Delima Silalahi

Delima Silalahi adalah seorang aktivis lingkungan asal Tapanuli Utara, Indonesia. Ia dikenal karena dedikasinya dalam melindungi hutan adat serta memperjuangkan hak-hak masyarakat adat di Sumatra Utara. Sebagai direktur eksekutif sebuah LSM bernama Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), ia memimpin upaya merebut kembali lebih dari 17.000 hektar hutan tropis yang telah dikonversi oleh perusahaan pulp dan kertas.[1]

Atas kontribusinya dalam bidang konservasi lingkungan, Delima dianugerahi Goldman Environmental Prize pada 2023. Upaya pelestarian lingkungan yang ia lakukan terus berlanjut dengan penekanan pada keterkaitan antara ekosistem hutan, warisan adat, dan perekonomian lokal di wilayah Sumatra Utara.[2]

Karier dan aktivisme

Delima memulai aktivitas konservasi lingkungan sejak masih di bangku kuliah, terutama setelah keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi pada 2013 yang menyatakan bahwa hutan adat bukan lagi hutan negara.[3]

Pada 1999, Delima bergabung sebagai relawan dalam Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), sebuah kelompok advokasi hak asasi manusia dan lingkungan di Sumatra. Melalui KSPPM, ia terlibat bersama masyarakat lokal yang menjadi korban perampasan tanah dan kriminalisasi, serta menelusuri dampak lingkungan akibat industri pulp dan kertas.[4] [5]

Setelah resmi menjadi direktur eksekutif dari KSPPM pada 2018, Delima memimpin berbagai aksi mobilisasi massa, termasuk membentuk koalisi yang menyoroti praktik deforestasi di Sumatra Utara, khususnya yang terkait dengan perusahaan Procter & Gamble melalui gerakan “Tutup PT TPL”.[1]

Perjuangan melawan Toba Pulp Lestari

Sebagian besar pekerjaan Delima diarahkan untuk melestarikan hutan hujan Sumatra Utara yang masih utuh sekaligus menegakkan hak-hak masyarakat adat Batak Toba. Upaya ini secara langsung menantang Toba Pulp Lestari (TPL), sebuah perusahaan pulp dan kertas yang berafiliasi dengan Procter & Gamble, yang mana dikenal sebagai perusak hutan sejak tahun 1980.[1]

Antara tahun 2019 hingga 2022, Delima membantu enam komunitas Batak dalam memperjuangkan pengakuan untuk hutan adat, yang mana berhasil menyelamatkan lebih dari 7.000 hektar hutan dari kerusakan. Upaya advokasinya menghasilkan pengakuan resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia atas klaim hutan masyarakat tersebut.[6]

Pada Mei 2023, Delima melakukan kampanye ke Cincinnati, tempat kantor pusat Procter & Gamble (P&G). Fokus utamanya di Cincinnati adalah mengungkap hubungan P&G dengan Toba Pulp Lestari (TPL) melalui pemasok minyak kelapa sawit jangka panjangnya, Royal Golden Eagle (RGE). TPL telah terlibat dalam perampasan tanah dan intimidasi terhadap masyrakat adat Batak. Delima mendesak P&G untuk memutus hubungan dengan RGE sebagai bentuk penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat.[7]

Didukung oleh delegasi aktivis adat Batak Toba dari komunitas Pargamanan-Bintang Maria serta koalisi luas aktivis Ohio, kampanye Delima menekankan pentingnya tanggung jawab perusahan. Isu ini semakin mendapat sorotan karena pendudukan TPL atas 40% tanah adat Pargamanan-Bintang Maria telah memicu gangguan ekologi dan mengancam perekonomian lokal. Advokasi Delima di Cincinnati menegaskan pentingnya menghormati hak masyarakat adat yang telah menjaga hutan selama berabad-abad, terutama dalam konteks pencapaian target global terkait perubahan iklim.[7]

Hingga Agustus 2023, upaya Delima berfokus pada masyarakat Pargamanan-Bintang Maria, komunitas Batak Toba yang sedang memperjuangkan pengakuan hutan adat mereka.[4]

Dampak

Delima berhasil memulihkan 17,824 hektar hutan tropis dari konversi menjadi perkebunan industri dan memulai rehabilitasi spesies hutan asli di kawasan tersebut.[8] Dedikasinya menyoroti pentingnya aspek ekologi, budaya, dan ekonomi hutan bagi masyarakat adat setempat.[2]

Penghargaan

Pada 2023, Delima dianugerahi Goldman Environmental Prize. Setahun kemudian, ia masuk dalam daftar Asian Scientist 100 yang diselenggarakan oleh Asian Scientist.[3]

Referensi

  1. ^ a b c "Delima Silalahi Wins the Prestigious Goldman Environmental Prize - The Understory". Rainforest Action Network (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-24.
  2. ^ a b "Delima Silalahi, Environmental Activist From North Sumatra Wins Goldman Environmental Prize 2023". VOI - Waktunya Merevolusi Pemberitaan (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-24.
  3. ^ a b pebri (2023-05-08). "Fighting for the preservation of customary forests, Delima Silalahi awarded "Green Nobel"". OBSERVER - the latest information about Indonesian news and social culture (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-24.
  4. ^ a b Post, The Jakarta. "Customary forests recognition remains challenging - Society". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-24.
  5. ^ tim. "Profil Delima Silalahi, Raih Penghargaan usai Selamatkan Hutan Adat". teknologi. Diakses tanggal 2025-09-24.
  6. ^ This year marks the 34th anniversary of the prestigious Goldman Environmental Prize, which honors one grassroots activist from each of the six inhabited continents; The 2023 prize winners are Alessandra Korap Munduruku from Brazil, Chilekwa Mumba from Zambia (2023-04-24). "Meet the 2023 Goldman Environmental Prize Winners". Mongabay Environmental News (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-24. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  7. ^ a b "Goldman Prize Winner Takes P&G Fight to Cincinnati - The Understory". Rainforest Action Network (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-24.
  8. ^ AsiaNews.it. "Batak woman from Sumatra among environmentalists' 'nobels". www.asianews.it (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-24.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya