Pasar Semawis


Pasar Semawis atau Pasar Malam Semawis atau dikenal juga sebagai Waroeng Semawis, adalah pasar malam yang menjual berbagai jenis makanan dan minuman (kuliner) serta oleh-oleh khas Semarang. Pasar yang hanya ada setiap akhir pekan ini "digelar" di kawasan pecinan Kota Semarang, tepatnya di sepanjang jalan Gang Warung.[1][2]

Lahirnya pusat kulineran ini digagas oleh perkumpulan Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata). Pasar Semawis termasuk sebagai salah satu bentuk upaya revitalisasi untuk menghidupkan kembali kawasan kota tua Semarang. Kawasan Pecinan telah menjadi bagian dimana etnis Tionghoa bersandingangan dengan Kota Semarang modern.[2] Pasar Semawis bermula dengan diadakannya Pasar Imlek Semawis pada 2005, menyusul diresmikannya Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional di Indonesia.

Setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu, di sepanjang jalan Gang Warung (sekitar 300 meter), akan berdiri puluhan tenda tempat berjualan dan tersedia set meja kursi sebagai tempat makan.[2] Di pasar ini pengunjung dapat menemukan aneka makanan/minuman dan jajanan khas semarangan, seperti soto, tahu gimbal, nasi ayam, lumpia, pisang plenet khas Semarang, es puter, kue serabi, dan bubur kacang. Ada juga berbagai menu steamboat. Pusat jajanan terpanjang di Semarang ini digelar mulai pukul 6 sore hingga tengah malam.

Saat Waroeng Semawis digelar, beberapa jalan di kawasan Pecinan—Gang Besen, Gang Tengah, Gambiran, Gang Belakang, dan Gang Baru—akan ditutup salah satu ujungnya. Jalan-jalan tersebut biasanya digunakan untuk parkir kendaraan pengunjung Pasar Semawis.[1]

Untuk menuju Gang Warung tempat digelarnya Pasar Semawis ada beberapa jalan yang bisa dipilih. Di antaranya lewat jalan Gajahmada, masuk lewat jalan Wotgandul Barat > Plampitan > Kranggan > dan parkir di jalan Beteng. Dari jalan Gajah Mada juga dapat masuk langsung ke jalan Kranggan lewat perempatan jalan Depok. Jalur lain adalah lewat Pasar Johar atau Jurnatan, masuk lewat jalan Pekojan > parkir di jalan Gang Pinggir.

Galeri

Referensi

  1. ^ a b Ridlo, Mohammad Agung (2016). Mengupas Problema Kota Semarang Metropolitan. Yogyakarta: Penerbit Deepublish. hlm. 102–103. ISBN 978-602-401-308-0.
  2. ^ a b c Ekspedisi Anjer-Panaroekan: Laporan Jurnalistik Kompas 200 Tahun Anjer-Panaroekan – Jalan (untuk) Perubahan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 2016. hlm. 118–120. ISBN 978-979-709-391-4. ;

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya