Kedekatan buatan


Kedekatan buatan adalah fenomena ketika seseorang membentuk hubungan sosial, ikatan emosional, atau hubungan intim dengan berbagai bentuk kecerdasan buatan, termasuk bot obrolan, asisten virtual, dan entitas buatan lainnya karena hubungan yang dianggap timbal balik. Interaksi dengan kecerdasan buatan dapat berkembang melampaui hubungan teknis antara pengguna dan sistem, mencakup aspek emosional dan sosial. Dalam konteks ini, kecerdasan buatan dapat berperan sebagai pihak yang tidak menghakimi, selalu tersedia, serta mampu memberikan dukungan emosional atau bahkan membentuk hubungan yang menyerupai pertemanan dan romantisme.[1][2][3]

Penyebab

Fenomena meningkatnya ketertarikan terhadap kedekatan artifisial dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Pertama, tingkat kesepian yang tinggi mendorong individu mencari kedekatan cepat melalui media digital. Interaksi dengan kecerdasan buatan dianggap lebih aman karena mengurangi rasa takut akan penilaian sosial dalam hubungan nyata. Penelitian yang menggabungkan data dari 47 studi dalam 21 publikasi menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan kecerdasan buatan dan tingkat kesepian. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan AI, rasa kesepiannya cenderung meningkat. Namun, hasilnya berbeda tergantung pada jenis teknologi yang digunakan. AI berwujud fisik, seperti robot sosial, justru dapat membantu mengurangi kesepian, sedangkan AI tanpa wujud fisik, seperti chatbot atau asisten virtual, berkaitan dengan meningkatnya kesepian. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun AI dapat menjadi teman virtual, penggunaannya juga berpotensi memperkuat rasa kesepian, terutama jika hubungan tersebut menggantikan interaksi sosial yang nyata.[4]

Kedua, faktor antropomorfik dalam desain teknologi turut memperkuat ilusi hubungan personal. Sistem yang meniru cara manusia berbicara, mengekspresikan empati, dan mengingat detail pribadi pengguna mampu menciptakan pengalaman emosional yang menyerupai interaksi antarmanusia, seperti pada aplikasi Replika yang mampu merespons dengan empati dan memperkuat ilusi kedekatan.

Ketiga, availability 24/7, AI selalu hadir kapan pun dibutuhkan, tanpa terbatas waktu atau energi. Hal ini sangat membantu individu dengan kebutuhan emosional mendesak, termasuk mereka yang mengalami insomnia. Tinjauan sistematis tentang penerapan AI untuk lansia menunjukkan bahwa fitur selalu tersedia menjadi salah satu alasan utama teknologi ini efektif mengurangi rasa kesepian.[5]

Dampak positif

Meski berangkat dari penyebab yang berakar pada kerentanan psikologis, fenomena ini juga membawa sejumlah dampak positif. Pertama, AI dapat menjadi bentuk dukungan emosional, yaitu ruang aman untuk mengekspresikan perasaan tanpa rasa takut dihakimi.

Kedua, teknologi ini memberikan kemudahan akses untuk belajar, sehingga dapat berperan dalam psychoeducation.

Ketiga, adanya alternatif hubungan sosial yang memungkinkan individu tetap merasa terhubung meskipun secara fisik terisolasi. Selain itu, penelitian terhadap penggunaan chatbot pendamping mengemukakan bahwa interaksi rutin dengan AI berdampak terhadap penurunan tingkat kesepian, terutama apabila AI dirancang responsif dan penuh empati.[6]

Dampak negatif

Individu yang terpapar oleh kedekatan artifisial dapat terkena dampak negatif dari kedekatan artifisial tersebut. Dampak negatif ini dapat dibagi 3. Pertama, dampak negatif sosial, kurangnya kualitas interaksi sosial di dunia nyata. Pengguna lebih nyaman mengungkapkan masalah-masalah personal kepada AI dibandingkan kepada manusia. Hal ini dapat memperkuat isolasi sosial dan mendistorsikan pemahaman seseorang tentang relasi intim yang sehat.[7]

Dampak negatif psikologis, keterikatan emosional yang terlalu berlebihan dapat memicu kecemasan, depresi sampai perilaku menyakiti diri. Pengguna menganggap AI sebagai teman/pasangan yang nyata, sehingga ketika AI gagal merespons secara konsisten, akan muncul rasa kehilangan yang mendalam. Temuan ini menunjukkan bahwa interaksi dengan AI berpotensial untuk memengaruhi regulasi emosi pengguna secara signifikan.[8]

Dampak etis dan privasi, risiko bocornya informasi pribadi  yang disimpan oleh platform AI yang dapat disalahgunakan oleh pihak ketiga. Selain itu, terdapat bias dalam sistem AI yang dapat menghasilkan respons manipulatif atau diskriminatif.[9]

Referensi

  1. ^ George, A. Shaji; George, A. S. Hovan; T.Baskar; Pandey, Digvijay (2023-12-25). "The Allure of Artificial Intimacy: Examining the Appeal and Ethics of Using Generative AI for Simulated Relationships". Partners Universal International Innovation Journal (PUIIJ). 01 (06): 132–147. doi:10.5281/zenodo.10391614. ISSN 2583-9675.
  2. ^ Brandtzaeg, Petter Bae; Skjuve, Marita; Følstad, Asbjørn (2022-06-29). "My AI Friend: How Users of a Social Chatbot Understand Their Human–AI Friendship". Human Communication Research (dalam bahasa Inggris). 48 (3): 404–429. doi:10.1093/hcr/hqac008. ISSN 0360-3989.
  3. ^ Gur, Tamar; Maaravi, Yossi (2025-08-27). "The algorithm of friendship: literature review and integrative model of relationships between humans and artificial intelligence (AI)". Behaviour & Information Technology. 44 (14): 3446–3466. doi:10.1080/0144929X.2025.2502467. ISSN 0144-929X.
  4. ^ Dong, Xu; Xie, Jun; Gong, He (2025-04). "A Meta-Analysis of Artificial Intelligence Technologies Use and Loneliness: Examining the Influence of Physical Embodiment, Age Differences, and Effect Direction". Cyberpsychology, Behavior and Social Networking. 28 (4): 233–242. doi:10.1089/cyber.2024.0468. ISSN 2152-2723. PMID 39905934.
  5. ^ Yang, Yuyi; Wang, Chenyu; Xiang, Xiaoling; An, Ruopeng (2025-02-20). "AI Applications to Reduce Loneliness Among Older Adults: A Systematic Review of Effectiveness and Technologies". Healthcare (Basel, Switzerland). 13 (5): 446. doi:10.3390/healthcare13050446. ISSN 2227-9032. PMC 11898439. PMID 40077009. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  6. ^ Liu, A. R., Pataranutaporn, P., & Maes, P. (2024). "Chatbot companionship: A mixed-methods study of companion chatbot usage patterns and their relationship to loneliness in active users". Arxiv.org. Diakses tanggal 2025-9-12. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  7. ^ Wang, X., Pang, C. C., & Hui, P. (2025). "My dataset of love: A preliminary mixed-method exploration of human-AI romantic relationships". Arxiv. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  8. ^ Chu, M. D., Gerard, P., Pawar, K., Bickham, C., & Lerman, K. (2025). "Illusions of intimacy: Emotional attachment and emerging psychological risks in human-AI relationships". Arxiv.org. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  9. ^ Xi, R., Wang, X., Chen, L., & Zhang, Y. (2025). "Livia: An emotion-aware AR companion powered by modular AI agents and progressive memory compression". Arxiv.org. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya