salinan Persia Al-Atsar al-Baqiyah karya Al-Biruni, kini tersimpan di Bibliothèque nationale de France. Manuskrip tersebut menggambarkan seorang malaikat menyampaikan berita mengenai kelahiran Isa kepada Maryam.[18]

Nama Maryam sendiri menjadi salah satu nama perempuan yang sangat umum di masyarakat Muslim dalam berbagai bentuk seperti Maryam, Mariam, Meryem, dan Mariyam.

Ziarah dan tradisi bersama Islam–Kristen

Penghormatan kepada Maryam menjadikannya salah satu figur penting dalam dialog antara Islam dan Kekristenan. Sejumlah situs yang dikaitkan dengan Maria dikunjungi baik oleh umat Kristen maupun Muslim. Zeki Saritoprak menilai kedudukan Maryam sebagai tokoh yang dihormati bersama memberi ruang bagi dialog lintas agama, meskipun kedua tradisi berbeda mengenai teologi Isa dan kedudukan Maria.[4]

Robert C. Gregg mencatat bahwa sejak masa awal terdapat tradisi Muslim yang menghubungkan Maryam dengan tempat-tempat suci di Yerusalem, termasuk lokasi yang dikaitkan dengan tempat ibadahnya dan buaian Isa.[7] Pada masa modern, Rumah Perawan Maria di dekat Efesus, Turki, juga dikunjungi oleh peziarah Kristen dan sebagian Muslim, walaupun tradisi yang menghubungkan Maria dengan lokasi tersebut berasal dari periode jauh lebih kemudian.

Perbandingan dengan Kekristenan

Islam dan Kekristenan sama-sama menghormati Maria/Maryam sebagai ibu Yesus/Isa dan menerima bahwa ia mengandung secara perawan. Kedua tradisi juga mengaitkannya dengan kesalehan dan pemilihan ilahi. Namun, terdapat perbedaan penting dalam teologi dan perkembangan devosi.

Dalam Kekristenan, khususnya Katolik dan Ortodoks, berkembang doktrin dan praktik Mariologi seperti gelar Theotokos, devosi kepada Maria, dan berbagai ajaran mengenai kehidupannya. Islam tidak menerima gelar "Bunda Allah" karena Isa tidak dianggap ilahi. Al-Qur'an menempatkan Maryam sebagai hamba Allah dan teladan manusia yang saleh.[4]

Al-Qur'an juga memuat unsur naratif yang tidak muncul dalam Injil kanonik, seperti pengasuhan oleh Zakariya, rezeki di mihrab, persalinan di bawah pohon kurma, dan Isa berbicara dari buaian. Sebaliknya, Al-Qur'an tidak memberikan rincian mengenai Yusuf, perjalanan ke Betlehem, para gembala, atau kehidupan Maryam setelah masa kecil Isa sebagaimana berkembang dalam tradisi Kristen.[5]

Studi modern menunjukkan bahwa sebagian motif Qur'ani memiliki kesejajaran dengan tradisi Kristen apokrif dan liturgis yang beredar pada masa Antik Akhir. Para sarjana berbeda mengenai jalur transmisi dan hubungan tekstual yang tepat; karena itu, kemiripan tidak dengan sendirinya menentukan bahwa satu teks secara langsung menyalin teks lain.[19]

Dalam studi akademik modern

Maryam menjadi tema penting dalam kajian sastra dan sejarah Al-Qur'an. Stowasser meneliti perubahan citra Maryam dari teks Qur'ani ke tafsir dan tradisi populer.[3] Michael Marx menelaah unsur "Mariologi" Qur'ani dalam konteks Kristen Arab dan Timur Dekat pada masa Antik Akhir.[19]

M. A. S. Abdel Haleem menekankan struktur dan fungsi Surah Maryam sebagai satu kesatuan naratif, bukan hanya kumpulan cerita mengenai Zakariya, Yahya, Maryam, dan Isa.[1] Angelika Neuwirth menganalisis hubungan antara "keluarga Ibrahim" dan "keluarga Imran" sebagai bagian dari perkembangan argumentasi genealogis dan teologis Al-Qur'an.[20]

Kajian-kajian tersebut tidak selalu menghasilkan kesimpulan yang sama mengenai sumber atau maksud setiap motif, tetapi secara umum menunjukkan bahwa kisah Maryam merupakan salah satu contoh penting bagaimana Al-Qur'an berinteraksi dengan tokoh dan tradisi yang telah dikenal dalam lingkungan Yahudi-Kristen sambil membentuk pesan teologis Qur'ani yang khas.

Lihat pula

Referensi

  1. ^ a b Abdel Haleem, M. A. S. (2020). "Sūrat Maryam (Q. 19): Comforting Muḥammad". Journal of Qur'anic Studies. 22 (2). doi:10.3366/jqs.2020.0425. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  2. ^ a b c d Saritoprak, Zeki (26 Oktober 2015). "Mary in Islam". Oxford Bibliographies in Islamic Studies. Oxford University Press. doi:10.1093/obo/9780195390155-0143. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  3. ^ a b c d e f g h i Stowasser, Barbara Freyer (1997). "The Chapter of Mary". Women in the Qur'an, Traditions, and Interpretation. Oxford University Press. hlm. 67–82. doi:10.1093/acprof:oso/9780195111484.003.0008. ISBN 978-0-19-511148-4.
  4. ^ a b c d e f Saritoprak, Zeki (2019). "Mary in Islam". Dalam Maunder, Chris (ed.). The Oxford Handbook of Mary. Oxford University Press. hlm. 93–103. doi:10.1093/oxfordhb/9780198792550.013.30. ISBN 978-0-19-879255-0.
  5. ^ a b c d e Reynolds, Gabriel Said (2018). The Qur'an and the Bible: Text and Commentary. Yale University Press. ISBN 978-0-300-18132-6.
  6. ^ a b "Sahih Muslim 2366a". Sunnah.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026. {{cite web}}:
  7. ^ a b c d Gregg, Robert C. (2015). "Maryam, Mother of `Isa: "Chosen … Over the Women of All Peoples"". Shared Stories, Rival Tellings: Early Encounters of Jews, Christians, and Muslims. Oxford University Press. doi:10.1093/acprof:oso/9780190231491.003.0024. ISBN 978-0-19-023149-1.
  8. ^ a b c McAuliffe, Jane Dammen (1981). "Chosen of All Women: Mary and Fatima in Qur'anic Exegesis". Islamochristiana. 7: 19–28.
  9. ^ a b c Demiri, Lejla (20 Juli 2018). "Mary in the Qur'an". L'Osservatore Romano. hlm. 9–11. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  10. ^ Marx, Michael (2011). "Glimpses of a Mariology in the Qur'an". Dalam Neuwirth, Angelika; Sinai, Nicolai; Marx, Michael (ed.). The Qur'an in Context: Historical and Literary Investigations into the Qur'anic Milieu. Leiden: Brill. hlm. 533–563. ISBN 978-90-04-17688-1.
  11. ^ Teuma, Edmund (1990). "The Blessed Virgin's genealogy in the Qur'an: an exegetical problem". Melita Theologica. 41 (1): 47–52. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  12. ^ "Sahih Muslim 2135". Sunnah.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026. {{cite web}}:
  13. ^ Neuwirth, Angelika (2011). "The House of Abraham and the House of Amram: Genealogy, Patriarchal Authority, and Exegetical Professionalism". Dalam Neuwirth, Angelika; Sinai, Nicolai; Marx, Michael (ed.). The Qur'an in Context. Brill. hlm. 499–528. ISBN 978-90-04-17688-1.
  14. ^ "Sahih al-Bukhari 3432". Sunnah.com. Diakses tanggal 9 Agustus 2026. {{cite web}}:
  15. ^ Reynolds, Gabriel Said (2010). The Qur'an and Its Biblical Subtext. Routledge. ISBN 978-0-415-77893-0.
  16. ^ Schimmel, Annemarie (1996). Jesus und Maria in der islamischen Mystik. München: Kösel. ISBN 978-3-466-20439-7.
  17. ^ Virani, Shafique N. (2007). The Ismailis in the Middle Ages: A History of Survival, a Search for Salvation. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-531173-0.
  18. ^ "The Remaining Signs of Past Centuries - Annunciation". Wikimedia Commons; sumber asli Bibliothèque nationale de France. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  19. ^ a b Marx, Michael (2011). "Glimpses of a Mariology in the Qur'an". Dalam Neuwirth, Angelika; Sinai, Nicolai; Marx, Michael (ed.). The Qur'an in Context: Historical and Literary Investigations into the Qur'anic Milieu. Brill. hlm. 533–563. ISBN 978-90-04-17688-1.
  20. ^ Neuwirth, Angelika (2024). "Q 19 Maryam: Mary". The Qur'an: Text and Commentary, Volume 2.1: Early Middle Meccan Suras: The New Elect. Yale University Press. hlm. 365–416. doi:10.12987/9780300280609-015.

Bacaan lebih lanjut

  • Gregg, Robert C. (2015). Shared Stories, Rival Tellings: Early Encounters of Jews, Christians, and Muslims. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-023149-1.
  • Reynolds, Gabriel Said (2018). The Qur'an and the Bible: Text and Commentary. Yale University Press. ISBN 978-0-300-18132-6.
  • Stowasser, Barbara Freyer (1997). Women in the Qur'an, Traditions, and Interpretation. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-511148-4.
  • Saritoprak, Zeki (2019). "Mary in Islam". Dalam Maunder, Chris (ed.). The Oxford Handbook of Mary. Oxford University Press. hlm. 93–103. ISBN 978-0-19-879255-0.
  • Neuwirth, Angelika; Sinai, Nicolai; Marx, Michael (2011). The Qur'an in Context: Historical and Literary Investigations into the Qur'anic Milieu. Brill. ISBN 978-90-04-17688-1.

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya