Siam Nikāya

Siam (juga Siyamopali dan Siyam) Nikāya adalah sebuah ordo sangha dalam Buddhisme Sri Lanka, yang didirikan oleh Upali Thera dari Siam, atas inisiatif yang diambil oleh Weliwita Sri Saranankara Thera untuk menghidupkan kembali Buddhisme di Sri Lanka pada pertengahan abad ke-18. Pada awalnya, ordo ini terutama berlokasi di sekitar kota Kandy, tetapi sekarang telah menyebar ke bagian lain negara tersebut juga. Dinamakan 'Siam' karena berasal dari Thailand (sebelumnya dikenal di Sri Lanka sebagai "Siyam Deshaya" dan Eropa sebagai "Kerajaan Siam"). Siam Nikāya memiliki dua divisi utama (Malwatta dan Asgiriya) dan lima divisi lainnya dalam dua unit utama ini. Cabang Malwatta dan Asgiriya memiliki dua Maha Nayaka Thera atau Kepala Biku yang terpisah.

Sejarah

Atas prakarsa Weliwita Sri Saranankara Thera (1698–1778), biku Thailand bernama Upali Thera (bedakan dari Upāli yang sezaman Buddha) mengunjungi Kerajaan Kandy pada tahun 1753 di masa pemerintahan Kirti Sri Rajasinha dari Kandy (1747–1782), dan di sana melakukan upasampadā untuk sekelompok warga Kandy. Sebelumnya, ordo-ordo Buddhis di Sri Lanka telah punah tiga kali selama lima ratus tahun sebelumnya dan didirikan kembali pada masa pemerintahan Vimala Dharma Suriya I (1591–1604) dan Vimala Dharma Suriya II (1687–1707). Pemulihan tersebut tidak bertahan lama.[butuh rujukan]

Meskipun hagiografi yang ditulis di Sri Lanka menghindari masalah ini, pendirian Siam Nikaya terkait erat dengan politik aristokrat dan kasta pada masanya, termasuk upaya kudeta yang terdokumentasi dengan sangat baik, karena interaksi antara penjajah Belanda dan raja Kandy pada saat itu:

Komplotan tahun 1760... terjadi pada masa pemerintahan Kirti Sri Rajasimha dan tak lama setelah pembentukan resmi Siyam Nikaya pada tahun 1753. Satu kelompok dari kalangan bangsawan setempat bersekongkol untuk menggulingkan raja dan menempatkan seorang pangeran Siam di atas takhta. Para pemimpinnya disebut-sebut tidak hanya mencakup para administrator awam utama... Namun, juga beberapa biku Siyam Nikaya terkemuka. Valivita Saranamkara, pendiri Siyam Nikaya, dan murid utamanya... disebut sebagai bagian dari para konspirator. Komplotan itu terbongkar, pangeran Siam itu dideportasi (dengan bantuan setengah hati dari pihak Belanda), dan para administrator awam dieksekusi.[1]

Peran Upali Thera

Upali Thera meyakini bahwa sangha yang sudah eksis sebelumnya di Kandy sedang mengalami kerusakan, seperti adanya praktik astrologi nonbuddhis, dan upayanya ditujukan untuk "memurnikan" praktik-praktik ordo sangha tersebut. Berkat upaya Upali Thera pula, Kandy Esala Perahera diorganisasi ulang menjadi bentuknya yang sekarang. Setiap tahun di Kandy, diadakan perayaan yang mencakup parade dengan fokus utama pada relik gigi Buddha. Prosesi ini awalnya difokuskan untuk menghormati dewa-dewa Hindu, terutama yang dibaurkan dalam Buddhisme Sri Lanka. Upali Thera meyakini bahwa prosesi Hindu semacam itu tidak pantas dilakukan di negara Buddhis, dan pengaruhnya menyebabkan sang raja menyatakan bahwa "Mulai sekarang, para dewa dan manusia harus mengikuti Sang Buddha."[butuh rujukan]

Kebangkitan ordo

Pada pertengahan abad ke-18, upasampadā (penahbisan sebagai biku, berbeda dari samanera atau penahbisan pemula) kembali punah di Sri Lanka. Sebelumnya, ordo-ordo Buddhis Sri Lanka telah punah tiga kali selama lima ratus tahun sebelumnya dan didirikan kembali pada masa pemerintahan Vimala Dharma Suriya I (1591–1604) dan Vimala Dharma Suriya II (1687–1707). Pemulihan tersebut tidak berlangsung lama. Atas prakarsa Weliwita Sri Saranankara Thera (1698–1778), biku Thailand Upali Thera mengunjungi Kandy pada masa pemerintahan Raja Kirti Sri Rajasinghe (1747–1782) dan sekali lagi mendirikan kembali ordo ini di Sri Lanka pada tahun 1753. Ordo ini disebut Siam Nikāya, yang diambil dari nama "Kerajaan Siam".

Penahbisan berkasta

Raja Kirti Sri Rajasinha menunjuk Weliwita Sri Saranankara Thera sebagai Saṅgharāja Sri Lanka setelah mendirikan kembali upasampadā.

Pada tahun 1764, hanya satu dekade setelah pembentukan kembali ordo ini di Sri Lanka oleh Upali Thera, sekelompok biku dalam Siam Nikāya yang baru dibentuk bersekongkol dan berhasil membatasi penahbisan Nikāya yang lebih tinggi. Penahbisan hanya diizinkan mereka yang berasal dari kasta Radala dan Govigama, dengan Sitinamaluwe Dhammajoti (Durawa) sebagai biku non-Govigama terakhir yang menerima upasampadā. Ini adalah periode ketika Vinaya (aturan monastik Buddhis) hampir ditinggalkan dan beberapa anggota sangha di Kerajaan Kandy memiliki tanah pribadi, memiliki istri dan anak-anak, tinggal di rumah pribadi, dan disebut para Gaṇinnānse (tokoh semi-monastik atau praktisi awam yang hidup seperti biku, tetapi bukan biku yang sah). Ini adalah periode ketika kaum bangsawan tradisional Kerajaan Kandy dihancurkan oleh perang yang terus-menerus dengan para koloni Belanda di Provinsi Maritim. Di provinsi-provinsi maritim, tatanan baru juga menggantikan yang lama. Mandarampura Puvata, sebuah teks dari periode Kandy, menceritakan perubahan radikal yang disebutkan di atas pada ordo sangha, dan menunjukkan bahwa hal itu bukanlah keputusan bulat dari badan sangha. Dikatakan bahwa tiga puluh dua anggota 'senior' sangha yang menentang perubahan ini dibuang ke Jaffna oleh para pemimpin reformasi.

Eksklusivitas kasta Govigama dalam keanggotaan sangha yang diperoleh pada tahun 1764 segera ditentang oleh kasta-kasta lain yang, tanpa perlindungan Raja Kandy atau Inggris, mengadakan upacara upasampadā mereka sendiri di Vihara Totagamuwa pada tahun 1772. Upacara penahbisan lainnya diadakan di Tangalle pada tahun 1798. Tak satu pun dari upacara-upacara ini disetujui oleh Siam Nikāya yang mengklaim bahwa praktik tersebut tidak sesuai dengan aturan Vinaya. Superioritas yang diberikan kepada kasta Govigama dan kasta-kasta wilayah tengah lainnya dijustifikasi karena kasta-kasta pesisir seperti Karava, Durava, dan Salagama berasal dari kalangan Dravida India Selatan pasca-abad ke-13, dan bukan berasal dari kalangan Sinhala. Ketiga kasta pesisir asal India Selatan tersebut juga sangat terlibat dengan Gereja Katolik Roma, dengan kasta Karava sebagai kekuatan Katolik terbesar di negara tersebut.

Tempat-tempat ibadah Buddhis utama di Sri Lanka, termasuk Vihara Relik Gigi, Puncak Adam, Kelaniya, dan lebih dari 6.000 tempat ibadah lainnya sempat berada di bawah administrasi Siam Nikāya. Sejak dahulu kala, relik gigi dari Buddha Gotama telah dianggap sebagai simbol penguasa Sri Lanka. Seiring berjalannya waktu, pusat kerajaan dipindahkan dari Anuradhapura ke Polonnaruwa, lalu ke Dambadeniya dan kota-kota lainnya. Pada setiap perubahan ibu kota, sebuah istana baru dibangun untuk mengabadikan relik tersebut. Akhirnya, relik itu dibawa ke Kandy, tempatnya saat ini, di Vihara Gigi. Sebagai ordo tertua di Sri Lanka, Siam Nikāya (didirikan 19 Juli 1753) telah menjadi penjaga relik gigi, sejak didirikan pada masa Kerajaan Kandy. Siam Nikāya secara tradisional hanya memberikan penahbisan yang lebih tinggi kepada kasta Radala dan Govigama, dengan Sitinamaluwe Dhammajoti (Durawa) sebagai biku non-Govigama terakhir yang menerima penahbisan. Konspirasi ini berkobar di dalam Siam Nikāya itu sendiri, dan Moratota Dhammakkandha, Mahanayaka (Kepala Biku) dari Kandy, dengan bantuan dua raja Telugu dari Kandy terakhir, mengorbankan Mahanayaka Karatota Dhammaranma dari dataran rendah dengan menyita Sri Pada dan desa-desa pengikutnya dari persaudaraan dataran rendah, dan mengangkat Mahanayaka saingan.[2] Saat ini, terdapat pengecualian seperti sekte Rangiri Dambulla, sebagai subordo Siam Nikāya yang menerima semua komunitas antarkasta.

Jumlah wihara dan biku

(Perkiraan dari Kementerian Buddha Sasana, Sri Lanka)[perlu rujukan lengkap]

Wihara Jumlah bangunan Jumlah biku
Malvatu Parshavaya (termasuk Sri Rohana Parshavaya) 4.923 14.944
Asgiri Parshavaya 565 1.383
Rangiri Dambulu Parshavaya Tidak diketahui 200
Mahavihara Vansika Vanavasa Nikaya 71 889
Kotte Sri Kalyani Saamagri Nikaya 85 230
Uve Siyamopali 22 78
Total 6018 18.780

Lihat juga

Referensi

  1. ^ Anne M. Blackburn, 2001, Buddhist learning and textual practice in eighteenth-century Lankan monastic culture, hlm. 34
  2. ^ Malalgoda, Kitsiri (1976). Buddhism in Sinhalese society , 1750-1900: a study of religious revival and change / Kitsiri Malalgoda. Berkeley Los Angeles London: University of California press. hlm. 84-87 & 91. ISBN 978-0-520-02873-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya