Islam di Asia Selatan

Islam di Asia Selatan merujuk pada sejarah, masyarakat, lembaga, budaya, dan praktik Islam di kawasan Asia Selatan. Dalam pengertian yang mengikuti keanggotaan Asosiasi Kerja Sama Regional Asia Selatan (SAARC), kawasan ini mencakup Afganistan, Bangladesh, Bhutan, India, Maladewa, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka.[1] Batas istilah Asia Selatan tidak selalu seragam dalam karya akademis; sebagian kajian mengenai "Islam Asia Selatan" terutama berfokus pada anak benua India, khususnya India, Pakistan, Bangladesh, dan Sri Lanka.[2]

Asia Selatan merupakan salah satu pusat demografis Islam terbesar di dunia. Berdasarkan estimasi Pew Research Center untuk 2020, Pakistan memiliki sekitar 227 juta Muslim, India sekitar 213 juta, dan Bangladesh sekitar 151 juta; ketiganya termasuk empat negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.[3] Jika delapan negara SAARC dihitung bersama dengan menggunakan komposisi agama Pew 2020, kawasan tersebut memiliki sekitar 635 juta Muslim.[4] Dengan demikian, sejumlah besar Muslim dunia hidup jauh di luar kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Kehadiran Muslim di Asia Selatan berkembang melalui beberapa jalur yang saling bertumpang tindih: jaringan perdagangan Samudra Hindia, migrasi, penaklukan dan pembentukan negara, perkawinan, patronase elite, aktivitas ulama dan sufi, serta perubahan sosial dan ekonomi lokal.[5] Komunitas Muslim telah hadir di pantai barat dan selatan India sejak abad-abad awal Islam melalui perdagangan Arab dan Persia, sedangkan kekuasaan politik Muslim memperoleh pijakan di Sindh pada awal abad ke-8. Dari abad ke-13, Kesultanan Delhi dan kerajaan-kerajaan regional memperluas jaringan politik dan budaya Islam di sebagian besar anak benua, diikuti oleh Kekaisaran Mughal sejak abad ke-16.[6][7]

Islam Asia Selatan secara historis sangat beragam. Mayoritas Muslim kawasan adalah Sunni, dengan Mazhab Hanafi sangat berpengaruh di sebagian besar anak benua utara dan tengah, sementara tradisi Syafi'i memiliki akar kuat di sejumlah komunitas pesisir Samudra Hindia. Kawasan ini juga memiliki populasi Syiah yang besar—termasuk Syiah Dua Belas Imam, Ismailiyah, Bohra, dan Khoja—serta jaringan tarekat seperti Chishtiyah, Suhrawardiyah, Qadiriyah, dan Naqsyabandiyah.[8] Dari Asia Selatan pula lahir berbagai gerakan Islam transnasional modern, termasuk Deobandi, Barelvi, Tablighi Jamaat, dan Jamaat-e-Islami.

Demografi

Definisi geografis sangat memengaruhi jumlah Muslim yang disebut sebagai populasi Muslim Asia Selatan. Oxford University Press pada 2014 mencatat bahwa lebih dari 500 juta Muslim di Pakistan, India, Bangladesh, dan Sri Lanka saja membentuk sekitar sepertiga umat Muslim dunia pada waktu itu.[2] Data Pew yang lebih baru menunjukkan bahwa pada 2020 Pakistan, India, dan Bangladesh saja memiliki sekitar 591 juta Muslim.[3]

Tabel berikut menggunakan estimasi komposisi agama Pew Research Center untuk 2020 agar angka antarnegara dapat dibandingkan dengan metodologi yang sama.[4]

Negara Populasi 2020
(estimasi Pew)
Muslim (%) Perkiraan jumlah Muslim Kedudukan
Afganistan 39,07 juta 99,9% sekitar 39,0 juta Mayoritas sangat besar
Bangladesh 166,30 juta 91,1% sekitar 151,5 juta Mayoritas
Bhutan 0,77 juta 0,2% sekitar 2 ribu Minoritas kecil
India 1,403 miliar 15,2% sekitar 213,2 juta Minoritas besar
Maladewa 0,50 juta 94,1% sekitar 0,47 juta Mayoritas sangat besar
Nepal 28,97 juta 5,1% sekitar 1,48 juta Minoritas
Pakistan 235,00 juta 96,5% sekitar 226,8 juta Mayoritas sangat besar
Sri Lanka 22,56 juta 10,2% sekitar 2,30 juta Minoritas

Angka sensus nasional dapat berbeda karena tahun pengumpulan, metodologi, kategori keagamaan, dan cakupan populasi tidak identik. Sensus Pakistan 2023, misalnya, mencatat 96,35% penduduk sebagai Muslim,[9] sedangkan sensus Bangladesh 2022 mencatat 91,04% penduduk sebagai Muslim.[10]

India merupakan kasus demografis yang khas: Muslim adalah minoritas secara nasional, tetapi jumlah absolutnya termasuk yang terbesar di dunia. Pew memperkirakan sekitar 213 juta Muslim tinggal di India pada 2020, hanya di bawah Indonesia dan Pakistan dalam peringkat global tahun tersebut.[3] Konsentrasi Muslim India sangat bervariasi antarnegara bagian dan wilayah; Jammu dan Kashmir serta Lakshadweep memiliki mayoritas Muslim, sementara populasi besar juga terdapat di Uttar Pradesh, Benggala Barat, Bihar, Assam, Kerala, dan berbagai kota besar.[11]

Sejarah

Kontak awal melalui Samudra Hindia

Hubungan perdagangan antara pesisir anak benua India, Arabia, Teluk Persia, Afrika Timur, dan Asia Tenggara telah berlangsung jauh sebelum munculnya Islam. Sesudah abad ke-7, pedagang Muslim memasuki jaringan tersebut dan membentuk komunitas di kota-kota pelabuhan Asia Selatan. Kajian mengenai perdagangan Islam Samudra Hindia menempatkan Malabar, Koromandel, Maladewa, dan Sri Lanka di antara wilayah yang terhubung secara langsung dengan pelayaran Muslim sejak periode awal.[12]

Di Pantai Malabar, komunitas Muslim yang kemudian dikenal sebagai Mappila berkembang melalui perdagangan, pemukiman, perkawinan, dan konversi lokal. Penanggalan pasti komunitas Muslim paling awal masih diperdebatkan karena terbatasnya sumber sezaman, tetapi penelitian modern menegaskan pentingnya jalur maritim dan keberadaan komunitas kosmopolitan di pelabuhan India selatan.[13] Bahasa dan tradisi lokal juga beradaptasi dengan jaringan Islam; salah satu contohnya adalah Arabi-Malayalam, tradisi penulisan bahasa Malayalam dengan aksara Arab yang berkembang dalam masyarakat Muslim Malabar.[14]

Kontak maritim juga berperan dalam perkembangan Islam di Sri Lanka dan Maladewa. Komunitas Muslim Sri Lanka lama terhubung dengan jaringan pedagang Samudra Hindia, sedangkan Maladewa secara bertahap menjadi kesultanan Muslim. Jalur laut tersebut berbeda dari proses politik yang berkembang di bagian barat laut anak benua, walaupun pada masa berikutnya keduanya saling terhubung melalui jaringan ulama, pedagang, peziarah, dan tarekat.

Penaklukan Sindh

Pijakan politik Muslim paling awal yang bertahan di anak benua terbentuk di Sindh. Pada awal abad ke-8, pasukan Kekhalifahan Umayyah di bawah Muhammad bin Qasim menaklukkan sejumlah wilayah Sindh dan Multan. Encyclopaedia Iranica menyebut Sindh dan Multan sebagai pijakan politik dan militer Muslim pertama di anak benua, yang diperoleh oleh pasukan dari wilayah inti Arab pada awal abad ke-8.[6]

Kekuasaan Arab di Sindh tidak langsung menghasilkan Islamisasi seluruh anak benua. Selama beberapa abad berikutnya, wilayah Muslim di barat laut hidup berdampingan dan berinteraksi dengan berbagai kerajaan lokal. Sindh juga berfungsi sebagai saluran pertukaran ilmu antara India dan dunia Islam; karya-karya astronomi dan matematika India diketahui masuk ke lingkungan intelektual Abbasiyah melalui hubungan tersebut.[6]

Ghaznawiyah dan Ghuriyah

Mulai abad ke-10 dan ke-11, dinasti-dinasti dari Afganistan dan Asia Tengah memperluas kampanye ke anak benua. Mahmud dari Ghazni melakukan serangkaian ekspedisi ke India utara. Meskipun kerajaan Ghaznawiyah berpusat di Afganistan, Lahore menjadi salah satu pusat penting kekuasaan dan kebudayaan Persia-Islam.

Pada akhir abad ke-12, Muhammad dari Ghor dan para komandannya menaklukkan wilayah yang kemudian menjadi dasar Kesultanan Delhi. Periode Ghaznawiyah dan Ghuriyah memperkuat migrasi prajurit, administrator, ulama, penyair, dan sufi berbahasa Persia dan Turki ke anak benua. Tradisi historiografi Persia di India juga mulai berkembang kuat dari lingkungan ini.[15]

Kesultanan Delhi

Kesultanan Delhi berdiri pada 1206 dan bertahan, dengan pergantian dinasti dan wilayah kekuasaan yang berubah-ubah, hingga 1526. Kesultanan ini menjadi salah satu institusi terpenting bagi pertumbuhan budaya Islam dan Persia di Asia Selatan. Gelombang migran dari Khorasan, Iran, Afganistan, dan Asia Tengah menyediakan tenaga militer, administrator, ulama, seniman, dan sastrawan bagi lingkungan istana Delhi.[7]

Bahasa Persia memperoleh kedudukan utama sebagai bahasa administrasi, sastra, dan budaya tinggi di banyak istana Muslim. Pengaruh Persia tidak hanya diterima oleh Muslim; pegawai dan intelektual non-Muslim juga menggunakan bahasa tersebut dalam administrasi dan sastra. Sepanjang periode ini terbentuk kebudayaan Persianate yang menggabungkan unsur Asia Tengah, Iran, dan India.[7]

Kesultanan Delhi tidak menguasai seluruh Asia Selatan secara seragam. Kerajaan-kerajaan regional muncul dan berkembang di Bengal, Gujarat, Kashmir, Malwa, Jaunpur, dan Dekkan. Banyak di antaranya membangun tradisi istana, madrasah, masjid, makam, dan jaringan sufi sendiri.

Kesultanan regional

Di Bengal, kerajaan Muslim terbentuk setelah penaklukan pada awal abad ke-13 dan kemudian berkembang menjadi Kesultanan Bengal yang mandiri. Bengal menjadi salah satu wilayah utama pertumbuhan populasi Muslim. Penelitian Richard M. Eaton menolak penjelasan tunggal mengenai Islamisasi Bengal dan menempatkan perubahan agama dalam konteks perluasan pertanian, pembukaan wilayah delta timur, patronase lokal, pemukiman, dan pembentukan lembaga keagamaan selama beberapa abad.[16]

Di Dekkan, Kesultanan Bahmani dan negara-negara penerusnya menjadi pusat penting kebudayaan Persia dan Islam. Hubungan dengan Iran membawa pengaruh besar, termasuk perkembangan komunitas Syiah. Pada abad ke-16, beberapa kerajaan Dekkan seperti Bijapur, Golkonda, dan Ahmadnagar memiliki elite Syiah atau secara resmi mengadopsi Syiah untuk periode tertentu.[7][17]

Di Kashmir, Islam berkembang melalui kombinasi perubahan dinasti, kegiatan sufi, interaksi lokal, dan pembentukan komunitas baru. Di Gujarat, pelabuhan-pelabuhan Muslim menghubungkan ekonomi India dengan Laut Arab, Teluk Persia, Laut Merah, dan Asia Tenggara.

Sufisme

Sufisme memainkan peranan besar dalam kehidupan keagamaan Asia Selatan. Para sufi membangun khanqah, jaringan murid, pusat amal, dan tempat ziarah yang sering menjembatani lingkungan kota dan desa. Hubungan sufi dengan negara tidak tunggal: sebagian menerima patronase penguasa, sebagian menjaga jarak, dan sebagian mengkritik kebijakan istana.

Chishtiyah menjadi salah satu tarekat paling berpengaruh di India. Tokoh seperti Muinuddin Chishti di Ajmer, Qutbuddin Bakhtiar Kaki di Delhi, Baba Farid di Punjab, dan Nizamuddin Auliya di Delhi membentuk jaringan yang memiliki pengaruh luas. Encyclopaedia Iranica mencatat bahwa Chishtiyah menyebar hampir ke seluruh India seiring berkembangnya kekuasaan Muslim, sementara pusatnya muncul baik di kota maupun daerah pedesaan.[18]

Suhrawardiyah mempunyai basis penting di Punjab dan Bengal. Naqsyabandiyah memperoleh pengaruh besar pada masa Mughal, khususnya melalui Baqi Billah dan Ahmad Sirhindi. Sirhindi mengembangkan cabang Naqsyabandiyah-Mujaddidiyah yang kemudian menyebar dari India ke Bengal, Afganistan, dan kawasan lain.[19]

Tradisi ziarah ke makam sufi menjadi unsur budaya yang menonjol di berbagai wilayah. Dargah Ajmer Sharif, makam Nizamuddin Auliya, Data Darbar di Lahore, makam Bahauddin Zakariya di Multan, dan ribuan tempat ziarah lain menjadi pusat keagamaan yang juga dikunjungi oleh sebagian non-Muslim. Namun, praktik ziarah, perantaraan para wali, dan ritual di makam kemudian menjadi sasaran kritik dari berbagai gerakan reformis.

Kekaisaran Mughal

Babur mendirikan Kekaisaran Mughal setelah kemenangannya di Pertempuran Panipat Pertama pada 1526. Di bawah Akbar, Jahangir, Shah Jahan, dan Aurangzeb, kekaisaran berkembang menjadi salah satu negara terbesar dan terkaya di dunia awal modern.

Mughal memerintah masyarakat yang secara keseluruhan tetap beragam secara agama. Elite pemerintahan terdiri atas Muslim dan non-Muslim, termasuk bangsawan Rajput dan kelompok lain. Kebijakan agama berbeda antarperiode dan kaisar. Akbar dikenal karena mengembangkan kebijakan Sulh-i kul ("perdamaian universal"), mengundang perdebatan lintas agama, dan mendukung penerjemahan teks Sanskerta ke Persia. Pada lingkungan Mughal, karya seperti Bhagavadgita dan teks-teks Upanisad diterjemahkan ke bahasa Persia; Dara Shikoh kemudian menulis Majma-ul-Bahrain untuk membandingkan gagasan tasawuf dan tradisi Hindu.[20]

Masa Aurangzeb ditandai penekanan lebih kuat pada ortodoksi Sunni dalam kebijakan istana dan penyusunan Fatawa-e-Alamgiri, tetapi penafsiran terhadap kebijakan keagamaannya tetap menjadi salah satu tema yang diperdebatkan dalam historiografi modern. Kekuasaan Mughal melemah pada abad ke-18, namun dinasti bertahan secara nominal sampai Pemberontakan India 1857, setelah itu kekuasaan Inggris secara resmi mengakhiri monarki Mughal.

Islamisasi dan konversi

Pertumbuhan populasi Muslim Asia Selatan tidak dapat dijelaskan hanya melalui penaklukan militer. Studi modern menekankan keragaman jalur Islamisasi menurut wilayah dan periode. Oxford Handbook merangkum tiga proses besar—perdagangan, penaklukan, dan konversi—tetapi masing-masing berinteraksi dengan keadaan lokal.[5]

Di pantai Malabar, perdagangan dan perkawinan memainkan peranan besar pada tahap awal.[13] Di Bengal timur, Eaton menghubungkan pertumbuhan Islam dengan perubahan agraria dan pembukaan kawasan delta pada masa kesultanan dan Mughal.[16] Di Punjab dan India utara, negara, jaringan sufi, urbanisasi, dan hubungan patronase memiliki kombinasi yang berbeda. Konversi individual juga dapat dipengaruhi hubungan keluarga, mobilitas sosial, keyakinan keagamaan, migrasi, atau integrasi ke jaringan perdagangan.

Gagasan bahwa mayoritas Muslim Asia Selatan terutama merupakan keturunan penakluk asing tidak didukung oleh demografi historis. Walaupun migrasi dari Arab, Iran, Asia Tengah, dan Afganistan meninggalkan pengaruh penting pada elite dan beberapa komunitas, sebagian besar populasi Muslim berkembang melalui proses konversi dan pembentukan komunitas lokal selama berabad-abad.[16][5]

Sebaliknya, penjelasan bahwa Islamisasi semata-mata merupakan konversi massal kasta rendah untuk melarikan diri dari sistem kasta juga dinilai terlalu sederhana. Struktur sosial Muslim sendiri berkembang secara berlapis, dan pola konversi berbeda antara Bengal, Punjab, Kashmir, Malabar, Sindh, Dekkan, dan wilayah lainnya. Karena itu, historiografi kontemporer cenderung menghindari model penyebab tunggal.

Tradisi dan mazhab

Sunni

Mayoritas Muslim Asia Selatan adalah Sunni. Mazhab Hanafi menjadi sangat berpengaruh di wilayah yang secara historis berada dalam jaringan politik dan pendidikan Delhi, Bengal, Punjab, Sindh, dan Afganistan. Banyak institusi pendidikan Islam modern di India, Pakistan, Bangladesh, dan Afganistan tetap berakar pada tradisi Hanafi.

Di sebagian kawasan pesisir Samudra Hindia, khususnya komunitas Muslim India selatan dan Sri Lanka, Mazhab Syafi'i memiliki sejarah panjang. Jejak ini berhubungan dengan hubungan dagang dengan Arab selatan dan jaringan Samudra Hindia.[13] Muslim Sri Lanka secara umum dideskripsikan sebagai mayoritas Sunni, dengan keberadaan kelompok Syiah yang lebih kecil.[21]

Syiah

Asia Selatan memiliki salah satu populasi Syiah terbesar di luar Iran. Tradisi Syiah Dua Belas Imam memperoleh pengaruh melalui migrasi Persia, patronase kerajaan di Dekkan, dan kemudian negara-negara seperti Awadh. Lucknow berkembang menjadi salah satu pusat utama kebudayaan Syiah di India.

Juan Cole mencatat bahwa adopsi Syiah Dua Belas Imam di Asia Selatan meningkat terutama setelah berdirinya negara Safawi pada awal abad ke-16, ketika migran Persia—termasuk administrator, bangsawan, pedagang, ulama, dan sufi—ikut memperluas jaringan Syiah di India.[17]

Asia Selatan juga merupakan pusat penting Ismailiyah. Komunitas Khoja berkembang terutama di Gujarat, Sindh, dan kota-kota perdagangan Samudra Hindia. Bohra Dawoodi dan cabang Musta'li lainnya juga memiliki akar sejarah kuat di Gujarat dan India barat. Ismailiyah kemudian membentuk jaringan diaspora luas di Afrika Timur, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Utara.[22]

Ahmadiyah

Ahmadiyah muncul di Punjab Britania pada akhir abad ke-19 melalui ajaran Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian. Gerakan ini menyebar ke berbagai negara dan menjadi salah satu gerakan Islam asal Asia Selatan yang paling internasional.

Status Ahmadiyah menjadi kontroversial karena ajaran mengenai Mirza Ghulam Ahmad dan konsep kenabian. Di Pakistan, konstitusi dan hukum negara mengklasifikasikan Ahmadi sebagai non-Muslim. Di India dan beberapa negara lain, komunitas tersebut beroperasi dalam lingkungan hukum yang berbeda. Persoalan ini merupakan salah satu contoh bagaimana definisi identitas Muslim di Asia Selatan dapat bersinggungan dengan hukum negara dan politik.

Masa kolonial

Perubahan kekuasaan dan pendidikan

Ekspansi Perusahaan Hindia Timur Britania dan kemudian pemerintahan kolonial Inggris mengubah struktur politik Muslim di anak benua. Setelah 1857, kekuasaan Mughal berakhir dan lembaga kolonial menggantikan sebagian besar sistem administratif Persia. Bahasa Inggris memperoleh kedudukan yang semakin besar, sementara penggunaan Persia dalam administrasi menurun.

Perubahan negara, pendidikan, percetakan, kereta api, pos, dan pers menciptakan bentuk baru identitas Muslim regional dan lintas daerah. Francis Robinson menilai bahwa perubahan di bawah pemerintahan Britania—termasuk pertumbuhan negara modern, kapitalisme, dan komunikasi—mendorong pembentukan identitas Muslim baru pada tingkat lokal, regional, dan supraregional.[23]

Gerakan reformasi

Abad ke-19 dan awal abad ke-20 menyaksikan munculnya berbagai gerakan reformasi dengan respons berbeda terhadap kolonialisme, hukum Islam, pendidikan Barat, tasawuf, dan praktik keagamaan populer.

Darul Uloom Deoband, didirikan pada 1866, membangun jaringan pendidikan ulama yang menekankan hadis, fikih Hanafi, dan reformasi moral. Tradisi Deobandi kemudian menyebar ke India, Pakistan, Bangladesh, Afganistan, Afrika Selatan, dan diaspora Muslim global.

Gerakan Aligarh yang terkait dengan Syed Ahmad Khan memilih pendekatan berbeda dengan mendorong pendidikan modern dan ilmu pengetahuan di kalangan Muslim. Muhammadan Anglo-Oriental College di Aligarh kemudian berkembang menjadi Universitas Muslim Aligarh. Aligarh menjadi salah satu pusat intelektual Muslim modern dan berpengaruh terhadap politik Muslim di India Britania.

Tradisi yang kemudian disebut Barelvi dikaitkan dengan Ahmed Raza Khan Barelvi dan mempertahankan berbagai bentuk kesalehan Sunni-Sufi, penghormatan kepada Muhammad, peringatan maulid, dan ziarah yang dikritik oleh sebagian reformis lain. Ahl-i Hadith menekankan penggunaan Al-Qur'an dan hadis serta lebih kritis terhadap kewajiban mengikuti satu mazhab fikih.

Di Bengal, Gerakan Faraizi menggabungkan reformasi agama dengan mobilisasi sosial masyarakat pedesaan. Nadwatul Ulama berusaha menjembatani pendidikan tradisional dan kebutuhan intelektual modern.

Gerakan transnasional

Pada abad ke-20, beberapa gerakan yang lahir di Asia Selatan memperoleh pengaruh global. Tablighi Jamaat didirikan oleh Muhammad Ilyas Kandhlawi di India utara pada 1920-an dan menekankan dakwah dari individu ke individu, perjalanan kelompok, serta pembaruan praktik keagamaan sehari-hari.

Jamaat-e-Islami didirikan oleh Abul A'la Maududi pada 1941. Setelah pemisahan 1947, organisasi tersebut berkembang secara terpisah di Pakistan, India, dan kemudian Bangladesh. Pemikiran Maududi mengenai negara, syariat, dan aktivisme Islam memiliki pengaruh luas di luar Asia Selatan.

Gerakan-gerakan tersebut menunjukkan bahwa Asia Selatan bukan hanya penerima perkembangan Islam dari Timur Tengah, tetapi juga salah satu pusat produksi gagasan dan jaringan Islam modern.

Nasionalisme, pemisahan, dan negara pascakolonial

Politik Muslim di India Britania

Perkembangan politik modern membawa persoalan baru tentang representasi Muslim dalam negara kolonial dan kemungkinan India merdeka. Liga Muslim India didirikan pada 1906 dan secara bertahap berkembang menjadi organisasi utama yang menuntut perlindungan kepentingan politik Muslim.

Politik Muslim tidak pernah seragam. Terdapat ulama, organisasi regional, nasionalis Muslim, kelompok kiri, Deobandi, Ismaili, dan tokoh lain yang mendukung atau menolak tuntutan negara Pakistan. Kajian mengenai Muslim yang menentang Liga Muslim menunjukkan bahwa gagasan tentang "bangsa Muslim" dan pemisahan merupakan perdebatan yang sangat kontroversial di antara Muslim sendiri.[24]

Resolusi Lahore 1940 menjadi tonggak penting dalam gerakan menuju Pakistan. Pada 1947, berakhirnya Raj Britania menghasilkan Pemisahan India menjadi India dan Pakistan, yang ketika itu terdiri atas Pakistan Barat dan Pakistan Timur.

Pemisahan 1947

Pemisahan 1947 merupakan salah satu perubahan terbesar dalam sejarah Muslim Asia Selatan. Jutaan Muslim pindah dari wilayah yang menjadi India menuju Pakistan, sementara jutaan Hindu dan Sikh bergerak ke arah sebaliknya. Kekerasan antarkomunitas menewaskan banyak orang dan meninggalkan trauma yang terus memengaruhi hubungan India-Pakistan dan politik identitas.[25]

Pemisahan tidak memindahkan seluruh Muslim ke Pakistan. India tetap memiliki populasi Muslim yang sangat besar, dan Muslim India menjadi salah satu komunitas Muslim nasional terbesar di dunia. Keadaan ini menghasilkan tiga konteks besar kehidupan Muslim: mayoritas Muslim di Pakistan dan kemudian Bangladesh, minoritas Muslim besar di India, serta komunitas minoritas yang lebih kecil di Sri Lanka, Nepal, dan Bhutan.

Bangladesh

Pakistan Timur memiliki mayoritas Muslim tetapi juga identitas bahasa Bengali yang kuat. Ketegangan politik, ekonomi, dan linguistik antara Pakistan Timur dan Barat akhirnya menghasilkan Perang Kemerdekaan Bangladesh pada 1971 dan berdirinya Bangladesh.

Sejarah Bangladesh menunjukkan bahwa identitas agama tidak selalu menghapus identitas bahasa, etnis, dan regional. Kajian politik mengenai Pakistan dan Bangladesh menekankan bahwa Islam berfungsi sebagai unsur penting identitas nasional, tetapi tidak sendirian menentukan bentuk negara atau loyalitas politik.[26]

Islam menurut negara

Pakistan

Pakistan dibentuk pada 1947 sebagai negara yang terutama mencakup wilayah mayoritas Muslim di barat laut dan timur laut India Britania. Islam memainkan peranan sentral dalam identitas negara, tetapi sejak awal terdapat perdebatan mengenai bagaimana prinsip Islam harus diterjemahkan ke dalam konstitusi, hukum, demokrasi, dan hak minoritas.[27]

Menurut sensus 2023, 96,35% penduduk Pakistan dicatat sebagai Muslim.[9] Mayoritasnya Sunni, dengan populasi Syiah yang besar dan komunitas Ismaili yang penting terutama di bagian utara. Tradisi Barelvi dan Deobandi mempunyai jaringan madrasah, masjid, dan organisasi yang luas; Ahl-i Hadith juga memiliki pengaruh.

India

India memiliki salah satu populasi Muslim terbesar di dunia. Pew memperkirakan 213 juta Muslim pada 2020, sekitar 15,2% populasi negara.[4] Muslim India sangat beragam menurut bahasa, kelas, etnis, wilayah, mazhab, dan sejarah lokal.

India juga merupakan tempat lahir atau pusat sejarah banyak lembaga Islam terkemuka, termasuk Darul Uloom Deoband, Universitas Muslim Aligarh, Nadwatul Ulama, pusat-pusat Chishti, komunitas Bohra, dan banyak tradisi Syiah. Hukum keluarga Muslim di India memiliki kedudukan tersendiri dalam kerangka hukum personal, yang terus menjadi subjek perdebatan hukum dan politik.[8]

Bangladesh

Bangladesh merupakan negara mayoritas Muslim terbesar ketiga di Asia Selatan berdasarkan jumlah penduduk Muslim. Sensus 2022 mencatat 91,04% penduduk sebagai Muslim.[10] Islam Bengal berkembang dalam hubungan erat dengan bahasa dan budaya Bengali, jaringan sufi, pertanian delta, dan sejarah kesultanan serta Mughal.

Mayoritas Muslim Bangladesh adalah Sunni. Negara ini memiliki sejarah gerakan Faraizi, Deobandi, Barelvi, Tablighi Jamaat, dan Jamaat-e-Islami, di samping tradisi ziarah sufi dan bentuk-bentuk Islam lokal.

Afganistan

Islam merupakan agama mayoritas yang sangat dominan di Afganistan. Pew memperkirakan 99,9% penduduk Afganistan adalah Muslim pada 2020.[4] Mayoritas adalah Sunni Hanafi, sementara komunitas Syiah—terutama di kalangan Hazara dan beberapa kelompok lain—membentuk minoritas penting.

Afganistan memiliki hubungan historis sangat erat dengan India utara. Dinasti, ulama, pedagang, tentara, dan sufi bergerak melalui koridor Kabul–Peshawar–Lahore–Delhi selama berabad-abad. Karena itu, sejarah Islam di Afganistan dan anak benua tidak dapat sepenuhnya dipisahkan.

Maladewa

Maladewa berkembang sebagai kesultanan Muslim pada Abad Pertengahan dan Islam kemudian menjadi unsur utama identitas negara. Pew memperkirakan sekitar 94,1% seluruh populasi yang dihitung pada 2020 sebagai Muslim; angka ini mencakup populasi penduduk yang juga meliputi pekerja asing non-Muslim.[4]

Tradisi fikih Syafi'i memiliki sejarah kuat di kepulauan ini. Hubungan dengan Sri Lanka, Malabar, Arab, dan jaringan Samudra Hindia membentuk perkembangan masyarakat Muslim Maladewa.

Sri Lanka

Muslim Sri Lanka membentuk minoritas sekitar sepersepuluh penduduk menurut estimasi Pew 2020.[4] Komunitas terbesar secara historis dikenal sebagai Moor Sri Lanka, dengan akar dalam perdagangan Samudra Hindia, interaksi dengan masyarakat Tamil dan Sinhala, serta migrasi dari India selatan dan kawasan lain.

Mayoritas Muslim Sri Lanka adalah Sunni. Komunitas Syiah kecil, termasuk beberapa kelompok perdagangan seperti Bohra, juga hadir.[21] Bahasa Tamil memainkan peranan besar dalam kehidupan banyak Muslim Sri Lanka, meskipun identitas Muslim tidak selalu dipandang sebagai bagian dari identitas etnis Tamil.

Nepal

Muslim merupakan minoritas di Nepal, diperkirakan sekitar 5,1% pada 2020 oleh Pew.[4] Populasi terkonsentrasi terutama di kawasan Terai yang berbatasan dengan India. Hubungan lintas perbatasan dengan Uttar Pradesh dan Bihar telah lama penting bagi perdagangan, pendidikan agama, keluarga, dan jaringan ulama.

Bhutan

Muslim merupakan minoritas yang sangat kecil di Bhutan. Pew memperkirakan sekitar 0,2% penduduk pada 2020.[4] Karena ukurannya kecil dan dominasi agama Buddha serta Hindu di negara tersebut, komunitas Muslim Bhutan menerima perhatian akademis yang jauh lebih sedikit dibandingkan komunitas di negara Asia Selatan lainnya.

Bahasa dan sastra

Islam Asia Selatan berkembang dalam banyak bahasa. Bahasa Arab mempertahankan fungsi liturgis dan ilmiah, tetapi bahasa Persia menjadi bahasa utama administrasi dan kebudayaan tinggi di sebagian besar India Muslim dari era Ghaznawiyah dan Kesultanan Delhi hingga awal periode kolonial.[15]

Interaksi Persia, Arab, dan bahasa-bahasa Indo-Arya turut membentuk bahasa Urdu. Urdu berkembang sebagai bahasa sastra utama Muslim di India utara, meskipun tidak pernah menjadi bahasa eksklusif Muslim dan juga digunakan oleh banyak penulis non-Muslim. Puisi ghazal, marsiya Syiah, sastra sufi, dan prosa reformis berkembang luas dalam Urdu.

Di Bengal, literatur Muslim berkembang dalam bahasa Bengali dan Persia. Di Punjab, puisi sufi seperti karya Bulleh Shah dan Waris Shah menjadi bagian penting warisan sastra regional. Sindhi, Kashmiri, Pashto, Gujarati, Malayalam, Tamil, dan bahasa lain juga menghasilkan tradisi Islam yang khas.

Perkembangan aksara dan genre hibrida mencerminkan lokalisasi Islam. Arabi-Malayalam di Kerala merupakan contoh sistem penulisan lokal dengan aksara Arab,[14] sedangkan tradisi Gujarati Muslim menghasilkan literatur Khoja dan Bohra yang menggabungkan kosa kata dan simbol agama dari berbagai lingkungan.

Seni, arsitektur, dan musik

Arsitektur Islam di Asia Selatan mencakup masjid, benteng, makam, taman, madrasah, caravanserai, dan istana. Gaya bangunan berkembang melalui pertemuan teknologi dan estetika Persia, Asia Tengah, dan tradisi lokal India.

Monumen seperti Qutub Minar, Makam Humayun, Fatehpur Sikri, Masjid Jama Delhi, Benteng Lahore, Benteng Merah, dan Taj Mahal menjadi contoh utama arsitektur Indo-Islam. Di Bengal berkembang penggunaan batu bata, terakota, dan bentuk atap yang menyesuaikan lingkungan lokal; di Gujarat dan Dekkan muncul sintesis arsitektur berbeda.

Musik keagamaan dan istana juga memperlihatkan pertukaran budaya. Tradisi qawwali berhubungan erat dengan lingkungan Chishti dan penggunaan puisi Persia, Hindavi, Punjabi, serta Urdu. Amir Khusrau menjadi figur simbolis dalam sejarah sastra dan musik Indo-Persia, walaupun sejumlah inovasi musik populer yang dilekatkan kepadanya tidak semuanya dapat dibuktikan secara historis.

Peringatan Syiah, khususnya Muharam dan Asyura, menghasilkan tradisi sastra marsiya, prosesi, taziya, dan seni ritual yang berkembang dalam bentuk lokal di Lucknow, Hyderabad, Kashmir, Bengal, dan wilayah lain.

Hukum Islam

Hukum Islam di Asia Selatan mencerminkan keragaman situasi politik. Pada masa kesultanan dan Mughal, fikih terutama mazhab Hanafi menyediakan salah satu sumber hukum bagi hakim Muslim, sementara negara juga menggunakan peraturan kerajaan, adat, dan sistem hukum lain. Fatawa-e-Alamgiri pada masa Aurangzeb merupakan salah satu kompilasi hukum Hanafi terbesar yang dihasilkan di Asia Selatan.

Di bawah pemerintahan Inggris, hukum Islam diubah menjadi apa yang sering disebut "Anglo-Muhammadan law", yaitu hukum personal Muslim yang disistematisasi melalui pengadilan kolonial. Sesudah kemerdekaan, jalur hukum India, Pakistan, dan Bangladesh berkembang berbeda-beda.[8]

Pakistan memasukkan berbagai prinsip Islam ke dalam konstitusi dan hukum negara; Bangladesh memiliki sistem hukum sekuler dengan ketentuan hukum personal Muslim dan kedudukan konstitusional Islam yang mengalami perubahan historis; India mempertahankan hukum personal Muslim dalam sejumlah persoalan keluarga di dalam kerangka negara sekuler. Keragaman ini menjadikan Asia Selatan laboratorium penting bagi kajian hubungan syariat, negara modern, dan pluralisme hukum.[8]

Islam dan masyarakat

Identitas Muslim Asia Selatan berinteraksi dengan bahasa, kasta atau status sosial, etnis, wilayah, kelas, dan gender. Masyarakat Muslim bukan kelompok sosial yang homogen. Di India dan Pakistan, misalnya, istilah historis seperti ashraf, ajlaf, dan arzal pernah digunakan untuk menandai hierarki sosial, walaupun penggunaan dan relevansinya berbeda menurut wilayah dan periode.

Dalam kehidupan sehari-hari, praktik keagamaan juga beragam. Sebagian Muslim mengikuti tradisi dargah dan tarekat; sebagian mengikuti gerakan reformis yang menolak praktik tersebut; sebagian mengidentifikasi diri terutama melalui mazhab, organisasi, atau komunitas etnis. Studi Oxford tentang kehidupan Muslim Asia Selatan menekankan pentingnya melihat keragaman pengalaman sehari-hari dan menghindari gambaran umat Muslim kawasan sebagai satu blok yang seragam.[2]

Perbedaan aliran terkadang menghasilkan konflik sektarian, terutama di Pakistan dan Afganistan, tetapi kawasan ini juga memiliki sejarah panjang interaksi lintas mazhab dan lintas agama. Tempat-tempat sufi tertentu secara historis menjadi ruang kunjungan bersama oleh Muslim, Hindu, Sikh, dan kelompok lain.

Pengaruh global

Islam Asia Selatan mempunyai pengaruh global melalui migrasi dan gerakan keagamaan. Diaspora dari India, Pakistan, Bangladesh, dan Sri Lanka membentuk komunitas besar di Britania Raya, negara-negara Teluk, Afrika Timur, Amerika Utara, Eropa, dan Asia Tenggara.

Gerakan Deobandi dan Tablighi Jamaat memiliki jaringan madrasah dan jamaah di berbagai benua. Barelvi membentuk institusi besar di diaspora Britania. Jamaat-e-Islami memengaruhi berbagai gerakan Islam politik dan intelektual. Komunitas Ismaili dan Bohra membangun jaringan perdagangan dan institusi transnasional.

Hubungan tersebut juga bekerja sebaliknya. Sejak abad ke-20, pendidikan di Timur Tengah, migrasi buruh ke negara Teluk, dana keagamaan, percetakan, satelit, dan media digital membawa gagasan Salafi, reformis, dan Islamisme Arab ke Asia Selatan. Akibatnya, Islam di kawasan terus dibentuk oleh pertukaran dua arah antara tradisi lokal dan jaringan global.

Historiografi

Penulisan sejarah Islam di Asia Selatan sering menjadi medan perdebatan politik modern. Penaklukan, penghancuran tempat ibadah, konversi, kebijakan Mughal, dan Pemisahan 1947 kerap digunakan dalam narasi nasionalisme yang saling bersaing. Karena itu, sejarawan modern menekankan pentingnya membedakan sumber sezaman, teks istana, hagiografi, tradisi lokal, dan penafsiran politik kemudian.

Salah satu perubahan penting dalam historiografi adalah penolakan terhadap penjelasan tunggal tentang "masuknya Islam". Penelitian mengenai Bengal, Malabar, Gujarat, dan wilayah lain menunjukkan bahwa perdagangan, migrasi, kekuasaan negara, pertanian, sufi, serta transformasi lokal bekerja dengan kadar yang berbeda.[16][13]

Kajian terbaru juga memperluas fokus dari sejarah dinasti dan elite menuju sejarah perempuan, buruh, desa, minoritas mazhab, kelompok kasta, jaringan Samudra Hindia, bahasa lokal, dan pengalaman Muslim sehari-hari. Seri akademis Cambridge Muslim South Asia, misalnya, secara eksplisit menempatkan pengalaman hidup Muslim sebagai dasar untuk memahami kawasan yang disebutnya sebagai rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia.[28]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ "About SAARC". South Asian Association for Regional Cooperation. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  2. ^ a b c Jeffrey, Robin; Sen, Ronojoy, ed. (2014). Being Muslim in South Asia: Diversity and Daily Life. New Delhi: Oxford University Press. doi:10.1093/acprof:oso/9780198092063.001.0001. ISBN 9780198092063.
  3. ^ a b c Hackett, Conrad (10 Juni 2025). "Islam was the world's fastest-growing religion from 2010 to 2020". Pew Research Center. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  4. ^ a b c d e f g h "Religious Composition by Country, 2010–2020". Pew Research Center. 9 Juni 2025. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  5. ^ a b c Metcalf, Barbara D. (2006). "Islamic Communities in South Asia". Dalam Juergensmeyer, Mark (ed.). The Oxford Handbook of Global Religions. Oxford University Press. hlm. 465–490. doi:10.1093/oxfordhb/9780195137989.003.0022.
  6. ^ a b c Bosworth, C. E. (15 Desember 2004). "India v. Political and Cultural Relations: Medieval Period to the 13th Century". Encyclopaedia Iranica. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  7. ^ a b c d Eaton, Richard M. (15 Desember 2004). "India vi. Political and Cultural Relations: From the 13th to the 18th Centuries". Encyclopaedia Iranica. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  8. ^ a b c d Redding, Jeff (2018). "Islamic Law in South Asia: A Testament to Diversity". Dalam Emon, Anver M.; Ahmed, Rumee (ed.). The Oxford Handbook of Islamic Law. Oxford University Press. hlm. 673–696. doi:10.1093/oxfordhb/9780199679010.013.43.
  9. ^ a b "7th Population & Housing Census 2023" (PDF). Pakistan Bureau of Statistics. 2025. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  10. ^ a b "Population and Housing Census 2022: Preliminary Report" (PDF). Bangladesh Bureau of Statistics. 2022. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  11. ^ "Population growth and religious composition in India". Pew Research Center. 21 September 2021. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  12. ^ Prange, Sebastian R. (2010). "Islamic trade, shipping, port-states and merchant communities in the Indian Ocean, seventh to sixteenth centuries". Dalam Robinson, Chase F. (ed.). The New Cambridge History of Islam. Vol. 1. Cambridge University Press.
  13. ^ a b c d Green, Nile (2020). "Islam across the Oxus (Seventh to Seventeenth Centuries)". Islam and Asia: A History. Cambridge: Cambridge University Press. doi:10.1017/9781139059091.002.
  14. ^ a b Arafath, P. K. Yasser (2020). "Polyglossic Malabar: Arabi-Malayalam and the Muhiyuddinmala in the age of transition (1600s–1750s)". Journal of the Royal Asiatic Society. 30 (3): 517–539. doi:10.1017/S1356186319000407.
  15. ^ a b Dale, Stephen F. (15 Desember 2004). "India xvi. Indo-Persian Historiography". Encyclopaedia Iranica. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  16. ^ a b c d Eaton, Richard M. (1993). The Rise of Islam and the Bengal Frontier, 1204–1760. Berkeley: University of California Press. ISBN 9780520205079.
  17. ^ a b Cole, Juan R. I. (15 Desember 1993). "Conversion iii. To Imami Shi'ism in India". Encyclopaedia Iranica. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  18. ^ Böwering, Gerhard (15 Desember 1991). "Češtīya". Encyclopaedia Iranica. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  19. ^ Friedmann, Yohanan. "Aḥmad Serhendī". Encyclopaedia Iranica. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  20. ^ "India xiv. Persian Literature". Encyclopaedia Iranica. 15 Desember 2004. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  21. ^ a b Johansson, Andreas (17 Juli 2024). "Islamic Bioethics in Sri Lanka". Oxford Research Encyclopedia of Religion. Oxford University Press. doi:10.1093/acrefore/9780199340378.013.1252.
  22. ^ "Isma'ilism". Encyclopaedia Iranica. 15 Desember 2007. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.
  23. ^ Robinson, Francis (1998). "The British Empire and Muslim Identity in South Asia". Transactions of the Royal Historical Society. 8: 271–289. doi:10.2307/3679298.
  24. ^ Qasmi, Ali Usman; Robb, Megan Eaton, ed. (2017). Muslims against the Muslim League: Critiques of the Idea of Pakistan. Cambridge: Cambridge University Press. doi:10.1017/9781316711224. ISBN 9781107166639.
  25. ^ Gilmartin, David (1998). "Partition, Pakistan, and South Asian History: In Search of a Narrative". The Journal of Asian Studies. 57 (4): 1068–1095. doi:10.2307/2659304.
  26. ^ Islam, Nasir (1981). "Islam and National Identity: The Case of Pakistan and Bangla Desh". International Journal of Middle East Studies. 13 (1): 55–72. doi:10.1017/S0020743800055076.
  27. ^ "Pakistan: Neither State Nor Nation". Multination States in Asia: Accommodation or Resistance. Cambridge University Press. 2010.
  28. ^ "Muslim South Asia". Cambridge University Press. Diakses tanggal 9 Agustus 2026.

Bacaan lebih lanjut

  • Eaton, Richard M. (2019). India in the Persianate Age, 1000–1765. Oakland: University of California Press. ISBN 9780520325128.
  • Eaton, Richard M. (1993). The Rise of Islam and the Bengal Frontier, 1204–1760. Berkeley: University of California Press. ISBN 9780520205079.
  • Ernst, Carl W.; Lawrence, Bruce B. (2002). Sufi Martyrs of Love: The Chishti Order in South Asia and Beyond. New York: Palgrave Macmillan. ISBN 9781403960276.
  • Jeffrey, Robin; Sen, Ronojoy, ed. (2014). Being Muslim in South Asia: Diversity and Daily Life. New Delhi: Oxford University Press. ISBN 9780198092063.
  • Metcalf, Barbara D. (1982). Islamic Revival in British India: Deoband, 1860–1900. Princeton: Princeton University Press. ISBN 9780691053868.
  • Robinson, Francis (2000). Islam and Muslim History in South Asia. New Delhi: Oxford University Press. ISBN 9780195655018.
  • Qasmi, Ali Usman; Robb, Megan Eaton, ed. (2017). Muslims against the Muslim League: Critiques of the Idea of Pakistan. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 9781107166639.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya