Nyai Brintik
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
Nyai Brintik adalah salah satu tokoh sejarah yang diyakini sebagai cerita rakyat dari kota Semarang pada masa Kerajaan Demak. Memiliki nama asli Dowo Rinjani, beliau merupakan putri dari Raja Mataram Kuno.[1] Nyai Brintik memiliki kisah sebagai tokoh sakti pada masa beliau hidup yang berkaitan dengan Kerajaan Demak dan Sunan Kalijaga. Beliau merupakan penguasa kerajaan Bergota yang terletak pada dataran tinggi Gunung Brintik, Semarang Selatan selama bertahun-tahun. Memiliki sebutan Nyai Brintik, didasarkan pada karakteristiknya dengan ciri-ciri berbadan kecil dan berambut brintik atau keriting. Semasa hidupnya, konon beliau sering mengenakan kebaya motif lorek dan jarik berwarna putih.[2]
Makam Nyai Brintik
Makam Nyai Brintik terletak di samping mushala Desa Wonosari VII, RT 7/ RW 4, Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.[1] Makam beliau dapat ditempuh melalui dua jalur, yaitu melewati jalan makam Bergota dan melewati jalan perkampungan Kampung Pelangi. Makam Nyai Brintik tertutup jarik berwarna coklat gelap dan terdapat barang-barang peninggalan beliau di sekitar makamnya, seperti payung, guci-guci, kain, hingga kursi. Makam Nyai Brintik biasa didatangi orang untuk melakukan ziarah dan pengiriman doa kepada beliau. Selain itu, makam beliau sempat ramai oleh peziarah tokoh-tokoh politis yang hendak melakukan kegiatan menjelang pemilu berlangsung. Konon, kesaktian beliau telah menjadi kepercayaan masyarakat setempat dan membentuk budaya dalam adat pernikahan dengan pemberian sesajen di makam Nyai Brintik tersebut.[3]
Sejarah Nyai Brintik dengan Kerajaan Demak
Sejarah dimulainya hubungan antara Nyai Brintik dengan Kerajaan Demak bermula ketika Kerajaan Demak menggelar acara hajatan jamasan pusaka. Nyai Brintik mendengar berita tersebut dan bergegas pergi menuju Kerajaan Demak. Setibanya disana, Nyai Brintik mengambil salah satu pusaka milik Kerajaan Demak pada hajatan jamasan pusaka tersebut. Kemudian Nyai Brintik kembali ke asalnya Gunung Brintik, Kerajaan Bergota atau yang disebut pula sebagai Semenanjung Tirang, dengan membawa pusaka Kerajaan Demak. Kerajaan Demak yang menyadari kehilangan pusaka setelah kembalinya Nyai Brintik mengusut dan melakukan penyelidikan mendalam. Pada penyelidikan tersebut, seluruh jejak pengusutan mengarah pada Nyai Brintik yang membuat Kerajaan Demak bergegas melakukan persiapan menyerang Kerajaan Bergota dan mengambil kembali pusaka yang hilang. Namun Kerajaan Demak gagal dan mengalami kekalahan setelah penyerangannya kepada Nyai Brintik tanpa membawa pusaka kerajaan.[2]
Sejarah Nyai Brintik dengan Sunan Kalijaga
Setelah kekalahannya melawan Nyai Brintik, Kerajaan Demak selanjutnya mengirimkan Sunan Kalijaga untuk melawan Nyai Brintik dan membawa kembali pusaka kerajaan. Nyai Brintik akhirnya mengalami kekalahan dan berhasil ditaklukan oleh Sunan Kalijaga. Kekalahan Nyai Brintik dari Sunan Kalijaga membuat beliau memeluk agama Islam dan menjadi salah satu murid Sunan Kalijaga. Setelah peristiwa tersebut, Nyai Brintik menjalani sisa hidupnya dengan menyebarkan agama Islam di wilayah Gunung Brintik yang sekarang lebih dikenal sebagai Kampung Pelangi.[2] Wafatnya Nyai Brintik tidak tercatat sejarah dan menjadi cerita rakyat yang diyakini masyarakat Indonesia sebagai bagian dari kisah salah satu daerah di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
Referensi
- ^ a b Cahya, Cun. "Mengenal Sejarah Nyai Brintik Semarang yang Sakti Mandraguna Dikalahkan Sunan Kalijaga dan Menetap di Gunung Brintik - Suara Merdeka - Halaman 2". Mengenal Sejarah Nyai Brintik Semarang yang Sakti Mandraguna Dikalahkan Sunan Kalijaga dan Menetap di Gunung Brintik - Suara Merdeka - Halaman 2. Diakses tanggal 2025-11-10.
- ^ a b c "Kisah Nyai Brintik, Murid Sunan Kalijaga yang Jadi Legenda Kampung Gunung Brintik Kota Semarang". kuasakata.com. Diakses tanggal 2025-11-10.
- ^ Saputra, Imam Yuda (2025-08-04). "Makam Nyai Brintik di Kampung Pelangi Semarang & Mitos yang Berkembang". Solopos. Diakses tanggal 2025-11-10.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.