Gerakan Perang Salib
| Gerakan Perang Salib |
|---|
| Asal mula |
| Teori perang yang sah • Penitensi • Ziarah Kristen • Reforma Gregorian |
| Jenis |
| Perang Salib • Perang Salib Rakyat • Perang Salib Iberia • Perang Salib Utara• Perang Salib melawan sesama Kristen |
| Teori dan Praktik |
| Indulgensi • Bula Perang Salib • Dakwah • Kaul • Tata perang • Ordo militer • Keuangan • Kritik |
| Negara |
| Negara-negara Tentara Salib • Siprus • Yunani jajahan Peranggi • Negara Ordo Kesatria Jerman • Rodos • Malta |
| Kawan dan Lawan |
| Orang Bizantin • Orang Armenia • Umat Yakubi • Orang Yahudi |
Gerakan Perang Salib adalah gerakan religius, politis, dan militer besar-besaran pada Abad Pertengahan, yang lazimnya dianggap bermula pada penyelenggaraan Konsili Clermont tahun 1095, ketika Paus Urbanus II mencanangkan pelaksanaan ekspedisi bersenjata untuk menolong umat Kristen Timur yang hidup di bawah pemerintahan Muslim. Ekspedisi bersenjata itu dikemas Sri Paus sebagai ziarah penyilih dosa. Pada masa itu, kewibawaan Sri Paus sudah meningkat lewat pembenahan tatanan hidup bergereja, dan ketegangan dengan para penguasa sekuler mendorong tumbuhnya gagasan perang suci, yang memadukan teori perang yang sah dari zaman klasik, preseden-preseden Alkitabiah, dan ajaran Agustinus tentang kekerasan yang dapat dibenarkan. Ziarah bersenjata, yang diselaraskan dengan ajaran agama Katolik yang kristosentris dan militan pada masa itu, menyalakan semangat juang di mana-mana. Ekspansi bangsa Eropa juga kian dimungkinkan oleh pertumbuhan ekonomi, surutnya kekuatan-kekuatan lama Laut Tengah, dan tidak bersatunya umat Islam. Faktor-faktor tersebut membuka peluang bagi tentara salib untuk melakukan perebutan wilayah dan mendirikan empat negara di kawasan Levans. Perjuangan untuk mempertahankan kedaulatan negara-negara ini menginspirasi perang-perang salib berikutnya. Kepausan juga melancarkan perang salib yang membidik sasaran-sasaran lain, yaitu orang-orang Muslim di jazirah Iberia, orang-orang pagan di kawasan Baltik, dan pihak-pihak lain yang menentang kewibawaan Sri Paus.
Meskipun mengedepankan keikutsertaan orang-orang dari kalangan elite kesatria, yang digugah semangat juangnya dengan cara mengungkit nilai-nilai keutamaan kesatria yang menjadi pedoman hidup mereka, gerakan ini bergantung kepada dukungan luas dari kaum rohaniwan, masyarakat perkotaan, dan rakyat tani. Sekalipun dicegah, kaum wanita pun ikut terseret arus gerakan ini, baik sebagai partisipan, sebagai pengemban tugas dan tanggung jawab kaum pria yang menjadi tentara salib dan berangkat ke Tanah Suci, maupun sebagai korban. Banyak orang menjadi tentara salib lantaran ingin mendapatkan indulgensi (penghapusan siksa dosa), tetapi keuntungan materi juga menjadi salah satu daya pikat. Biasanya perang salib dimaklumkan melalui bula Sri Paus, dan para partisipan mengikrarkan kaul ikut berjuang dengan cara "memikul salib", yang dilambangkan melalui tindakan menjahitkan potongan kain berbentuk salib pada pakaian mereka. Kegagalan menunaikan kaul ini dapat membuat seorang partisipan diekskomunikasi. Gelora semangat juang yang berulang kali memuncak dari waktu ke waktu memunculkan "perang salib rakyat" yang dilancarkan tanpa izin paus.
Perang-perang yang dilancarkan atas izin paus memunculkan pranata-pranata dan ideologi-ideologi yang khas. Kendati mula-mula pendanaannya acak-acakan, kemudian hari perang-perang ini didanai dengan cara yang lebih tertata melalui pengenaan pajak kepada rohaniwan dan penjualan indulgensi. Pasukan inti tentara salib beranggotakan kesatria-kesatria aswasada berpersenjataan berat, didukung pasukan infanteri, laskar-laskar pribumi, dan bantuan angkatan laut dari kota-kota maritim. Tentara salib mengukuhkan kekuasaannya dengan cara membangun puri-puri yang kuat, dan penyatuan nilai-nilai keutamaan kesatria dengan nilai-nilai luhur kerahiban menghasilkan ordo-ordo militer. Gerakan ini membuat dunia Kristen Barat bertambah luas dan menciptakan negara-negara perbatasan yang baru, beberapa di antaranya bertahan hingga permulaan zaman modern. Perang salib menyuburkan pertukaran budaya dan masih membekas dalam seni rupa dan seni sastra Eropa. Sekalipun meredup akibat Reformasi Protestan, "liga-liga suci" anti-Usmani terus memelihara semangat gerakan perang salib hingga abad ke-18.
Latar belakang
Pada umumnya Perang salib didefinisikan sebagai perang agama Kristen yang dikobarkan oleh para pejuang Eropa Barat pada Abad Pertengahan demi merebut Yerusalem.[1][2] Kampanye-kampanye militer yang berkaitan dengannya berbeda-beda dari segi luas jangkauan, rentang waktu, dan tujuan yang memotivasi.[3][4] Gerakan perang salib yang lebih luas menumbuhkan pranata-pranata dan ideologi-ideologi khas yang membentuk tatanan kehidupan bermasyarakat di Eropa Katolik maupun di kawasan-kawasan sekitarnya.[5][6]
Teori-teori perang yang sah dari zaman klasik
Pada zaman klasik, filsuf-filsuf Yunani dan ahli-ahli hukum Romawi merumuskan teori-teori perang yang sah, yang kelak memengaruhi teologi perang salib. Aristoteles menitikberatkan kebutuhan akan akhir yang sah, dengan menegaskan bahwa "perang semestinya dilakukan demi perdamaian". Hukum Romawi mengharuskan adanya sebab yang sah, dan berpendirian bahwa hanya pemerintah yang sah sajalah yang berhak memaklumkan perang. Bela negara, pemulihan hak, dan penghukuman dianggap sebagai alasan-alasan yang dapat diterima.[7]
Meskipun Alkitab—susastra pokok agama Kristen—menyajikan pandangan-pandangan yang saling bertentangan mengenai kekerasan,[keterangan 1][9] kristenisasi Kekaisaran Romawi pada abad ke-4 menuntun kepada pengembangan teori perang yang sah versi Kristen. Uskup Ambrosius adalah teolog pertama yang menyamakan musuh-musuh negara Kristen dengan musuh-musuh Gereja.[10][11]
Pada tahun 395, Kekaisaran Romawi terbagi permanen menjadi belahan timur dan belahan barat.[12] Peristiwa penyerbuan dan penjarahan kota Roma, yang terjadi 15 tahun kemudian, mendorong Agustinus—anak didik Ambrosius—untuk menulis risalah Kota Allah,[13] yang memaparkan pandangannya bahwa larangan membunuh yang termaktub di dalam Alkitab tidak berlaku atas perang-perang yang dilancarkan atas izin Allah.[14] Agustinus berpendirian bahwa perang yang sah haruslah dimaklumkan oleh pemerintah yang sah, dikobarkan dengan alasan yang sah apabila upaya damai sudah menemui jalan buntu, dan dilaksanakan secara terkendali dengan didasari niat baik.[10][15] Renungan-renungannya nyaris terlupakan sesudah Kekaisaran Romawi Barat runtuh pada tahun 476.[10][16]
Tiga tatanan peradaban
Di atas puing-puing Kekaisaran Romawi Barat, tumbuh kerajaan-kerajaan Kristen baru, yang rata-rata dipimpin oleh seorang panglima perang Jermani. Mahir bertempur dan setia kawan adalah nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh kaum bangsawan di kerajaan-kerajaan baru itu. Kaum rohaniwan kerap menyanjung-nyanjung perilaku kekerasan mereka demi mendapatkan perlindungan, sekalipun Gereja tetap mengecap pembunuhan sebagai perbuatan dosa, sehingga pelakunya harus menjalankan laku tobat—biasanya puasa[17]—untuk mendapatkan pengampunan dosa.[18]
Sementara itu, belahan timur Kekaisaran Romawi masih terus bertahan, kendati banyak bagian dari wilayah kedaulatannya, termasuk Yerusalem, sudah jatuh ke tangan Khilafah Islamiyah yang sedang gencar melebarkan sayap pada pertengahan abad ke-7.[19][20] Alquran, susastra tersuci agama Islam, menyerukan jihad, yakni perjuangan untuk menyiarkan dan membela agama.[keterangan 2][22][23] Pada awal abad ke-8, tentara Muslim memasuki Eropa dan menaklukkan sebagian besar jazirah Iberia. Umat Kristen yang hidup di bawah pemerintahan Muslim harus membayar pajak khusus yang disebut jizyah.[24] Begitu perang-perang penaklukan mereda, muncullah tiga tatanan peradaban, yaitu Eropa Barat yang terfragmentasi, Romawi Timur yang sedang melemah, dan dunia Islam yang kian menanjak.[25]
Perang suci dan ketakwaan
Perlawanan terhadap ekspansi Muslim lambat laun memunculkan sebuah negara kecil di barat laut jazirah Iberia, yaitu Kerajaan Asturias. Seiring bergulirnya waktu, perlawanan ini tumbuh menjadi sebuah gerakan ekspansi, yang dianggap oleh masyarakat setempat sebagai gerakan yang diizinkan Allah. Invasi berulang kelompok-kelompok non-Kristen ke Eropa Barat pada abad ke-9 menghidupkan kembali gagasan perang suci,[15] yaitu perang yang dilancarkan atas izin seorang pemimpin spiritual, untuk mencapai tujuan-tujuan yang bersifat religius, dan berganjaran keselamatan.[26] Paus Leo IV adalah paus pertama yang menjanjikan ganjaran keselamatan bagi orang-orang yang berjuang membela wilayah kedaulatan paus pada tahun 846.[27][28]
Ketika perang mulai terjadi terus-menerus, muncul golongan militer baru yang beranggotakan petarung-petarung berkuda, dan dikenal dengan sebutan milites di dalam karya-karya tulis sezaman. Mereka adalah orang-orang yang terampil menggunakan berbagai jenis senjata, misalnya ganjur yang berat.[29][30] Supaya perilaku kekerasan mereka tidak kebablasan, para petinggi Gereja mencetuskan gerakan Damai Allah.[31][32] Ironisnya, usaha-usaha untuk membatasi pertumpahan darah justru membuat Gereja menjadi termiliterisasi, karena para uskup berlomba-lomba membentuk angkatan perang dalam rangka menegakkan Damai Allah.[33]

Saat pemerintah pusat melemah, orang-orang kuat di daerah-daerah merebut kendali atas paroki-paroki maupun biara-biara, dan acap kali mengangkat rohaniwan yang kurang layak. Umat beriman merasa khawatir kalau-kalau pengangkatan yang melangkahi kewenangan Gereja itu akan membuat sakramen-sakramen yang dilayankan oleh si rohaniwan menjadi tidak sah.[34][35] Kekhawatiran ini membuat mereka bertambah cemas memikirkan azab akhirat.[17][36] Orang yang berbuat dosa diharapkan mengakui dosanya dan menjalankan laku tobat untuk dirukunkan kembali dengan Gereja. Lantaran laku tobat bisa sangat memberatkan, para imam mulai menawarkan indulgensi, yaitu pengalihan laku tobat ke dalam bentuk tindakan seperti bersedekah atau berziarah.[37][38] Ziarah laku tobat ke Palestina, yang dikenal sebagai Tanah Suci, dinilai istimewa lantaran keterkaitan erat kawasan itu dengan karya pelayanan Yesus,[39][40] juga lantaran di kawasan itulah orang dapat berziarah ke Gereja Makam Kudus, yang diyakini sebagai lokasi peristiwa penyaliban dan kebangkitan Yesus.[41][42]
Pembenahan tatanan hidup bergereja
Pada zaman yang penuh dengan kekerasan itu, kepedulian terhadap urusan azab akhirat makin meningkat, sehingga menyuburkan gerakan-gerakan berbenah di dalam lingkungan Gereja, lembaga yang dipercaya sebagai saluran pengalir rahmat Allah. Pada tahun 910, piagam pendirian biara Kluni menetapkan preseden dengan memberikan hak kepada para rahib untuk bebas memilih abas mereka. Upaya pembenahan tatanan hidup bergereja yang diprakarsai biara Kluni merembet dengan cepat ke mana-mana, didukung oleh kaum bangsawan yang menghargai syafaat para rahib bagi keselamatan jiwa mereka.[43][44] Pusat maupun cabang-cabang biara Kluni hanya tunduk kepada kewibawaan paus.[45][46]
Para paus, yang dihormati sebagai pengganti Rasul Petrus, menyatakan diri sebagai pemimpin tertinggi Gereja, dengan menyitir kata-kata pujian Yesus kepada Petrus.[47] Pada kenyataannya, keluarga-keluarga bangsawan Roma mengendalikan kepausan sampai Kaisar Hendrikus III memasuki kota Roma pada tahun 1053. Kaisar Hendrikus mengangkat rohaniwan-rohaniwan yang mencetuskan Pembenahan Gregorius demi tegaknya "kebebasan Gereja", melarang simoni alias praktik jual-beli jabatan gerejawi, dan menjadikan para kardinal, yakni rohaniwan-rohaniwan senior, sebagai satu-satunya pihak yang berhak memilih paus.[48][49] Andrew Latham, sarjana hubungan internasional, berpendapat bahwa Pembenahan Gregorius membuat Gereja Barat berkonflik dengan "sederet kekuatan sosial di dalam maupun di luar dunia Kristen".[50] Pada masa itu, perbedaan-perbedaan teologi dan liturgi di antara kelompok Kristen arus utama di Barat dan kelompok Kristen arus utama di Timur sudah makin dalam,[keterangan 3] dan berbuntut aksi saling ekskomunikasi pada tahun 1054 dan perpecahan antara Gereja Katolik di barat dan Gereja-Gereja Ortodoks di timur.[51][52]
Kebangkitan semangat bergama mulai mengakar seiring munculnya komunitas-komunitas rahib seperti tarekat Kartusian dan tarekat Sistersien, dan menyebarnya Tata Tertib Santo Agustinus di kalangan rohaniwan sekuler. Kristosentrisme—fokus baru kepada hidup dan sengsara Kristus—juga turut menempa corak kehidupan pada masa itu, dan menginspirasi para penceramah keliling.[53]
Situasi dunia menjelang perang salib pertama

Sekitar tahun 1000, ada empat kekuatan besar yang mendominasi kawasan sekitar Laut Tengah, yaitu khilafah bani Umayah di Andalus, khilafah bani Fatimah di Mesir, khilafah bani Abas (secara nominal) di Timur Tengah, dan Kekaisaran Romawi Timur di Eropa Selatan dan Anatolia. Dalam hitungan beberapa dasawarsa, semuanya mengalami krisis serius, khususnya di timur, tempat kekeringan dan gelombang dingin memicu kelaparan dan kerawanan.[54][55] Perubahan iklim menguntungkan Eropa Barat, memicu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan populasi.[56] Kota-kota di Eropa Barat masih relatif kecil-kecil ukurannya. Kota-kota terbesar sekalipun, seperti Venesia dan Roma, hanya berpenduduk kurang dari 40.000 jiwa.[keterangan 4][56]
Andalus melemah akibat konflik dan pecah menjadi beberapa negara kecil yang rawan terhadap ekspansi Kristen alias Reconquista.[57] Di Mesir dan Palestina, akibat sungai Nil berulang kali tidak meluap saat tiba musimnya, terjadi bencana kelaparan dan ketegangan antarumat beragama. Pada tahun 1009, Gereja Makam Kudus dihancurkan atas perintah Khalifah Alhakim dari bani Fatimah,[keterangan 5][59] kendati kelak dibangun kembali dengan dukungan Romawi Timur.[60] Sementara itu, migrasi-migrasi orang Turkoman dari Asia Tengah mengguncang stabilitas Timur Tengah. Togril I, pemimpin Turkoman dari kabilah Seljuk, merebut kekuasaan dari khilafah bani Abas pada tahun 1055.[61][62] Penggantinya, Alp Arslan, mengalahkan Romawi Timur di Manzikert pada tahun 1072, dan dengan demikian melapangkan jalan bagi orang Turkoman untuk masuk dan menetap di Anatolia.[63][64]
Dengan memudarnya kekuatan-kekuatan tradisional, kaum saudagar Italia menguasai perdagangan di Laut Tengah.[65] Orang-orang Norman dari kawasan utara Prancis menaklukkan bagian selatan jazirah Italia dan pulau Sisilia pada tahun 1091.[66][67] Lantaran ekspansi mereka mengancam kepentingan kepausan, Paus Leo IX terdorong untuk memerangi mereka. Meskipun mengalami kekalahan, Sri Paus menjanjikan pengampunan dosa kepada orang-orang yang ikut serta berjuang di pihak kepausan,[68][69] menunjukkan bahwa kepausan tidak segan-segan melimpahkan insentif spiritual bagi kepentingan perang.[70]
Hasrat kesatria-kesatria Eropa Barat akan tanah dan kekuasaan cocok dengan paus-paus yang kian lama kian lugas, yang menganugerahkan pengampunan dosa untuk kepentingan perang melawan kekuatan-kekuatan Muslim di Sisilia dan Iberia.[keterangan 6][71][72][73] Kenyataan bahwa negeri-negeri itu dulunya Kristen membuat kepausan teringat akan nasib Palestina. Pada tahun 1074 Paus Gregorius VII mengusulkan perang untuk merebut kembali Yerusalem, tetapi tak kunjung terlaksana.[74] Tidak lama kemudian, timbul kontroversi investitur yang dipicu oleh perdebatan seputar kewenangan paus dan kewenangan raja. Konflik bersenjata yang terjadi selama kontroversi itu berlangsung menggugah kembali minat orang terhadap teori-teori perang yang sah.[75][76] Anselmus asal Lucca, seorang ahli hukum kanonik, menghimpun risalah-risalah Agustinus untuk mengukuhkan dalilnya bahwa perang yang ditujukan untuk mencegah terjadinya dosa merupakan tindakan cinta kasih. Teolog Bonizo asal Sutri menganggap orang-orang yang gugur dalam perang semacam itu sebagai martir.[75][77] Gagasan-gagasan ini bermuara kepada keyakinan bahwa perang yang sah bisa dijadikan laku tobat.[78]
Perang salib
Berkat pulihnya minat mengkaji ajaran Agustinus tentang kekerasan yang sah, Gereja Barat mendapatkan kerangka ideologis bagi pertembungan militer.[73] Menjelang akhir abad ke-11, ketika kepedulian orang terhadap urusan dosa sedang tinggi-tingginya, kepausan berada di posisi yang tepat untuk menggerakkan nilai-nilai yang dipedomani golongan kesatria.[79]
Perang salib yang pertama

Lantaran kelabakan membendung arus migrasi orang Turkoman ke wilayah Romawi Timur, Kaisar Aleksius Komnenus meminta bantuan militer dari Paus Urbanus II pada tahun 1095. Sri Paus menyambut baik permintaan tersebut sebagai peluang untuk menegaskan kembali wibawa kepausan, lantas menyerukan perang melawan orang Turkoman dalam Konsili Clermont, dengan iming-iming ganjaran ukhrawi bagi orang-orang yang mematuhi seruannya.[80][81] Sejarawan Jonathan Riley-Smith menyifatkan seruan perang Paus Urbanus sebagai "seruan yang revolusioner" karena menautkan dua hal yang tidak ada hubungannya satu sama lain, yaitu perang dan ziarah.[78]
Di luar dugaan, seruan Paus Urbanus ternyata mampu membangkitkan semangat juang yang bergelora. Pada awal tahun 1096, rombongan tentara salib yang kurang terpimpin, beranggotakan 20.000 orang, berangkat ke Tanah Suci untuk mendarmabaktikan diri bagi perjuangan yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Perang Salib Rakyat. Sebagian besar gugur atau tewas dibantai dalam perjalanan.[82][83] Gelombang kedua, yang sudah lebih terpimpin, menyusul antara bulan Agustus dan Oktober tahun yang sama, beranggotakan sekurang-kurangnya 30.000 orang petarung dan orang-orang bukan petarung yang sama banyaknya, dipanglimai bangsawan-bangsawan terkemuka, antara lain Raimundus asal Saint-Gilles, Boamundus asal Taranto, dan Godefridus asal Bouillon.[84][85] Rombongan bergerak melintasi wilayah-wilayah kekuasaan Muslim dan merebut kota Edesa, Antiokhia, serta Yerusalem pada bulan Juli 1099.[86][87]
Perang salib demi Tanah Suci
Para pejuang perang salib pertama mengukuhkan keberhasilan aksi penaklukkan mereka dengan mendirikan empat negara, yaitu Kabupaten Edesa, Kepangeranan Antiokhia, Kerajaan Yerusalem, dan Kabupaten Tripoli. Usaha untuk mempertahankan negara-negara ini memicu perang-perang baru, yang pertama meletus seawal-awalnya pada tahun 1101. Beberapa ekspedisi, khususnya ekspedisi yang dikepalai oleh kepala negara monarki, dibedakan dengan label angka.[88][89] Perang-perang tersebut membuat kawasan Levans bergejolak nyaris tanpa jeda, menarik tenaga prajurit dari berbagai belahan dunia, termasuk tentara salib dari Eropa Barat, prajurit budak dari Afrika sub-Sahara, dan aswasada kelana dari kawasan padang belantara Erasia.[90]
Jatuhnya Kabupaten Edesa ke tangan pemimpin Turkoman Imaduddin Zenggi pada tahun 1144 memicu Perang Salib II, di bawah pimpinan Raja Prancis Ludovikus VII dan Raja Jerman Konradus III, yang berakhir gagal pada tahun 1148.[91][92] Nuruddin, anak Imaduddin Zenggi, mempersatukan Suriah di bawah pemerintahan Muslim dan melucuti kekuatan khilafah bani Fatimah. Kekuasaan atas Suriah dan Mesir akhirnya jatuh ke tangan Salahuddin, seorang panglima Kurdi yang ambisius. Pada tahun 1187, Salahuddin menghancurkan pasukan Kerajaan Yerusalem di Hatin dan merebut sebagian besar wilayah yang dikuasai tentara salib, termasuk kota Yerusalem.[93][94]
Kemelut yang timbul akibat kekalahan di Hatin memicu perang salib ketiga, yang dipanglimai Kaisar Romawi Suci Frederikus I, Raja Inggris Rikardus I, dan Raja Prancis Filipus II. Sekalipun Yerusalem sudah jatuh ke tangan Muslim, negara-negara tentara salib selebihnya masih berdaulat, bahkan tentara salib juga mendirikan Kerajaan Siprus di atas bekas wilayah Romawi Timur.[95][96] Perang-perang salib selanjutnya difokuskan untuk merebut kembali Yerusalem, tetapi perang salib yang keempat diselewengkan dari sasaran semula oleh ahli waris singgasana Romawi Timur, Pangeran Aleksios Anggelos, sehingga berbuntut pada penjarahan Konstantinopel dan pendirian kemaharajaan Latin di sekitar Laut Egea pada tahun 1204.[97][98] Perang salib yang kelima melawan Mesir dari tahun 1217 hingga 1221 berakhir dengan kegagalan. Perang salib yang keenam berhasil memulihkan kekuasaan Kristen atas Yerusalem pada tahun 1229 melalui perundingan yang diupayakan oleh Kaisar Romawi Suci terekskomunikasi, Frederikus II, tetapi kota itu diserbu dan dijarah pada tahun 1244 oleh pasukan Khawarizmi.[99] Musibah yang menimpa Yerusalem membuat Raja Prancis, Ludovikus IX, tergugah untuk melancarkan perang salib yang ketujuh pada tahun 1248, yang berakhir dengan kekalahan.[100]
Sesudah tentara Mamalik menggeser posisi bani Ayub, yakni kaum keluarga Salahuddin, sebagai kekuatan Muslim yang paling unggul di seantero Levans, Sultan Baibars dan Sultan Qalawun melancarkan perang-perang sistematis melawan negara-negara tentara salib. Raja Ludovikus IX melancarkan perang salib yang kedelapan, tetapi keburu mangkat pada tahun 1270. Pada tahun 1291, benteng terakhir tentara salib di Tanah Suci jatuh ke tangan Sultan Khalil anak Sultan Qalawun.[101] Mekipun usulan untuk merebut kembali Yerusalem terus-menerus bermunculan,[keterangan 7] berbagai macam peristiwa semisal Perang Seratus Tahun menghambat usaha-usaha untuk melancarkan perang salib baru.[103][104]
Palagan-palagan lain

Sejarawan Simon Lloyd menyimpulkan bahwa "gerakan perang salib tidak selamanya harus berkaitan" dengan Tanah Suci.[105] Seawal-awalnya pada tahun 1096, Paus Urbanus mengimbau kaum bangsawan Katala supaya tidak beranjak meninggalkan Iberia, dengan iming-iming ganjaran ukhrawi yang sama dengan ganjaran ukhrawi bagi orang-orang yang berjuang di Tanah Suci.[106] Konsili Lateran I tahun 1123 secara resmi menyamakan perang melawan orang Moro (Muslim Iberia) dengan perang salib.[107][108] Perang-perang yang direstui paus ini memacu ekspansi Kristen, menyusutkan Andalus menjadi Emirat Granada pada tahun 1248.[keterangan 8][109]
Beberapa perang salib dipicu oleh konflik dengan kelompok-kelompok masyarakat pagan.[111] Pada tahun 1107–1108, para penghulu negeri Saksen menyebut daerah orang Wenden, kelompok masyarakat Slav pagan di Jerman, sebagai "Yerusalem Kita", kendati perang anti-Wenden baru diakui sebagai perang salib pada tahun 1147. Sejak saat itu, para penghulu negeri di Jerman Utara, Denmark, Swedia, dan Polandia dengan restu paus memerangi suku-suku Slav, Baltik, dan Finlandia. Perang-perang melawan suku-suku tersebut secara kolektif disebut Perang Salib Utara. Memasuki dasawarsa 1230-an, kepemimpinan Perang Salib Utara sudah beralih ke pundak rahib-rahib pejuang yang tergabung dalam Ordo Kesatria Jerman. Rahib-rahib pejuang ini juga memerangi tetangga mereka yang beragama Ortodoks, yakni daerah-daerah kepangeranan orang Rus.[112][113]
Semangat juang perang salib juga dimanfaatkan untuk memerangi orang-orang Kristen yang berseberangan dengan paus. "Perang salib politik" dilancarkan Kaisar Frederikus II, ahli-ahli warisnya, dan kawula-kawul paus yang memberontak.[keterangan 9][115] Pada tahun 1209, Paus Inosensius III mulai menyasar ahli-ahli bidat, yakni orang-orang Kristen yang menolak doktrin Gereja.[116] Selain itu, masih ada lagi perang-perang salib yang dimaklumkan selepas tahun 1261 untuk melawan Kekaisaran Romawi Timur yang baru saja dipulihkan.[117]
Perang-perang salib terakhir
Meskipun ada perpecahan internal, Reconquista terus berlanjut sampai Granada ditaklukkan oleh Kerajaan Kastila dan Kerajaan Aragon pada tahun 1492.[118][119] Pada permulaan abad ke-14, Preussenreise, yakni penyerbuan antipagan musiman di kawasan Baltik, menjadi ciri khas budaya kewiraan.[keterangan 10][122] Di sebelah barat kawasan Laut Tengah, para paus juga memaklumkan perang salib melawan musuh-musuhnya yang beragama Kristen, antara lain Aragon, dan Sisilia. Pada masa perpecahan Gereja Barat (tahun 1378–1417), paus-paus yang saling bersaing menyerukan perang salib melawan pihak-pihak yang mendukung paus tandingannya.[keterangan 11][124][125]
Merajalelanya perompakan di Laut Tengah menghidupkan kembali gerakan perang salib anti-Muslim pada pertengahan abad ke-14.[keterangan 12][127] Kampanye-kampanye militer internasional menyasar kemaharajaan Turki Usmani yang sedang naik daun, tetapi gagal mencegah kejatuhan Konstantinopel pada tahun 1453.[128] Perang-perang yang dilancarkan pengikut Yohanes Hus menghidupkan kembali perang salib antibidat pada tahun 1420,[129][130] dan Reformasi Protestan menjadi saksi pemberian indulgensi kepada orang-orang Katolik yang memerangi umat Protestan.[131] Meskipun Reformasi Protestan melemahkan kewibawaan paus, lembaga kepausan terus mempromosikan perang salib, membantu membentuk "liga-liga suci" anti-Usmani sampai permulaan abad ke-18.[132][133]
Teori dan teologi
Seruan Paus Urbanus II di Clermont menghadirkan sebuah konsep yang benar-benar baru bagi sebagian besar sidang pendengar.[134] Sekalipun umat Kristen Barat sudah menerima gagasan perang dengan izin Illahi, pembenaran teologis dan legalnya yang utuh masih berada dalam tahap pengembangan.[135]
Pembenaran
Gerakan perang salib yang terus meluas mula-mula dipandang sebagai suatu kejadian unik yang dipicu oleh campur tangan Illahi, tetapi tak lama kemudian sudah dianggap perlu ditopang dengan dasar-dasar hukum yang lebih kuat.[136] Decretum Gratiani, buku kumpulan hukum Gereja yang sangat dihargai, memperbolehkan perang sekitar tahun 1140—tetapi hanya untuk melawan ahli-ahli bidat.[137][138] Dalam beberapa dasawarsa, ahli-ahli hukum seperti Huguccio memperluas aturan ini sehingga umat Islam juga menjadi salah satu pihak yang boleh diperangi, dengan alasan demi menegakkan keadilan, merebut kembali negeri-negeri Kristen, dan membalas kekerasan.[138] Operasi-operasi militer perang salib di luar Tanah Suci acap kali dibenarkan dengan cara mencitrakan daerah-daerah yang diperangi sebagai tempat-tempat dengan nilai kerohanian yang tinggi.[keterangan 13][139] Perang-perang salib utara, yang mula-mula digembar-gemborkan sebagai usaha mempertahankan diri, dalam waktu singkat difokuskan pada usaha kristenisasi,[140] sementara perang-perang salib melawan orang-orang Kristen antipaus digambarkan sebagai usaha yang perlu dilakukan untuk melindungi Tanah Suci.[141] Pembunuhan kaisar yang sah, Aleksius IV, dan skisma dengan kepausan kian menguatkan pembenaran terhadap penjarahan Konstantinopel.[142]
Indulgensi perang salib

Tidak lama seusai Konsili Clermont, sastrawan Guibertus asal Nogent menulis di dalam babadnya bahwa "Allah memunculkan perang suci pada masa hidup kita" supaya umat beriman dapat beroleh keselamatan.[78] Meskipun demikian, hakikat ganjaran ukhrawi yang dianugerahkan kepada tentara salib perdana masih belum jelas. Menurut beberapa sumber, ganjaran tersebut berupa pembatalan laku tobat temporal, sementara menurut sumber-sumber lain berupa pengampunan penuh atas dosa-dosa.[keterangan 14][144][81] Paus Urbanus menyebutkan remissio peccatorum (pengampunan dosa) di dalam salah satu suratnya, tetapi menjanjikan penghapusan semua laku tobat di dalam suratnya yang lain.[145]
Sekitar tahun 1130, Petrus Abelardus masih mengecam keras pemberian indulgensi, tetapi sebagian besar teolog belakangan menerimanya.[146] Konsili Lateran IV merumuskan indulgensi perang salib pada tahun 1215, dengan menyatakan bahwa "dosa-dosa yang disesali dari lubuk hati dan diakui dengan mulut" akan diampuni. Dasar teologisnya diperjelas dengan munculnya doktrin "perbendaharaan pahala", yang bersumber dari jasa-jasa kebajikan Kristus dan orang-orang kudus, sekitar tahun 1230.[147][148] Adakalanya pelaku kejahatan tertentu—misalnya orang-orang yang sengaja menimbulkan kebakaran, orang-orang yang melanggar embargo dagang dengan pihak Muslim, dan orang-orang yang mencelakai rohaniwan—dianugerahi indulgensi.[149] Perdebatan mengenai cakupan indulgensi terus berlanjut, Bonaventura berpandangan bahwa indulgensi tidak berlaku bagi orang-orang yang keburu meninggal dunia sebelum menunaikan kaulnya, sementara Tomas Aquinas berpendapat bahwa tentara salib yang mengaku dosa dapat beroleh keselamatan sekalipun meninggal dunia sebelum berangkat ke Tanah Suci.[150]
Tentara salib
Motivasi para tentara salib pada hakikatnya sukar untuk dipastikan. Meskipun sumber-sumber sezaman menitikberatkan semangat kecintaan terhadap agama, ambisi-ambisi pribadi juga memainkan peran penting sebab mempertahankan penaklukan membutuhkan kehadiran yang berkelanjutan dari orang-orang Eropa Barat.[keterangan 15] Banyak partisipan yang mendaftarkan diri demi mendapatkan upah.[152] Sebagian besar dari mereka tidak merasa ketakwaan berkontradiksi dengan keuntungan materi, khususnya barang jarahan, sebab Perjanjian Lama berulang kali menyajikan keterangan tentang barang-barang jarahan dari perang yang dilakukan atas izin Illahi.[153][154] Beberapa partisipan mencari ketenaran, yang lain terpikat peluang melakukan perjalanan jarak jauh.[155] Beberapa pelaku kejahatan menghindari hukuman berat dengan ikut serta berjuang dalam perang salib.[keterangan 16][156] Medievalis Andrew Jotischky menduga bahwa orang-orang seperti si baron garong Tomas asal Marle melihat gerakan perang salib sebagai kesempatan untuk melakukan kekerasan tanpa perlu takut bakal dihukum.[157]
Kesatria dan bangsawan

Pus Urbanus menujukan seruannya di Clermont kepada para elit militer di negeri itu.[158] Pada masa itu, milites—yang dulunya adalah kategori yang luas—sudah menjadi kasta khusus kaum kesatria, kendati kesatria baru sepenuhnya disetarakan dengan bangsawan menjelang akhir abad ke-12.[159] Kaum bangsawan menghargai ketakwaan yang tampak mata, dan gerakan perang salib menawari mereka cara baru untuk menyalurkan apa yang disebut sejarawan Thomas F. Madden sebagai "kecintaan yang sederhana dan tulus kepada Allah".[160]
Gaya hidup pejuang tidak dapat dilepaskan dari perbuatan dosa yang menjadi kebiasaan, tetapi masih ditawari satu dua kesempatan untuk menyilih dosa. Ziarah tanpa alas kaki membuat kaum kesatria terlucuti dari lambang-lambang kaumnya, yaitu senjata dan kuda tempur. Amanat Paus Urbanus memungkinkan mereka untuk mempertahankan identitas tanpa membahayakan keselamatan di akhirat.[161][162] Retorika perang salib mencerminkan nilai-nilai yang dipedomani kaum kesatria, menggugah semangat untuk berdarmabakti dan menjaga marwah diri.[163] Para pendakwah perang salib mencitrakan Kristus sebagai seorang bangsawan majikan feodal, menyeru kaum kesatria untuk berjuang selaku milites Christi (pejuang-pejuang Kristus) untuk merebut kembali harta pusaka Kristus yang hilang dicuri orang.[keterangan 17][165][151]
Kawan dan lawan
Selain bangsa Mongol, tentara salib berhadapan dengan musuh-musuh yang sudah tidak asing bagi mereka. Musuh-musuh tersebut dicitrakan sebagai pihak yang menyerang duluan, dan oleh sebab itu menjadi dasar yang benar untuk berperang.[166] Penaklukan dan kolonisasi melahirkan masyarakat-masyarakat multietnis.[167] Di Iberia dan negara-negara tentara salib, hubungan pihak penakluk dengan masyarakat pribumi secara garis besar mengikuti model zimi dari zaman sebelum penaklukan, yaitu menjadikan kelompok-kelompok etnis-religius non-Katolik sebagai warga kelas dua.[168][169]
Umat Islam

Para fakih mebagi dunia menjadi Darul Islam (Dunia Islam) dan Darul Harbi (negeri-negeri non-Muslim). Negeri-negeri perbatasan seperti Suriah dan Iberia menjadi palagan jihad, yang memikat para surelawan militer—mujahidin dan ghazi—dari seantero Darul Islam.[170][171] Catatan-catatan sejarah mengenai hubungan umat Kristen—peziarah maupun pribumi—dengan umat Muslim di semua lapisan maryarakat, dari penguasa hingga rakyat biasa, di Tanah Suci, menjelang meletusnya perang salib, menyajikan keterangan yang bervariasi.[keterangan 18][172] Serangan-serangan sporadis terhadap para peziarah agaknya membentuk persepsi tentang bahaya,[175] kendati sejarawan Thomas Asbridge menunjukkan bahwa kekerasan antarumat beragama mencerminkan gejolak politik dan sosial yang jauh lebih luas.[176]
Umat Kristen Barat acap kali keliru melabeli umat Islam sebagai kaum penyembah berhala atau kaum bidat.[keterangan 19][178][179] Sampai sekitar tahun 1110, pembantaian warga Muslim di kota-kota yang ditaklukan tentara salib merupakan kejadian yang lumrah.[keterangan 20][181][182] Kekerasan ditampilkan sebagai tanggapan terhadap pendudukan Muslim atas tempat-tempat suci dan penindasan terhadap umat Kristen.[183]
Kemudian hari tentara salib jarang mengupayakan konversi agama, dan malah mengenakan pajak per kapita mirip jizyah.[184] Hukum Gereja memaksakan berbagai macam pembatasan kepada warga Muslim, kendati pelaksanaanya kurang terdokumentasi.[keterangan 21][185] Di negara-negara tentara salib, sebagian besar warga Muslim, yakni para petani penutur bahasa Arab, hidup dalam komunitas-komunitas swatantra yang berlandaskan syariat Islam.[186] Di Iberia, mudejares, yakni warga Muslim yang hidup di bawah pemerintahan Kristen, juga menghadapi ancaman dijadikan warga kelas dua.[187][188][189]
Mula-mula cuma segelintir Muslim yang menginsyafi sifat agamawi dari perang salib, dan konflik-konflik berlarut antarpenguasa Muslim terus berlanjut. Ulama Damsyik Alsulami adalah orang pertama yang menempatkan perang salib ke dalam lingkup pemahaman yang lebih luas, yaksi ekspansi "Peranggi" atau orang Barat.[23][190]
Peranan wanita

Kaum wanita sudah terlibat sedari awal kemunculan gerakan perang salib.[191] Sekalipun para paus tidak menghendaki keikutsertaan mereka dalam perang salib, kaum wanita senantiasa hadir menemani pasukan sebagai pelayan.[192] Perempuan-perempuan penatu sedari awal sudah mendapatkan persetujuan khusus dari paus.[193] Wanita harus mendapatkan izin dari ayah atau suami jika ingin ikut berjuang dalam perang salib, sementara pria, mulai tahun 1209, boleh-boleh saja ikut berjuang tanpa perlu persetujuan dari istri.[194]
Bias gender merajalela di segala bidang.[195] Sastrawan-sastrawan Kristen penulis babad menonjolkan peranan kaum wanita sebagai tenaga pendukung, yaitu pengantar air minum atau peluru batu, tetapi jarang menyinggung keberadaan pejuang wanita.[196] Sastrawan-sastrawan Muslim dan Bizantin kerap mencitrakan tentara-tentara salib perempuan bersenjata sebagai lambang ketidakberadaban.[197] Sumber-sumber Muslim juga mencerca kebebasan yang dinikmati kaum wanita dalam masyarakat Peranggi.[198] Tentara salib diharapkan berpantang sanggama, dan oleh sebab itu kaum wanita, baik istri-istri pejuang maupun wanita nakal, kerap dihalau keluar dari perkemahan menjelang pertempuran-pertempuran besar.[199][192] Adakalanya perempuan-perempuan dari kalangan atas mengepalai pasukan atau melakukan perundingan-perundingan diplomasi yang penting.[keterangan 22][194]
Kaum wanita yang ditinggal pergi ke medan perang rentan mendapatkan perlakuan buruk dari kerabat atau tetangga.[keterangan 23] Beberapa orang tentara salib membuat kesepakatan resmi dengan kerabat atau lembaga religius untuk melindungi istri dan anak perempuan mereka; tentara salib lainnya mengamanahkan pengelolaan tanah lungguh mereka kepada istri atau ibu mereka.[keterangan 24][203] Penyerbuan-penyerbuan yang dilakukan pasukan Kristen maupun Muslim acap kali menyasar kaum wanita. Seusai pertempuran atau pengepungan, pihak yang menang kerap menawan wanita dan kanak-kanak dari pihak yang kalah.[204] Perang salib yang pertama merupakan kekeccualian, sebab tentara salib sering kali membantai habis seisi kota yang berhasil direbutnya.[205] Di kawasan Baltik, Babad Bersajak Livonia mengagung-agungkan pembantaian wanita dan kanak-kanak pagan sebagai perbuatan yang dilakukan atas izin Illahi.[206] Rudapaksa tawanan wanita oleh tentara salib maupun lawan-lawan mereka sudah menjadi hal yang lumrah.[207][208] Tawanan wanita bangsawan biasanya ditebus, kendati nilai uang tebusannya tidak sebesar nilai uang tebusan tawanan pria yang sederajat dengan mereka. Tawanan wanita sebelihnya diperbudak atau dikawini paksa.[209]
Tingginya tingkat kematian kaum pria di negara-negara tentara salib mengisyaratkan bahwa kaum wanita kerap mewarisi tanah lungguh, kendati mereka diharapkan untuk kawin.[210] Beberapa orang wanita mewarisi takhta. Sebagai contoh, dari tahun 1186 sampai 1228, ada empat orang ratu yang silih bertakhta di Kerajaan Yerusalem.[keterangan 25][213] Di Yunani jajahan Peranggi, istri-istri para baron Akhaya yang tertawan dalam Pertempuran Pelagonia membentuk "Parlemen Tuan-Tuan Putri" pada tahun 1261 dalam rangka mengupayakan perundingan damai dengan Romawi Timur.[214]
Wujud nyata pelaksanaan
Christopher Tyerman mengemukakan bahwa gerakan perang salib "dipertontonkan kepada seluruh masyarakat melalui perekrutan, pendanaan, maupun ritual-ritual sosial pemberian dukungan". Gerakan ini dirangkaian dengan prosesi-prosesi, pemberkatan-pemberkatan oleh imam, karya amal kasih, dan diabadikan pula dalam karya-karya seni rupa.[215]
Pemakluman dan promosi
Perang salib biasanya dimaklumkan oleh paus selaku wakil Kristus.[216] Bula-bula perang salib menjabarkan tujuan-tujuan yang hendak dicapai, mengimbau umat supaya ikut serta berjuang, serta memerinci iming-iming ganjaran ukhrawi maupun duniawi.[keterangan 26][217][218] Bula-bula tersebut dibacakan di semua gereja Katolik semenjak masa jabatan Paus Aleksander III.[219] Paus Gregorius IX memberi kuasa kepada padri-padri Dominikan untuk mendakwahkan perang salib Baltik tanpa perlu meminta persetujuan pihak lain.[220] Kemudian hari, kuasa istimewa ini juga diberikan kepada padri-padri Fransiskan maupun padri-padri Ordo Kesatria Jerman.[221]
Kami gemetar mendengar pedihnya penghakiman yang diturunkan tangan Ilahi ke atas bumi Yerusalem. ... Pertikaian di negeri itu, yang tercetus dari niat jahat insani akibat hasutan iblis, membuat Salahuddin leluasa masuk membawa begitu banyak wadya bersenjata ..., orang-orang kita kewalahan, salib Tuhan dirampas...
Prang salib dipromosikan oleh kaum rohaniwan. Utusan-utusan paus mendakwahkannya kepada kaum bangsawan dalam rapat-rapat besar. Usaha mendakwahi warga desa dan kota-kota kecil tidak tertata dengan baik sampai Paus Inosensius III mengoordinasi propaganda melalui panitia-panitia dakwah lokal, kendati paus-paus sesudahnya lebih suka menggunakan metode-metode yang tidak terlalu formal. Mulai dari awal abad ke-13, para biarawan peminta derma mengambil alih tanggung mendakwahkan perang salib. Menjelang akhir abad ke-13, banyak yang menggunakan buku-buku panduan yang ditulis para propagandis seperti Humbertus asal Romans.[223] Ceramah-ceramah promosi perang salib acap kali dibuka dengan cerita-cerita jenaka yang sarat hikmah.[224]
Pikul salib
Tentara salib mengikrarkan kaul keikutsertaan dalam perjuangan, dan biasanya diikuti upacara penjahitan lambang salib berbahan kain biasa atau kain sutra—biasanya berwarna merah—pada mantel mereka. Dengan "memikul salib", mereka membulatkan tekad untuk menanggapi seruan Kristus yang termaktub di dalam Injil Matius, yaitu "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus … memikul salibnya dan mengikut Aku".[225][226] Upacara ini menggemakan kembali semangat imitatio Christi (mengikuti jejak Kristus), gerakan spiritual abad ke-11 yang mendorong umat beriman meneladani Kristus dengan cara melayani sesama.[53] Benda-benda khas peziarah seperti tongkat dan pundi-pundi juga dibagi-bagikan.[227] Lambang salib harus terus melekat pada pakaian tentara salib sampai mereka kembali dari medan perang. Pencopotan lambang salib sebelum waktunya dapat dikenai sanksi oleh pihak Gereja,[keterangan 27][229] dengan pengecualian langka seperti sakit, miskin, atau ketidakcakapan.[230] Pada akhir abad ke-12, tentara salib secara luas dikenal dengan sebutan crucesignati (orang-orang yang diberi tanda salib).[231]
Hak istimewa
Selaku orang-orang yang sedang melaksanakan laku tobat dan ziarah bersenjata, tentara salib digolongkan di dalam hukum kanonik sebagai rohaniwan sementara di bawah yurisdiksi gerejawi.[216] Hah-hak istimewa sekuler yang mula-mula diberikan kepada mereka tidak terdokumentasi dengan baik. Menurut salah satu kitab kumpulan hukum kanonik, tentara salib perdana berikut barang-barang bawaan mereka berada "di bawah perlindungan keamanan Jeda Allah". Guibertus asal Nogent, mencatat bahwa Paus Urbanus menawarkan perlindungan kepada tentara salib dan seisi rumahnya, dengan ancaman ekskomunikasi bagi siapa saja yang berani mencelakai mereka.[232] Pendekatan hukum semacam ini masih disifatkan sebagai "barang baru" pada tahun 1107 oleh Ivo asal Chartres, ahli hukum kanonik yang enggan mengadili perkara perebutan sebuah benteng tentara salib.[keterangan 28][234] Konsili Lateran I menjadikan keistimewaan tersebut bersifat resmi, melindungi "rumah dan seisi rumah" tentara salib, lengkap dengan ancaman hukuman ekskomunikasi otomatis atau latae sententiae bagi pelanggar, hanya saja pelaksanaannya tidak konsisten.[235] Paus Egenius III juga menangguhkan tindak lanjut tuntutan hukum terhadap tentara salib, menangguhkan kewajiban mereka untuk membayar bunga pinjaman,[236][237] dan memberi kuasa kepada mereka untuk menjual tanah—termasuk tanah lungguh—tanpa perlu persetujuan anggota keluarga maupun bangsawan majikan.[238]
Keuangan

Sejarawan Simon Lloyd mengemukakan bahwa gerakan perang salib adalah gerakan yang "biayanya mencekik leher". Kendati kurang tersedia angka-angka yang pasti,[keterangan 29][239] angka-angka perkiraan menyiratkan bahwa satu orang kesatria menghabiskan lebih dari jumlah penghasilannya selama empat tahun.[240] Kaum bangsawan menjual berbagai komoditi atau menganugerahkan hak-hak istimewa sipil untuk mendapatkan uang tunai.[keterangan 30] Tanah-tanah pusaka sering kali digadaikan, atau digadaikan hasil buminya (bahasa Nepali: delgingsovereenkomst) sehingga kreditur menerima pembayaran tebusan dari hasil kelola tanah gadai. Bagi orang-orang lain, sumber dana perjuangan adalah hadiah atau pinjaman dari sanak saudara atau induk semang.[keterangan 31][243] Di Iberia, parias (upeti dari para penguasa Muslim) merupakan salah satu sumber pendanaan pasukan-pasukan Kristen.[244]
Pajak luar biasa untuk kepentingan penjuangan membela Tanah Suci pertama kali diperkenalkan di Prancis dan Inggris pada tahun 1166. "Persepuluhan Salahuddin" tahun 1188 adalah pajak dengan tarif 10 persen yang dikenakan atas penghasilan dan kepemilikan tanah, kendati kepatuhan dalam membayar pajak ini bervariasi.[245] Pada tahun 1199, Paus Inosensius III memerintahkan supaya pendapatan gereja dikenai pajak untuk kepentingan perang salib. Paus Gregorius X menetapkan prosedur pengumpulannya pada tahun 1274, tetapi kaum rohaniwan sering kali enggan membayarnya.[246][247]
Mulai tahun 1199, sumbangan-sumbangan dikumpulkan melalui kas-kas gereja.[248] Pada tahun 1213, Paus Inosensius III memperkenalkan mekanisme baru, yaitu memperbolehkan siapa saja—kecuali para rahib—untuk mengikrarkan kaul perang salib dan membayar kafaratnya dengan uang.[249][250] Praktik beli indulgensi semacam ini berlanjut hingga ke awal zaman modern.[keterangan 32] Dengan tersebarnya mesin cetak pada pertengahan abad ke-15, surat-surat indulgensi diproduksi secara massal dengan bagian kosong untuk diisi nama penerima manfaat.[251]
Cara berperang
Sejarawan Peter Lock mengemukakan bahwa melancarkan "sebuah perang salib bukanlah perkara yang mudah, dan waktu yang tersedia untuk melakukan persiapan sering kali singkat". Kegiatan mengumpulkan binatang beban, pedati, kuda tempur, dan perbekalan, misalnya pakan hewan dan air minum, turut menentukan keberhasilan sebuah perang salib, tetapi jarang sekali terdokumentasi dalam sumber-sumber sezaman.[252]
Kepemimpinan, strategi, dan pasukan
Dalam kebanyakan perang salib, kepemimpinan pasukan tidak terpusat dan tidak menentu, desersi pun lumrah terjadi.[253] Sering kali semangat juang terus digelorakan dengan penglihatan-penglihatan, prosesi-prosesi, dan relikui-relikui.[keterangan 33][254][255] Rata-rata tentara salib belum pernah terlibat dalam usaha pengepungan kota, yang lumrah terjadi dalam peperangan di Levans dan Iberia.[256][257]
Negara-negara baru
Gerakan perang salib mendorong pembentukan negara-negara baru di tapal batas Dunia Kristen Latin. Sejarawan Robert Bartlett menyifatkan negara-negara itu sebagai "replika-replika yang otonom, bukan jajahan-jajahan, dari negara-negara Eropa Barat dan Eropa Tengah".[258]
Negara-negara tentara salib dan Kerajaan Siprus

Empat negara tentara salib menghadirkan pemerintahan Katolik di Levans[259] dan mengukuhkan tautan komersial yang menghubungkan Levans dengan Eropa Katolik.[260] Porsi terbesar dari surplus ekonomi mereka yang terbatas dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan militer.[261] Kabupaten Edesa, negara tentara salib yang paling lemah, jatuh ke tangan Imaduddin Zenggi pascagagalnya usaha menjalin kerja sama dengan pihak Muslim yang berseteru dengan Imaduddin Zenggi, yaitu wangsa Artuk.[259]
Kritik sezaman

Para penentang usaha pembenahan Gregorius, misalnya Sigebertus asal Gembloux, mengecam perang yang dikaitkan dengan laku tobat, tetapi suara mereka hilang ditelan euforia pascaperang salib pertama.[262] Konsep perang salib sebagai laku tobat juga asing bagi orang-orang Romawi Timur. Putri Ana Komnena terang-terangan mencela perang salib maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya.[263] Kritik dari kalangan Katolik arus utama secara khusus menyoroti aspek-aspek tertentu, misalnya risiko dari ketidakhadiran tentara salib di tempat asalnya.[264] Kemunculan ordo-ordo militer juga mengundang keprihatinan dari pihak-pihak yang menganggap kerahiban tidak sejalan dengan keperwiraan.[265] Para pemikir milenarian seperti Yoakim asal Fiore berpandangan bahwa kejayaan perang salib sifatnya sementara, dan memprediksi bahwa kelak orang-orang Islam akan memeluk agama Kristen secara sukarela.[266]
Berpangkal dari Reformasi Protestan, teolog-teolog anti-Katolik menyerang gerakan perang salib.[267] Martin Luther menggugat indulgensi dan kewibawaan paus.[268] Teolog Katolik Erasmus juga mengecam dakwah indulgensi dan keterlibatan kaum rohaniwan dalam perang.[269]
Meskipun indulgensi sejatinya adalah jasa kebajikan Kristus dan orang-orang kudus-Nya, dan oleh sebab itu harus sungguh-sungguh dihormati, nyatanya indulgensi sudah menjadi pengejawantahan nafsu serakah yang mencengangkan. Sebab siapakah yang sungguh-sungguh mengupayakan keselamatan jiwa melalui indulgensi, dan bukannya mencari uang untuk mengisi peti hartanya? ... Umat terus dibiarkan bodoh, supaya menyangka bahwa dengan beroleh indulgensi mereka langsung selamat.
Arsitektur

Penghancuran tempat-tempat suci Kristen oleh Turkoman merupakan pokok pikiran yang ditonjolkan dalam khotbah Paus Urbanus di hadapan sidang Konsili Clermont. Sesudah berhasil merebut Betlehem, Yerusalem, dan Nazaret—tiga situs Kristen yang paling suci—orang Peranggi meluncurkan program-program pembangunan yang bersifat ambisius.[271] Arkeolog Denys Pringle mencermati munculnya sebuah gaya arsitektur yang "koheren dan memiliki ciri khas tersendiri", ditempa oleh kelimpahan batu, kelangkaan kayu, dan kesukaan akan corak-corak bangunan beratap sotoh.[272] Medievalis Steve Tibble mengistilahkannya sebagai "arsitektur ketakutan", yang dicirikan oleh penggunaan baut-baut berat untuk menyambung kayu, dan jendela-jendela berterali besi.[273]
Proyek pembangunan yang paling hebat adalah pembangunan kembali Gereja Makam Kudus, yang direka ulang dalam gaya bangunan gereja-gereja tujuan ziarah di Eropa Barat, sehingga menaungi bangunan Aedicula, sekaligus situs Kalvari dan ruang tahanan Kristus.[274] Fusi tradisi-tradisi arsitektur lokal dan Eropa Barat terlihat jelas pada bangunan Armenian Katedral Santo Yakobus milik umat Kristen Armenia.[275] Kota-kota pesisir memiliki rumah-rumah bertingkat banyak, dengan toko atau loggia di lantai dasar dan hunian di lantai atas. Warga Peranggi sering kali menetap di desa-desa berdenah persegi panjang yang baru didirikan.[276]
Perkembangan arsitektur Barat pada khususnya jelas terlihat di Siprus. Katedral Santa Sofia di Nikosia (sekarang Masjid Jami Salimiyah) dibangun dalam gaya arsitektur Gotik tahap awal, kendati tanpa atap berundak. Sisi muka bangunan istana para gubernur Venesia di Famagusta menampakkan ciri-ciri arsitektur Renesans. Bangunan gereja-gereja Kristen Timur di kota-kota juga mengadopsi gaya Barat.[277] Di negeri Yunani jajahan Peranggi, tarekat-tarekat rahib dan kaum bangsawan membangun biara-biara bergaya Gotik dan merombak bentuk gedung-gedung lama supaya bergaya Gotik.[keterangan 34][279] Di kawasan Baltik, bangunan-bangunan publik mencerminkan gaya arsitektur Eropa Barat, dengan kesederhanaan dan presisi sebagai ciri khasnya.[280]
Seni rupa

Di tiga negara tentara salib di utara Tanah Suci, karya seni rupa figuratif yang sintas hanya berupa gambar pada kepingan-kepingan uang logam,[keterangan 35] tetapi Kerajaan Yerusalem meninggalkan warisan artistik yang jauh lebih kaya.[282] Artefak-artefak tersebut menyingkap kentalnya pengaruh seni rupa Bizantin,[283] kendati hiasan-hiasan tertua yang sintas menampakkan ciri-ciri seni rupa Barat.[keterangan 36][284] Pada pertengahan abad ke-12, baik Gereja Makam Kudus maupun Gereja Kelahiran dihiasi mozaik.[283][285] Seniman-seniman Barat yang menggarap naskah-naskah gemilap di Yerusalem juga menyerap cita rasa keindahan Bizantin.[286] Contoh yang paling indah adalah buku mazmur Melisendis, yang dibuat atas pesanan Raja Fulko untuk dihadiahkan kepada Ratu Melisendis sekitar tahun 1135.[287][288] Menurut Andrew Jotischky, kepenajaan Peranggi dalam pembuatan ikon-ikon mungkin adalah tanda paling kentara dari "cita rasa Bizantin dalam karya-karya seni rupa tentara salib", yang sebagian besar terlestarikan di Biara Santa Katerina di Gunung Sinai dan di Siprus.[289]
Hanya sedikit karya seni yang sintas dari zaman penjajahan Peranggi di Yunani. Fresko-fresko Santo Fransiskus Asisi masih dapat dijumpai di dalam Masjid Jami Kalenderhane di Istambul,[290] dan lukisan dinding Santo Antonius dan Santo Yakobus masih terpampang di salah satu regol di Akronauplia.[291] Di kawasan Baltik, kaum elit pendatang yang hidup selibat atau endogamis menolak tradisi-tradisi seni rupa lokal, sembari melanggengkan seni budaya sendiri yang khas Katolik dan Jerman.[292]
Seni sastra
Gerakan perang salib, yang bertepatan dengan "Renesans Abad XII", mengilhami penulisan karya-karya sastra yang sangat beragam,[293] termasuk karya-karya yang disifatkan sebagai sekumpulan sumber naratif "yang besar dan beraneka di luar kelaziman" oleh sejarawan Elizabeth Lapina.[294]
Babad
Riwayat-riwayat perdana mengenai perang salib yang pertama menghidupkan kembali tradisi sejarah militer komprehensif yang terakhir kali muncul pada Abad Kuno.[295] Gajak Orang Peranggi, yang rampung ditulis pada tahun 1104, menjadi acuan bagi riwayat-riwayat berikutnya yang terlahir lewat goresan pena Raymundus asal Aguilers, Fulkerus asal Chartres, dan Robertus asal Rheims. Sastrawan-sastrawan pro paus tersebut mendapuk Paus Urbanus sebagai pencetus utama perang salib, kendati pencetus utama perang salib menurut Albertus asal Aachen adalah Petrus Pertapa.[296][297]
Meskipun Perang Salib I tetap merupakan perang salib yang paling banyak catatan sejarahnya, perang-perang salib berikutnya juga menginspirasi penulisan karya-karya sastra baru oleh Odo asal Deuil, Otto asal Freising, dan Oliverus asal Paderborn.[298][299] Jika catatan-catatan perang salib terdahulu ditulis dalam bahasa Latin, maka tiga penulis babad Perang Salib IV, yaitu Galfridus asal Villehardouin, Robertus asal Clari, dan Hendrikus asal Valenciennes, menulis karya-karya mereka dalam bahasa Prancis Lama.[300] Banyak penulis babad yang khusus meliput sepak terjang tokoh pejuang tertentu.[keterangan 37][301] Beberapa sastrawan memadukan bentuk prosa dan sajak menjadi karya sastra hibrida yang disebut prosimetra.[300]
Di lingkungan negara-negara tentara salib, muncul sebuah ragam sastra yang khas. Babad yang ditulis Wilelmus asal Tirus memperlihatkan upaya untuk mengumpulkan dukungan dari negara-negara Barat dan terus mengobarkan semangat juang orang-orang Peranggi.[303] Babad Morea, sumber sejarah utama tentang sepak terjang orang Peranggi di negeri Yunani, sintas dalam bahasa Prancis, bahasa Yunani, bahasa Aragon, dan bahasa Italia.[304] Di kawasan Baltik, babad karangan sastrawan Hendrikus asal Livonia memperlihatkan belarasa terhadap umat Kristen pribumi, sedangkan Babad Bersajak Livonia mengagung-agungkan kebrutalan tentara salib.[305]
Kidung
Haruslah umat Kristen memikul tanda salib demi Dia, dan berjuang mengasam anak cucu Antikristus. Tuhan kita menyerumu supaya berangkat ke Yerusalem untuk menewaskan dan membikin kelu kaum pagan fasik yang enggan beriman kepada Allah, meluhurkan karya-karya-Nya, maupun menuruti titah-titah-Nya.
Awanama, Kidung Antiokhia[306]
Babad karangan Robertus asal Rheims menginspirasi bait-bait Kidung Antioch, sebuah syair wiracarita Prancis yang meriwayatkan peristiwa pengepungan Antiokhia.[307] Kidung ini memunculkan lingkup sastra wiracarita perang salib yang bersifat semihistoris.[308] Hanya 179 nyanyian dalam bahasa rakyat yang sintas, sebagian besar adalah nyanyian bahasa Oksitan gubahan para biduan kelana, yang menggunakan ragam-ragam tembang tradisional seperti sirventes, pastorella, dan planh.[309] Sarjana kesusastraan Linda Paterson mengetengahkan nyanyian Oksitan gubahan Marcabru, yang mengagung-agungkan perang salib Iberia, sebagai nyanyian dengan kekuatan yang istimewa.[310] Sebagian besar nyanyian Prancis dan Oksitan berasal dari zaman perang salib yang ketiga.[311] Di Iberia, Kidung Tuanku Cid, yang mengisahkan sepak terjang tokoh bangsawan Kastilia, Rodrigo Díaz de Vivar, melahirkan tradisi balada perang Reconquista.[312][313]
Karya sastra Muslim, Kristen Timur, dan Yahudi
Meskipun alim-ulama Muslim Abad Pertengahan tidak pernah menjadikan perang salib sebagai sebuah topik khusus, penyair-penyair Muslim seperti Ibu Khayat memperingatkan ancaman "kaum musyrik".[314] Hanya dua karya tulis Muslim yang memuat keterangan tentang hubungan sehari-hari dengan orang Peranggi, yaitu memoar seorang bangsawan bernama Usama bin Munqid dan catatan ziarah Ibnu Jubair. Beberapa wiracarita Arab—misalnya hikayat srikandi Zatul Himmah—juga menyinggung perang salib.[315] Untuk sejarah perang salib Iberia, kompendium dari awal abad ke-14 karya Ibnu 'Idhari pada khususnya merupakan sumber yang andal.[316]
Seusai perang salib yang pertama, para sastrawan Bizantin mulai menggambarkan orang-orang Eropa sebagai satu kelompok tunggal, dengan menggunakan istilah-istilah seperti Latini (orang Latin). Niketas Khoniates maupun penulis-penulis babad lainnya mengakui kepiawaian militer orang Latin tetapi mencitrakan mereka sebagai orang-orang barbar.[317] Bentrokan-bentrokan yang timbul semasa perang salib yang kedua menginspirasi penulisan dua buah puisi yang menyamakan tentara salib dengan binatang buas.[318] Kemudian hari, kesusastraan rakyat Bizantin menyerap motif-motif roman kewiraan, yaitu kesatria aswasada, asmara, dan petualangan.[319]
Catatan Armenia tertua mengenai perang salib, yaitu sebuah kolofon risalah hukum dari tahun 1098, menyebutkan kedatangan "bangsa pahlawan dari barat". Para penulis babad seperti Matius asal Edesa menggambarkan perang salib dengan istilah-istilah apokalipsis, mengait-ngaitkan pemerintahan orang Peranggi dengan kerajaan keempat dalam nubuat Daniel.[320] Pada tahun 1144, prelatus Nerses Snorhali menggubah Ratapan Kejatuhan Edesa yang menyuarakan harapan akan keruntuhan Islam di masa depan.[321] Babad yang ditulis Sembat, seorang bangsawan Kilikia, memperlihatkan pengetahuan yang dalam tentang adat istiadat Eropa Barat.[322]
Peristiwa pembantaian Rheinland memicu tanggapan sastrawi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Yahudi Eropa. Awanama Mainz, salah satu riwayat tertua yang ditulis dalam bahasa Ibrani, menginspirasi babad-babad yang ditulis sesudahnya, termasuk babad karangan Eliezer bin Natan.[323] Ratapan-ratapan yang mengabadikan kenangan pahit dari pogrom-pogrom yang dialami orang Yahudi terserap ke dalam tata ibadat Hari Kesembilan Bulan Ab sekitar tahun 1200.[324] Peziarah-peziarah Yahudi semisal Benyamin asal Tudela mengabadikan perjalanan mereka dalam catatan-catatan safari,[325] dan seorang Yahudi awanama asal Prancis yang menetap di Tanah Suci pada tahun 1211 menulis sebuah risalah yang menyeru kawan-kawan sebangsanya untuk merebut kembali Tanah Suci bagi kepentingan agama Yahudi.[326]
Warisan sejarah

para sarjana belum mencapai kata sepakat tentang bagaimana gerakan perang salib menempa hubungan antarumat beragama. Sekalipun perang-perang salib mengakibatkan penderitaan dan ketegangan antarumat beragama, kekerasan dalam perang-perang tersebut adalah perkara lumrah yang terjadi pada zamannya. Dampak perang salib terhadap pertukaran budaya belum dapat diketahui secara pasti, karena perdagangan maupun kanal-kanal lain juga menyebarluaskan berbagai macam gagasan dan teknologi. Peristiwa penjarahan kota Konstantinopel benar-benar merusak hubungan Katolik–Ortodoks, menghambat terbinanya kerja sama untuk melawan Usmani.[327] Meskipun demikian, perang-perang salib membuat ekspansi Usmani tertunda, dan usaha terakhir Usmani untuk menerobos masuk ke Eropa Tengah dijegal oleh sepasukan tentara salib.[328]
Gerakan perang salib mendorong penguatan negara-negara Eropa Barat dengan menyingkirkan cukup banyak elit militer lokal dan menciptakan preseden-preseden perpajakan yang terkonsentrasi. Kontak dagang yang kian luas dengan dunia luar mendorong urbanisasi di Eropa Barat. Penjualan aset lahan garapan menggerus tatanan-tatanan tradisional yang terbina di atas ikatan-ikatan pribadi antara kawula dan majikan.[329]
Gerakan perang salib mendorong maju garis perbatasan Dunia Kristen di Iberia dan kawasan Baltik, menyuburkan permukiman Katolik dan memupuk kesatuan liturgi.[330] Ekspansi kekuasaan politik kadang-kadang mengakibatkan perubahan bahkan kepunahan bahasa. Sebagai contoh, dokumen-dokumen dalam bahasa Arab di Iberia nyaris sepenuhnya menghilang pada tahun 1290, dan bahasa Prusia Lama punah pada tahun 1680.[331] Gerakan perang salib juga melahirkan pahlawan-pahlawan dan lambang-lambang nasional, misalnya Dannebrog, bendera Denmark.[332] Segelintir lembaga tentara salib yang masih ada dewasa ini, yang rata-rata adalah cabang-cabang turunan dari ordo-ordo militer terdahulu, dapat dilacak asal-usulnya sampai ke gerakan perang salib. Gagasan tentang kekerasan atas nama agama Kristen sebagai wujud nyata pengamalan cinta kasih terus bertahan dalam beberapa tafsir, misalnya teologi pembebasan.[333]
Baca juga
Keterangan
- ^ Perjanjian Lama mencitrakan perang-perang bangsa Israel melawan musuh-musuh mereka sebagai perang-perang yang dilancarkan atas izin Allah, tetapi memuat pula Titah Kelima yang melarang pembunuhan. Dalam Perjanjian Baru, Yesus menyatakan bahwa "barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang", tetapi Yesus juga berkata, "Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang."[8]
- ^ Meskipun jihad maupun perang salib sama-sama adalah wujud dari perang suci, tidak ada bukti keterkaitan yang bersifat langsung di antara keduanya. Sejarawan Paul M. Cobb menisbatkan kemiripan keduanya kepada "akar bersamanya di dalam suatu monoteisme universal yang bertuhankan Allah yang cemburu".[21]
- ^ Perbedaan-perbedaan paling kentara di antara kedua komunitas Kristen itu terletak di dalam pengubahan isi Syahadat Nikea secara sepihak oleh Gereja Barat, dan penggunaan roti beragi alih-alih roti tak beragi dalam perayaan Ekaristi—upacara utama liturgi Kristen—oleh Gereja Timur.[51]
- ^ Sebagai perbandingan, Konstantinopel, ibu kota Romawi Timur, diperkirakan berpenduduk 600.000 jiwa, sementara Bagdad, ibu kota bani Abas, maupun Kairo, ibu kota bani Fatimah, berpenduduk kira-kira 500.000 jiwa, dan Kordoba, ibu kota bani Umayah berpenduduk sekurang-kurangnya 100.000 jiwa.[56]
- ^ Sebuah ensiklik—yang diduga diterbitkan oleh Paus Sergius IV pascapenghancuran Gereja Makam Kudus—mengungkapkan niat Paus Sergius untuk memimpin sebuah armada berlayar ke timur dan membangun kembali gereja itu, tetapi ensiklik tersebut adalah dokumen palsu dari akhir abad ke-11 yang dibuat di biara Moissac.[58]
- ^ Paus Aleksander II menawarkan pengampunan dosa kepada orang-orang Norman yang memerangi negara Islam Sisilia, dan menjanjikan penghapusan siksa dosa kepada para kesatria yang berangkat ke Iberia.[71]
- ^ Di dalam risalah-risalah perang salib yang ditulis oleh sastrawan-sastrawan kenamaan, tokoh-tokoh yang mengajukan usulan tersebut antara lain adalah Raja Aragon Yakobus I, Raja Sisilia Karolus II, guru besar kesatria haikal yang terakhir Yakobus asal Molay, menteri Kerajaan Prancis Gulielmus asal Nogaret, bangsawan Armenia Haitonus asal Korikus, padri Fransiskan Fidensius asal Padova, dan ahli kebatinan Raimundus Lull.[102]
- ^ Pada tahun 1095, Khilafah Almuwahid—sebuah kekuatan Muslim fundamentalis yang baru muncul—berhasil membabak-belurkan pasukan kerajaan Kastila di Alarkos, tetapi akhirnya kalah telak dikeroyok pasukan tentara salib yang lebih besar di Las Navas de Tolosa pada tahun 1213.[109][110]
- ^ "Perang salib politik" yang pertama dimaklumkan pada tahun 1199 oleh Paus Inosensius III terhadap Markualdus asal Annweiler, bangsawan Jerman yang berani menyanggah ketika Paus Inosensius menyatakan diri berhak menjadi pemangku takhta Kerajaan Sisilia.[111][114]
- ^ Tidak seperti palagan-palagan perang salib lainnya, tempat perang dan jeda datang silih berganti, penyerbuan-penyerbuan musiman ini menciptakan konflik di kawasan Baltik, yang diistilahkan oleh sejarawan Eric Christiansen sebagai "perang salib yang tak berkesudahan".[120][121]
- ^ Pada awal Skisma Barat, Paus Urbanus VI memberikan hak istimewa melancarkan perang salib kepada Uskup Hendrikus le Despenser, waligereja Norwich di Inggris, untuk memerangi Flandria lantaran mendukung lawannya, Antipaus Klemens VII. Hak yang sama juga diberikan kepada Adipati Yohanes, kepala daerah lancaster di Inggris, untuk memerangi Raja Yohanes I, kepala negara Kastila yang juga mendukung Antipaus Klemens VII.[123]
- ^ Wangsa Aydin yang berkuasa Anatolia, dan ditakuti karena penyerbuan-penyerbuan yang dilancarkannya di laut, menjadi sasaran tiga perang salib yang dilancarkan antara tahun 1333 sampai 1347.[126]
- ^ Livonia, salah satu daerah di bagian timur kawasan Baltik, merupakan salah satu contoh nyata. Daerah itu digambarkan oleh sastrawan Arnoldus asal Lübeck sebagai harta sesan Perawan Maria.[139]
- ^ Lambertus, Uskup Arras yang hadir dalam Konsili Clermont, menulis bahwa orang-orang berangkat ke Tanah Suci "boleh menjadikan perjalanan tersebut sebagai pengganti semua laku tobat". Peserta konsili lainnya, Robertus asal Rheims, mengatakan bahwa Paus Urbanus telah menganugerahkan pengampunan dosa kepada tentara salib, dan saksi mata yang ketiga, Baledrikus asal Dol, mengatakan bahwa Sri Paus menginstruksikan kepada para uskup untuk hanya memberikan absolusi kepada orang-orang yang sudah mengaku dosa.[143]
- ^ Khotbah Paus Urbanus versi Robertus asal Rheims secara gamblang menyebutkan peluang mendapatkan keuntungan materi.[151]
- ^ Salah satu kasus yang terkenal adalah kasus Amanius asal Astarac, bangsawan durjana Prancis yang pada tahun 1323 dihukum menjalani dinas militer selama dua tahun di Armenia Kilikia atau di Siprus.[156]
- ^ Mulanya miles Christi berarti rohaniwan bersenjata rohani yang mendarmabaktikan hidupnya kepada Allah.[164]
- ^ Sarjana Muslim sezaman, Abu Bakar Ibnul Arabi, tidak menyinggung kekerasan anti-Kristen, tetapi sejarawan abad ke-12, Alazimi, melaporkan bahwa "orang-rang di pelabuhan-pelabuhan Suriah" menghambat perjalanan para peziarah Kristen menuju Yerusalem.[172] Di dalam babad karangannya, sastrawan Matius asal Edesa menyajikan keterangan terperinci tentang pembudakan orang-orang Armenia dan penghancuran gereja-gereja mereka oleh pasukan-pasukan Turkoman,[173] tetapi juga memuji-muji Sultan Seljuk Malik Syah I karena menunjukkan "kasih sayang terhadap semua penduduk negeri-negeri itu seperti seorang ayah terhadap anaknya".[174]
- ^ Salah satu contohnya adalah wiracarita populer Kidung Rolandus (dari sekitar tahun 1100), yang menggambarkan "orang Sarasen" sebagai masyarakat licik yang menyembah tiga dewa dan berhala-berhala.[177]
- ^ Salah satu contoh paling awal dari kekerasan massal adalah pembantaian warga sipil di Maarat, disusul pembantaian besar-besaran warga Muslim Yerusalem oleh tentara salib sesudah berhasil merebut kota itu.[180]
- ^ Pada tahun 1120, Konsili Nablus mengeluarkan maklumat yang mengharuskan pengebirian pria Muslim yang menjalin hubungan dengan wanita Kristen, dan mutilasi, tepatnya pemotongan hidung, wanita Kristen yang sudah tidur dengan pria Muslim.[185]
- ^ Ida, janda kepala daerah Ketumenggungan Austria, mengepalai angkatan perangnya sendiri, dan hilang dalam Pertempuran Heraklea tahun 1101. Di Iberia, Ermenggarda, kepala daerah Kepatihan Narbone, mengepalai satu kontingen pasukan dalam perang pengepungan Tortosa tahun 1148. Dalam perang salib yang ketujuh, Permaisuri Prancis, Margareta, memimpin usaha-usaha perundingan dengan Sultanah Mesir, Syajaruddur, untuk membicarakan uang tebusan suaminya, Raja Ludovikus IX.[200][194]
- ^ Tidak seberapa lama sesudah Gulielmus Trussel bertolak meninggalkan Inggris untuk berjuang dalam perang salib yang ketiga, istri tewas dibunuh orang, dan jenazahnya tidak diurus secara layak. Saat Radulfus Hodeng, tentara salib yang juga berasal dari Inggris, berangkat ke medan perang, anak perempuan semata wayangnya kawin dengan salah seorang petani penggarap tanah lungguhnya.[201]
- ^ Di Prancis, wanita menjadi pemangku takhta adalah perkara yang cukup lumrah terjadi. Baik Raja Filipus II maupun Raja Ludovikus IX mengangkat ibunda mereka masing-masing—Adela asal Champagne dan Blanka asal Kastila—untuk menjalankan pemerintahan selama mereka berhalangan hadir. Pada kesempatan lain, sebelum berangkat untuk berjuang dalam perang salibnya yang kedua, Raja Ludovikus IX justru mempercayakan pemerintahan negara Prancis kepada dua orang pria, yaitu Simon asal Nesle dan Matius asal Vendôme, alih-alih kepada permaisurinya, Margareta asal Provence.[202]
- ^ Ratu Sibila (memerintah tahun 1186-1190), Ratu Isabela I (adik Ratu Sibila, memerintah tahun 1192-1205), Ratu Maria (anak Ratu Isabela I, memerintah tahun 1205-1212), dan Ratu Isabela II (anak Ratu Maria, memerintah tahun 1212-1228).[211][212]
- ^ Bula Quantum praedecessores tahun 1145 menjadi pola acuan bagi ensiklik-ensiklik yang terbit sesudahnya.[217]
- ^ Ekskomunikasi Kaisar Frederikus II merupakan contoh nyata. Sang kaisar bertolak menuju medan perang pada tahun 1227, tetapi wabah penyakit memaksanya pulang. Meskipun demikian, Paus Gregorius IX menjatuhkan pidana ekskomunikasi kepadanya karena sudah gagal menunaikan kaul. Jotischky berpendapat bahwa mungkin saja alasan sebenarnya di balik ekskomunikasi Frederikus adalah usaha-usaha yang dilakukannya untuk mengukuhkan kekuasaannya atas Gereja di Sisilia.[228]
- ^ Paus Paskalis II sudah mengamanatkan kepada Ivo untuk mengekskomunikasi Rotrodus III, Bupati Perche, lantaran priagung Prancis itu membangun benteng di atas lahan milik Hugo II asal Le Puiset. Ivo ragu-ragu, dan mengungkapkan bahwa dia tidak mau "menghukum orang seperti hasasin, tanpa diadili lebih dulu".[233]
- ^ Perang salib pertama Raja Prancis Ludovikus IX adalah satu-satunya kekecualian: antara tahun 1248 sampai 1254, dia mengucurkan 1.537.570 livre tournois—lebih dari 600 persen pendapatan tahunan rata-rata yang diterimanya—untuk mendanai kampanye-kampanye militernya di Levans. Selain mengongkosi sendiri ekspedisinya, dia membantu rekan-rekan seperjuangannya dengan hadiah dan pinjaman, sehingga Simon Lloyd memperkirakan bahwa total pengeluaran sang raja mencapai 3.000.000 livre. Meskipun demikian, jumlah yang sedemikian besarnya itu belum mencakup ongkos-ongkos yang ditimbulkan oleh pejuang-pejuang lain yang bergabung dalam kampanye militernya.[239]
- ^ Sebelum bertolak ke medan perjuangan pada tahun 1236, Rikardus, Bupati Kernow, memerintahkan seluruh hutan ditebangi supaya kayunya dapat dijual. Pada tahun 1202, Hugo IV, Bupati Saint-Pol, menganugerahkan hak-hak istimewa perkotaan kepada tiga atau empat permukiman di kabupatennya.[241]
- ^ Sebagai contoh, Adipati Robert Curthose menggadaikan Normandia kepada adiknya, William Rufus, Raja Inggris, sebagai jaminan atas pinjaman sebesar 10.000 mark pada tahun 1096.[242]
- ^ Di Jerman, harga indulgensi kurang lebih setara dengan pengeluaran mingguan satu rumah tangga sekitar tahun 1500.[251]
- ^ Antara tahun 1099 sampai 1187, pasukan Kerajaan Yerusalem membawa serta Salib Sejati—salah satu relikui yang erat kaitannya dengan peristiwa penyaliban Kristus—dalam 31 pertempuran.[254]
- ^ Di kota Atena, para adipati De la Roche mengubah Propilea menjadi istana berbenteng dengan cara menambahkan unsur-unsur Gotik.[278]
- ^ Sejarawan seni rupa Jaroslav Folda mengidentifikasi sebuah Alkitab format-besar, yang kini tersimpan di San Daniele del Friuli, sebagai perkecualian lantaran gaya seninya yang khas, memadukan unsur-unsur seni rupa Armenia, Bizantin, dan Suryani—sangat cocok dengan konteks Antiokhia.[281]
- ^ Jaroslav Folda menduga bahwa arca Kristus dari perak seukuran orang dewasa adalah artefak pertama yang ditempatkan di Aedicula pada zaman tentara salib, yakni arca yang hanya diketahui keberadaannya dari catatan peninggalan Daniel Musafir, seorang peziarah asal Rus.[284]
- ^ Sebagai contoh, Godefridus asal Bouillon menjadi tokoh utama dalam babad karangan Albertus asal Aachen, Radulfus asal Caen mendedikasikan babad karangannya, Gajak Tankredus, kepada Tankredus, bangsawan Italia keturunan Norman,[301] sedangkan Yohanes asal Joinville menulis hagiografi Raja Ludovikus IX.[302]
Rujukan
- ^ Hornby 2005, hlm. 370.
- ^ Nicholson 2004, hlm. xlviii.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 10–11.
- ^ Nicholson 2004, hlm. xl–xli, xlviii.
- ^ Murray 2006, hlm. xxxi.
- ^ Lloyd 2002, hlm. 65.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 13–14.
- ^ Asbridge 2012, hlm. 14–15.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 14.
- ^ a b c Tyerman 2019, hlm. 14.
- ^ Madden 2013, hlm. 2.
- ^ Lock 2006, hlm. 358.
- ^ Backman 2022, hlm. 56–59.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 15, 482 (note 21).
- ^ a b Jaspert 2006, hlm. 15.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 14–15.
- ^ a b Thomson 1998, hlm. 69–70.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 14, 30–31.
- ^ Backman 2022, hlm. 126, 141–143.
- ^ Lock 2006, hlm. 4.
- ^ Cobb 2016, hlm. 29.
- ^ Hillenbrand 2018, hlm. 89–91.
- ^ a b Jaspert 2006, hlm. 75.
- ^ Cobb 2016, hlm. 30.
- ^ Backman 2022, hlm. 144–146.
- ^ Dennis 2001, hlm. 31.
- ^ Tyerman 2007, hlm. 38.
- ^ Bysted 2014, hlm. 53–54.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 16.
- ^ Bull 2002, hlm. 24.
- ^ Backman 2022, hlm. 213–214.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 17–18.
- ^ Morris 2001, hlm. 144.
- ^ Backman 2022, hlm. 214–215.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 25.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 30–31.
- ^ Mayer 2009, hlm. 25–27.
- ^ Bysted 2014, hlm. 20, 96.
- ^ Cobb 2016, hlm. 33–34.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 21–22.
- ^ Tyerman 2019, hlm. xxiii–xxv.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 34–36.
- ^ Thomson 1998, hlm. 33–35.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 27–28.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 27.
- ^ Latham 2011, hlm. 231.
- ^ Thomson 1998, hlm. 39.
- ^ Thomson 1998, hlm. 82–85.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 25.
- ^ Latham 2011, hlm. 240.
- ^ a b Jaspert 2006, hlm. 4.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 28–29.
- ^ a b Jaspert 2006, hlm. 29.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 33–41, 47.
- ^ Ellenblum 2012, hlm. 3.
- ^ a b c Tyerman 2019, hlm. 47.
- ^ Cobb 2016, hlm. 60–70.
- ^ Mayer 2009, hlm. 17.
- ^ Ellenblum 2012, hlm. 46–47.
- ^ Lock 2006, hlm. 12.
- ^ Ellenblum 2012, hlm. 61–122.
- ^ Lock 2006, hlm. 12–14.
- ^ Cobb 2016, hlm. 71–72.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 45.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 57.
- ^ Backman 2022, hlm. 287–288.
- ^ Cobb 2016, hlm. 49–60.
- ^ Bysted 2014, hlm. 57.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 26.
- ^ Morris 2001, hlm. 144–145.
- ^ a b Bysted 2014, hlm. 57–58.
- ^ France 1999, hlm. 188–189.
- ^ a b Bull 2002, hlm. 18.
- ^ Tyerman 2007, hlm. 49.
- ^ a b Jotischky 2017, hlm. 25–27.
- ^ Backman 2022, hlm. 301–302.
- ^ Bysted 2014, hlm. 209.
- ^ a b c Riley-Smith 2002a, hlm. 78.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 33.
- ^ Asbridge 2012, hlm. 34–38.
- ^ a b Jotischky 2017, hlm. 54.
- ^ Lloyd 2002, hlm. 35–36.
- ^ Lock 2006, hlm. 20–21.
- ^ Asbridge 2012, hlm. 43–46.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 40–45.
- ^ Irwin 2002, hlm. 215–217.
- ^ Lock 2006, hlm. 20–26.
- ^ Lloyd 2002, hlm. 37.
- ^ Lock 2006, hlm. 137–224.
- ^ Tibble 2025, hlm. 16–17.
- ^ Lock 2006, hlm. 147–150.
- ^ Madden 2013, hlm. 50–59.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 119–129.
- ^ Asbridge 2012, hlm. 343–363.
- ^ Lock 2006, hlm. 151–155.
- ^ Madden 2013, hlm. 77–90.
- ^ Madden 2013, hlm. 93–114.
- ^ Lock 2006, hlm. 82–87, 156–161.
- ^ Lock 2006, hlm. 106, 167–170.
- ^ Madden 2013, hlm. 156–155.
- ^ Madden 2013, hlm. 162–175.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 379.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 266–271.
- ^ Housley 2002, hlm. 258–266.
- ^ Lloyd 2002, hlm. 38–39.
- ^ O'Callaghan 2003, hlm. 32–33.
- ^ Madden 2013, hlm. 116.
- ^ O'Callaghan 2003, hlm. 38.
- ^ a b Madden 2013, hlm. 117.
- ^ Lock 2006, hlm. 80, 90.
- ^ a b Lloyd 2002, hlm. 39.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 125–128.
- ^ Bartlett 1994, hlm. 262.
- ^ Lock 2006, hlm. 155–156.
- ^ Lloyd 2002, hlm. 39–40.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 135.
- ^ Lock 2006, hlm. 181–183.
- ^ Housley 2002, hlm. 267, 282–283.
- ^ O'Callaghan 2003, hlm. 209–214.
- ^ Christiansen 1997, hlm. 164.
- ^ Housley 2002, hlm. 273.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 277.
- ^ Tyerman 2007, hlm. 900–901.
- ^ Housley 2002, hlm. 268.
- ^ Lock 2006, hlm. 198–199.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 397.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 396–397.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 397, 403–410.
- ^ Housley 2002, hlm. 280–282.
- ^ Nicholson 2004, hlm. 65–74.
- ^ Constable 2001, hlm. 6–7.
- ^ Nicholson 2004, hlm. 77–88.
- ^ Housley 2002, hlm. 290.
- ^ Tyerman 2011, hlm. 22–23.
- ^ Nicholson 2004, hlm. 5.
- ^ Tyerman 2011, hlm. 23–24.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 65.
- ^ a b Tyerman 2011, hlm. 24.
- ^ a b Cassidy-Welch 2023, hlm. 30.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 218.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 359.
- ^ Madden 2013, hlm. 109.
- ^ Bysted 2014, hlm. 46–47, 49.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 31.
- ^ Bysted 2014, hlm. 67–68.
- ^ Bysted 2014, hlm. 85–112.
- ^ Bysted 2014, hlm. 132–135.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 192.
- ^ O'Callaghan 2003, hlm. 103.
- ^ Bysted 2014, hlm. 142–143.
- ^ a b France 1999, hlm. 205.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 202.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 39.
- ^ Phillips 2014, hlm. 21.
- ^ Phillips 2014, hlm. 21–23.
- ^ a b Tibble 2025, hlm. 41.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 39–40.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 56.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 53.
- ^ Madden 2013, hlm. 12–13.
- ^ Bull 2002, hlm. 33.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm. 78–79.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 20.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 19.
- ^ Madden 2013, hlm. 9.
- ^ Riley-Smith 2005, hlm. 130.
- ^ Bartlett 1994, hlm. 197.
- ^ Riley-Smith 2005, hlm. 131.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 95.
- ^ Hillenbrand 2018, hlm. 97–101.
- ^ Cobb 2016, hlm. 9, 33.
- ^ a b Asbridge 2012, hlm. 28.
- ^ Ellenblum 2012, hlm. 244–247.
- ^ MacEvitt 2008, hlm. 1.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 40.
- ^ Asbridge 2012, hlm. 28–29.
- ^ Ailes 2019, hlm. 26–27.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 9.
- ^ Bull 2002, hlm. 20.
- ^ Tyerman 2007, hlm. 157–158.
- ^ Mallett 2020, hlm. 26.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 137.
- ^ Cassidy-Welch 2023, hlm. 51.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 137–139.
- ^ a b Jotischky 2017, hlm. 140.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 96.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 124–125.
- ^ Cobb 2016, hlm. 170.
- ^ Lock 2006, hlm. 135.
- ^ Madden 2013, hlm. 43.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 10.
- ^ a b Madden 2013, hlm. 132.
- ^ Caspi-Reisfeld 2001, hlm. 96.
- ^ a b c Tyerman 2019, hlm. 10–12.
- ^ Lock 2006, hlm. 343.
- ^ Caspi-Reisfeld 2001, hlm. 97–100.
- ^ Lock 2006, hlm. 343–344.
- ^ Madden 2013, hlm. 45–46.
- ^ Hodgson 2017, hlm. 138.
- ^ Hodgson 2017, hlm. 49, 118, 211–212.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm. 74.
- ^ Hodgson 2017, hlm. 176–177.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm. 73–75.
- ^ Friedman 2001, hlm. 121.
- ^ Friedman 2001, hlm. 127–128.
- ^ Christiansen 1997, hlm. 95–96.
- ^ Hodgson 2017, hlm. 96.
- ^ Friedman 2001, hlm. 126.
- ^ Friedman 2001, hlm. 124–133.
- ^ Hodgson 2017, hlm. 73.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 476.
- ^ Lock 2006, hlm. 484–485.
- ^ Hodgson 2017, hlm. 77.
- ^ Lock 1995, hlm. 303, 305.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 8.
- ^ a b Riley-Smith 2005, hlm. 128.
- ^ a b Housley 2002, hlm. 42.
- ^ Nicholson 2004, hlm. xlvi–xlvii.
- ^ Housley 2002, hlm. 43.
- ^ Christiansen 1997, hlm. 83.
- ^ Tyerman 2007, hlm. 705.
- ^ Nicholson 2004, hlm. 141.
- ^ Housley 2002, hlm. 43–45.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 67.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm. 69.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 4–5.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm. 691.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 237–238.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm. 71.
- ^ Lloyd 2002, hlm. 48.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 5.
- ^ Brundage 1997, hlm. 141–143.
- ^ Brundage 1997, hlm. 144–145.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm. 71–72.
- ^ Brundage 1997, hlm. 146-147, 152–153.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 64.
- ^ Brundage 1997, hlm. 147.
- ^ Blaydes & Paik 2016, hlm. 558.
- ^ a b Lloyd 2002, hlm. 53.
- ^ Phillips 2014, hlm. 24.
- ^ Lloyd 2002, hlm. 55.
- ^ Mayer 2009, hlm. 44.
- ^ Lloyd 2002, hlm. 54–56.
- ^ O'Callaghan 2003, hlm. 127.
- ^ Lloyd 2002, hlm. 56–57.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 269.
- ^ Lloyd 2002, hlm. 57–58.
- ^ Lloyd 2002, hlm. 58.
- ^ Lloyd 2002, hlm. 48, 58.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 238.
- ^ a b Tyerman 2019, hlm. 425.
- ^ Lock 2006, hlm. 323, 325.
- ^ France 1999, hlm. 208–210.
- ^ a b Phillips 2014, hlm. 142–143.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 92–93.
- ^ Phillips 2014, hlm. 96.
- ^ O'Callaghan 2003, hlm. 135.
- ^ Bartlett 1994, hlm. 308–309.
- ^ a b Jotischky 2017, hlm. 83.
- ^ Blaydes & Paik 2016, hlm. 561.
- ^ Tibble 2025, hlm. 16.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm. 79–80.
- ^ Dennis 2001, hlm. 33, 39.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 69.
- ^ Phillips 2014, hlm. 71.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 71.
- ^ Housley 2002, hlm. 285–286.
- ^ Thomson 1998, hlm. 203.
- ^ Housley 2002, hlm. 286–287.
- ^ Wicks 1967, hlm. 493.
- ^ Folda 2002, hlm. 138–139.
- ^ Pringle 2002, hlm. 155–156.
- ^ Tibble 2025, hlm. 55.
- ^ Folda 2002, hlm. 142–143.
- ^ Pringle 2002, hlm. 158.
- ^ Pringle 2002, hlm. 164.
- ^ Pringle 2002, hlm. 171–172.
- ^ Bouras 2001, hlm. 251.
- ^ Bouras 2001, hlm. 247–251.
- ^ Christiansen 1997, hlm. 220.
- ^ Folda 2002, hlm. 148.
- ^ Folda 2002, hlm. 139.
- ^ a b Dodwell 1993, hlm. 241.
- ^ a b Folda 2002, hlm. 140.
- ^ Folda 2002, hlm. 143–145.
- ^ Dodwell 1993, hlm. 241, 243.
- ^ Dodwell 1993, hlm. 242.
- ^ Folda 2002, hlm. 141.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 160.
- ^ Folda 2002, hlm. 148–149.
- ^ Gerstel 2001, hlm. 264–266.
- ^ Christiansen 1997, hlm. 218.
- ^ Routledge 2002, hlm. 91.
- ^ Lapina 2019, hlm. 11.
- ^ Lapina 2019, hlm. 19.
- ^ Tyerman 2011, hlm. 8–11, 15.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 38.
- ^ Lapina 2019, hlm. 12.
- ^ Jotischky 2017, hlm. 94, 233.
- ^ a b Lapina 2019, hlm. 14.
- ^ a b Constable 2001, hlm. 4.
- ^ Lapina 2019, hlm. 13.
- ^ Lapina 2019, hlm. 12, 20.
- ^ Lock 1995, hlm. 21–22.
- ^ Christiansen 1997, hlm. 94–96.
- ^ Ailes 2019, hlm. 34.
- ^ Tyerman 2011, hlm. 12–13.
- ^ Ailes 2019, hlm. 32–33.
- ^ Routledge 2002, hlm. 92–93.
- ^ Paterson 2019, hlm. 12, 14, 20.
- ^ Paterson 2019, hlm. 41.
- ^ Cortest 1998, hlm. xi.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 117.
- ^ Hillenbrand 2018, hlm. 9, 69–71.
- ^ Hillenbrand 2018, hlm. 259–266.
- ^ O'Callaghan 2003, hlm. xiii.
- ^ Kazhdan 2001, hlm. 86–89.
- ^ Jeffreys & Jeffreys 2001, hlm. 101–109, 115–116.
- ^ Gerstel 2001, hlm. 274.
- ^ Thomson 2001, hlm. 72–75.
- ^ MacEvitt 2008, hlm. 177.
- ^ Thomson 2001, hlm. 80.
- ^ Shachar 2019, hlm. 105–106.
- ^ Shachar 2019, hlm. 109–110.
- ^ Backman 2022, hlm. 480–481.
- ^ Shachar 2019, hlm. 112–113.
- ^ Jaspert 2006, hlm. 166–168.
- ^ Nicholson 2004, hlm. 92.
- ^ Blaydes & Paik 2016, hlm. 552–553.
- ^ Bartlett 1994, hlm. 11–24.
- ^ Bartlett 1994, hlm. 203–204.
- ^ Tyerman 2019, hlm. 468.
- ^ Riley-Smith 2002b, hlm. 385–389.
Kepustakaan
- Ailes, Marianne (2019). "The Chanson de geste". Dalam Bale, Anthony (ed.). The Cambridge Companion to the Literature of the Crusades. Cambridge Companions to Literature. Cambridge University Press. hlm. 25–38. ISBN 978-1-1084-7451-1.
- Al'Zoby, Mazhar (2021). "'Frankish Invasions' and 'A Cosmic Struggle between Islam and Christianity'—A View from Jordan". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial Histories—Current Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol. Three. Routledge. hlm. 24–25. ISBN 978-0-367-51127-2.
- Asbridge, Thomas (2012) [2010]. The Crusades: The War for the Holy Land. Simon and Schuster. ISBN 978-1-8498-3688-3.
- Backman, Clifford R. (2022) [2009]. The Worlds of Medieval Europe (Edisi Fourth). Oxford University Press. ISBN 978-0-1975-7153-8.
- Blaydes, Lisa; Paik, Christopher (Summer 2016). "The Impact of Holy Land Crusades on State Formation: War Mobilization, Trade Integration, and Political Development in Medieval Europe". International Organization. 70 (3): 551–586. doi:10.1017/S0020818316000096. ISSN 0020-8183. JSTOR 24758130.
- Bartlett, Robert (1994) [1993]. The Making of Europe: Conquest, Colonization and Cultural Change, 950–1350. Penguin Books. ISBN 978-0-140-15409-2.
- Bouras, Charalambos (2001). "The Impact of Frankish Architecture on Thirteenth-Century Byzantine Architecture". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm. 247–262. ISBN 978-0-88402-277-0.
- Brundage, James A. (1997). "Crusaders and Jurists: The Legal Consequences of Crusader Status". Dalam Vauchez, André (ed.). Le concile de Clermont de 1095 et l'appel à la croisade. Actes du Colloque Universitaire International de Clermont-Ferrand (23-25 juin 1995). Publications de l'École française de Rome. Vol. 236. École française de Rome. hlm. 141–154. ISBN 978-2-7283-0388-5.
- Bull, Marcus (2002) [1999]. "Origins". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 15–34. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Bysted, Ane L. (2014). The Crusade Indulgence: Spiritual Rewards and the Theology of the Crusades, ca 1095–1216. History of Warfare. Vol. 103. BRILL. ISBN 978-9-0042-8043-4.
- Carr, Mike (2016) [2014]. Merchant Crusaders in the Aegean, 1291–1352. Warfare in History. The Boydell Press. ISBN 978-1-7832-7405-5.
- Caspi-Reisfeld, Keren (2001). "Women Warriors during the Crusades, 1095–1254". Dalam Edgington, Susan B.; Lambert, Sarah (ed.). Gendering the Crusades. University of Wales Press. hlm. 94–107. ISBN 978-0-7083-1698-6.
- Cassidy-Welch, Megan (2023). Crusades and Violence. ARC Humanities Press. ISBN 978-1-6418-9475-3.
- Chazan, Robert (2006). The Jews of Medieval Western Christendom, 1000–1500. Cambridge Medieval Textbooks. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-84666-0.
- Chrissis, Nikolaos G. (2021). "Western Agression and Greco—Latin Interaction—A View from Syria". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial Histories—Current Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol. Three. Routledge. hlm. 42–44. ISBN 978-0-367-51127-2.
- Christiansen, Eric (1997) [1980]. The Northern Crusades (Edisi Second). Penguin Books. ISBN 978-0-14-026653-5.
- Cobb, Paul M. (2016) [2014]. The Race for Paradise: An Islamic History of the Crusades. Oxford University Press. ISBN 978-0-1987-8799-0.
- Constable, Giles (2001). "The Historiography of the Crusades". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm. 1–22. ISBN 978-0-88402-277-0.
- Cortest, Luis (1998). "Introduction". Dalam Economou, George (ed.). Poem of the Cid: A Modern Translation with Notes by Paul Blackburn. University of Oklahoma Press. hlm. xi–xvi. ISBN 978-0-8061-3022-4.
- Coureas, Nicholas (2021). "The Crusades Confront the Orthdoxs—A Greek Cypriot Viewpoint". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial Histories—Current Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol. Three. Routledge. hlm. 39–41. ISBN 978-0-367-51127-2.
- Dennis, George T. (2001). "Defenders of the Christian People: Holy War in Byzantium". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm. 31–40. ISBN 978-0-88402-277-0.
- Dickson, Gary (2006). "Popular Crusades". Dalam Murray, Alan V. (ed.). K–Q. The Crusades: An Encyclopedia. Vol. III. ABC Clio. hlm. 975–979. ISBN 978-1-57607-862-4.
- Dodwell, C. R. (1993). The Pictorial Arts of the West: 800–1200. Pelican History of Art. Yale University Press. ISBN 978-0-300-06493-3.
- Edbury, Peter (2002) [1999]. "The Latin East, 1291–1661". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 291–322. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- El-Azhari, Taef Kamal (2021). "The Former Victors over the Crusades in Palestine—A View from Egypt". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial Histories—Current Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol. Three. Routledge. hlm. 45–46. ISBN 978-0-367-51127-2.
- Ellenblum, Ronnie (2012). The Collapse of the Eastern Mediterranean: Climate Change and the Decline of the East, 950–1072. Cambridge University Press. ISBN 978-1-1070-2335-2.
- Folda, Jaroslav (2002) [1999]. "Art in the Latin East, 1098–1291". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 138–154. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Forey, Alan (2002) [1999]. "The Military Orders, 1120–1312". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 15–34. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- France, John (1999). Western Warfare in the Age of the Crusades, 1000–1300. Cornell University Press. ISBN 978-0-8014-3671-0.
- Friedman, Yvonne (2001). "Captivity and Randsom: The Experience of Women". Dalam Edgington, Susan B.; Lambert, Sarah (ed.). Gendering the Crusades. University of Wales Press. hlm. 121–139. ISBN 978-0-7083-1698-6.
- Gerstel, Sharon E. J. (2001). "Art and Identity in the Medieval Morea". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm. 263–286. ISBN 978-0-88402-277-0.
- Ghazarian, Jacob G. (2005) [2000]. The Armenian Kingdom in Cilicia during the Crusades: The Integration of Cilician Armenians with the Latins, 1080–1393. RoutledgeCurzon. ISBN 978-0-7007-1418-6.
- Haydock, Nickolas (2009a). "'The Unseen Cross Upon the Breast': Medievalism, Orientalism, and Discontent". Dalam Haydock, Nickolas; Risden, E. L. (ed.). Hollywood in the Holy Land: Essays on Film Depictions of the Crusades and Christian–Muslim Clashes. McFarland & Company. hlm. 1–38. ISBN 978-0-7864-4156-3.
- Haydock, Nickolas (2009b). "Homeland Security: Northern Crusades through the East–European Eyes of Alexander Nevsky and the Nevsky Tradition". Dalam Haydock, Nickolas; Risden, E. L. (ed.). Hollywood in the Holy Land: Essays on Film Depictions of the Crusades and Christian–Muslim Clashes. McFarland & Company. hlm. 47–96. ISBN 978-0-7864-4156-3.
- Hillenbrand, Carole (2018) [1999]. The Crusades: Islamic Perspectives. Edinburgh University Press. ISBN 978-0-7486-0630-6.
- Hodgson, Natasha R. (2017) [2007]. Women, Crusading and the Holy Land in Historical Narrative. Warfare in History. The Boydell Press. ISBN 978-1-78327-270-9.
- Hornby, A. S. (2005) [1948]. Wehmeier, Sally; McIntosh, Colin; Turnbull, Joanna; Ashby, Michael (ed.). Oxford Advanced Learner's Dictionary (Edisi Seventh). Oxford University Press. ISBN 978-0-1943-1606-4.
- Housley, Norman (2002) [1999]. "The Crusading Movement, 1274–1700". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 258–290. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Irwin, Robert (2002) [1999]. "Islam and the Crusades, 1096–1699". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 211–257. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Isa, Mohamad (2021). "A Sate of Continuous Rape and Violation—A View from Syria". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial Histories—Current Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol. Three. Routledge. hlm. 62–63. ISBN 978-0-367-51127-2.
- Jaspert, Nikolas (2006) [2003]. The Crusades. Routledge. ISBN 978-0-4153-5968-9.
- Jeffreys, Elizabeth; Jeffreys, Michael (2001). "The "Wild Beast from the West": Immediate Literary Reactions in Byzantium to the Second Crusade". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm. 101–116. ISBN 978-0-88402-277-0.
- Jotischky, Andrew (2017) [2004]. Crusading and the Crusader States (Edisi Second). Routledge. ISBN 978-1-1388-0806-5.
- Kazhdan, Alexander (2001). "Latins and Franks in Byzantium: Perception and Reality from the Eleventh to the Twelfth Century". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm. 83–100. ISBN 978-0-88402-277-0.
- Kostick, Conor (2008). The Social Structure of the First Crusade. The Medieval Mediterranean: Peoples, Economies and Cultures, 400–1500. Vol. 76. Brill. ISBN 978-90-04-16665-3.
- Lapina, Elizabeth (2019). "Crusader Chronicles". Dalam Bale, Anthony (ed.). The Cambridge Companion to the Literature of the Crusades. Cambridge Companions to Literature. Cambridge University Press. hlm. 11–24. ISBN 978-1-1084-7451-1.
- Latham, Andrew (March 2011). "Theorizing the Crusades: Identity, Institutions, and Religious War in Medieval Latin Christendom". International Studies Quarterly. 5 (1): 223–243. doi:10.1111/j.1468-2478.2010.00642.x. ISSN 0020-8833. JSTOR 23019520.
- Lilie, Ralph-Johannes (1993) [1981]. Byzantium and the Crusader States, 1096-1204. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-820407-7.
- Lloyd, Simon (2002) [1999]. "The Crusading Movement, 1096–1274". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 35–67. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Lock, Peter (1995). The Franks in the Aegean, 1204–1500. Longman. ISBN 978-0-58-205139-3.
- Lock, Peter (2006). The Routledge Companion to the Crusades. Routledge Companion to History. Routledge. ISBN 978-0-4153-9312-6.
- Luttrell, Anthony (2002) [1999]. "The Military Orders, 1312–1798". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 323–362. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- MacEvitt, Christopher (2008). The Crusades and the Christian World of the East: Rough Tolerance. The Middle Ages. University of Pennsylvania Press. ISBN 978-0-8122-2083-4.
- Madden, Thomas F. (2013). The Concise History of the Crusades. Critical Issues in World and International History (Edisi Third). Rowman & Littlefield. ISBN 978-1-4422-1575-7.
- Mallett, Alex (2020) [2014]. Popular Muslim Reactions to the Franks in the Levant, 1097–1291. Routledge. ISBN 978-0-367-60103-4.
- Mayer, Hans Eberhard (2009) [1965]. The Crusades. Diterjemahkan oleh John Gillingham (Edisi Second). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-873097-2.
- Menache, Sophia (2021). "In the Frontier of the Former Kingdom of Jerusalem: Risk of Misunderstanding—A View from Israel". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial Histories—Current Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol. Three. Routledge. hlm. 72–74. ISBN 978-0-367-51127-2.
- Morris, Colin (2001) [1989]. The Papal Monarchy: The Western Church from 1050 to 1250. Oxford History of the Christian Church. Clarendon Press. ISBN 978-0-19-826925-0.
- Murray, Alan V. (2006). "Preface". Dalam Murray, Alan V. (ed.). A–C. The Crusades: An Encyclopedia. Vol. I. ABC Clio. hlm. xxxi–xxxii. ISBN 978-1-57607-862-4.
- Nicholson, Helen (2004). The Crusades. Greenwood Guides to Historic Events of the Medieval World. Greenwood Press. ISBN 978-0-313-32685-1.
- O'Callaghan, Joseph F. (2003). Reconquest and Crusade in Medieval Spain. The Middle Ages. University of Pennsylvania Press. ISBN 978-0-8122-1889-3.
- Paterson, Linda (2019). "The Troubadours and Their Lyrics". Dalam Bale, Anthony (ed.). The Cambridge Companion to the Literature of the Crusades. Cambridge Companions to Literature. Cambridge University Press. hlm. 39–53. ISBN 978-1-1084-7451-1.
- Phillips, Jonathan (2002) [1999]. "The Latin East, 1098–1291". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 111–137. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Phillips, Jonathan (2014) [2002]. The Crusades, 1095–1204. Seminar Studies (Edisi Second). Routledge. ISBN 978-1-4058-7293-5.
- Pringle, Denys (2002) [1999]. "Architecture in the Latin East, 1098–1571". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 155–175. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Riley-Smith, Jonathan (2002a) [1999]. "The State of Mind of Crusaders to the East, 1095–1300". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 68–89. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Riley-Smith, Jonathan (2002b) [1999]. "Revival and Survival". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 385–389. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Riley-Smith, Jonathan (2005) [2001]. "The Crusading Movement". Dalam Hartmann, Anja V.; Hauser, Beatrice (ed.). War, Peace and World Orders in European History. Routledge. hlm. 127–140. ISBN 978-0-415-24440-4.
- Routledge, Michael (2002) [1999]. "Songs". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 90–110. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Shachar, Uri Zvi (2019). "Hebrew Crusade Literature in Its Latin and Arabic Contexts". Dalam Bale, Anthony (ed.). The Cambridge Companion to the Literature of the Crusades. Cambridge Companions to Literature. Cambridge University Press. hlm. 102–118. ISBN 978-1-1084-7451-1.
- Sturtevant, Paul B. (2009). "SaladiNasser: Nasser's Political Crusade in El Naser Salah Ad-Din". Dalam Haydock, Nickolas; Risden, E. L. (ed.). Hollywood in the Holy Land: Essays on Film Depictions of the Crusades and Christian–Muslim Clashes. McFarland & Company. hlm. 123–146. ISBN 978-0-7864-4156-3.
- Thomson, John A. (1998). The Western Church in the Middle Ages. Arnold. ISBN 978-0-340-60118-1.
- Thomson, Robert W. (2001). "The Crusaders through Armenian Eyes". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm. 71–82. ISBN 978-0-88402-277-0.
- Tibble, Steve (2025) [2024]. Crusader Criminals: The Knights Who Went Rogue in the Holy Land. Yale University Press. ISBN 978-0-300-28429-4.
- Tyerman, Christopher (2007) [2006]. God's War: A History of the Crusades. Penguin Books. ISBN 978-0-1402-6980-2.
- Tyerman, Christopher (2011). The Debate on the Crusades, 1099–2010. Issues in Historiography. Manchester University Press. ISBN 978-0-7190-7320-5.
- Tyerman, Christopher (2019). The World of the Crusades: An Illustrated History. Yale University Press. ISBN 978-0-3002-1739-1.
- Wicks, Jared (September 1967). "Martin Luther's Treatise on Indulgences". Theological Studies. 28 (3): 481–518. doi:10.1177/004056396702800302.
Bacaan tambahan
- Boas, Adrian J., ed. (2016). The Crusader World. The Routledge Worlds. Routledge. ISBN 978-0-415-82494-1.
- Maier, Christophe T. (2010). Crusade Propaganda and Ideology: Model Sermons for the Preaching of the Cross. Cambridge University Press. doi:10.1017/CBO9780511496554. ISBN 978-0-5114-9655-4.
- Nicholson, Helen J, ed. (2005). Palgrave Advances in the Crusades. Palgrave Macmillan. doi:10.1057/9780230524095. ISBN 978-1-4039-1237-4.
- Polk, William R. (2018). Crusade and Jihad: The Thousand-Year War Between the Muslim World and the Global North. The Henry L. Stimson Lectures Series. Yale University Press. ISBN 978-0-3002-2290-6.
- Spencer, Stephen J. (2019). Emotions in a Crusading Context, 1095-1291. Oxford University Press. ISBN 978-0-1988-3336-9.
- Tyerman, Christopher (1995). "Were There Any Crusades in the Twelfth Century?". The English Historical Review. 110 (437). Oxford University Press: 553–577. doi:10.1093/ehr/CX.437.553. JSTOR 578335.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.