Bessi

Bessi (bahasa Yunani Kuno: Βῆσσοι, translit. Bêssoi atau Βέσσοι, bahasa Latin: Bessi atau Bessae) adalah suatu kelompok atau suku Trakia kuno yang terutama dikaitkan dengan lembah hulu Sungai Hebros dan wilayah pegunungan di antara Pegunungan Haemus dan Rodopi.[1] Dalam catatan Herodotos, Bessi bukan mula-mula digambarkan sebagai seluruh suku yang berdiri sendiri, melainkan sebagai kelompok di antara bangsa Satrae yang menjalankan fungsi kenabian di tempat suci Dionisos.[2] Dalam sumber-sumber kemudian, nama Bessi digunakan secara lebih luas untuk kelompok penduduk pegunungan Trakia dan, pada zaman Romawi akhir, kadang-kadang sebagai sebutan umum bagi orang Trakia.

Bessi dikenal dalam sumber Yunani-Romawi karena tiga hal: hubungan mereka dengan tempat suci Dionisos, perlawanan berulang terhadap perluasan kekuasaan Republik Romawi dan Kekaisaran Romawi, serta perekrutan mereka dalam angkatan bersenjata Romawi. Gambaran kuno mengenai mereka sering dipenuhi stereotip tentang masyarakat pegunungan yang ganas, miskin, atau suka merampok. Penelitian modern karena itu memperingatkan bahwa Bessi tidak selalu dapat diperlakukan sebagai kelompok etnik yang tidak berubah, memiliki perbatasan tetap, dan mempertahankan identitas yang sama dari zaman klasik hingga zaman kuno akhir.[3]

Nama dan identitas

Nama mereka ditulis dalam bahasa Yunani sebagai Bêssoi atau Béssoi dan dalam bahasa Latin sebagai Bessi. Bentuk tunggal Bessus ditemukan dalam prasasti sebagai penanda asal atau nama perseorangan. Wilayah yang dikaitkan dengan mereka pada zaman Romawi disebut Bessika atau Bessia.[1]

Herodotos menyebut Bessi sebagai kelompok atau marga di antara Satrae. Satrae digambarkan sebagai orang Trakia pegunungan yang pada masa itu tidak pernah ditundukkan, tinggal di pegunungan berhutan dan bersalju, serta terkenal sebagai pejuang. Menurutnya, Bessi bertindak sebagai para penafsir atau nabi pada tempat peramalan Dionisos, sedangkan nubuat disampaikan oleh seorang imam perempuan.[2]

Hubungan antara Satrae, Bessi, dan kelompok pegunungan lain seperti Dii masih diperdebatkan. Salah satu penjelasan menyatakan bahwa Bessi pada mulanya merupakan kelompok imam atau salah satu bagian Satrae, kemudian nama mereka menjadi lebih menonjol dan secara bertahap menggantikan nama Satrae dalam tradisi sastra.[1] Penjelasan lain menekankan bahwa perubahan nama dalam sumber dapat mencerminkan pergeseran persekutuan politik, pengaruh kelompok pemimpin, atau kebiasaan penulis Yunani dan Romawi dalam mengelompokkan masyarakat Trakia, bukan perubahan etnik yang sederhana.[4]

Pada zaman Kekaisaran Romawi, etnonim Bessi muncul jauh di luar wilayah inti mereka. Nama itu dapat menunjukkan asal daerah, identitas kemiliteran, keanggotaan komunitas pendatang, ataupun sebutan yang lebih umum bagi orang Trakia. Karena itu, kemunculan kata Bessus dalam prasasti tidak selalu membuktikan kesinambungan langsung dengan kelompok imam yang disebut Herodotos pada abad ke-5 SM.[3]

Wilayah

Lokasi wilayah Bessi tidak dapat ditentukan dengan batas yang pasti. Keterangan penulis kuno juga tidak sepenuhnya selaras karena berasal dari masa yang berbeda dan menggunakan kerangka geografis yang berlainan.

Herodotos menghubungkan mereka dengan puncak-puncak tertinggi di wilayah Satrae, di pedalaman Trakia barat daya. Strabon menempatkan Bessi di kawasan pegunungan dekat Haemus dan Rodopi, berbatasan dengan orang Paeonia, Dardani, dan Autariatae. Ia juga menyebut mereka tinggal di pondok-pondok dan mendiami sebagian besar kawasan Haemus, tetapi uraiannya mungkin menggunakan nama Bessi secara lebih luas daripada Herodotos.[5]

Pusat wilayah Bessi biasanya ditempatkan di Rodopi barat dan tengah, lembah hulu Hebros, serta daerah menuju hulu Sungai Nestos. Beberapa rekonstruksi memperluas wilayah mereka ke dataran di sekitar Philippopolis dan Pazardzhik, atau ke sebelah timur menuju Beroe. Permukiman seperti Uskudama—kemudian Hadrianopolis—dan Bessapara pernah dikaitkan dengan Bessi, tetapi tidak semua identifikasi diterima secara universal.[1]

Dalam geografi administratif Romawi terdapat suatu strategia bernama Bessike. Klaudios Ptolemaios menempatkannya di atas Maedike, tetapi informasi tersebut tidak cukup untuk menggambar perbatasan yang pasti. Gavril Katsarov dan Georgi Mihailov menempatkan Bessika di sekitar Rodopi dan memperluasnya menuju Philippopolis. Margarita Tacheva mengusulkan wilayah pegunungan yang lebih luas tanpa pusat kota tunggal, sedangkan Peter Delev menempatkan inti Bessika lebih dekat ke kaki utara Pegunungan Rila.[3][6]

Masyarakat dan agama

Tempat suci Dionisos

Peranan Bessi yang paling awal dan paling khas adalah sebagai penjaga serta penafsir tempat peramalan Dionisos. Dalam uraian Herodotos, tempat suci itu berada di pegunungan tertinggi Satrae. Seorang imam perempuan menyampaikan nubuat, sedangkan Bessi bertindak sebagai penafsirnya. Sistem tersebut dibandingkan oleh Herodotos dengan Orakel Delfi.[2]

Lokasi tempat suci tersebut belum ditemukan secara pasti. Berbagai situs di Rodopi, kawasan Perperikon, Gunung Videnitsa, dan wilayah lain pernah diajukan, tetapi tidak ada identifikasi yang diterima secara umum. Kesulitan berasal dari keterbatasan keterangan geografis sumber kuno dan kenyataan bahwa tempat-tempat pemujaan Dionisos tersebar di berbagai bagian Trakia.[7]

Penguasaan atas tempat suci mempunyai arti keagamaan dan politik. Ketika Marcus Licinius Crassus menyerahkan tempat pemujaan yang sebelumnya dikuasai Bessi kepada penguasa Odrysia yang bersekutu dengan Romawi, tindakan itu kemungkinan menyerang unsur penting identitas dan kewibawaan kepemimpinan Bessi. Konflik mengenai tempat suci tersebut kemudian menjadi salah satu latar pemberontakan besar pada akhir abad ke-1 SM.[3]

Gambaran dalam sumber kuno

Sumber Romawi sering menggambarkan Bessi sebagai kelompok pegunungan yang ganas dan sulit dikendalikan. Strabon menulis bahwa mereka disebut perampok bahkan oleh kelompok-kelompok yang juga dianggap sebagai perampok.[5] Ammianus Marcellinus kemudian menyebut mereka sebagai salah satu bangsa Trakia yang paling keras. Gambaran tersebut tidak boleh diterima sebagai deskripsi etnografis yang netral. Sebutan tentang keganasan, kemiskinan, dan kebiasaan merampok merupakan bagian dari retorika Yunani-Romawi mengenai masyarakat pegunungan dan lawan politik Romawi.[3]

Bukti mengenai kehidupan sehari-hari Bessi terbatas. Lingkungan pegunungan mereka mendukung peternakan, pertanian lembah, eksploitasi hutan, dan pertambangan. Pada zaman Romawi dan kuno akhir, orang yang disebut Bessi sering dikaitkan dengan pekerjaan pertambangan. Akan tetapi, tidak semua penduduk daerah pertambangan Rodopi dapat secara otomatis diidentifikasi sebagai Bessi.[8]

Sejarah

Zaman klasik dan Helenistik

Sesudah penyebutan Herodotos mengenai peristiwa pada masa invasi Xerxes I pada 480 SM, Bessi hampir tidak muncul dalam sumber selama beberapa abad. Ketiadaan itu tidak berarti kelompok tersebut lenyap. Penulis-penulis lain menggunakan nama Dii, Satrae, atau nama kelompok Trakia lainnya untuk penduduk pegunungan yang mungkin saling berhubungan. Perubahan hubungan militer dan politik, terutama keterlibatan kelompok pegunungan sebagai tentara bayaran, dapat memengaruhi penggunaan etnonim dalam sumber.[4]

Bessi kembali tampak lebih jelas pada zaman Helenistik akhir. Mereka berada di kawasan yang dipengaruhi persaingan kerajaan Makedonia, penguasa Odrysia, kota-kota Yunani pesisir, dan kemudian Romawi. Sumber yang ada tidak menunjukkan bahwa mereka pernah membentuk negara terpusat yang bertahan lama. Struktur politik mereka kemungkinan terdiri atas kelompok-kelompok lokal di bawah pemimpin, imam, atau dinasti yang dapat membentuk persekutuan ketika menghadapi musuh bersama.

Konflik awal dengan Romawi

Setelah pembentukan provinsi Makedonia pada 146 SM, gubernur Romawi semakin sering melakukan operasi ke wilayah Trakia. Sekitar 109–106 SM, prokonsul Marcus Minucius Rufus berperang melawan Skordiski, Bessi, dan kelompok Trakia lainnya. Prasasti kehormatan dari Delfi dan Europos memperingati kemenangannya atas "Bessi dan orang Trakia lainnya", menunjukkan bahwa Bessi telah menjadi salah satu lawan penting Romawi di kawasan itu.[1]

Pada 72 SM, prokonsul Makedonia Marcus Terentius Varro Lucullus memimpin kampanye besar di Trakia dalam konteks Perang Mithridates Ketiga. Ia mengalahkan Bessi di kawasan Haemus, merebut Uskudama dan Kabyle, kemudian bergerak sampai Sungai Donau dan kota-kota Yunani di pesisir Laut Hitam. Kemenangan itu memberinya hak merayakan triumfus pada 71 SM, tetapi tidak mengakhiri perlawanan Bessi secara permanen.[9][1]

Gaius Octavius, ayah Augustus, mengalahkan Bessi dan kelompok Trakia lain ketika menjadi gubernur Makedonia sekitar 60–59 SM. Menurut Suetonius, ia juga berkonsultasi dengan tempat suci Dionisos di Trakia mengenai masa depan putranya.[10]

Pada dasawarsa 50-an SM, prokonsul Lucius Calpurnius Piso Caesoninus terlibat dalam politik Trakia. Cicero menuduhnya membunuh Rabocentus, seorang pemimpin Bessi yang datang ke perkemahan Romawi sebagai utusan dan menawarkan bantuan pasukan berkuda serta infanteri. Tuduhan tersebut disampaikan dalam pidato politik yang sangat bermusuhan terhadap Piso, sehingga rincian motifnya perlu diperlakukan dengan hati-hati.[11]

Perang saudara Romawi

Dalam Perang Saudara Caesar, pasukan Bessi dilaporkan berada di pihak Pompeius. Sebagian mungkin bertugas sebagai kontingen sekutu atau tentara bayaran dari kerajaan dan pemimpin Trakia yang mendukung Pompeius. Setelah pembunuhan Julius Caesar, Marcus Junius Brutus melakukan operasi melawan Bessi pada 43 SM. Cassius Dio menyatakan bahwa Brutus menyerang mereka sebagai pembalasan atas perampokan dan memperoleh gelar imperator setelah kampanye itu, dengan bantuan dinasti Trakia Rhascuporis.[12]

Penaklukan Crassus dan pemberontakan Vologaesus

Pada 29–28 SM, prokonsul Makedonia Marcus Licinius Crassus melakukan kampanye besar di utara dan timur Makedonia. Setelah menundukkan beberapa kelompok, ia menyerang Serdi, Maedi, dan Bessi. Cassius Dio menyatakan bahwa Crassus membiarkan wilayah Odrysia karena penduduknya merupakan pemuja Dionisos dan menyerahkan kepada mereka tempat suci yang sebelumnya dikuasai Bessi.[13]

Pengalihan tempat suci itu memperdalam permusuhan antara Bessi dan penguasa Odrysia yang didukung Romawi. Sekitar 15–13 SM, seorang imam Dionisos bernama Vologaesus atau Vologaises memimpin pemberontakan. Para pemberontak mengalahkan dan membunuh Rhascuporis, kemudian menyerang pasukan Rhoemetalces I, yang terpaksa mundur ke Khersonesos Trakia.[14]

Augustus mengirim Lucius Calpurnius Piso untuk memadamkan pemberontakan. Perang berlangsung sekitar tiga tahun dan berakhir sekitar 11 SM setelah pertempuran, pengepungan, dan penghancuran besar. Velleius Paterculus memuji Piso karena mengembalikan keamanan di Trakia, Makedonia, dan Asia, sedangkan Florus menonjolkan keganasan para tawanan Trakia. Sumber-sumber tersebut terutama menyampaikan sudut pandang kemenangan Romawi.[15]

Kekalahan pemberontakan mengakhiri Bessi sebagai kekuatan politik mandiri yang mampu menantang Romawi dalam skala besar. Sebagian tawanan dijual sebagai budak, sedangkan kelompok lain tampaknya dipindahkan atau tersebar ke wilayah di utara Haemus dan Dobruja. Hubungan langsung antara semua komunitas Bessi di Dobruja dan pemindahan paksa ini masih diperdebatkan, karena migrasi sukarela, penempatan militer, dan penggunaan etnonim secara umum juga mungkin berperan.[6]

Pada zaman Kekaisaran Romawi

Wilayah Trakia tetap diperintah melalui kerajaan klien hingga dibentuk sebagai provinsi Romawi pada 46 M. Di dalam provinsi, nama Bessika dipertahankan sebagai sebutan wilayah atau satuan administratif pada masa tertentu, tetapi secara bertahap wilayah pegunungan tersebut dihubungkan dengan pusat-pusat kota Romawi seperti Philippopolis, Serdica, dan Scupi.[6]

Bukti prasasti menunjukkan orang yang disebut Bessi atau berasal ex Bessia tersebar di berbagai bagian kekaisaran. Mereka ditemukan di Makedonia, Moesia, Dacia, Dalmatia, dan permukiman veteran. Kelompok Bessi juga tercatat di sekitar Tomis dan sejumlah permukiman di Dobruja. Ovidius, ketika dibuang ke Tomis, menyebut Bessi bersama Getae dan kelompok lain di pedalaman, walaupun puisi pengasingannya tidak dapat diperlakukan sebagai laporan demografi yang tepat.[8]

Angkatan bersenjata Romawi

Orang Bessi banyak direkrut ke dalam pasukan tambahan dan armada Romawi. Kajian epigrafis Tønnes Bekker-Nielsen mencatat sekitar 40–50 orang yang dikenal sebagai Bessi atau Bessus dalam armada kekaisaran, sekitar 22 dalam pasukan darat tambahan, beberapa dalam equites singulares Augusti, dan jumlah lebih kecil dalam Garda Praetoria.[16]

Banyaknya Bessi dalam armada pernah dijelaskan sebagai akibat pemindahan mereka ke Dobruja sehingga terbiasa dengan kehidupan maritim. Namun, rendahnya pangkat yang dicapai kebanyakan pelaut Bessi tidak menunjukkan adanya tradisi pelayaran khusus. Jumlah mereka dapat pula mencerminkan perekrutan besar-besaran penduduk Trakia pada masa Nero dan Domitianus.[16]

Dinas militer memperluas penyebaran nama Bessi dan membantu menciptakan bentuk identitas baru dalam kerangka kekaisaran. Identitas kesukuan dapat dipertahankan dalam keterangan asal seorang prajurit, tetapi kehidupan dalam unit Romawi, perolehan kewarganegaraan, dan permukiman veteran juga mendorong integrasi dengan masyarakat provinsi lain.

Bessi sebagai citra Trakia

Pada masa kekaisaran, nama Bessi semakin sering dipakai secara metonimis untuk mewakili orang Trakia secara umum. Lukisan dinding abad ke-2 dari Valentia di Hispania Tarraconensis menggambarkan seorang perempuan Bessi bersama personifikasi bangsa asing lainnya. Di Sebasteion di Aphrodisias, personifikasi suku-suku dan bangsa taklukan menjadi bagian propaganda visual kekuasaan Romawi. Representasi semacam itu menunjukkan bahwa identitas Bessi dalam pandangan Romawi telah berubah dari nama kelompok lokal menjadi salah satu lambang Trakia yang ditaklukkan.[17]

Kristenisasi

Kristenisasi penduduk pedalaman Trakia berlangsung bertahap dan terutama menjadi jelas sejak abad ke-4. Paulinus dari Nola memuji kegiatan misionaris Niketas dari Remesiana di kalangan orang pegunungan yang ia sebut Bessi. Dalam puisinya, tempat-tempat yang dahulu dikaitkan dengan perampokan dan pemujaan lama digambarkan telah menerima Kristus. Meskipun gaya puisinya bersifat retoris, sumber tersebut menunjukkan kegiatan misi Kristen di wilayah Balkan tengah dan Rodopi pada akhir abad ke-4.[18]

Niketas tidak secara pasti dapat disebut sebagai "uskup Bessi". Takhtanya berada di Remesiana dalam provinsi Dacia Mediterranea, dan kegiatan misinya mungkin menjangkau berbagai kelompok berbahasa Latin, Yunani, atau Trakia. Hubungannya dengan Bessi terutama diketahui melalui puisi Paulinus, bukan dari riwayat lengkap yang ditulis pada masa yang sama.[18]

Sumber dari abad ke-6 menyebut biara-biara di Tanah Suci yang menampung rahib berbahasa Bessia. Peziarah Antoninus dari Piacenza menulis tentang sebuah biara di Sinai dengan rahib yang menggunakan bahasa Yunani, Latin, Suryani, Mesir, dan Bessia. Riwayat Theodosius Koenobiarkhos juga menyebut gereja yang digunakan oleh orang Bessi dalam sebuah kompleks biara di Palestina.[8]

Keterangan tersebut telah dipakai sebagai bukti bahwa suatu bentuk bahasa Trakia—biasanya disebut bahasa Bessia—masih digunakan dalam liturgi pada abad ke-5 dan ke-6. Akan tetapi, tidak ada teks Bessia yang bertahan dan hampir tidak ada bahan linguistik yang dapat dianalisis. Tidak diketahui apakah bahasa itu merupakan dialek Trakia yang hidup, bahasa liturgi terbatas, atau label etnik yang digunakan oleh penulis luar bagi komunitas dengan bahasa lain. Pernyataan tegas mengenai struktur atau hubungan bahasa Bessia karena itu tidak dapat dibuktikan.[8]

Nama Bessi masih digunakan dalam sejumlah sumber Bizantium. Dalam konteks kuno akhir, istilah itu sering berarti orang Trakia secara luas dan tidak selalu menunjuk keturunan biologis dari suku klasik. Hilangnya nama tersebut dari sumber tidak mempunyai tanggal tunggal; identitas lokalnya secara bertahap diserap ke dalam masyarakat Romawi Timur dan kelompok-kelompok Balkan abad pertengahan.

Hipotesis mengenai asal-usul Albania

Sejarawan Jerman Gottfried Schramm mengajukan hipotesis bahwa bahasa dan bangsa Albania berasal dari komunitas Bessi yang telah dikristenkan. Menurut rekonstruksinya, Bessi menggunakan bahasa mereka dalam gereja, kemudian terdorong ke arah barat akibat perubahan politik dan migrasi Slavia-Bulgaria pada awal Abad Pertengahan.[19]

Hipotesis tersebut tidak diterima secara umum. Tidak ada bukti arkeologis yang memperlihatkan perpindahan besar masyarakat Bessi dari Bulgaria barat menuju Albania pada abad ke-9. Bahasa Bessia sendiri tidak memiliki korpus yang memungkinkan perbandingan langsung dengan bahasa Albania. Rekonstruksi sejarah fonologi Albania, unsur pinjaman Latinnya, serta pembentukan dialek Geg dan Tosk juga sulit diselaraskan dengan perpindahan mendadak yang diajukan Schramm. Karena data bahasa Trakia dan Bessia sangat terbatas, hubungan persis bahasa Albania dengan bahasa-bahasa Paleo-Balkan tetap menjadi persoalan ilmiah, tetapi Bessi tidak dapat dinyatakan sebagai leluhur langsung orang Albania berdasarkan bukti yang tersedia.[20]

Historiografi dan masalah sumber

Rekonstruksi sejarah Bessi menghadapi beberapa persoalan:

  • hampir seluruh sumber sastra ditulis oleh orang Yunani atau Romawi dari luar masyarakat Bessi;
  • istilah Bessi digunakan dengan makna yang berubah dari kelompok imam, suku pegunungan, wilayah administratif, hingga sebutan umum bagi orang Trakia;
  • nama kelompok dalam sumber tidak selalu sesuai dengan kebudayaan material yang dapat dibedakan secara arkeologis;
  • banyak uraian kuno memakai stereotip tentang "orang barbar" yang ganas, miskin, religius, atau gemar merampok; dan
  • bukti prasasti kebanyakan berasal dari zaman Romawi, ketika identitas lokal telah dipengaruhi administrasi, militer, perpindahan penduduk, dan kewarganegaraan kekaisaran.

Karena itu, para peneliti modern cenderung membedakan antara Bessi dalam narasi Herodotos, Bessi sebagai lawan Romawi pada abad ke-2 hingga ke-1 SM, penduduk administratif Bessika, serta orang yang disebut Bessi pada zaman kuno akhir. Kesinambungan di antara kategori-kategori tersebut mungkin ada, tetapi tidak boleh diasumsikan tanpa bukti.[3]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ a b c d e f Sayar, Mustafa H. (2020). "Bessoi". Studia Academica Šumenensia (dalam bahasa Inggris). 7: 11–23. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  2. ^ a b c Herodotos. Historia (dalam bahasa Inggris). 7.110–111. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  3. ^ a b c d e f Evangelidis, Vasilis (2020). "'Thracian' Identities in the Time of Rome: Bessi and Others". Studia Academica Šumenensia (dalam bahasa Inggris). 7: 38–67. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  4. ^ a b Rufin Solas, Aliénor (2020). "Pre-Roman Bessoi". Studia Academica Šumenensia (dalam bahasa Inggris). 7: 24–37. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  5. ^ a b Strabon. Geographika (dalam bahasa Inggris). 7.5.12. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  6. ^ a b c Petrova, Svetla (2020). "Nicopolis ex Bessia". Studia Academica Šumenensia (dalam bahasa Inggris). 7: 114–158. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  7. ^ Uzunov, Todor (2020). "The Great Sanctuary of Dionysos: An Attempt of Localization in the Context of New Findings and the Information by Pseudo-Aristotle". Studia Academica Šumenensia (dalam bahasa Inggris). 7: 68–91. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  8. ^ a b c d Dimitrov, Dimitar (2020). "Christianity among the Thracians: Sources and Problems". Studia Academica Šumenensia (dalam bahasa Inggris). 7: 187–208. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  9. ^ Eutropius. Breviarium historiae Romanae (dalam bahasa Inggris). 6.10. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  10. ^ Suetonius. Kehidupan Dua Belas Kaisar: Augustus (dalam bahasa Inggris). 3 dan 94. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  11. ^ Cicero. In Pisonem (dalam bahasa Inggris). 34.84. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  12. ^ Cassius Dio. Roman History (dalam bahasa Inggris). 47.25. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  13. ^ Cassius Dio. Roman History (dalam bahasa Inggris). 51.25. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  14. ^ Cassius Dio. Roman History (dalam bahasa Inggris). 54.34. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  15. ^ Velleius Paterculus. Roman History (dalam bahasa Inggris). 2.98. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  16. ^ a b Bekker-Nielsen, Tønnes (2017). "Thracians in the Roman Imperial Navy". The International Journal of Maritime History (dalam bahasa Inggris). 29 (3): 479–494. doi:10.1177/0843871417714374.
  17. ^ Dana, Dan (2020). "Allégories du peuple des Besses à Aphrodisias et Valentia: premières personnifications de la Thrace dans l'art romain". Studia Academica Šumenensia (dalam bahasa Prancis). 7: 92–113. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  18. ^ a b Dimitrov, Dimitar (2011). "Christianity among the Bessi, in Late Antiquity: Sources, Facts, Problems". The Balkans (dalam bahasa Inggris). 2 (1): 55–69. Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  19. ^ Schramm, Gottfried (1994). "A New Approach to Albanian History" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 3 Agustus 2026.
  20. ^ Fortson, Benjamin W. (2010). Indo-European Language and Culture: An Introduction (dalam bahasa Inggris) (Edisi 2). Wiley-Blackwell. hlm. 448–449. ISBN 978-1-4051-8896-8.

Daftar pustaka

  • Delev, Peter (2015). "From Koroupedion to the Beginning of the Third Mithridatic War (281–73 BCE)". Dalam Valeva, Julia; Nankov, Emil; Graninger, Denver (ed.). A Companion to Ancient Thrace (dalam bahasa Inggris). Wiley-Blackwell. hlm. 59–74. ISBN 978-1-4443-5104-0.
  • Graninger, Denver (2015). "Ethnicity and Ethne". Dalam Valeva, Julia; Nankov, Emil; Graninger, Denver (ed.). A Companion to Ancient Thrace (dalam bahasa Inggris). Wiley-Blackwell. hlm. 22–32. ISBN 978-1-4443-5104-0.
  • Lozanov, Ivaylo (2015). "Roman Thrace". Dalam Valeva, Julia; Nankov, Emil; Graninger, Denver (ed.). A Companion to Ancient Thrace (dalam bahasa Inggris). Wiley-Blackwell. hlm. 75–90. ISBN 978-1-4443-5104-0.
  • Topalilov, Ivo; Nedelcheva, Svetlana, ed. (2020). The Bessi in the Roman Empire. Studia Academica Šumenensia (dalam bahasa Inggris). Vol. 7. Shumen: Shumen University Press. ISSN 2367-5446.

Pranala luar

Templat:Orang Trakia

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya