Kebijakan Timur Augustus
Kebijakan Timur Augustus adalah rangkaian kebijakan diplomatik, militer, dan administratif yang diterapkan Augustus di wilayah timur Kekaisaran Romawi dari berakhirnya perang saudara melawan Markus Antonius dan Kleopatra VII pada 30 SM hingga kematian Augustus pada 14 M. Kebijakan tersebut mencakup penataan provinsi-provinsi di Mediterania timur, pengelolaan kerajaan klien, hubungan dengan Kekaisaran Parthia, serta intervensi berulang dalam suksesi takhta Kerajaan Armenia.[1][2]
Berbeda dari ekspansi besar Augustus di Alpen, Balkan, Spanyol, dan Germania, kebijakan di Timur lebih banyak bergantung pada kombinasi kekuatan militer, diplomasi, patronase dinasti, dan kerajaan perantara. Sungai Efrat secara bertahap menjadi batas praktis antara wilayah pengaruh Romawi dan Parthia, sementara Armenia menjadi kawasan penyangga yang diperebutkan kedua kekuatan.[1][3]
Keberhasilan paling terkenal terjadi pada 20 SM, ketika Raja Phraates IV mengembalikan panji-panji legiun dan tawanan Romawi yang sebelumnya jatuh ke tangan Parthia, termasuk panji yang hilang dalam Pertempuran Carrhae tahun 53 SM. Augustus mempresentasikan hasil diplomatik tersebut sebagai kemenangan yang setara dengan keberhasilan militer.[4] Namun, kestabilan di Timur tidak menghapus persaingan Romawi–Parthia. Armenia beberapa kali mengalami pergantian raja, dan pada 1 SM–4 M Augustus mengirim cucunya dan calon pewarisnya, Gaius Caesar, untuk menyelesaikan krisis baru di kawasan tersebut.[1]
Latar belakang
Warisan Republik akhir
Keterlibatan Romawi di Mediterania timur telah berlangsung selama beberapa abad sebelum Augustus. Pada abad pertama SM, Pompeius mengatur ulang sejumlah wilayah setelah perang melawan Mithridates VI dari Pontos, membentuk provinsi Syria, memperluas kekuasaan Romawi di Anatolia, dan membangun jaringan kerajaan klien.[2]
Di sebelah timur Efrat, Parthia muncul sebagai pesaing utama Romawi. Upaya Marcus Licinius Crassus menyerbu Mesopotamia berakhir dalam kekalahan besar di Carrhae pada 53 SM. Crassus terbunuh dan sejumlah aquilae serta panji legiun direbut oleh Parthia. Kekalahan tersebut mempunyai makna simbolis besar dalam politik Romawi.[5]
Julius Caesar merencanakan kampanye terhadap Parthia sebelum dibunuh pada 44 SM. Beberapa dasawarsa kemudian, Markus Antonius melaksanakan ekspedisi besar ke wilayah Parthia pada 36 SM, tetapi gagal mencapai hasil permanen dan kehilangan banyak pasukan. Antonius kemudian menyerang Armenia pada 34 SM, menangkap Raja Artavasdes II, dan membawa keluarga kerajaan Armenia ke Mesir.[2]
Actium dan penguasaan Mesir
Kemenangan Oktavianus atas Antonius dan Kleopatra pada Pertempuran Actium tahun 31 SM diikuti dengan penaklukan Kerajaan Ptolemaik pada 30 SM. Mesir menjadi wilayah yang langsung dikendalikan oleh Oktavianus melalui seorang prefek dari kelas equites. Dengan jatuhnya Aleksandria, Oktavianus memperoleh sumber daya besar serta posisi yang memungkinkan penataan ulang seluruh Timur Romawi.[1]
Oktavianus berada di kawasan Timur pada 30–29 SM. Setelah kembali ke Italia, ia tetap mengawasi daerah tersebut melalui para gubernur provinsi, raja klien, serta orang-orang kepercayaannya. Marcus Vipsanius Agrippa memainkan peran penting dalam kebijakan timur dan dua kali memperoleh kedudukan khusus di kawasan tersebut, yaitu sekitar 23–21 SM dan 16–13 SM.[1]
Tujuan dan karakter kebijakan
Kebijakan Timur Augustus tidak dapat dipahami sebagai satu rencana penaklukan tunggal. Para sejarawan modern biasanya menekankan sejumlah tujuan yang saling berkaitan: menjamin keamanan provinsi-provinsi kaya di Anatolia dan Syria; mempertahankan jalur perdagangan serta pendapatan pajak; mencegah ekspansi Parthia ke barat Efrat; mengendalikan atau memengaruhi Armenia; dan mempertahankan kerajaan klien yang dapat menyediakan stabilitas tanpa membutuhkan garnisun Romawi dalam jumlah besar.[1][2]
Augustus menggunakan provinsi yang dikelola secara langsung dan kerajaan klien secara bersamaan. Kerajaan klien tidak selalu dipertahankan untuk selamanya. Jika keadaan politik atau dinastik berubah, suatu kerajaan dapat digabungkan ke dalam provinsi Romawi. Sebaliknya, di kawasan yang secara geografis atau politik sulit dikuasai langsung, penguasa lokal yang loyal dapat berfungsi sebagai perantara antara Roma dan masyarakat setempat.[3]
Kebijakan tersebut juga mempunyai dimensi ideologis. Augustus berupaya menggambarkan penyelesaian diplomatik sebagai bukti bahwa bangsa dan raja di luar kekuasaan langsung Roma mengakui auctoritas Romawi. Dalam Res Gestae Divi Augusti, ia menekankan kedatangan utusan, penyerahan sandera, dan permintaan raja-raja asing akan persahabatan Romawi.[4]
Penataan wilayah di sebelah barat Efrat
Anatolia
Pemerintahan Augustus mempertahankan struktur provinsi yang diwarisi dari Republik, tetapi juga mengubah sejumlah kerajaan klien menjadi wilayah langsung Romawi. Setelah Raja Amyntas tewas pada 25 SM, wilayahnya dijadikan provinsi Galatia. Provinsi baru tersebut meliputi sebagian besar Anatolia tengah dan menjadi dasar penting bagi komunikasi antara pesisir Aegea, Pamfilia, dan perbatasan timur.[1]
Wilayah lain tetap berada di tangan para raja klien. Archelaus dari Kapadokia memerintah Kapadokia dengan dukungan Roma sepanjang hampir seluruh masa Augustus. Polemon I dari Pontos dan kemudian Pythodorida menguasai sebagian kawasan Pontos dan daerah yang berkaitan dengan Laut Hitam. Di Kerajaan Bosporos, Augustus mendukung penguasa yang dapat menjaga hubungan dengan Roma dan menstabilkan wilayah strategis di sekitar Selat Kerch.[1]
Kerajaan dan dinasti lokal seperti Commagene, Emesa, Iturea, dan sejumlah kerajaan di Kilikia juga digunakan sebagai bagian dari susunan politik regional. Tingkat ketergantungan mereka terhadap Roma tidak sama dan dapat berubah dari waktu ke waktu. Gelar “raja klien” merupakan istilah historiografi modern untuk menggambarkan hubungan yang dalam sumber Romawi sering dinyatakan sebagai persahabatan, persekutuan, atau pemberian kerajaan oleh Roma.[6]
Yudea
Herodes Agung mempertahankan takhta Yudea sebagai sekutu Roma sampai kematiannya pada 4 SM. Setelah terjadi perselisihan mengenai warisan kerajaannya, Augustus membagi wilayah Herodes di antara beberapa ahli waris. Herodes Arkhelaus menerima Yudea, Samaria, dan Idumea sebagai etnark, sementara Herodes Antipas dan Herodes Filipus II memperoleh wilayah lain sebagai tetrark.[7]
Pemerintahan Arkhelaus menimbulkan banyak keluhan. Pada 6 M Augustus memanggilnya ke Roma, memberhentikan dan mengasingkannya, kemudian menggabungkan wilayahnya ke dalam pemerintahan Romawi sebagai Yudea, yang pada mulanya berada di bawah prefek dan berhubungan erat dengan gubernur Syria.[8] Wilayah Antipas dan Filipus tetap berada dalam sistem pemerintahan dinasti lokal.
Nabatea dan Arabia
Kerajaan Nabatea menguasai jalur perdagangan penting di Arabia barat laut serta pusat perdagangan Petra. Augustus tidak menganeksasi kerajaan ini, dan Raja Aretas IV Philopatris akhirnya diakui sebagai penguasa Nabatea. Hubungan Roma–Nabatea tetap penting bagi perdagangan rempah-rempah dan jaringan rute menuju Laut Merah.[9]
Pada 26–25 SM, prefek Mesir Aelius Gallus melancarkan ekspedisi ke Arabia selatan dengan dukungan pasukan Nabatea. Tujuannya antara lain memperluas pengetahuan dan pengaruh Romawi terhadap wilayah perdagangan Arabia Felix. Ekspedisi itu gagal mencapai hasil politik permanen akibat kesulitan logistik, penyakit, dan medan yang berat.[10][1]
Hubungan dengan Parthia
Masalah panji Carrhae
Kekalahan Crassus di Carrhae tetap menjadi persoalan prestise bagi Roma. Selain panji yang direbut pada 53 SM, Parthia juga memperoleh panji Romawi dalam konflik berikutnya pada masa Republik akhir. Augustus menghadapi tuntutan publik dan politik untuk memulihkan kehormatan Romawi, tetapi tidak memilih invasi besar ke Mesopotamia.[4]
Pada pertengahan 20-an SM, Raja Parthia Phraates IV menghadapi pesaing takhta bernama Tiridates, yang mencari perlindungan di wilayah Romawi. Phraates meminta agar Tiridates diserahkan. Ia juga meminta kembali putranya yang berada di tangan Roma. Augustus menolak menyerahkan Tiridates, tetapi akhirnya mengembalikan putra Phraates. Diplomasi ini memberi Augustus alat tawar terhadap raja Parthia.[2]
Penyelesaian tahun 20 SM
Pada 22 SM Augustus kembali menuju Timur dan kemudian menetap di kawasan tersebut sampai 19 SM. Pada saat yang sama, masalah Armenia dan Parthia menjadi fokus diplomasi Romawi. Tiberius, anak tiri Augustus, diperintahkan membawa pasukan ke arah Armenia dan mendukung pengangkatan Tigranes III.[1]
Phraates IV akhirnya menyerahkan kembali panji-panji Romawi dan para tawanan pada 20 SM. Tidak terjadi perang besar antara Augustus dan Phraates. Dalam Res Gestae, Augustus menyatakan bahwa ia “memaksa” Parthia mengembalikan rampasan dan meminta persahabatan Roma, tetapi bahasa tersebut merupakan bagian dari presentasi resmi rezim dan tidak berarti Parthia telah ditaklukkan secara militer.[4]
Panji-panji itu kemudian ditempatkan di Kuil Mars Ultor di Forum Augustus. Tema pengembalian panji muncul pada uang logam, seni monumental, dan karya sastra, sehingga keberhasilan diplomatik tahun 20 SM menjadi salah satu unsur utama propaganda kekuasaan Augustus.[11]
Relief pada kuiras Augustus dari Prima Porta lazim ditafsirkan sebagai representasi penyerahan kembali panji tersebut. Adegan itu tidak sekadar merekam peristiwa diplomatik, tetapi menempatkannya dalam program kosmis dan ideologis yang menghubungkan kemenangan, ketertiban, dan legitimasi pemerintahan Augustus.[11]
Putra-putra Phraates di Roma
Beberapa tahun kemudian Phraates mengirim sejumlah putra dan cucunya ke Roma. Augustus menampilkan peristiwa tersebut sebagai bukti bahwa raja Parthia mencari persahabatannya.[12] Dalam politik dinasti Parthia, pengiriman para pangeran juga membantu Phraates mengurangi potensi pesaing internal. Karena para pangeran hidup di Roma, pemerintah Romawi kemudian memiliki calon-calon takhta yang dapat digunakan dalam diplomasi Parthia.
Hubungan tersebut tidak menciptakan perdamaian permanen dalam arti modern, tetapi membantu mencegah perang besar sepanjang sisa pemerintahan Augustus. Persaingan kedua kekuatan beralih terutama ke Armenia dan persoalan suksesi di kerajaan-kerajaan perbatasan.
Armenia sebagai negara penyangga
Artaxias II dan Tigranes III
Setelah kampanye Antonius, Artaxias II memperoleh takhta Armenia dengan dukungan Parthia. Para lawannya meminta bantuan Augustus dan mendukung saudaranya, Tigranes III, yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Romawi.[13]
Pada 20 SM, sebelum operasi besar Romawi terjadi, Artaxias dibunuh oleh lawan-lawan politiknya. Tiberius kemudian masuk ke Armenia dan secara seremonial menempatkan mahkota pada Tigranes III. Augustus menyatakan dalam Res Gestae bahwa ketika ia dapat menjadikan Armenia sebuah provinsi, ia memilih menyerahkan kerajaan tersebut kepada Tigranes.[4]
Koin Augustan menggunakan formula seperti ARMENIA CAPTA, bahasa yang secara sengaja mengesankan penaklukan meskipun Armenia tidak dianeksasi. Kontras antara kenyataan politik dan bahasa kemenangan memperlihatkan bagaimana Augustus mengubah penyelesaian diplomatik menjadi prestasi imperial.[1]
Krisis suksesi setelah Tigranes III
Tigranes III wafat sekitar 8 SM. Putranya Tigranes IV dan putrinya Erato kemudian memerintah, tetapi hubungan mereka dengan Roma tidak stabil. Augustus berusaha menempatkan penguasa yang dianggap dapat menjaga orientasi pro-Romawi. Beberapa calon, termasuk Artavasdes III, ditempatkan atau didukung oleh Roma, tetapi menghadapi oposisi internal.[1]
Krisis tersebut memperlihatkan keterbatasan strategi kerajaan klien. Armenia memiliki aristokrasi kuat, hubungan dinasti dengan Parthia, dan kepentingan lokal yang tidak selalu sesuai dengan kehendak Roma. Penggantian raja tanpa pendudukan permanen dapat menghasilkan pemberontakan baru.
Krisis Parthia–Armenia 1 SM–4 M
Misi Gaius Caesar
Menjelang akhir abad pertama SM, Tigranes IV kembali memperoleh pengaruh dengan dukungan Parthia. Augustus tidak lagi dapat menggunakan Agrippa, yang telah wafat pada 12 SM, sedangkan Tiberius berada dalam pengasingan sukarela di Rhodes. Ia karena itu menugaskan Gaius Caesar, putra Agrippa dan Julia yang telah diadopsinya sebagai ahli waris, untuk pergi ke Timur.[14]
Gaius memperoleh kewenangan tinggi di wilayah timur dan didampingi pejabat serta penasihat berpengalaman, termasuk Marcus Lollius dan Publius Sulpicius Quirinius. Penugasannya juga berfungsi sebagai pendidikan politik dan militer bagi calon pewaris Augustus.[1]
Pertemuan di Efrat
Raja Parthia Phraates V, yang juga dikenal sebagai Phraataces, menghadapi tekanan Roma mengenai Armenia. Pada 1 M Gaius dan Phraates bertemu di sebuah pulau di Efrat. Velleius Paterculus, yang berada dalam lingkungan Gaius, kemudian menggambarkan pasukan kedua kerajaan berbaris di sisi berlawanan sungai sebelum para pemimpin bertemu.[15]
Hasil diplomasi itu mengurangi kemungkinan perang langsung. Parthia menarik dukungan terbukanya terhadap klaim atas Armenia, sedangkan Roma tidak melancarkan invasi ke wilayah inti Parthia. Kesepakatan tersebut pada praktiknya menegaskan kembali fungsi Efrat sebagai garis pemisah pengaruh kedua kerajaan.[16]
Kesepakatan tidak menetapkan sistem hubungan internasional yang sepenuhnya setara menurut konsep modern. Roma dan Parthia masing-masing mempertahankan ideologi kekuasaan universal, dan kedua pihak terus bersaing untuk memengaruhi Armenia.
Perang di Armenia dan kematian Gaius
Setelah Tigranes IV meninggal, Augustus mendukung Ariobarzanes sebagai raja Armenia. Oposisi lokal menimbulkan pemberontakan. Gaius memasuki Armenia dan mengepung benteng Artagira. Dalam suatu pertemuan dengan pemimpin pemberontak, ia diserang dan terluka parah.[14]
Artagira akhirnya jatuh dan Roma mempertahankan pengaruhnya di Armenia, tetapi kondisi Gaius memburuk. Ia mengundurkan diri dari kegiatan publik dan meninggal di Limyra, Lycia, pada Februari 4 M akibat komplikasi luka tersebut.[14] Kematian Gaius, setelah kematian saudaranya Lucius Caesar pada 2 M, mengubah persoalan suksesi Augustus dan akhirnya membuka jalan bagi pengangkatan kembali Tiberius sebagai calon penerus utama.
Ariobarzanes sendiri tidak lama bertahan. Putranya Artavasdes kemudian naik takhta tetapi juga segera meninggal. Menjelang akhir pemerintahan Augustus, Armenia tetap tidak stabil, menunjukkan bahwa dominasi politik Roma di wilayah tersebut tidak identik dengan kontrol permanen.
Kerajaan Kaukasus dan Laut Hitam
Kebijakan Augustus juga menjangkau kerajaan-kerajaan di Kaukasus dan Laut Hitam. Dalam Res Gestae, Augustus menyatakan bahwa raja-raja Albania, Iberia, dan Media mengirim utusan atau mencari persahabatan Roma.[12] Hubungan itu terutama bersifat diplomatik dan tidak berarti wilayah-wilayah tersebut menjadi provinsi Romawi.
Di Bosporos, Pontos, Kolkhis, dan kawasan pesisir Laut Hitam, Augustus mempertahankan jaringan dinasti lokal yang terkait satu sama lain melalui perkawinan dan patronase Romawi. Dengan cara tersebut, Roma memperoleh sekutu serta pengawasan tidak langsung terhadap jalur maritim tanpa harus menempatkan administrasi provinsi di seluruh kawasan.[6]
Peran Agrippa dan Tiberius
Kebijakan Timur tidak dilaksanakan Augustus seorang diri. Agrippa merupakan mitra politik terpentingnya. Penugasannya ke Timur pada 23–21 SM dan 16–13 SM memperlihatkan bahwa Augustus mempercayakan kawasan itu kepada anggota paling senior dalam lingkaran kekuasaannya. Agrippa menangani urusan kerajaan klien, hubungan dengan komunitas Yunani, dan perkara di Yudea serta wilayah lain.[1]
Tiberius juga memainkan peran penting dalam penyelesaian Armenia tahun 20 SM. Pengalamannya di Timur kemudian menjadi bagian penting dari reputasi militernya. Setelah kematian Gaius dan Lucius, Augustus mengadopsi Tiberius pada 4 M; dengan demikian, tokoh yang sebelumnya terlibat langsung dalam kebijakan Armenia akhirnya menjadi penerus Augustus.[3]
Tentara dan pertahanan timur
Provinsi Syria merupakan basis militer utama Roma di Timur. Beberapa legiun ditempatkan di Syria untuk menghadapi ancaman dari Parthia serta menjaga kestabilan kawasan. Susunan dan lokasi tepat legiun berubah sepanjang pemerintahan Augustus, tetapi legiun yang berhubungan dengan garnisun timur pada periode awal kekaisaran antara lain Legio III Gallica, Legio VI Ferrata, Legio X Fretensis, dan Legio XII Fulminata.[17]
Keberadaan pasukan tersebut memberi daya tekan bagi diplomasi Augustus. Pengembalian panji pada 20 SM terjadi tanpa pertempuran besar, tetapi keputusan Phraates dibuat dalam konteks ancaman militer yang kredibel dan intervensi Romawi di Armenia. Karena itu, dikotomi antara “diplomasi” dan “kekuatan” tidak sepenuhnya menggambarkan kebijakan Augustus; negosiasi biasanya didukung kemampuan untuk menggunakan tentara apabila diperlukan.[1]
Augustus menghindari pendudukan permanen Mesopotamia. Jarak logistik, kondisi geografis, kekuatan kavaleri Parthia, dan kebutuhan pasukan di kawasan lain membuat ekspansi jauh melewati Efrat lebih mahal daripada mempertahankan sistem penyangga di Armenia dan kerajaan-kerajaan klien.
Representasi dan propaganda
Res Gestae
Dalam Res Gestae, Augustus menampilkan kebijakan luar negerinya sebagai rangkaian keberhasilan yang menunjukkan luasnya auctoritas Roma. Ia menulis tentang pengembalian panji Parthia, penyerahan para pangeran, pengangkatan raja Armenia, serta utusan dari India, Skithia, Sarmatia, Albania, Iberia, dan Media.[4]
Teks tersebut merupakan laporan resmi yang disusun untuk membentuk ingatan mengenai pemerintahannya. Karena itu, pernyataan tentang bangsa-bangsa asing yang “memohon” persahabatan atau kerajaan yang “ditaklukkan” perlu dibandingkan dengan sumber lain, termasuk koin, prasasti, karya sejarawan, dan bukti arkeologis.[4]
Uang logam dan monumen
Pemerintah Augustus mengeluarkan koin dengan legenda yang merayakan Armenia dan pemulihan panji. Formula seperti ARMENIA CAPTA atau rujukan kepada signa recepta menyampaikan kemenangan kepada penduduk kekaisaran, bahkan ketika hasilnya dicapai melalui kombinasi diplomasi dan tekanan militer.[11]
Forum Augustus dan Kuil Mars Ultor menjadi pusat simbolis bagi pemulihan kehormatan militer. Panji yang dikembalikan dari Parthia ditempatkan di kuil tersebut. Penggabungan antara Mars sang pembalas, memori Carrhae, dan kemenangan diplomatik membuat penyelesaian tahun 20 SM dapat dipresentasikan sebagai pembalasan atas penghinaan masa Republik.[11]
Puisi Augustan juga menanggapi peristiwa tersebut. Horatius dan Propertius menggambarkan Parthia serta pengembalian panji dalam konteks kemenangan dan kekuasaan Romawi. Sastra ini tidak dapat diperlakukan sebagai laporan faktual langsung, tetapi menunjukkan bagaimana kebijakan Timur menjadi bagian dari budaya politik zaman Augustus.
Hasil dan penilaian
Secara umum, kebijakan Augustus berhasil mencegah perang besar antara Roma dan Parthia selama pemerintahannya. Pengembalian panji tahun 20 SM menghilangkan persoalan simbolis yang telah bertahan sejak Carrhae, sementara pertemuan Gaius dan Phraates V pada 1 M kembali mengurangi ketegangan antarimperium.[1]
Di sebelah barat Efrat, Augustus menciptakan campuran provinsi langsung dan kerajaan klien. Galatia dianeksasi, Yudea kemudian ditempatkan di bawah administrasi Romawi, sedangkan Kapadokia, Commagene, Nabatea, dan beberapa kerajaan lain tetap berada di bawah penguasa lokal sepanjang hidup Augustus.[1]
Namun, Armenia tetap menjadi titik lemah. Pergantian penguasa berulang kali menunjukkan bahwa Roma mampu menempatkan raja tetapi tidak selalu dapat memastikan penerimaan jangka panjang oleh aristokrasi Armenia. Persaingan mengenai Armenia kemudian muncul kembali pada masa Tiberius, Nero, dan kaisar-kaisar berikutnya.[2]
Sejarawan modern juga berhati-hati terhadap gambaran bahwa Augustus menetapkan sebuah “perbatasan tetap” yang tidak berubah. Efrat memang berfungsi sebagai garis strategis penting, tetapi hubungan Romawi–Parthia ditentukan oleh kondisi dinasti dan politik yang dapat berubah. Pada abad berikutnya Roma beberapa kali melancarkan operasi melampaui sungai tersebut, dan di bawah Trajanus bahkan sempat menganeksasi Armenia dan Mesopotamia.[1]
Kebijakan Augustus di Timur dengan demikian lebih tepat dipahami sebagai sistem pengelolaan kekuasaan daripada program penaklukan total: kekuatan militer menyediakan tekanan yang mendukung diplomasi, kerajaan klien mengurangi biaya pemerintahan langsung, dan propaganda mengubah kompromi serta negosiasi menjadi kemenangan imperial.[3][1]
Kronologi
| Tahun | Peristiwa |
|---|---|
| 31 SM | Oktavianus mengalahkan Antonius dan Kleopatra dalam Pertempuran Actium. |
| 30 SM | Mesir ditaklukkan dan pemerintahan Ptolemaik berakhir. |
| 26–25 SM | Ekspedisi Aelius Gallus menuju Arabia Felix. |
| 25 SM | Kerajaan Amyntas dianeksasi dan provinsi Galatia dibentuk. |
| 23–21 SM | Agrippa memperoleh tanggung jawab luas di Timur. |
| 22–19 SM | Augustus berada di kawasan Timur. |
| 20 SM | Phraates IV mengembalikan panji dan tawanan Romawi; Tigranes III ditempatkan di takhta Armenia. |
| 16–13 SM | Agrippa kembali menjalankan tugas di wilayah Timur. |
| sekitar 8 SM | Tigranes III meninggal; perebutan pengaruh di Armenia kembali meningkat. |
| 4 SM | Herodes Agung meninggal; Augustus membagi kerajaannya di antara para ahli waris. |
| 1 SM–1 M | Gaius Caesar dikirim ke Timur; bertemu Phraates V di Efrat. |
| 2–3 M | Gaius melakukan intervensi militer di Armenia dan terluka di Artagira. |
| 4 M | Gaius meninggal di Lycia; Tiberius kemudian diadopsi Augustus. |
| 6 M | Herodes Arkhelaus diberhentikan; Yudea ditempatkan di bawah pemerintahan langsung Romawi. |
| 14 M | Augustus meninggal; struktur dasar hubungan timur diwariskan kepada Tiberius. |
Lihat pula
- Augustus
- Kekaisaran Parthia
- Hubungan Romawi–Parthia
- Perang Romawi–Parthia
- Kerajaan Armenia
- Tigranes III
- Gaius Caesar
- Marcus Vipsanius Agrippa
- Tiberius
- Kuil Mars Ultor
- Res Gestae Divi Augusti
Referensi
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s Gruen, Erich S. (1996). "The expansion of the empire under Augustus". Dalam Bowman, Alan K.; Champlin, Edward; Lintott, Andrew (ed.). The Cambridge Ancient History. Vol. 10 (Edisi 2). Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 147–197. doi:10.1017/CHOL9780521264303.005. ISBN 9780521264303.
{{cite book}}: - ^ a b c d e f Sherwin-White, A. N. (1984). Roman Foreign Policy in the East, 168 B.C. to A.D. 1. London: Duckworth. ISBN 9780715616826.
- ^ a b c d Eck, Werner (2007). The Age of Augustus (Edisi 2). Malden, Massachusetts: Blackwell. ISBN 9781405151498.
- ^ a b c d e f g Cooley, Alison E. (2009). Res Gestae Divi Augusti: Text, Translation, and Commentary. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 9780521841528.
- ^ Goldsworthy, Adrian (2006). Caesar: Life of a Colossus. New Haven: Yale University Press. hlm. 476–477. ISBN 9780300126891.
- ^ a b Braund, David C. (1984). Rome and the Friendly King: The Character of the Client Kingship. London: Croom Helm. ISBN 9780709906841.
- ^ Yosefus. Antiquitates Iudaicae (dalam bahasa Yunani Kuno). 17.188–355.
- ^ Richardson, Peter (1996). Herod: King of the Jews and Friend of the Romans. University of South Carolina Press. hlm. 294–298. ISBN 9781570031366.
- ^ Bowersock, Glen W. (1983). Roman Arabia. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. ISBN 9780674777552.
- ^ Strabo. Geographica (dalam bahasa Yunani Kuno). 16.4.22–24.
- ^ a b c d Zanker, Paul (1988). The Power of Images in the Age of Augustus. Ann Arbor: University of Michigan Press. hlm. 183–192. ISBN 9780472081240.
- ^ a b "Augustus, Res Gestae" (dalam bahasa Inggris). Livius.org. Diakses tanggal 8 Agustus 2026.
- ^ "Tigranes III" (dalam bahasa Inggris). Livius.org. Diakses tanggal 8 Agustus 2026.
- ^ a b c "Gaius Caesar" (dalam bahasa Inggris). Livius.org. Diakses tanggal 8 Agustus 2026.
- ^ Velleius Paterculus. Historiae Romanae (dalam bahasa Latin). 2.101.
- ^ "Phraataces" (dalam bahasa Inggris). Livius.org. Diakses tanggal 8 Agustus 2026.
- ^ Keppie, Lawrence (1984). The Making of the Roman Army: From Republic to Empire. London: B. T. Batsford. ISBN 9780713436594.
Bacaan lebih lanjut
- Cooley, Alison E. (2009). Res Gestae Divi Augusti: Text, Translation, and Commentary. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 9780521841528.
- Goldsworthy, Adrian (2014). Augustus: First Emperor of Rome. New Haven: Yale University Press. ISBN 9780300178722.
- Gruen, Erich S. (1996). "The expansion of the empire under Augustus". Dalam Bowman, Alan K.; Champlin, Edward; Lintott, Andrew (ed.). The Cambridge Ancient History. Vol. 10 (Edisi 2). Cambridge University Press. hlm. 147–197. ISBN 9780521264303.
{{cite book}}: - Sherwin-White, A. N. (1984). Roman Foreign Policy in the East, 168 B.C. to A.D. 1. London: Duckworth. ISBN 9780715616826.
- Zanker, Paul (1988). The Power of Images in the Age of Augustus. Ann Arbor: University of Michigan Press. ISBN 9780472081240.
Pranala luar
- Res Gestae Divi Augusti di Livius.org
- Roman History karya Cassius Dio di LacusCurtius
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.