Suku Seasea

Seasea
Pau Seasea[1]
Jumlah populasi
1.655[1]
Daerah dengan populasi signifikan
Indonesia (Sulawesi Tengah)
Bahasa
Banggai (dialek Seasea), Indonesia
Agama
Kristen Protestan (mayoritas), Islam[1]
Kelompok etnik terkait
Banggai

Suku Seasea (Banggai: Pau Seasea) adalah kelompok etnis yang tinggal di daerah pedalaman dataran tinggi dan pegunungan Pulau Peleng di Kabupaten Banggai Kepulauan. Mereka adalah sub-suku Banggai, suku yang dominan di Banggai Kepulauan dan Banggai Laut.[2]

Sejarah

Suku Seasea adalah masyarakat adat di Lipu Tanga Sesea dan merupakan penduduk asli Pulau Peleng, sebagian besar wilayahnya berada di pegunungan atau di tengah Pulau Peleng, Kabupaten Banggai Kepulauan.[3] Wilayah adat suku ini telah ditetapkan oleh Bupati Banggai Kepulauan sebagai lokasi pembangunan Tugu Seasea, tepatnya di desa Osan sebagai bagian dari sub-suku Banggai.[1]

Menurut para pemimpin adat Seasea, wilayah mereka yang berada di pegunungan terpisah dari wilayah pesisir. Hal ini terjadi karena pada jaman dahulu kala, terdapat suatu kesepakatan antara penduduk yang tinggal di daerah pegunungan dengan penduduk daerah pesisir. Perjanjian ini dibuktikan dengan adanya tempat yang bernama Labotan Toutobunan, yaitu kuburan seorang anak yang dibelah dua dan dikuburkan di dua tempat yang berbeda.[1]

Lebih jauh lagi, dalam cerita rakyat Seasea, talas merupakan makanan pokok bagi masyarakat mereka. Konon pula talas merupakan tanaman roh. Menurut mitos yang mereka pahami, tanaman talas diciptakan bersamaan dengan terciptanya manusia pertama di wilayah adat Seasea. Nenek moyang mereka kemudian memindahkan talas ini ke ladang dan menjadi tanaman pokok masyarakat Seasea. Oleh karena itu, bagi masyarakat ini, talas merupakan tanaman suci.[1]

Selain itu menurut penjelasan Tonggol (ketua adat) tentang Legenda manusia pertama Seasea. Konon, orang pertama yang mendiami daerah tersebut bernama Boloki Seasea. Menurut kepercayaan masyarakat adat di Lipu Tanga Sesea, Boloki Seasea adalah seorang wanita yang dapat berubah wujud menjadi seekor kucing. Maka ia diberi gelar Tomundo Sasa, tomundo berarti 'raja' dan sasa berarti 'kucing'. Boloki Seasea ini kemudian memiliki tiga orang anak. Ia kemudian menjadi cikal bakal generasi penerus masyarakat Seasea, sehingga masyarakat di Lipu Tanga Sesea dikenal pula dengan sebutan Pau Seasea yang artinya 'keturunan Seasea'.[1]

Selain itu, Boloki Seasea tidak memiliki pemakaman di Lipu Tanga Sesea. Hal ini terjadi karena Boloki Seasea pernah menghilang di salah satu puncak gunung di sebelah utara wilayah adat Lipu Tanga Sesea. Itulah sebabnya masyarakat di Lipu Tanga Sesea percaya bahwa makamnya tidak dapat ditemukan di daerah mereka. Dikatakan bahwa, "Boloki Seasea tidak mati seperti manusia biasa, tetapi ia menghilang".[1]

Selain itu, ada pula yang menyebutkan bahwa pada awal masa Masehi, terdapat salah satu dari delapan raja Kerajaan Banggai saat itu yang bernama Tomunda Sasa atau dijuluki Mbumbu Patola. Julukannya berasal dari dua kata, yakni mbumbu berarti 'raja' dan patola berarti 'kucing'. Artinya legenda Boloki Seasea memiliki kemiripan sejarah dengan Kerajaan Banggai kuno.[1]

Menurut masyarakat Seasea, istilah lipu merupakan unit terkecil di tingkat desa saat ini. Lipu sendiri merupakan istilah yang diwariskan dari Kerajaan Banggai dahulu. Setiap lipu dipimpin oleh seorang pejabat adat yang disebut tonggol. Tonggol diakui sebagai pemimpin masyarakat dalam struktur adat dan masih diakui hingga saat ini oleh masyarakat Seasea. Sebagai bagian penting dari Kerajaan Banggai, tonggol juga merupakan bagian dari perangkat kerajaan pada tingkat paling bawah atau setara dengan kepala desa.[1]

Lebih jauh lagi, mereka percaya bahwa Tinassu merupakan desa pertama mereka dan seiring waktu berkembang menjadi 4 pemukiman, yaitu Tinassu, Butabonggong, Batani, dan Tombila. Namun pada masa penjajahan Belanda, mereka perlahan-lahan dipindahkan ke pemukiman yang ada saat ini dan hingga kini masih menganut Kekristenan, agama monoteistik yang sebelumnya dibawa oleh misionaris Belanda.[1]

Sementara itu, pada masa pemerintahan kolonial Belanda, melalui kebijakan-kebijakannya, ketertiban sosial pun terlaksana. Maka, penduduk Tinassu direlokasi ke Kambung Lapetak. Penduduk Tombilak direlokasi ke Kambung Teteek, penduduk Batani direlokasi ke Kambung Lelak. Sementara itu, penduduk Butabonggong direlokasi ke Kambung Tallak.[1]

Setelah masa kemerdekaan, sekitar tahun 1960-an, wilayah adat Lipu Tanga Sesea berada di bawah kewenangan kecamatan Bulagi, hingga statusnya berubah dari kampung menjadi desa Osan. Namun, seiring berjalannya waktu sejak tahun 1990-an, desa Osan telah dimekarkan lagi wilayahnya menjadi desa-desa definitif dan mengelola desa-desanya sendiri, termasuk Lemalu, Momotan, Tatarandang, dan Labotankandi. Berdasarkan letak pemukimannya, masyarakat adat di Lipu Tanga Sesea kini meliputi desa Osan, Lemelu, Momotan, Tatarandang, Alani, dan Palabatu Palabatu II.[1]

Saat ini, sebagian besar kebutuhan ekonomi sehari-hari masyarakat adat Sesesa bertumpu pada hasil perkebunan, peternakan, dan kehutanan. Kebun mereka umumnya ditanami ubi jalar, talas, dan kelapa. Komoditas ekonomi utama mereka adalah umbi-umbian, kelapa, cengkeh, pala, dan kemiri. Sementara itu, peternakan memelihara sapi dan babi. Hasil hutan yang dipanen termasuk madu. Sementara itu, kondisi geografis dengan bentang alam karst dan batu kapur kurang cocok untuk menanam padi. Oleh karena itu, kebutuhan pangan seperti beras, tepung, dan kebutuhan rumah tangga lainnya berasal dari daratan utama Sulawesi.[1]

Populasi dan distribusi

Populasi suku Seasea berjumlah 1.655 jiwa, terdiri dari 842 laki-laki dan 813 perempuan dalam 445 keluarga. Permukiman mereka meliputi desa Osan, Lemelu, Momotan, Tatarandang, Alani, dan Palabatu II yang kesemuanya terletak di dataran tinggi pedalaman.[1]

Saat ini, suku Seasea sudah banyak yang turun dan tinggal di daerah lembah dan dataran rendah bersama dengan suku Banggai pada umumnya. Misalnya, di perumahan-perumahan di desa-desa, mereka tinggal berdampingan dengan para pendatang. Banyak dari mereka bahkan telah meninggalkan Pulau Peleng.[4]

Gaya hidup

Di pegunungan, di Pulau Peleng, suku Seasea hidup dengan bercocok tanam. Mereka mengonsumsi umbi-umbian, terutama ubi banggai, ubi lokal yang berukuran sangat besar. Mereka juga berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar barter yang diadakan seminggu sekali.[5]

Bahasa

Seperti kebanyakan orang Banggai, mereka berbicara bahasa Banggai, yang dikenal sebagai dialek Seasea. Namun, bahasa ibu mereka terancam punah, dan banyak anak-anak bahkan tidak dapat berbicara bahasa tersebut dan beralih ke bahasa Indonesia.[6]

Budaya

Alat musik

Masyarakat Seasea memiliki alat musik tradisional yang serupa dengan gong, yaitu batong. Batong biasanya digunakan untuk mengiringi tarian tradisional Seasea, seperti tari baya, tari balatidak, dan lain sebagainya.[7] Selain itu, ada pula tilalu yang bentuknya menyerupai seruling. Terdapat juga beberapa alat musik tradisional Seasea yang tidak tahan lama, di mana alat tersebut tidak dapat digunakan lagi setelah digunakan dalam jangka waktu tertentu.[6]

Tarian tradisional

Beberapa tarian tradisional Seasea dapat dilihat di YouTube. Tarian-tarian ini biasanya ditampilkan pada acara-acara penting setempat, seperti penyambutan gubernur dan pejabat lainnya. Banyak stasiun televisi lokal juga datang untuk mendokumentasikannya.[6]

Sastra lisan

Sastra lisan dalam tradisi suku Seasea ada beberapa jenis, berupa puisi dan biasanya dinyanyikan dalam bentuk lagu, misalnya baode dan paupe. Baode merupakan lirik yang berisi sejarah dan asal-usul Seasea, sedangkan paupe merupakan lirik yang dinyanyikan untuk mengungkapkan makna seperti ungkapan rasa syukur atau berdoa.[8]

Lihat juga

Referensi

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o "Lipu Tanga Sesea". brwa.or.id. Badan Registrasi Wilayah Adat. Diakses tanggal 17 November 2025.
  2. ^ Connect, Chikal (19 Maret 2025). "Mengenal Lebih Dekat Babasalan, Suku Asli Kabupaten Banggai". banggairaya.id. Banggai Raya. Diakses tanggal 17 November 2025.
  3. ^ Yabangka, Roynaldo (11 Agustus 2023). "Festival Sea-Sea, Jaga Budaya Warisan Leluhur dan Kembangkan Wisata di Bangkep". banggaikep.go.id. Pemerintahan Kabupaten Banggai Kepulauan. Diakses tanggal 17 November 2025.
  4. ^ Pasaribu (2018), hlm. 31.
  5. ^ Pasaribu (2018), hlm. 28–29.
  6. ^ a b c Pasaribu (2018), hlm. 29.
  7. ^ Porodisa, Amos (3 Januari 2023). "Musik Tradisional Suku Seasea Warnai Perayaan Natal dan Sambut Tahun Baru 2023". banggaikep.go.id. Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan. Diakses tanggal 17 November 2025.
  8. ^ Pasaribu (2018), hlm. 29–30.

Daftar pustaka

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Kembali kehalaman sebelumnya